Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me


Fenomena Social Climbing

Ketika Māyīya Mala Menjadikan Relasi Sebagai Tangga

dan Harga Diri Digadaikan Pada Status

· Renungan

Ada perbedaan besar antara ingin maju dalam hidup, dengan haus naik kelas sosial dengan cara menjadikan orang lain sebagai alat. Perbedaan itu sering kabur karena masyarakat modern terlalu mudah mengagungkan hasil eksternal seperti jaringan luas, gaya hidup mahal, lingkaran elit, akses eksklusif, dan citra “berkelas”. Dalam kabut semacam itu, social climbing sering disalahpahami sebagai ambisi sehat. Padahal keduanya bergerak dari pusat batin yang berbeda. Di satu sisi, ambisi sehat berpijak pada kompetensi, kerja, disiplin, dan pertumbuhan diri, sedangkan social climbing bertumpu pada kecemasan status, kalkulasi citra, dan dorongan untuk tampak lebih tinggi daripada posisi riilnya.

Pada dasarnya, istilah social climbing merujuk pada pola perilaku ketika seseorang berusaha menaikkan posisi sosialnya dengan cara membangun kedekatan yang strategis kepada orang-orang berstatus lebih tinggi, sambil menjaga citra diri agar terlihat layak masuk ke kelas yang ia incar. Dalam bentuk yang paling halus, ini terlihat seperti pergaulan yang sangat selektif, kebutuhan besar untuk “terlihat satu frame” dengan figur tertentu, atau kebiasaan memamerkan akses ketimbang karya. Dalam bentuk yang lebih kasar, itu tampak sebagai oportunisme, penjilatan, pengabaian teman lama, manipulasi simbol status, hingga pemakaian relasi sebagai kendaraan identitas. Oleh karena itu, social climbing bukan sekadar soal ingin naik kelas sosial, melainkan soal cara batin mengelola rasa kurang melalui simbol-simbol pengakuan.

Untuk membaca fenomena ini secara psikologis, teori yang sangat cocok adalah Social Comparison Theory dari Leon Festinger. Inti teori ini sederhana tetapi tajam, bahwa manusia memahami nilai dirinya dengan membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika perbandingan itu bergerak terus ke atas yakni kepada orang yang lebih kaya, lebih populer, terhubung, dan berpengaruh, maka lahirlah upward comparison, yaitu mekanisme batin yang bisa memicu aspirasi, tetapi juga bisa menyalakan iri, malu, defisit harga diri, dan obsesi status. Di sinilah social climbing mendapatkan bahan bakarnya. Orang itu tidak lagi melihat orang lain sebagai sesama manusia, melainkan sebagai tolok ukur yang menuduh, sekaligus pintu masuk ke strata yang diinginkan.

Dalam banyak kasus, social climbing lahir dari ketegangan batin antara “siapa saya sekarang” dan “siapa yang ingin saya terlihat sebagai”. Jurang antara keduanya sering terlalu menyakitkan untuk diterima, sehingga orang mulai menyusun strategi simbolik. Mereka mungkin belum punya prestasi yang kokoh, tapi punya foto dengan orang penting. Bisa jadi belum punya kedalaman intelektual, tapi pandai memakai bahasa kelas atas. Kemungkinan punya integritas sosial, tapi ia tahu ruang mana yang harus dimasuki, siapa yang harus disapa, mana yang harus ditinggalkan, dan momentum mana yang harus ditunggangi. Ini menjelaskan mengapa social climbing sering sangat aktif di ruang yang berbasis persepsi, bukan substansi seperti media sosial, komunitas kreatif, lingkaran spiritual, dunia gaya hidup, dan jaringan profesional yang sangat bergantung pada asosiasi citra.

