<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
  <channel>
    <title>Dunia Si Ferdot</title>
    <description>Hellow, Dunia SI Ferdot adalah situs pribadi Fernando R. Srivanto. Isinya? Mulai dari yang berguna sampai tak berguna. Sila dibaca.</description>
    <link>https://www.duniasiferdot.com/</link>
    <atom:link href="https://www.duniasiferdot.com/blog/feed.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/>
    <item>
      <title>Mengenal Kulacudhamani Tantra</title>
      <pubDate>Fri, 12 Jun 2026 04:42:25 -0700</pubDate>
      <link>https://www.duniasiferdot.com/blog/mengenal-kulacudhamani-tantra</link>
      <guid>https://www.duniasiferdot.com/blog/mengenal-kulacudhamani-tantra</guid>
      <description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;erbeda dengan jenis tantra pada umumnya, teks Kulachudamani Tantra bukankah teks yang nyaman, datang sebagai datang sebagai khotbah moral, berbicara dalam bahasa bhakti yang manis, dan tidak juga mengemas tantra sebagai jalan spiritual yang steril. Sebaliknya, teks tersebut manual rahasia yang bersifat padat, langsung, kadang kasar, kadang indah dan kadang mengejutkan. Di dalamnya ada bahasan soal tubuh, mantra, guru, Shākti, darah, warna, malam, tempat sunyi, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;yantra, pitha, siddh&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;i, dan pembebasan tidak dipisah-pisahkan. Semua itu ditarik dalam satu medan inti yakni Kula. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;ka dalam pembacaan modern, di sinilah sering terjadi salah paham. Jika tantra hanya dipahami sebagai sekadar “seks spiritual”, maka Kulachudamani akan tampak seperti teks yang bersifat transgresif. Jika didekati semata sebagai mistisisme Devi, sisi ritualnya tampak terlalu teknis dan membumi. Sebaliknya, jika diperlakukan hanya sebagai filsafat, teks ini terasa terlalu pragmatis, langsung, dan prosedural. Akan tetapi justru di situ wataknya sebab Kulachudamani adalah teks yang berdiri di persimpangan antara doktrin, ritual, tubuh, rahasia, dan kuasa Shākti. Teks tidak mengajak pembaca menjadi “penganut Tantra” dalam arti romantis, melainkan memaksa mereka untuk memahami bahwa dalam tradisi Kaula, pengetahuan tidaklah netral. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;strong&gt;Pengetahuan adalah daya yang menuntut wadah. Sedangkan wadah menuntut guru. Tanpa guru, rahasia berubah menjadi permainan ego. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;c&lt;/span&gt;&lt;span...&lt;a href=https://www.duniasiferdot.com/blog/mengenal-kulacudhamani-tantra&gt;Read More&lt;/a&gt;</description>
    </item>
    <item>
      <title>Ketika Satya Menjadi Tumpul  dan Karuṇā Membusuk</title>
      <pubDate>Tue, 09 Jun 2026 13:38:22 -0700</pubDate>
      <link>https://www.duniasiferdot.com/blog/ketika-satya-menjadi-tumpul-dan-karu-a-membusuk</link>
      <guid>https://www.duniasiferdot.com/blog/ketika-satya-menjadi-tumpul-dan-karu-a-membusuk</guid>
      <description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;Saat menapaki jalan Tantra, dilema antara kebenaran dan welas asih bukanlah persoalan dangkal dengan memilih satu dan membuang yang lain. Banyak orang memahami bahwa kebenaran tanpa welas asih dapat berubah menjadi pisau ego, sedangkan welas asih tanpa kebenaran bisa berubah menjadi pembusukan hati. Jika yang pertama melukai atas nama &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;satya&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;/kebenaran, maka yang kedua membiarkan kebohongan bertahan atas nama &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;karuṇā&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;/welas asih. Oleh karena itu, persoalan yang lebih dalam bukan apakah manusia harus menjadi benar atau menjadi baik, melainkan apakah orang cukup jernih untuk mengatakan kebenaran tanpa menjadi kejam, dan cukup berani untuk berwelas asih tanpa mengkhianati realitas. Di titik inilah Tantra menjadi tajam lantaran tidak memanjakan kelembutan palsu, tapi juga tidak memuja