Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Tubuh Perempuan

sebagai medan Usia, Citra, Kuasa dan Penghakiman

Pembacaan Gagasan Susan Sontag dalam On Women

· Renungan,Budaya

Susan Sontag (1933-2004) adalah salah satu intelektual publik Amerika paling tajam pada abad ke-20. Ia lahir di New York, tumbuh di Tucson dan Los Angeles, lalu menempuh pendidikan di University of Chicago dan Harvard. Sontag tumbuh sebagai figur yang sejak muda sudah hidup dalam tegangan antara akademia, ambisi kesusastraan, budaya Eropa, dan rasa tidak cocok terhadap peran perempuan yang disediakan oleh kehidupan konvensional. Ia menikah muda dengan sosiolog Philip Rieff, melahirkan David Rieff pada usia sembilan belas tahun. Akan tetapi jalur hidupnya segera bergerak jauh dari skema domestik yang umum dilekatkan kepada perempuan di masa itu.

Sontag membangun otoritasnya di luar jalur akademik yang lazim. Ia menulis dengan kedalaman teoretis, tampil dengan daya provokasi seorang intelektual publik, dan menjadikan esai sebagai medium untuk membaca seni, politik, tubuh, penyakit, fotografi, serta kebudayaan modern dengan ketajaman yang jarang
dimiliki penulis sezamannya. Karya-karyanya seperti
Against Interpretation, Notes on “Camp”, On Photography, Illness as Metaphor, dan Regarding the Pain of Others memperlihatkan medan pikir Sontag yang luas yakni seni, fotografi, penyakit, perang, film, pornografi, modernisme, serta kekerasan visual. Maka ia disebut sebagai “total package”; esais, novelis, dramawan, pembuat film, tapi juga tampil sebagai intelektual yang aktif dalam diskusi, kuliah, protes anti-Perang Vietnam, perjalanan ke Hanoi, dan kelak ke Sarajevo. Dengan demikian, Sontag bukan hanya penulis tentang kebudayaan melainkan menjadi bagian dari kebudayaan yang ia tafsirkan.

On Women menempati posisi khusus dalam tubuh karya Sontag karena buku ini memperlihatkan dirinya berbicara langsung soal perempuan. Buku tersebut diterbitkan tahun 2023 oleh Picador/Farrar, Straus and Giroux, diedit oleh putranya David Rieff, dan diberi pengantar oleh Merve Emre. Buku ini bukanlah sebuah komposisi penulisan tunggal melainkan kumpulan esai dan wawancara dari awal hingga pertengahan tahun 1970-an, ketika saat itu gerakan perempuan di Amerika Serikat sedang mencapai momen publik yang sangat kuat. Maka, On Women terdiri dari tujuh tulisan; “The Double Standard of Aging,” “The Third World of Women,” “A Woman’s Beauty: Put-Down or Power Source?,” “Beauty: How Will It Change Next?,” “Fascinating Fascism,” “Feminism and Fascism: An Exchange Between Adrienne Rich and Susan Sontag,” dan “The Salmagundi Interview.” Susunan ini menunjukkan bahwa perempuan bagi Sontag bukan tema tunggal, melainkan simpul dari banyak persoalan seperti usia, kecantikan, kerja domestik, keluarga, tubuh, estetika fasisme, polemik feminis, politik citra, dan kemungkinan pembebasan dari definisi sosial yang sempit.

Sejarah publikasinya juga memperlihatkan konteks intelektual yang padat. “The Double Standard of Aging” pertama kali muncul di The Saturday Review pada tanggal 23 September 1972, kemudian menyusul “The Third World of Women” terbit di Partisan Review pada Spring 1973. Dua tulisan tentang kecantikan, “A Woman’s Beauty: Put-Down or Power Source?” dan “Beauty: How Will It Change Next?,” muncul di Vogue pada April dan Mei 1975. “Fascinating Fascism” terbit di The New York Review of Books pada 6 Februari 1975, lalu memicu “Feminism and Fascism,” yalni perdebatan antara Adrienne Rich dan Susan Sontag yang terbit pada 20 Maret 1975. Sedangkan “The Salmagundi Interview” berasal dari wawancara April 1975 oleh Robert Boyars dan Maxine Bernstein, lalu terbit dalam Salmagundi edisi Fall 1975-Winter 1976.