Meski demikian, secara definisi social climbing perlu dibedakan dari social mobility. Sebab social mobility adalah perpindahan kelas atau posisi sosial yang terjadi lewat jalur kerja, pendidikan, kompetensi, usaha ekonomi, disiplin, atau perubahan struktur sosial yang memungkinkan mobilitas. Social climbing adalah strategi performatif untuk terlihat lebih tinggi, atau untuk menempel pada kelas tertentu, dengan intensitas yang sering kali lebih besar pada pengelolaan kesan daripada pembangunan kapasitas. Orang yang sungguh bertumbuh tidak perlu sibuk mempertontonkan bahwa mereka sedang naik. Sebaliknya, social climber justru sering sangat sadar panggung, karena yang dibangun pertama-tama bukan fondasi, melainkan impresi.

Lantas apa penyebabnya? Tentu saja jelas tidak bersifat tunggal. Akan tetapi melalui teori perbandingan sosial Festinger, beberapa akar utamanya bisa dibaca dengan jelas. Pertama, ada rasa inferior yang tidak terolah. Seseorang melihat dunia sebagai arena klasifikasi yang kejam, tentang siapa yang dianggap penting, diabaikan, dipuji, dan dipermalukan. Jika sejak awal orang itutumbuh dengan pengalaman direndahkan, kurang dianggap, atau terbiasa menilai diri berdasarkan validasi luar, maka ia lebih rentan menyamakan martabat dengan posisi sosial. Dalam kondisi ini, status bukan lagi bonus; melainkan menjadi obat psikis karena dipakai untuk membalut luka malu.

Kedua, ada budaya yang terlalu memuja simbol. Masyarakat kontemporer, terutama yang sangat terpapar media sosial, bekerja dengan logika visibilitas. Orang dinilai dari tampilan, koneksi, tempat nongkrong, merek yang dipakai, siapa yang follow, siapa yang menyapa, siapa yang mengundang. Ketika budaya sudah menilai manusia melalui lambang-lambang eksternal, maka orang yang rapuh secara internal akan terdorong untuk mengejar lambang itu sebagai jalan pintas menuju pengakuan. Ia belajar bahwa terlihat dekat dengan kuasa sering lebih menguntungkan daripada diam-diam membangun kualitas.

Ketiga, ada kecemasan eksistensial yang dibungkus sebagai gaya hidup. Banyak orang takut dianggap gagal, takut tertinggal, takut biasa-biasa saja, takut kembali ke kelompok asalnya, bahkan takut terlihat setara dengan orang yang dulu ia kenal. Dari sini lahir dorongan untuk melakukan pemisahan identitas. Ia mulai menyeleksi pergaulan dengan sangat kalkulatif, bukan berdasarkan kedalaman, tetapi berdasarkan nilai tukar simbolik. Pertemanan berubah menjadi portofolio. Kehadiran sosial berubah menjadi investasi reputasi.

Keempat, ada struktur sosial yang memang menghukum yang “tak tampak”. Dalam dunia kerja, dunia kreatif, bahkan dunia spiritual, akses sering diberikan lebih cepat kepada mereka yang sudah terlihat berjejaring. Maka sebagian orang belajar bahwa agar didengar, mereka harus dulu terlihat dekat dengan yang sudah punya panggung. Masalahnya muncul ketika strategi ini tidak lagi menjadi taktik situasional, tetapi berubah menjadi struktur kepribadian. Pada titik itu, seseorang tidak sekadar memakai jaringan, melainkan hidup sebagai pemburu asosiasi.

