Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Spiritualitas Kekinian

Yang Membius

Analisis Singkat dari dari Budaya Afirmatif Marcuse

Hingga Kepenuhan Bhairavī

· Renungan

Spiritualitas kekinian telah berubah menjadi fenomena sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar praktik batin, sebab kini hadir sebagai bagian dari industri wellness yang masif, dipersonalisasi, dipasarkan lintas platform, dan dikonsumsi sebagai gaya hidup sehari-hari. Laporan McKinsey pada 2025 menyebut pasar wellness global bernilai sekitar US$2 triliun, dengan konsumen muda mendorong belanja yang besar pada layanan dan produk wellness. Pada pada saat yang sama, Global Wellness Institute menggambarkan ekosistem meditasi dan mindfulness sebagai sektor yang mencakup kelas, guru, retreat, platform daring, aplikasi, buku, video, hingga perangkat biofeedback dan wearable. Dalam konfigurasi seperti ini, spiritualitas tidak lagi tampil terutama sebagai disiplin pembongkaran diri, melainkan sebagai paket pengalaman yang bisa dibeli, dikurasi, dan diulang sesuai kebutuhan suasana hati.

Itu sebabnya wajah spiritualitas populer hari ini tampak sangat akrab seperti healing weekend, sound bath, breathwork untuk produktivitas, meditasi untuk menstabilkan emosi, retreat untuk “recharge,” kelas kesadaran untuk mengurangi stres kerja, dan konten-konten self-help yang menjanjikan rasa damai tanpa menuntut perombakan serius atas hidup yang dijalani. Bahkan penelitian tentang corporate mindfulness menunjukkan bahwa mindfulness di lingkungan kerja sering diadopsi sebagai jawaban atas hiruk-pikuk, interupsi, dan stres, tetapi dalam prosesnya mengalami saintifikasi, instrumentalisasi, dan komodifikasi. Dengan kata lain, praktik yang semestinya dapat menggoyang struktur pengalaman justru dijahit ulang agar kompatibel dengan struktur yang ada.

Akan tetapi masalah utamanya bukan soal orang ingin sekadar merasa lebih tenang. Keinginan untuk lega, pulih, atau bernapas lebih lapang itu tentu saja manusiawi. Justru masalahnya muncul ketika spiritualitas direduksi menjadi teknologi kenyamanan, sebagai alat untuk membuat orang lebih tahan terhadap hidup yang sesungguhnya perlu dikritik, ditata ulang, atau bahkan ditolak. Pada titik itu, spiritualitas semacam itu tidak lagi menjadi jalan transformasi, melainkan bantalan empuk bagi kelelahan. Spiritualitas kekinian tidak membebaskan manusia dari penjara halus kehidupan modern melainkan hanya memasang diffuser, musik ambient, dan afirmasi positif di dalam sel itu.

Disinilah Herbert Marcuse menjadi sangat berguna. Dalam esai terkenalnya, “The Affirmative Character of Culture” (1937), Marcuse menganalisis bagaimana budaya modern borjuis memisahkan ruang “kultur” dari dunia material sehari-hari. Di satu sisi, kultur memang membuka ruang refleksi, nilai, dan kemungkinan untuk melampaui realitas sosial yang menindas. Akan tetapi di sisi lain, ruang itu kemudian dijinakkan. Budaya diposisikan sebagai ranah batin, kontemplasi, dan pemuliaan jiwa, sementara tuntutan perubahan dunia konkret melemah. Tesis Marcuse ini dengan sangat jelas menyatakan bahwa dalam budaya afirmatif, tuntutan akan kebahagiaan di dunia nyata ditinggalkan demi “kebahagiaan jiwa,” sehingga transformasi batin tidak lagi menuntut transformasi kondisi material.

Marcuse sendiri menulis dengan ketajaman yang sulit disalahpahami. Baginya, kultur modern tidak sungguh mengarahkan manusia pada “dunia yang lebih baik,” melainkan pada “dunia yang lebih mulia,” yang hendak diwujudkan bukan lewat pembalikan tatanan material, tetapi melalui kejadian-kejadian di dalam jiwa individu. Di situlah lahir kalimat telaknya, “Humanity becomes an inner state.” Kemanusiaan dipindahkan ke interioritas. Akibatnya, kebebasan, kebaikan, dan keindahan menjadi kualitas-kualitas spiritual yang harus dipelihara secara personal, tanpa benturan dengan struktur sosial yang ada. Budaya, tulis Marcuse, lalu “meninggikan individu tanpa membebaskannya dari keterhinaannya yang faktual.”