Merve Emre membaca kumpulan ini sebagai bagian dari “setengah dekade yang terabaikan” dalam karya Sontag, berada di antara Styles of Radical Will dan Under the Sign of Saturn. Periode itu berlangsung setelah keterlibatan Sontag dalam atmosfer politik Vietnam dan sebelum diagnosis kanker pertamanya. Oleh karena itu, On Women bukan hanya arsip pemikiran feminis Sontag, tetapi juga arsip tentang tubuh, kematian, penuaan, citra diri, dan bagaimana perempuan dipaksa memahami dirinya melalui mata sosial yang sering kejam.

Tulisan pertama, “The Double Standard of Aging,” adalah fondasi konseptual buku ini. Sontag memulai dari pertanyaan sederhana tentang umur perempuan. Pertanyaan “berapa umurmu?” dalam kehidupan sosial sering diperlakukan sebagai informasi biasa. Akan tetapi bagi perempuan, terutama setelah “usia tertentu,” pertanyaan itu berubah menjadi tekanan psikologis. Umur bukan sekadar angka, melainkan mekanisme penilaian sebab menentukan daya tarik, peluang seksual, posisi sosial, rasa percaya diri, bahkan legitimasi untuk tetap terlihat. Tubuh perempuan tidak dibiarkan menua sebagai tubuh manusia, malah dipaksa menua sebagai objek yang terus dibandingkan dengan citra masa muda. Sontag menulis, “Growing older is mainly an ordeal of the imagination—a moral disease, a social pathology—intrinsic to which is the fact that it afflicts women...”. Kutipan itu memperlihatkan bagaimana Sontag memindahkan penuaan dari wilayah biologis ke wilayah imajinasi sosial. Tubuh memang berubah, tapi penderitaan perempuan atas usia tidak lahir hanya dari perubahan tubuh melainkan dari kebudayaan yang mengajarkan bahwa perubahan alami pada wajah, kulit, pinggang, suara, dan energi adalah tanda kemunduran nilai. Penuaan menjadi “penyakit moral” karena masyarakat memperlakukannya sebagai kegagalan perempuan menjaga diri, sekaligus menjadi “patologi sosial” karena rasa malu atas usia ditanamkan secara kolektif, diwariskan lewat komentar, standar pasangan, iklan, kosmetik, mode, kamera, dan bahasa sehari-hari. Dengan satu kalimat itu, Sontag memperlihatkan bahwa perempuan tidak hanya menua di hadapan cermin, melainkan menua di hadapan pengadilan sosial yang sudah menetapkan masa muda sebagai ukuran utama keberhargaan.

Analisis Sontag makin tajam ketika ia membandingkan penuaan laki-laki dan perempuan. Laki-laki dapat memperoleh nilai tambahan dari usia berupa pengalaman, kemapanan, otoritas, uang, karier, dan wibawa. Pada tubuh laki-laki, kerut dapat dibaca sebagai kedalaman; uban dapat menjadi tanda kematangan; suara
berat dan sikap tenang dapat menambah aura kuasa. Pada tubuh perempuan, tanda serupa sering dibaca sebagai kehilangan daya tarik. Sontag melihat bahwa masyarakat menyediakan dua standar keindahan bagi laki-laki yakni
“boy” dan “man”. Untuk perempuan, standar itu menyempit pada satu bentuk dominan berupa “girl” sebab perempuan dewasa tetap diminta membawa citra gadis muda, seolah kematangan, pengalaman, dan sejarah tubuh adalah gangguan terhadap nilai dirinya. Di sinilah kalimat Sontag tentang kecantikan perempuan menjadi sangat keras; “Beauty, women’s business in this society, is the theater of their enslavement.” Pernyataan ini bukan sekadar kritik terhadap kosmetik atau mode karena Sontag sedang menyatakan bahwa kecantikan adalah panggung tempat perempuan memainkan peran yang disusun masyarakat untuknya. Perempuan diberi imbalan sosial ketika mampu tampil sesuai standar, tetapi imbalan itu mengikat, serta harus menjaga wajah, tubuh, gestur, gaya, suara, bahkan cara hadir agar tetap berada dalam batas yang dianggap menarik. Kecantikan menjadi panggung karena perempuan ditonton dan juga menjadi perbudakan karena perempuan harus terus mempertahankan peran itu agar tidak kehilangan pengakuan.