kekasaran yang menyamar sebagai kejujuran. Dengan kata lain, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;satya&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;strong&gt; harus memiliki &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;karuṇā&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;strong&gt; agar tidak berubah menjadi kekerasan, sedangkan &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;karuṇā&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;strong&gt; harus memiliki &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;satya &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;strong&gt;agar tidak berubah menjadi korupsi batin.  &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;Akan tetapi ada satu unsur lain yang sering luput dari pandangan manusia, yakni &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;saṁśaya&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt; atau keraguan yang seringkali terlalu lama dipelihara....&lt;a href=https://www.duniasiferdot.com/blog/ketika-satya-menjadi-tumpul-dan-karu-a-membusuk&gt;Read More&lt;/a&gt;</description>
    </item>
    <item>
      <title>Tajam Itu di Pikiran,  Bukan Liar di Mulut</title>
      <pubDate>Sat, 06 Jun 2026 23:54:51 -0700</pubDate>
      <link>https://www.duniasiferdot.com/blog/tajam-itu-di-pikiran-bukan-liar-di-mulut</link>
      <guid>https://www.duniasiferdot.com/blog/tajam-itu-di-pikiran-bukan-liar-di-mulut</guid>
      <description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;lam perspektif tantrik, apa yang tajam di pikiran tidak selalu harus tajam di mulut. Ketajaman pikiran adalah kemampuan melihat, membedakan, dan membedah ilusi sedangkan  ketajaman mulut adalah tindakan mengeluarkan daya potong itu melalui ucapan. Jika dalam pikiran masih berada dalam wilayah viveka atau daya pembeda, maka yang keluar dari mulut sudah masuk wilayah karma, karena kata-kata  yang keluar dari pikiran sudah menjaditindakan. Lebih jauh lagi dalam Kularṇava Tantra, persoalannya bukan apakah seseorang boleh berkata tajam atau tidak. Persoalan yang lebih mendasar yakni dari mana ucapan itu lahir? Apakah dari kejernihan, atau dari ego yang ingin menggigit? Apakah dari kebutuhan membebaskan, atau dari kenikmatan mencela? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;arṇava Tantra tidak mengajarkan manusia menjadi tumpul, pasif, atau sekadar sopan secara sosial. Teks ini justru menuntut kecerdasan, ketajaman menangkap makna, dan keluasan budi. Akan tetapi ketajaman itu tidak boleh turun menjadi mulut yang liar, kasar, penuh celaan, suka bertengkar, dan gemar memuji diri sendiri. Di sinilah perbedaan besar antara pikiran tajam dan mulut tajam. Maka &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;u&gt;seorang murid dalam tradisi Kularṇava bisa ditolak karena ucapan dan ego verbalnya&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;. Hal itu tertulis pada  Kularṇava Tantra, Trayodaśa Ullāsa, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;śloka &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;11–14 yakni | &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;sarvaghātārakaṃ devi sarvotkṛṣṭābhimāninam&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt; | &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;asatyaṃ niṣṭhurāsaktaṃ...&lt;a href=https://www.duniasiferdot.com/blog/tajam-itu-di-pikiran-bukan-liar-di-mulut&gt;Read More&lt;/a&gt;</description>
    </item>
    <item>
      <title>Kandang Paling Sempurna  Bernama Kebebasan</title>
      <pubDate>Wed, 03 Jun 2026 17:21:28 -0700</pubDate>
      <link>https://www.duniasiferdot.com/blog/kandang-paling-sempurna-bernama-kebebasan</link>
      <guid>https://www.duniasiferdot.com/blog/kandang-paling-sempurna-bernama-kebebasan</guid>