Gagasan Marcuse kini semakin jelas ketika ia membedah konsep jiwa. Dalam bentuk afirmatif, jiwa dipakai sebagai wilayah aman yang seolah belum dijamah proses reifikasi. Akan tetapi, justru di situ jebakannya bahwa jiwa diperlakukan sebagai tempat pengungsian dari dunia, bukan titik tolak untuk menata ulang dunia. Marcuse bahkan menulis singkat dan kejam yakni “The soul glorifies resignation.” Jiwa memuliakan kepasrahan. Kebebasan batin lalu dipakai untuk memaklumi kemiskinan, penderitaan, dan keterikatan tubuh pada tatanan ekonomi. Kebenaran bahwa manusia “tidak hidup dari roti saja” dipalsukan ketika makanan rohani diajukan sebagai pengganti roti yang kurang.

Kalau gagasan Marcuse ini kita tarik ke fenomena spiritualitas kekinian, maka yang tampak adalah bentuk mutakhir dari budaya afirmatif. Orang diajari bernapas agar tetap sanggup bekerja dalam ritme yang merusak. Mereka diajari menerima agar tidak terlalu marah pada ketidakadilan, diajari “melepaskan” bukan untuk melampaui ego, melainkan agar lebih fungsional di dalam mesin yang sama. Diajari kembali ke diri sendiri, tetapi diri yang dimaksud sering kali hanyalah ruang privat tempat luka, cemas, dan lelah ditenangkan supaya tubuh bisa kembali aktif memutar roda produktivitas. Di sini, spiritualitas kekinian tidak menolak dunia, melainkan mendamaikan subjek dengan dunia melalui manajemen afeksi.

Akan tetapi Marcuse tidak berhenti pada kritik. Dalam karya-karya berikutnya ~terutama periode 1960-an, ia mencari bentuk subjektivitas lain yakni Great Refusal dan new sensibility. Bagi Marcuse, masyarakat yang lebih bebas membutuhkan sensibilitas baru yakni perombakan hubungan manusia dengan sesama dan dengan alam, sebagai sebuah pembentukan subjek yang tidak lagi diatur sepenuhnya oleh sistem dominasi. Dari sini kita bisa memahami gagasan Marcuse tentang semacam budaya alternatif bahwa budaya seharusnya bukan dipakai untuk menghibur orang supaya tahan hidup dalam keadaan yang menekan, tetapi untuk membentuk rasa peka, cara melihat, dan kesadaran, sehingga orang tidak lagi bisa menganggap keadaan yang rusak sebagai sesuatu yang wajar. Budaya yang sehat bukan budaya yang meninabobokan konflik, melainkan budaya yang memaksa kita melihat konflik itu dengan jujur sampai kita tidak bisa lagi pura-pura buta.

Pada titik inilah irisan dengan Vijñāna Bhairava Tantra (VBT) menjadi sangat menarik. Sebab VBT tidak bergerak dari asumsi bahwa tujuan tertinggi praktik adalah kenyamanan psikologis. Dalam bagian awal jawaban Bhairava, justru setelah berbagai bentuk, simbol, dan perangkat praksis dinyatakan tidak memadai untuk hakikat tertinggi, śloka 14–16 mendeskripsikan realitas tertinggi dengan bahasa yang membongkar kecenderungan pikiran untuk memakukan pengalaman ke dalam kategori yang bisa dikuasai. Śloka tersebut sebagai penggambaran keadaan tertinggi yang melampauiruang-waktu, tak terkatakan, bebas dari konstruksi mental, dan penuh oleh pengalaman atas yang paling intim.

Bunyi śloka tersebut adalah dik-kāla-kalanonmuktā deśoddeśāviśeṣiṇī | vyapadeṣṭumaśakyāsāv akathyā paramārthataḥ || 14 || antaḥsvānubhavānandāvikalponmukta-gocarā | yāvasthā bharitākārā bhairavī bhairavātmanaḥ || 15 || tad vapus tattvato jñeyaṃ vimalaṃ viśva-pūraṇam | Evamvidhepare tattve kah pujyah kasca trpyati || 16 || Dalam terjemahan bebas kebahasa Indonesia: “Keadaan itu terbebas dari penakaran ruang dan waktu, tidak dibatasi arah atau lokasi, tak mungkin ditunjuk dengan penjelasan, pada akhirnya tak terkatakan. Ia adalah kebahagiaan dari pengalaman akan yang paling batiniah, medan pengalaman yang bebas dari vikalpa, keadaan yang berbentuk kepenuhan meluap: itulah Bhairavī, hakikat Bhairava. Itulah wujud yang sungguh harus dikenali: murni, dan memenuhi segenap semesta.”