Kemudian “The Third World of Women” memperluas kritik Sontag dari tubuh ke struktur sosial. Di sini ia membicarakan keluarga, kerja, kapitalisme, sosialisme, patriarki, dan politik pembebasan perempuan. Bagi Sontag, penindasan terhadap perempuan bukan sekadar akibat satu sistem ekonomi. Kapitalisme mengeksploitasi tubuh dan kerja perempuan, tapi sosialisme yang tidak membongkar struktur gender juga dapat mempertahankan beban lama. Pembebasan perempuan menuntut perubahan pada keluarga, kerja domestik, moralitas seksual, pembagian peran, dan cara masyarakat mendidik anak sejak kecil. Dalam bagian tentang keluarga, Sontag membaca keluarga inti modern sebagai institusi yang tampak hangat, tapi memuat struktur subordinasi. Keluarga memberi keintiman, kasih, loyalitas, percakapan, dan perlindungan, sekaligus juga menjadi tempat perempuan dilatih untuk melayani, mengalah, mengurus, menjaga, menenangkan, dan menanggung pekerjaan emosional. Anak perempuan belajar sejak dini bahwa tubuhnya harus rapi, sikapnya harus menyenangkan, emosinya harus terkendali, dan keberadaannya dinilai dari kemampuannya membuat orang lain nyaman. Sebaliknya, anak laki-laki lebih sering diarahkan menuju risiko, kompetisi, dunia luar, dan otonomi.

Itulah sebabnya kritik Sontag terhadap kerja domestik tetap relevan sampai hari ini sebab ia melihat bahwa perempuan yang masuk dunia karir tidak otomatis bebas. Banyak perempuan memperoleh upah, aktivitas publik, dan identitas profesional, tapi tetap menanggung tugas memasak, membersihkan, mengurus anak, menjaga rumah, dan mengelola iklim emosional keluarga. Dalam pengantar Merve Emre, posisi Sontag diringkas melalui gagasan bahwa perempuan yang sudah memperoleh kebebasan masuk “dunia luar” tapi tetap memikul tugas domestik ketika pulang kerja sebenarnya hanya menggandakan beban mereka. Di sinilah kritik Sontag menghantam mitos soal “perempuan kuat”. Masyarakat modern sering memuji perempuan yang mampu bekerja, mengurus rumah, tampil menarik, menjaga anak, menjaga pasangan, tetap produktif, dan tetap stabil secara emosional. Pujian itu terdengar positif, hanya saja sering menyembunyikan kegagalan sosial membagi beban secara adil. Perempuan dipuja karena mampu menanggung banyak hal, sementara struktur yang membuatnya harus menanggung banyak hal tetap dipertahankan. Sontag membaca ironi ini dengan dingin bahwa pembebasan yang tidak mengubah pembagian kerja hanya mengubah perempuan dari tahanan rumah menjadi pekerja ganda.