      <description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;Byung-Chul Han adalah filsuf kelahiran Korea Selatan yang berkarier intelektual di Jerman. Ia dikenal sebagai pemikir yang menggabungkan filsafat kontinental, Buddhisme Zen, kritik kapitalisme, teori media, dan diagnosis budaya modern. Fokus besarnya adalah patologi masyarakat kontemporer berupa kelelahan, hiperproduktivitas, transparansi, digitalisasi, hilangnya kontemplasi, dan kekuasaan neoliberal yang menyamar sebagai kebebasan. Karya-karya utamanya antara lain T&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;he Burnout Society, The Transparency Society, The Scent of Time, Saving Beauty, The Agony of Eros, In the Swarm, The Disappearance of Rituals, Non-things, Infocracy, Vita Contemplativa, The Crisis of Narration, The Spirit of Hope,&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;Speaking About God: A Dialogue with Simone Weil&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;. Han telah menulis lebih dari 20 buku dan yang sering dibahas adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;The Burnout Society&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;. dalam buku itu Han menulis tentang bagaimana  manusia modern yang tidak lagi ditindas terutama oleh larangan, aturan, atau penguasa eksternal, melainkan oleh dorongan dari dalam dirinya sendiri untuk terus produktif, positif, kreatif, dan sukses. Han melihat masyarakat kontemporer sebagai masyarakat performa di mana orang merasa bebas, tetapi justru mengeksploitasi dirinya sendiri sampai lelah, cemas, depresi, dan kehilangan kemampuan untuk diam. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;Burnout &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;bukan sekadar kelelahan kerja, melainkan gejala zaman ketika manusia berubah menjadi proyek tanpa akhir yang terus memaksa diri melampaui batas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;Buku yang dibahas di sini adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="color:...&lt;a href=https://www.duniasiferdot.com/blog/kandang-paling-sempurna-bernama-kebebasan&gt;Read More&lt;/a&gt;</description>
    </item>
    <item>
      <title>Feodalisme Visual  dan Cara Baru Memuja Kekuasaan</title>
      <pubDate>Tue, 02 Jun 2026 17:28:36 -0700</pubDate>
      <link>https://www.duniasiferdot.com/blog/feodalisme-visual-dan-cara-baru-memuja-kekuasaan</link>
      <guid>https://www.duniasiferdot.com/blog/feodalisme-visual-dan-cara-baru-memuja-kekuasaan</guid>
      <description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;nusia modern sering merasa sudah meninggalkan feodalisme klasik karena merasa hidup dalam demokrasi, berbicara tentang hak warga negara, akuntabilitas, transparansi, meritokrasi, hukum, dan rasionalitas publik. Akan tetapi dalam praktik sosial-politik sehari-hari, sisa-sisa feodalisme tidak benar-benar lenyap melainkan hanya berganti medium. Dulu feodalisme hidup melalui tanah, darah bangsawan, singgasana, mahkota, gelar turun-temurun, dan tata istana. Hari ini ia hidup melalui foto resmi, seragam, pengawalan, protokol, akses VVIP, unggahan media sosial, potongan video pendek, dan posisi tubuh seseorang di dekat pusat kekuasaan. Inilah yang dapat disebut sebagai feodalisme visual sebagai sebuah pola sosial-politik ketika publik memberi penghormatan, kekaguman, legitimasi, bahkan pemujaan kepada seseorang bukan terutama karena gagasan, karya, mandat hukum, tanggung jawab jabatan, atau rekam kerja yang teruji, melainkan karena tanda-tanda visual kedekatannya dengan kuasa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;O&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;ng yang berdiri di samping presiden terlihat penting. Mereka yang memakai seragam terlihat tegas. Siapa yang masuk ruang terbatas terlihat menentukan. Figur yang muncul dalam frame kekuasaan berulang kali dianggap memiliki kuasa yang besar, meskipun publik belum tentu memahami apa jabatan formal, kewenangan hukumnya, hasil kerja, dan kepada siapa ia bertanggung jawab. Maka feodalisme visual adalah cara lama menyembah istana dengan teknologi baru yang bukan lagi ketundukan kepada raja secara eksplisit, melainkan ketundukan kepada bayangan visual kekuasaan. Rakyat tidak lagi harus bersimpuh di depan singgasana. Cukup menatap layar, mengagumi foto, menyebarkan video, membuat fan...&lt;a href=https://www.duniasiferdot.com/blog/feodalisme-visual-dan-cara-baru-memuja-kekuasaan&gt;Read More&lt;/a&gt;</description>