Sedangkan ciri karakteristik para social climbers biasanya bisa dikenali dari pola yang berulang. Mereka sangat sensitif terhadap hierarki. Dalam ruangan yang sama, matanya cepat membaca siapa yang berkuasa, siapa yang sedang naik daun, siapa yang punya pengaruh, siapa yang masih bisa dimanfaatkan. Mereka pandai mengubah intonasi, gaya bicara, bahkan bahasa tubuh sesuai status lawan bicara. Kepada yang dianggap lebih tinggi, bisa sangat hangat, antusias, dan akomodatif. Kepada yang dianggap tak berguna bagi citranya, imereka malah sering datar, menunda respons, atau bahkan dingin. Di sini terlihat bahwa relasi baginya bukan ruang perjumpaan, melainkan peta posisi. Ciri lain adalah kebutuhan besar untuk mengelola impresi. Mereka suka terlihat berada di tempat yang“benar”, bersama orang yang “tepat”, pada momen yang “bernilai sosial tinggi”. Mereka suka menampilkan kedekatan, meskikedekatan itu dangkal. Mereka juga dapat mengunggah, menyebut, menandai, atau menyiratkan koneksi tertentu agar publik membaca statusnya melalui pantulan status orang lain. Dalam logika ini, orang lain bukan lagi subjek; orang lain menjadi cermin pantul gengsi.

Para social climbers juga kerap punya pola afeksi yang selektif dan transaksional dengan mudah akrab ketika ada prospek manfaat. Mereka pandai membuat dirinya terasa relevan, bisa pula tampil suportif, lucu, cerdas, spiritual, intelektual, atau “merakyat” tergantung panggung yang sedang dimasuki. Akan tetapi kehangatan ini sering kehilangan konsistensi ketika nilai tukar relasi menurun. Itu sebabnya banyak orang baru sadar sedang dipakai setelah momentum sosialnya habis yakni ketika jabatan selesai, pangkat mentok, akses tertutup, popularitas surut, atau jejaring tertentu tak lagi menguntungkan.

Maka dalam operasional sehari-hari, social climbing bekerja lewat beberapa tahap psikologis yang cukup konsisten. Tahap pertama adalah pemindaian status. Orang itu mengamati ekosistem sosialnya soal siapa yang menjadi pusat perhatian, siapa yang sedang diorbitkan, siapa yang punya koneksi lintas kelompok, siapa yang dapat memberikan legitimasi. Tahap kedua adalah penyesuaian diri. Ia mulai mengubah presentasi dirinya dengan cara berpakaian, gaya bicara, preferensi kultural, bahkan opini agar kompatibel dengan kelas sosial yang diincar. Tahap ketiga adalah penempelan simbolik, yaitu usaha untuk terlihat berada dalam orbit orang atau kelompok tertentu. Tahap keempat adalah reproduksi citra dengan mengulang narasi, gestur, dan tanda-tanda yang memberi kesan bahwa dirinya sudah menjadi bagian dari kelas itu. Tahap kelima adalah pemutusan selektif yakni relasi yang dianggap tidak mendukung kenaikan citra mulai dijauhkan, disembunyikan, atau diperlakukan sebagai beban identitas.

Mekanisme itu menunjukkan sesuatu yang penting bahwa social climbing bukan sekadar tindakan sesaat, melainkan sistem pertahanan diri. Orang tersebut sedang berusaha keluar dari rasa kecil melalui penggabungan simbolik dengan yang dianggap besar. Ia meminjam kemuliaan dari luar karena belum cukup kuat menegakkan nilai dirinya dari dalam. Dengan demikian social climbing sering tampak sibuk, cermat, dan sosial, tetapi sebenarnya digerakkan oleh ketakutan. Ketakutan terbesar mereka biasanya bukan miskin secara material, melainkan miskin secara pengakuan.