Dua tulisan berikutnya, “A Woman’s Beauty: Put-Down or Power Source?” dan “Beauty: How Will It Change Next?,” memperlihatkan Sontag sebagai kritikus estetika tubuh perempuan. Ia tidak memandang kecantikan secara dangkal atau tidak menyatakan bahwa kecantikan sekadar ilusi kosong. Ia justru mengakui kecantikan sebagai bentuk kuasa sosial yang memberi akses, perhatian, daya tarik, modal simbolik, dan peluang tertentu. Akan tetapi kuasa itu rapuh karena bergantung pada tatapan luar. Perempuan yang memperoleh kuasa dari kecantikan sekaligus terikat pada standar yang tidak ia ciptakan sendiri. Ia menyatakan “Women are fragmented into parts, making it difficult for them to assess their whole beings. Beauty must be recontextualized” yang memperlihatkan cara kecantikan bekerja sebagai teknik pemecahan diri. Perempuan dinilai melalui bagian-bagian seperti wajah, kulit, rambut, mata, bibir, payudara, pinggang, kaki, usia, cara berpakaian, cara tersenyum, cara bergerak. Ketika bagian-bagian itu terus-menerus diawasi, perempuan sulit mengalami dirinya sebagai keseluruhan. Perempuan menjadi belajar melihat dirinya sebagaimana pasar, iklan, kamera, pasangan, teman, dan masyarakat melihatnya.

Dalam pengertian ini, kecantikan bukan hanya kualitas visual melainkan adalah sistem disiplin yang membuat perempuan mengawasi diri bahkan ketika tidak ada orang yang sedang mengawasi. Sontag ingin kecantikan dikeluarkan dari mitologi “feminin” sebab apa yang ia kritik bukan keindahan sebagai pengalaman, melainkan kecantikan sebagai kewajiban gender. Selama kecantikan dianggap tugas perempuan, maka perempuan akan terus diminta memperbaiki diri agar layak dilihat. Kecantikan berubah menjadi proyek tanpa akhir di mana kulit harus lebih halus, tubuh harus lebih ramping, usia harus lebih disamarkan, wajah harus lebih segar, gaya harus lebih tepat, kehadiran harus lebih mudah diterima. Di balik bahasa perawatan diri, terdapat tekanan sosial untuk terus memperbaiki bentuk penampilan.

Bagian “Fascinating Fascism” membawa On Women ke wilayah paling gelap dalam pemikiran Sontag berupa titik temu antara tubuh, citra, erotika dominasi, dan politik totaliter. Ia membahas Leni Riefenstahl yang menjadi kasus penting karena bukan sekadar dibaca sebagai pembuat film propaganda Nazi, melainkan sebagai seniman yang berusaha direhabilitasi melalui bahasa “keindahan visual”, “dokumenter”, dan “kekuatan bentuk”. Di sinilah Sontag menolak pemisahan yang terlalu nyaman antara estetika dan moralitas. Tubuh-tubuh dalam imaji Riefenstahl ~kuat, simetris, disiplin, tunduk, heroik, tidak hadir sebagai tubuh manusia yang bebas, melainkan sebagai bahan visual bagi fantasi kekuasaan. Dalam fase ini, Sontag
mengoreksi kecenderungan awalnya sendiri yang pernah lebih kuat membela otonomi bentuk seni. Dalam soal Riefenstahl, bentuk tidak dapat diceraikan dari sejarah dan implikasi moralnya. Estetika fasis bekerja dengan memoles dominasi sampai tampak agung, membuat kepatuhan menyerupai kemuliaan, dan mengubah tubuh yang dikendalikan menjadi lambang kesempurnaan. Oleh karena itu Sontag menulis tajam bahwa
“Pornography, like the fascist mass spectacle, looks to the abolition of mind ... of dominators and the dominated.” Kutipan ini memperlihatkan bahwa masalah utamanya bukan sekadar Nazi sebagai tema visual, melainkan fantasi penghapusan pikiran di mana tubuh diatur, hasrat dikoreografi, relasi kuasa dibuat erotis, lalu kekerasan ditampilkan sebagai gaya.