    </item>
    <item>
      <title>Distorsi Pemahahaman Tentang Bhinneka Tunggal Ika</title>
      <pubDate>Sun, 31 May 2026 07:55:38 -0700</pubDate>
      <link>https://www.duniasiferdot.com/blog/distorsi-pemahahaman-tentang-bhinneka-tunggal-ika</link>
      <guid>https://www.duniasiferdot.com/blog/distorsi-pemahahaman-tentang-bhinneka-tunggal-ika</guid>
      <description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;inneka Tunggal Ika sering diterjemahkan sebagai “berbeda-beda tetapi tetap satu.” Terjemahan itu tentu saja benar, tapi belum cukup detail dan terlalu sering dipakai sebagai slogan kewarganegaraan. Padahal asalnya jauh lebih tua, dalam, dan rumit. Dalam akar tekstualnya, Bhinneka Tunggal Ika bukan lahir sebagai semboyan negara-bangsa modern, melainkan sebagai rumusan metafisik dalam dunia Śiwa-Buddha Majapahit abad ke-14. Masalah terbesar dalam pemahaman modern adalah pemotongan konteks terhadap kalimat tersebut. Publik mengingat “&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;Bhinneka Tunggal Ika&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;,” tapi sering melupakan bahkan tidak mengetahui kalimat lengkapnya, “&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;.” Bagian terakhir itulah yang mengandung kunci filosofis tentang tidak ada &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;dharma &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;yang mendua. Artinya, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;strong&gt;perbedaan bukan sekadar fakta sosial, melainkan persoalan bagaimana manusia memahami banyak rupa tanpa kehilangan satu hakikat. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;am konteks Majapahit, frasa ini merupakan pernyataan teologis-politik untuk menjembatani Śiwaisme dan Buddhisme. Pada masa modern, frasa itu diambil kembali sebagai semboyan negara Indonesia, dilekatkan pada lambang Garuda Pancasila, kemudian menjadi bagian dari imajinasi nasional tentang persatuan dalam keberagaman. Bahkan dalam perjalanan itu, maknanya juga mengalami penyempitan, bahkan distorsi. Padahal jika melihat asal tekstualnya, Bhinneka Tunggal Ika...&lt;a href=https://www.duniasiferdot.com/blog/distorsi-pemahahaman-tentang-bhinneka-tunggal-ika&gt;Read More&lt;/a&gt;</description>
    </item>
    <item>
      <title>Islamisasi, Peyorasi Makna dan Politik Pengusiran Tradisi Jawa</title>
      <pubDate>Thu, 28 May 2026 15:29:46 -0700</pubDate>
      <link>https://www.duniasiferdot.com/blog/islamisasi-peyorasi-makna-dan-politik-pengusiran-tradisi-jawa</link>
      <guid>https://www.duniasiferdot.com/blog/islamisasi-peyorasi-makna-dan-politik-pengusiran-tradisi-jawa</guid>
      <description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;slamisasi tidak hanya mengubah ritus, tetapi juga mengubah kamus sosial masyarakat Jawa dan Nusantara. Kata-kata lama tidak selalu hilang sebab  sebagian diselamatkan dengan tafsir Islam, sebagian dipindahkan ke wilayah “budaya”, sebagian lagi direndahkan menjadi “klenik”, “takhayul”, “musyrik”, “bid‘ah”, atau “adat lama”. Dengan kata lain, transisi menuju Islam bukan sekadar perpindahan keyakinan dari Hindu-Buddha atau lokal-animistik menuju &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;tauhid&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;, melainkan perang tafsir atas legitimasi kata. Misalnya saja perubahan makna kata &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;dhukun/dukun&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt; menjadi bentuk peyoratif, dan itu bukanlah satu-satunya kasus. Masih banyak yang lain. Lantas siapa yang berhak menyebut sebuah tindakan sebagai doa, dan siapa yang dicap mantra? Siapa yang disebut wali, dan siapa yang disebut dukun? Mengapa kata “tirakat” bisa diterima, tapi “tapa” dicurigai? Mengapa “berkat” bisa dibawa pulang dari &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;slametan&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;, tapi “sajen” dianggap memberi makan roh halus? Di sinilah Islamisasi bekerja bukan hanya sebagai agama, melainkan sebagai proses semantik, sosial, politik, dan epistemologis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;cara historiografis, pembacaan klasik tentang Jawa banyak dipengaruhi Clifford Geertz melalui &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;The Religion of Java&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt; yang pertama terbit tahun 1960. Geertz membagi kehidupan keagamaan Jawa ke dalam konfigurasi &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;abangan, santri,&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="color:...&lt;a href=https://www.duniasiferdot.com/blog/islamisasi-peyorasi-makna-dan-politik-pengusiran-tradisi-jawa&gt;Read More&lt;/a&gt;</description>
    </item>
    <item>
      <title>Calonarang Sang Janda dari Girah</title>
      <pubDate>Sun, 24 May 2026 23:23:20 -0700</pubDate>
      <link>https://www.duniasiferdot.com/blog/calonarang-sang-janda-dari-girah</link>
      <guid>https://www.duniasiferdot.com/blog/calonarang-sang-janda-dari-girah</guid>
      <description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;Kisah tentang Calonarang bukanlah  sekadar narasi soal “penyihir jahat” dalam folklor Jawa-Bali, tapi lebih dari itu ia adalah simpul besar antara sastra Jawa Kuna, memori politik Airlangga, imajinasi wabah, kultus Durga, tradisi &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;pangiwa-pangleakan&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;, estetika Rangda-Barong, dan cara Bali mengelola kekuatan yang menakutkan tanpa harus menghapusnya. Dalam bentuk paling sederhana, Calonarang dibaca sebagai cerita seorang janda dari Girah atau Dirah yang murka karena putrinya, Ratna Manggali, tidak dilamar orang. Kemudian ia memohon kekuatan kepada Durga, menebar &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;grubug&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;/wabah penyakit, dan akhirnya dikalahkan oleh Mpu Bharadah. Akan tetapi struktur itu hanyalah berkembang di permukaan. Di bawahnya terdapat pertanyaan yang jauh lebih tajam, tentang siapa yang berhak menentukan seseorang sebagai monster, bagaimana masyarakat mengubah rasa takut menjadi stigma, dan mengapa pengetahuan yang berada di luar institusi resmi sering dibaca sebagai ancaman. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;Maka dalam pembacaan yang lebih matang, Calonarang adalah cerita tentang kekuasaan yang gagal membaca wilayah pinggiran. Raja Airlangga memiliki otoritas politik dan militer, tapi kekuatan negara tidak cukup menghadapi wabah yang lahir dari krisis sosial dan kosmologis. Mpu Bharadah memiliki pengetahuan, hanya saja kemenangan yang didapat bukan sekadar pembunuhan karena memberi arah kematian, membingkai ulang daya destruktif, dan mengembalikan krisis ke dalam tatanan dharma. Calonarang sendiri tidak lenyap sebagai tokoh horor bahkan terus hidup sebagai nama teks, pertunjukan, energi, stigma, pengetahuan terlarang, dan luka sosial yang berulang dalam sejarah Jawa-Bali. Dengan demikian kekuatan Calonarang terletak pada...&lt;a href=https://www.duniasiferdot.com/blog/calonarang-sang-janda-dari-girah&gt;Read More&lt;/a&gt;</description>
    </item>
    <item>
      <title>Tubuh Perempuan  sebagai medan Usia, Citra, Kuasa dan Penghakiman</title>
      <pubDate>Sat, 23 May 2026 15:45:06 -0700</pubDate>
      <link>https://www.duniasiferdot.com/blog/tubuh-perempuan-sebagai-medan-usia-citra-kuasa-dan-penghakiman</link>
      <guid>https://www.duniasiferdot.com/blog/tubuh-perempuan-sebagai-medan-usia-citra-kuasa-dan-penghakiman</guid>