Sekarang perhatikan benturannya dengan spiritualitas yang menjual kenyamanan. Dalam logika pasar wellness, sesuatu dianggap bernilai jika bisa dipetakan, dibungkus, diulang, diukur, dipersonalisasi, dan dipasarkan. Śloka 14 justru membuka dengan penolakan atas logika itu. Realitas tertinggi disebut bebas dari kalkulasi ruang-waktu, tanpa lokasi khusus, mustahil ditunjuk, dan tak terkatakan. Ini bukan sekadar permainan mistik. Secara kritis, śloka ini menolak keinginan ego-modern untuk menguasai yang transenden sebagai objek pengalaman yang bisa dipesan seperti layanan premium seperti "tiga hari dua malam, guru terkenal, hasil terukur, pulang lebih tenang". Apa yang tertinggi justru lolos dari semua koordinat yang membuat sesuatu nyaman dikonsumsi.

Śloka 15 lebih tajam lagi. Di sana memang ada kata ānanda ~kebahagiaan atau kenikmatan, tetapi bukan kenikmatan dalam arti relaksasi dangkal. Frasa antaḥsvānubhavānandā menunjuk pada kebahagiaan karena mengalami yang paling dalam dan paling intim dari diri, sedangkan vikalponmukta-gocarā menegaskan bahwa keadaan itu adalah medan pengalaman yang bebas dari konstruksi mental. Di sini VBT memberi koreksi yang keras terhadap spiritualitas populer, bahwa apa yang dicari bukan rasa enak yang dibentuk oleh narasi ego, bukan pula citra “aku sudah sembuh,” bukan juga sensasi bahwa “aku sekarang lebih selaras,” melainkan keadaan yang justru hadir ketika mekanisme konseptual yang terus-menerus menamai, membandingkan, dan mengamankan pengalaman mulai melonggar. Dengan kata lain, ini bukan kenyamanan bagi identitas; ini ancaman bagi identitas yang hidup dari vikalpa.

Istilah bharitākārā juga menentukan sebab śloka ini sebagai keadaan “overflowing fullness,” kepenuhan yang meluap. Banyak spiritualitas kekinian memakai bahasa “fullness,” “wholeness,” atau “abundance,” tetapi sering yang dimaksud hanyalah perasaan subjektif bahwa diri sedang lebih stabil, lebih positif, lebih confident. Dalam VBT, kepenuhan itu bukan dekorasi psikologis, sebab itu adalah keadaan ontologis yang tidak bergantung pada peneguhan citra diri. Oleh karena itulah kepenuhan dikaitkan dengan Bhairavī sebagai hakikat Bhairava yakni bukan mood atau branding, dan bukan pula hasil pengondisian, tetapi kualitas realitas itu sendiri ketika tidak lagi dipersempit oleh vikalpa. Śloka ini tidak mengatakan, “buat dirimu merasa penuh.” tapi menunjuk pada keadaan penuh yang sudah melampaui ekonomi kekurangan milik ego.

Di sinilah irisan yang paling produktif antara Marcuse dan VBT muncul. Marcuse menunjukkan bagaimana budaya afirmatif memindahkan kebebasan ke interioritas yang aman, sehingga dunia luar dibiarkan utuh. VBT, sebaliknya, memang berbicara dari jalan interior, tetapi interioritasnya bukan ruang privat yang terpisah dari dunia. Śloka 16 menyebut keadaan itu viśva-pūraṇam atau memenuhi seluruh semesta. Jadi yang “paling dalam” di sini bukan bunker psikologis, melainkan kedalaman yang justru meluap ke seluruh pengalaman. Ini perbedaan yang sangat halus tetapi menentukan bahwa spiritualitas afirmatif menjadikan batin sebagai tempat persembunyian sedangkan VBT menjadikan kedalaman sebagai jalan untuk menembus pemisahan batin-dunia itu sendiri.