Polemik yang muncul selanjutnya dengan Adrienne Rich dalam “Feminism and Fascism” tersebut kemudian memperlihatkan benturan antara Sontag dan feminisme radikal. Rich menilai Sontag hampir sampai pada hubungan seksual-politik antara Riefenstahl, erotisasi Nazisme, pornografi, dan dominasi terhadap perempuan, tapi berhenti sebelum simpul itu benar-benar diikat. Bagi Rich, problem Riefenstahl bukan hanya estetika fasis dalam arti umum, melainkan juga cara patriarki ekstrem membentuk tubuh perempuan, tubuh massa, dan tubuh yang tunduk sebagai objek kuasa. Ia menulis bahwa “Nazi Germany was patriarchy in its purest,” sebuah kalimat yang menegaskan bahwa fasisme tidak dapat dilepaskan dari struktur maskulin yang memuja hierarki, kendali, kekerasan, dan penaklukan.

Sebaliknya, Sontag menjawab dari posisi yang lebih skeptis terhadap penyederhanaan ideologis. Ia mendukung pembebasan perempuan, tapi menolak ketika feminisme menjadikan patriarki sebagai kunci tunggal untuk membaca semua bentuk fasisme, modernisme, erotika, dan estetika kekerasan. Di sinilah posisinya menjadi tajam sekaligus problematis bahwa di satu sisi Sontag ingin kritik feminis tetap memiliki presisi konseptual, tidak larut dalam formula moral yang terlalu cepat selesai. Akan tetapi di sisi lain jarak intelektual itu membuatnya tampak dingin bagi pembaca yang menginginkan solidaritas politis lebih langsung. Sontag tidak membela Riefenstahl, melainkan mempertahankan kompleksitas analisis bahwa fasisme memang berkaitan dengan tubuh, seks, kekuasaan, sejarah, dan estetika. Meski demikian setiap hubungan itu harus dibaca dengan ketelitian, bukan dilebur ke dalam satu slogan besar.

“The Salmagundi Interview” memperlihatkan Sontag dalam bentuk yang lebih bebas, teatrikal, dan ofensif terhadap tata krama patriarkal. Wawancara ini pertama kali dilakukan pada April 1975 oleh Robert Boyars dan Maxine Bernstein, lalu terbit dalam Salmagundi edisi Fall 1975–Winter 1976; posisinya penting karena memperlihatkan Sontag bukan hanya sebagai esais yang menyusun argumen rapi, tetapi sebagai intelektual yang berpikir melalui provokasi, performa, dan pembalikan kode sosial. Dalam pengantar On Women, Merve Emre membaca wawancara ini sebagai tempat di mana sensibilitas camp menjadi saraf tersembunyi politik feminis Sontag yakni tentang perempuan diminta masuk ke ruang publik bukan sebagai figur manis yang memohon pengakuan, melainkan sebagai aktor “guerrilla theater” yang mengganggu selera masyarakat terhadap perempuan yang lembut, menarik, tertib, dan mudah disukai.

Dalam konteks itu, camp berarti strategi estetis untuk memperlihatkan bahwa “feminitas” bukan kodrat murni, melainkan peran sosial yang bisa dilebihkan, diparodikan, dan dibongkar. Pada awalnya, dalam tulisan “Notes on Camp” di kesempatan yang berbeda, Sontag memahami camp sebagai cara melihat dunia melalui artifice dan stylization yang bukan melalui keindahan, melainkan melalui tingkat kepalsuan, gaya, teater, pose, dan kesengajaan bentuk. Dalam On Women, maknanya bergeser dengan istilah camp yang semula cenderung apolitis berubah menjadi alat feminis. Ketika “perempuan feminin” ditampilkan secara berlebihan dengan terlalu manis, genit, dramatis, glamor, dan terlalu “perempuan” maka maka citra feminin itu tidak lagi tampak alami karena menjadi terlihat sebagai kostum, pose, panggung. Sontag menyebut efek itu sebagai cara meletakkan stereotip feminin “between quotation marks.”