Itulah sebabnya dampak social climbing bagi pelaku sendiri cukup serius. Di permukaan, social climbers mungkin terlihat berhasil dengan relasi meluas, ruang masuk terbuka, akses meningkat, citra naik. Akan tetapi secara psikologis, hidup yang terlalu ditopang oleh perbandingan sosial menghasilkan kelelahan identitas. Orang harus terus menjaga performa, membaca kelas sosial, menyesuaikan topeng, dan memastikan mereka masih dianggap relevan oleh lingkungan yang lebih tinggi. Mereka hidup dalam vigilance sosial yang melelahkan, di mana setiap pertemuan bisa terasa seperti ujian kelas dan setiap penurunan perhatian terasa seperti ancaman harga diri. Lama-kelamaan, orang seperti ini juga rentan kehilangan pusat diri, sebab nilai dirinya bergantung pada medan eksternal, mereka sulit membedakan mana keinginan otentik dan mana hasrat yang ditanamkan oleh rasa minder. Mereka bisa mengadopsi selera yang bukan miliknya, keyakinan yang bukan hasil pemikirannya, bahkan relasi yang sebenarnya tidak memberi nutrisi batin apa pun. Bergerak naik, tetapi dengan inti diri yang makin kosong. Semakin tinggi panggungnya, semakin besar kebutuhan untuk terus dipastikan.

Dampak sosialnya pun juga merusak lantaran social climbing mencemari kepercayaan. Pelaku membuat pertemanan terasa penuh agenda, serta menumbuhkan budaya asosiasi palsu, di mana kedekatan lebih dihargai daripada karakter. Mereka juga merusak meritokrasi karena akses diperlakukan lebih penting daripada kapasitas. Selain itu juga memperluas kecemasan kolektif, sebab semakin banyak orang merasa harus “terlihat naik” agar dianggap layak. Dalam komunitas, ini melahirkan atmosfer kompetitif yang halus tetapi beracun di mana orang tidak lagi bertanya siapa yang tulus, melainkan siapa yang paling strategis.

Di dunia digital, dampak ini menjadi lebih keras. Media sosial memberi panggung sempurna bagi social climbing karena itu menyatukan tiga hal sekaligus yakni visibilitas, arsip citra, dan ekonomi perhatian. Orang bisa membangun ilusi kedekatan hanya dengan foto, mention, komentar, undangan, atau placement di event tertentu. Akibatnya, persepsi publik menjadi sangat mudah dibentuk tanpa perlu landasan yang kokoh. Di ruang seperti ini, social climbing tidak lagi tampak memalukan melainkan justru sering dipuji sebagai networking, personal branding, atau kecerdikan sosial. Padahal ketika relasi diubah menjadi teknik pengangkatan kelas, yang hilang adalah martabat perjumpaan itu sendiri.

Di sinilah perspektif tantrik memberi irisan yang sangat kuat. Diksi yang cocok untuk membaca gejala ini adalah māyīya mala. Dalam horizon tantrik Kashmir Shaivism, mala adalah selubung atau keterbatasan yang mengerutkan keluasan kesadaran. Māyīya mala berkaitan dengan keterikatan pada pembedaan, klasifikasi, kategori, label, dan struktur pemisahan: tinggi-rendah, elit-biasa, penting-tidak penting, layak-tidak layak. Kesadaran yang terjerat māyīya mala melihat realitas terutama melalui sekat-sekat diferensiasi. Nilai tidak dibaca dari hakikat, melainkan dari posisi dalam susunan simbolik.

Maka social climbing adalah salah satu gejala sosial paling telanjang dari māyīya mala. Orang tidak lagi menjumpai manusia sebagai pusat kesadaran yang utuh, melainkan sebagai penanda kelas. Nama menjadi badge, tempat menjadi legitimasi, relasi menjadi aset, dan tubuh menjadi etalase. Dalam keadaan seperti ini, hidup dipersepsi sebagai tangga, bukan medan kesadaran. Maka yang dikejar bukan kedalaman, melainkan ketinggian yang bisa dilihat orang lain. Ini sebabnya para social climbers kerap tampak sibuk dengan diferensiasi tentang siapa inner circle, siapa cuma kenalan, siapa yang bisa diposting, siapa yang cukup disimpan, siapa yang layak dipamerkan, siapa yang harus disembunyikan.