Jika dibaca bersama Marcuse, maka śloka 14–16 tersebut dapat dipahami sebagai anti-program terhadap spiritualitas kekinian yang menjual kenyamanan. Apa yang dibongkar pertama-tama adalah ilusi bahwa keselamatan bisa dikonsumsi sebagai pengalaman privat. Marcuse menyebut mekanisme yang membuat kultur memperhalus kepasrahan sednagkan VBT menunjukkan bentuk pengalaman yang tidak bisa direduksi menjadi produk penenang, karena itu lahir justru saat vikalpa runtuh. Marcuse menyerang fungsi ideologis dari “jiwa” yang dipisahkan dari tubuh dan dunia, sedangkan VBT menolak menjadikan kedalaman batin sebagairuang eskapisme, sebab yang terdalam itu justru murni dan memenuhi seluruh jagat pengalaman. Di sini, pembacaan tantrik justru tidak melunakkan kritik sosial Marcuse, tetapi malah mendorongnya lebih jauh bahwa penjualan kenyamanan spiritual bukan hanya problem politik-budaya, melainkan juga problem ontologis. Spiritualitas kekinian menjadi dangkal bukan cuma karena didepolitisasi, tapi karena masih terperangkap dalam konstruksi yang belum jebol.

Maka apa yang perlu dikatakan dengan jujur adalah ini bahwa banyak spiritualitas kekinian sebenarnya tidak membebaskan manusia dari penderitaan, melainkan memoles hubungan manusia dengan sumber penderitaannya. itu menawarkan rasa teduh tanpa keberanian untuk melihat apa yang harus diguncang dan menjual “inner peace” sambil membiarkan struktur hidup tetap memproduksi kelelahan, kecemasan, kompetisi, keterasingan, dan narsisisme halus. Spiritualitas kekinian membuat orang merasa telah bertumbuh hanya karena reaksinya lebih lembut, padahal ketergantungannya pada kenyamanan justru makin besar. Di tangan pasar, spiritualitas menjadi kosmetik eksistensial. Di tangan ego, itu menjadi bahasa sopan untuk menghindari pembongkaran diri.

Lantas jika demikian, apa yang tersisa? Tentu bukan penolakan terhadap spiritualitas, melainkan justru sebaliknya; penyelamatan spiritualitas dari nasibnya sebagai analgesik dan alat sedatif kelas menengah. Marcuse mengingatkan bahwa budaya harus kembali menjadi ruang negasi, bukan sekadar rekonsiliasi. VBT mengingatkan bahwa kepenuhan tidak lahir dari pemuasan citra diri, tetapi dari terbukanya pengalaman yang bebas dari vikalpa. Maka jalan yang lebih layak disebut spiritual bukan jalan yang membuat kita cepat nyaman, melainkan jalan yang cukup jujur untuk menelanjangi kebutuhan kita akan kenyamanan itu sendiri. Selama seseorang masih mencari ajaran hanya agar bisa merasa aman di dalam dunia yang sakit, maka ia belum sungguh berjalan melainkan baru menyewa suasana.

Kesimpulannya pun menjadi tajam, bahwa spiritualitas yang menawarkan kenyamanan sebagai tujuan akhir adalah bentuk mutakhir budaya afirmatif. Sebab itu memindahkan pembebasan ke dalam rasa, membungkus kepasrahan sebagai kedewasaan, dan mengubah krisis manusia modern menjadi peluang pasar. Gagasan Marcuse memperlihatkan fungsi ideologisnya sedangkan Vijñāna Bhairava memperlihatkan kedangkalan batinnya. Jika Marcuse membongkar bagaimana jiwa dijadikan tempat pengalihan dari perubahan nyata, maka VBT menunjukkan bahwa hakikat tertinggi justru tak bisa direduksi menjadi rasa nyaman yang dikelola ego. Ukuran spiritualitas yang serius bukanlah seberapa cepat menenangkanmu, melainkan seberapa jauh itu meruntuhkan konstruksi yang membuatmu terus membutuhkan penenangan. A spirituality that only comforts you will never free you; it will simply teach your cage how to feel sacred. (end/frs)

Subscribe
Previous
Fenomena Social Climbing
Next
 Return to site
strikingly iconPowered by Strikingly
Cookie Use
We use cookies to improve browsing experience, security, and data collection. By accepting, you agree to the use of cookies for advertising and analytics. You can change your cookie settings at any time. Learn More
Accept all
Settings
Decline All
Cookie Settings
Necessary Cookies
These cookies enable core functionality such as security, network management, and accessibility. These cookies can’t be switched off.
Analytics Cookies
These cookies help us better understand how visitors interact with our website and help us discover errors.
Preferences Cookies
These cookies allow the website to remember choices you've made to provide enhanced functionality and personalization.
Save