Jadi, dalam “The Salmagundi Interview,” camp berarti mengacaukan kewibawaan norma gender dengan cara mempermainkannya secara sadar. Perempuan tidak tunduk pada tuntutan agar selalu anggun, lembut, cantik, dan menyenangkan. Mereka justru dapat tampil kasar, nyaring, berlebihan, tidak menarik menurut standar seksis, bahkan mengundang ejekan. Ejekan itu dipakai sebagai bukti bahwa kode atau tatanan lama sedang terganggu. Maknanya jelas tajam karena camp membuat feminitas kehilangan aura sakralnya sebagai “kodrat” dan berubah menjadi pertunjukan yang bisa ditiru, dibalik, diledek, dan dihancurkan dari dalam. Dalam politik Sontag, ini bukan sekadar gaya lucu atau kitsch, melainkan sabotase simbolik terhadap ide “perempuan pantas.”

Oleh karenanya Sontag menegaskan, “Women will be much more effective politically if they are rude, shrill, and—by sexist standards—‘unattractive,’ ... They should, indeed, welcome it.” Kutipan ini menunjukkan bahwa bagi Sontag, ejekan bukan selalu tanda kekalahan melainkan dapat menjadi bukti bahwa perempuan sudah keluar dari perangkap performatif yang selama ini membuat mereka patuh. Ketika perempuan berhenti takut disebut kasar, cempreng, tidak menarik, terlalu keras, atau tidak feminin, salah satu alat kendali patriarki kehilangan daya. Di sini camp tidak lagi sekadar gaya estetis yang bermain dengan artifisialitas, tapi strategi politik berupa parodi terhadap gender, pembalikan peran, kesengajaan menjadi berlebihan, dan keberanian memakai rasa malu sebagai senjata balik. Sontag tidak membayangkan pembebasan perempuan sebagai penyesuaian sopan ke dalam struktur lama, melainkan sebagai disorganisasi simbolik atas batas “perempuan baik” dan “perempuan pantas” yang selama ini menjaga dominasi sosial tetap tampak wajar.

Secara keseluruhan, On Women dapat dibaca sebagai buku tentang tiga rezim utama yakni rezim usia, kecantikan, dan keluarga. Rezim usia membuat perempuan mengalami waktu sebagai ancaman terhadap nilai dirinya, rezim kecantikan membuat tubuh perempuan menjadi proyek visual tanpa akhir dan rezim keluarga membuat kerja perempuan tampak alamiah, padahal ia menopang ekonomi, reproduksi sosial, dan stabilitas emosional rumah tangga. Ketiganya bekerja bersama dengan perempuan diminta tetap muda, cantik, berguna, sabar, memberi, menarik, menyenangkan, dan tetap tidak terlalu sadar terhadap mesin sosial yang memakainya. Maka kekuatan terbesar Sontag adalah kemampuannya membaca penindasan perempuan sebagai persoalan estetika sekaligus politik. Banyak kritik sosial berhenti pada hukum, kerja, lembaga, atau hak formal. Sontag masuk ke wilayah yang lebih halus tentang bagaimana perempuan dibayangkan. Imajinasi sosial menentukan bagaimana usia dibaca, tubuh dinilai, kecantikan dihargai, ambisi dicurigai, perempuan sukses dianggap maskulin, dan bagaimana perempuan yang menolak tampil menyenangkan segera dihukum oleh selera publik.

Meski demikian On Women juga memiliki batas. Sontag berbicara dalam kategori besar soal perempuan, laki-laki, keluarga, kecantikan, femininitas, patriarki. Kategori besar semacam itu memberi daya ledak analitis, tapi kurang memberi ruang pada perbedaan ras, kelas, agama, kolonialitas, disabilitas, dan konteks non-Barat. Judul “The Third World of Women” terdengar global, tapi pusat pengalaman yang dibaca tetap sangat Amerika-Eropa modern. Keterbatasan ini memang tidaklah menurunkan nilai buku, malah justru membantu pembaca melihat Sontag sebagai intelektual besar dengan optik tertentu, bukan suara final bagi seluruh pengalaman perempuan.