Tantra memotong logika itu dengan sangat keras dengan menunjukkan bahwa keterikatan pada label hanyalah penyempitan pandang. Kesadaran yang luas tidak runtuh hanya karena tidak diundang elite, tidak mendadak mulia hanya karena duduk semeja dengan orang besar, dan tidak bertambah esensinya hanya karena dilihat publik berada di orbit yang dianggap tinggi. Dalam pembacaan ini, social climbing adalah bentuk kemiskinan batin yang berasa kurang tapi berpakaian mewah untuk menyamar sebagai strategi kelas. Hal ini tentu saja bukan berarti seseorang dilarang bertumbuh, berjejaring, atau memperluas pergaulan. Masalahnya bukan itu, melainkan ketika relasi kehilangan kedalaman etis dan berganti menjadi teknik akumulasi status. Seseorang boleh naik secara sosial, ekonomi, intelektual, bahkan spiritual. Akan tetapi ketika seluruh geraknya ditentukan oleh siapa yang bisa menaikkan citranya, ia sedang membangun rumah di atas pantulan. Begitu pantulan bergeser, maka rumah itu jadi retak.

Maka pertanyaan yang lebih jujur bukan “apakah orang ini berhasil masuk kelas yang lebih tinggi?”, melainkan “berapa banyak dirinya yang sudah ia gadaikan untuk bisa diterima di sana?” Sebab sering kali yang hilang bukan cuma ketulusan, tetapi juga keberanian untuk berdiri sebagai diri sendiri tanpa sandaran
simbolik. Orang yang sehat secara batin bisa menghormati status tanpa menyembahnya. Ia bisa membangun jejaring tanpa mengorbankan martabat, dapat pula masuk ke ruang besar tanpa mengecilkan orang yang tak punya panggung. Ia tahu bahwa nilai diri yang lahir dari substansi akan bertahan lebih lama
daripada nilai diri yang dipinjam dari asosiasi.

Pada akhirnya, social climbing adalah cermin dari zaman yang terlalu lapar pengakuan dan terlalu miskin kedalaman. Sikap demikian lahir ketika manusia lebih takut tampak biasa daripada menjadi kosong, bertumbuh subur ketika orang lebih rajin memoles akses daripada membangun isi, dan dipelihara oleh budaya yang memuja kedekatan dengan kuasa lebih tinggi daripada kejujuran karakter. Oleh karena itu, social climbing jarang sekadar menjadi persoalan gaya bergaul karena itu adalah gejala peradaban yang membuat banyak orang percaya bahwa derajat bisa dinaikkan lewat panggung, padahal martabat hanya tumbuh lewat integritas.

Jadi, kesimpulan yang paling menohok adalah para social climbers bukan orang yang sedang naik, melainkan orang yang belum pernah benar-benar berdiri. Mereka tampak bergerak ke atas, tetapi pusat hidupnya tetap tergantung pada mata orang lain. Mereka juga mengira sedang membangun masa depan, padahal sering hanya sedang memindahkan rasa minder ke lingkungan yang lebih mahal. Selama ukuran dirinya tetap diserahkan kepada hierarki sosial, selama itu pula akan sibuk memanjat, tetapi tak pernah sampai pada rasa cukup. Those who build their worth on borrowed status will spend their lives climbing ladders that never reach the sky. (end/frs)



Subscribe
Previous
Di Balik Selubung Bhairawī
Next
 Return to site
strikingly iconPowered by Strikingly
Cookie Use
We use cookies to improve browsing experience, security, and data collection. By accepting, you agree to the use of cookies for advertising and analytics. You can change your cookie settings at any time. Learn More
Accept all
Settings
Decline All
Cookie Settings
Necessary Cookies
These cookies enable core functionality such as security, network management, and accessibility. These cookies can’t be switched off.
Analytics Cookies
These cookies help us better understand how visitors interact with our website and help us discover errors.
Preferences Cookies
These cookies allow the website to remember choices you've made to provide enhanced functionality and personalization.
Save