Penulisan buku 9 Rahasia Tantra dalam levelseperti non-dualisme, bertemu dengan gagasan filsafat Erwin Schrödinger terutama dalam Mind and Matter dan My View of the World tapi berpisah pada tataran aksen, medan praktik dan bobot tubuh-dunia sebagai mandala. Apa yang saya tulis adalah revisiting terhadap cara memandang dunia, tubuh, emosi, relasi, seksualitas, dan bahkan menolak gagasan tujuan akhir yang absolut. Titik penekannya jelas bukan menambah konsep, melainkan mengubah kualitas perhatian, respons, dan kejernihan tindakan dalam hidup sehari-hari.
Titik temu dengan Schrödinger ada pada gagasan bahwa realitas tidak sungguh-sungguh terbelah. Pernyataan purna-suddha atau “dunia ini sudah suci” berarti dunia bukan benda kotor yang harus disucikan, melainkan ekspresi kesadaran. Apa yang perlu diubah adalah cara memandang, bukan realitasnya. Ini sangat dekat dengan gagasan/doktrin identitas Schrödinger, bahwa pluralitas yang kita lihat hanyalah penampakan, subjek dan objek pada dasarnya bukan dua hal yang terpisah, dan kesadaran pada level terdalam dipahami sebagai satu. Secara struktural, keduanya sama-sama menolak dualisme keras antara “aku” dan “dunia.”
Titik temu kedua adalah pembebasan bukan terutama soal lari dari dunia, melainkan soal koresi cara melihat. Dalam 9 Rahasia Tantra, dibedakan antara level ontologis dan operasional yakni realitas
sudah murni, tetapi pengalaman manusia keruh karena kontraksi persepsi, sehingga praktik diperlukan untuk mengurai bias, reaktivitas, dan salah-lihat. Schrödinger punya pola yang mirip ketika membedakan pluralitas yang teramati dengan kesatuan ultim. Ini bahkan disejajarkan dengan perbedaan antara realitas
konvensional yang tampak majemuk dan realitas ultim yang non-dual. Jadi, keduanya sama-sama tidak puas dengan realisme permukaan.
Tetapi di sinilah perbedaannya mulai tajam.Schrödinger berbicara terutama dalam register metafisika kesadaran; satu kesadaran, pluralitas sebagai appearance, subjek-objek sebagai kesatuan, dan ini dipakai untuk menjawab problem filsafat pikiran, identitas, dan finitude. Sedangkan bahasan Tantra bergerak operasional seperti dunia suci, tubuh mandala, hasrat sebagai tenaga yang harus ditransmutasi, emosi sebagai bahan bakar, relasi sosial sebagai altar uji, dan kebebasan diuji justru saat hidup sedang berisik. Dengan kata lain, Schrödinger lebih dekat ke visi ontologis, sementara Tantra jauh lebih dekat ke arsitektur praksis.
Perbedaan paling penting menurut saya adalah status dunia dan tubuh. Buku 9 Rahasia Tantra jauh lebih afirmatif terhadap dunia empiris dengan melihat bahwa tubuh bukan gangguan, melainkan mandala;
emosi bukan kotoran, melainkan energi mentah; relasi sosial bukan distraksi, melainkan ritual upakara; hasrat bukan untuk dibunuh, tetapi diolah.Schrödinger memang tidak mempertahankan dualisme kasar, tetapi jalur Vedantik yang ia serap cenderung menekankan pluralitas sebagai māyā atau appearance.
Jadi, kalau disederhanakan, Schrödinger berkata “apa yang banyak itu pada dasarnya satu,” sedangkan apa yang saya tulis berkata “apa yang tampak kacau ini tetap sakral, dan justru di sinilah latihan berlangsung.” Itu beda nuansa yang cukup besar.
Lebih jauh, itu membongkar kebutuhan akan“jawaban besar,” mengkritik pencerahan sebagai proyek status, kontrol, dan manajemen risiko, lalu menegaskan bahwa kebebasan bukan tujuan final yang
dikejar, tetapi kualitas hadir yang muncul saat vikalpa/konstruksi berhenti menjajah pengalaman. Schrödinger memang memakai doktrin identitas untuk menghadapi finitude dan kematian, tetapi ia tidak mengembangkan kritik keras terhadap obsesi spiritual akan finalitas, spektakel pencerahan, atau
komodifikasi kesucian.
Maka bisa dikatakan bahwa 9 Rahasia Tantra adalah elaborasi Tantrik yang lebih membumi, lebih embodied, dan lebih operasional atas intuisi non-dual yang juga muncul pada Schrödinger. Jika
Schrödinger memberi kerangka “kesadaran itu satu,” maka saya mendorong satu langkah lebih jauh, “Oleh karena dunia, tubuh, emosi, hasrat, dan relasi tidak boleh dibuang maka semuanya harus dibaca, ditanggung, dan ditransmutasi dengan presisi.” Setidaknya, ontologi identitas Schrödinger diketahui berbanding dengan pedagogi hidup dalam buku tantrik .