Dengan demikian relevansi On Women pada hari ini menjadi semakin kuat dalam era media sosial. Dunia digital memperluas rezim visual yang dahulu dibaca Sontag melalui majalah, fotografi, film, dan iklan. Kini tubuh perempuan menjadi proyek harian dengan difoto, difilter, dikurasi, dipoles, dibandingkan, dipasarkan, dan dinilai melalui angka. Kecantikan tampil sebagai self-care, empowerment, branding, bahkan bentuk “healing”. Akan tetapi di balik bahasa positif itu, tekanan lama tetap bekerja yakni perempuan harus menarik, muda, produktif, emosionalnya tertata, tubuhnya terkendali, relasinya terlihat harmonis, dan lukanya pun sebaiknya estetis. Relevansinya juga terlihat dalam dunia kerja. Banyak perempuan telah masuk universitas, kantor, lembaga profesional, dunia kreatif, politik, dan ruang publik. Akan tetapi beban domestik dan emosional sering masih tetap menempel. Istilah modern seperti multitasking, resilience, strong woman, dan work-life balance terkadang menyamarkan fakta lama bahwa perempuan diminta menanggung lebih banyak sambil tetap tampil seolah semuanya terkendali. Sontag memberi pisau analitis untuk membongkar pujian palsu terhadap ketahanan perempuan yang sering hanya menjadi nama halus bagi ketidakadilan yang belum dibagi ulang.

Pada akhirnya, On Women bukanlah buku feminisme yang nyaman karena tidak menawarkan kehangatan slogan atau identitas kolektif yang mudah dirayakan. Gagasan Sontag bekerja seperti pisau yang dingin, presisi, kadang menyakitkan. Ia memperlihatkan bahwa perempuan ditundukkan bukan hanya oleh hukum, agama, negara, suami, pasar, atau keluarga, tapi oleh cara masyarakat membayangkan perempuan sejak awal. Selama perempuan terutama dibayangkan sebagai citra, tubuhnya akan terus menjadi medan penilaian. Selama kecantikan diperlakukan sebagai modal utama, usia akan tampak seperti keruntuhan. Selama keluarga dipuja tanpa membedah distribusi kerjanya, cinta akan terus bercampur dengan eksploitasi. Jadi, On Women adalah buku tentang bagaimana masyarakat menciptakan perempuan sebagai gambar, lalu menghukum mereka ketika gambar itu mulai retak oleh usia, kecerdasan, ambisi, pengalaman, kemarahan, dan kehendak bebas. Sontag tidak meminta sekadar berempati kepada perempuan melainkan memaksa pembaca melihat mesin simbolik yang membuat perempuan belajar menilai dirinya melalui mata orang lain. Itulah sebabnya buku ini tetap tajam lantaran membongkar wilayah yang paling halus, yaitu selera, citra, keindahan, usia, keluarga, dan rasa malu. A woman becomes free when she no longer lives as an image waiting to be approved. (end/frs)

Subscribe
Previous
Politik Kegelapan dalam Setra Gandamayu
Next
 Return to site
strikingly iconPowered by Strikingly
Cookie Use
We use cookies to improve browsing experience, security, and data collection. By accepting, you agree to the use of cookies for advertising and analytics. You can change your cookie settings at any time. Learn More
Accept all
Settings
Decline All
Cookie Settings
These cookies enable core functionality such as security, network management, and accessibility. These cookies can’t be switched off.
These cookies help us better understand how visitors interact with our website and help us discover errors.
These cookies allow the website to remember choices you've made to provide enhanced functionality and personalization.
Save