      <description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;san Sontag (1933-2004) adalah salah satu intelektual publik Amerika paling tajam pada abad ke-20. Ia lahir di New York, tumbuh di Tucson dan Los Angeles, lalu menempuh pendidikan di University of Chicago dan Harvard. Sontag tumbuh sebagai figur yang sejak muda sudah hidup dalam tegangan antara akademia, ambisi kesusastraan, budaya Eropa, dan rasa tidak cocok terhadap peran perempuan yang disediakan oleh kehidupan konvensional. Ia menikah muda dengan sosiolog Philip Rieff, melahirkan David Rieff pada usia sembilan belas tahun. Akan tetapi jalur hidupnya segera bergerak jauh dari skema domestik yang umum dilekatkan kepada perempuan di masa itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;tag membangun otoritasnya di luar jalur akademik yang lazim. Ia menulis dengan kedalaman teoretis, tampil dengan daya provokasi seorang intelektual publik, dan menjadikan esai sebagai medium untuk membaca seni, politik, tubuh, penyakit, fotografi, serta kebudayaan modern dengan ketajaman yang jarang&lt;br&gt;dimiliki penulis sezamannya. Karya-karyanya seperti &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;Against Interpretation, Notes on “Camp”, On Photography, Illness as Metaphor, &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;Regarding the Pain of Others&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt; memperlihatkan medan pikir Sontag yang luas yakni seni, fotografi, penyakit, perang, film, pornografi, modernisme, serta kekerasan visual. Maka ia disebut sebagai “total package”; esais, novelis, dramawan, pembuat film, tapi juga tampil sebagai intelektual yang aktif dalam diskusi, kuliah, protes anti-Perang Vietnam, perjalanan ke Hanoi, dan kelak ke Sarajevo. Dengan demikian, Sontag...&lt;a href=https://www.duniasiferdot.com/blog/tubuh-perempuan-sebagai-medan-usia-citra-kuasa-dan-penghakiman&gt;Read More&lt;/a&gt;</description>
    </item>
    <item>
      <title>Politik Kegelapan dalam  Setra Gandamayu</title>
      <pubDate>Thu, 21 May 2026 01:01:50 -0700</pubDate>
      <link>https://www.duniasiferdot.com/blog/politik-kegelapan-dalam-setra-gandamayu</link>
      <guid>https://www.duniasiferdot.com/blog/politik-kegelapan-dalam-setra-gandamayu</guid>
      <description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;tra Gandamayu adalah salah satu ruang paling kuat dalam imajinasi religius Bali karena sebagai medan liminal yang tidak hanya dipahami sebagai kuburan angker. Artinya, itu adalah ruang ambang tempat batas antara hidup dan mati, suci dan kotor, manusia dan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;bhuta-kala, sekala&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;niskala&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt; menjadi sangat tipis. Di tempat seperti ini, tubuh manusia kehilangan seluruh nama sosialnya ~gelar, wangsa, kekayaan, kecantikan, kuasa, dan kehormatan, kemudian kembali menjadi unsur yang harus diurai, dibakar, disucikan, dan dikembalikan kepada tatanan kosmis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;Di Setra Gandamayu, roh tidak diperlakukan sebagai bayangan sentimental, melainkan sebagai entitas yang sedang menjalani proses transisi di mana &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;bhuta-kala&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt; diberi bagian melalui ritus agar energi liar tidak mengganggu harmoni desa.  Durga pun hadir dalam wajah &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;krura&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;, yaitu aspek ganas, keras, menakutkan, destruktif, tapi sekaligus transformatif dari kekuatan ilahi. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt;&lt;em&gt;Krura&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000000;"&gt; bukan sekadar “jahat” melainkan adalah daya kosmis yang bekerja melalui bentuk yang menggetarkan berupa kematian, darah, abu, kuburan, malam, penyakit, rasa takut, dan pembongkaran ego. Oleh karena itu, Setra Gandamayu menjadi cermin paling jujur  sebab di sana manusia tidak lagi bisa berlindung di balik sopan santun sosial, status keluarga, atau ilusi kesucian. Kematian memperlihatkan bahwa semua tubuh akhirnya tunduk pada hukum penguraian,...&lt;a href=https://www.duniasiferdot.com/blog/politik-kegelapan-dalam-setra-gandamayu&gt;Read More&lt;/a&gt;</description>
    </item>
  </channel>
</rss>
