Cukuplah dulu dengan posmodernisme; gagasan yang muncul di era 1990an ~dan suka dituduh sebagai obrolan warung kopi oleh para modernis. Pada tahun 2010, Vermeulen & van den Akker mencetuskan gagasan baru dalam tulisan mereka, Notes on Metamodernism di Journal of Aesthetics & Culture.
Intinya, gagasan metamodernisme (MM) adalah kritik dua arah baik terhadap modernisme dan posmodernisme. Terhadap modernisme, mengkritik keyakinan yang berlebihan pada rasio, kemajuan, universalitas, dan narasi besar, seolah dunia bisa dijelaskan dan diselamatkan secara lurus, pasti, dan final. Sebaliknya, MM juga mengkritik posmodernisme soal sinisme yang muncul, ironi tanpa akhir, dekonstruksi yang mandek, dan ketidakmauan untuk berkomitmen, seolah semua makna harus dicurigai terus sampai tak ada yang bisa dihidupi. Jadi, MM berdiri di antara keduanya; tidak sepolos modernisme, tetapi juga tidak semandek postmodernisme. Tetap sadar akan keretakan, tetapi masih berani berharap, percaya, dan membangun.
Lantas bagaimana mengkaitkan Metamodernisme dengan Tantra? MM adalah cara membaca sensibilitas budaya kontemporer, sedangkan Tantra adalah kerangka ontologis-spiritual. Jika ditelaah maka titik temu keduanya ada pada gagasan osilasi, yakni gerak bolak-balik antara dua kutub yang tidak diselesaikan secara kaku. Vermeulen dan van den Akker menjelaskan metamodernisme sebagai osilasi antara modernisme dan postmodernisme, antara harapan dan keraguan, antara ketulusan dan ironi. Jadi, subjek metamodern bukan kembali menjadi naif, tetapi juga tidak mau menetap dalam sinisme postmodern dengan terus bergerak di antara dua tegangan itu.
Kalo dibawa ke Tantra, terutama dalam arus Kashmir Shaivism Tantra (KST), kita dapat menemukan konsep yang lebih dalam daripada sekadar osilasi psikologis atau kultural, yaitu spanda. Istilah spanda dipahami sebagai denyut atau pulsasi kosmis, yakni gerak halus kesadaran yang membuat realitas tidak pernah statis. Dalam kerangka ini, dunia bukan benda mati, melainkan manifestasi dari kesadaran yang bergetar, mengembang, mengerut, muncul, lalu kembali larut. Dengan demikian, sistem spanda menjadi salah satu inti KST dengan memaknai Śhakti sebagai “cosmic pulsation.”
Dari sini, konjungsi yang paling tepat adalah MM berbicara tentang osilasi pada level pengalaman historis dan budaya, sedangkan Tantra berbicara tentang pulsasi pada level hakikat realitas dan kesadaran. Dalam metamodernisme, manusia modern zaman sekarang hidup di antara dua kutub antara ingin percaya tetapi tahu bahwa semua narasi bisa runtuh. Antara mau tulus tetapi sadar ironi selalu mengintai. Dalam Tantra, terutama nondualisme Shaiva, polaritas seperti diam-gerak, transenden-imanen, Śiva-Śhakti, adalah kontradiksi yang bukan harus dimenangkan salah satunya, melainkan ekspresi dari satu medan kesadaran yang sama.
Jika MM mengatakan bahwa kita hidup dalam tegangan produktif, maka Tantra akan berkata lebih radikal bahwa tegangan itu sendiri adalah cara kesadaran menampakkan diri. Dengan kata lain, MM masih berada pada level “bagaimana manusia merasakan dunia setelah kegagalan modernisme dan kejenuhan postmodernisme,” sedangkan Tantra bergerak ke pertanyaan “apa dasar ontologis yang memungkinkan semua gerak bolak-balik itu terjadi.” Dengan demikian MM bersifat kultural-afektif, sedangkan Tantra adalah ontologis-mistis.
Itulah sebabnya dari sisi osilasi, keduanya sama-sama menolak logika biner yang kaku. MM tidak memilih harapan polos atau sinisme mutlak. Tantra juga ~dalam banyak bentuk, tidak jatuh pada pilihan “dunia harus ditolak” atau “dunia harus dipeluk mentah-mentah.” Tantra justru sering bekerja dengan memasuki dunia, tubuh, energi, hasrat, simbol, lalu menembusnya sampai dasar kesadaran. Maka osilasi di sini bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa realitas dan subjek sama-sama bergerak dalam medan yang hidup.
Dapat disimpulkan bahwa dalam MM, osilasi adalah kondisi eksistensial-kultural sedangkan dalam Tantra, pulsasi adalah struktur realitas itu sendiri. Oleh karena itu, MM bisa dibaca sebagai gejala historis manusia kontemporer yang belum bisa tinggal sepenuhnya di satu kutub, sedangkan Tantra menawarkan pembacaan yang lebih dalam bahwamanusia bukan sekadar hidup di antara kutub, tetapi menyadari dasar nondual yang membuat semua kutub itu mungkin sejak awal.
Maka problem manusia modern bukan semata lantaran terjebak di antara dua kutub, melainkan karena menyangka kutub-kutub itu adalah rumah terakhirnya. MM baru menunjukkan bahwa kita hidup dalam ayunan, sedangkan Tantra menyingkap bahwa pengayun, ayunan, dan geraknya lahir dari kesadaran yang sama. Di titik ini, orang yang hanya pandai berosilasi masih bisa tampak cerdas, tetapi belum tentu sadar. Sebab selama manusia masih mabuk oleh ironi, harapan, luka, bahasa, identitas, dan narasi yang dibuat sendiri, mereka baru pandai membaca gelombang. Belum menyentuh samudra. Becek juga blom. (end/frs)

