Pada saat seperti sekarang, ada ironi yang makin sulit disangkal dalam kehidupan kaum urban Indonesia yakni jumlah kelas menengah yang menyusut dan pertunjukan kemewahan malah terasa makin gaduh. Misal, mobil mahal dipajang seperti medali, screenshot saham dibagikan seperti sertifikat kecerdasan, dan kamar hotel mewah diubah menjadi altar kecil tempat orang menyembah citra dirinya sendiri. Apa yang dipamerkan itu bukan lagi sekadar barang atau pengalaman, melainkan bukti visual bahwa hidup masih aman terkendali dan tetap layak dihormati. Akan tetapi kontradiksi yang muncul justru karena rasa aman itu melemah, kebutuhan untuk menampakkannya menjadi makin agresif.
Secara material, kegelisahan semacam itu memang punya fondasi yang cukup kuat. Data BPS menjelaskan bahwa pada September 2024, kelas menengah Indonesia ~yang didefinisikan sebagai rumah tangga dengan pengeluaran 3,5 sampai 17 kali garis kemiskinan, berjumlah 48,41 juta orang atau 17,25 persen populasi. Di saat yang sama, kelompok “menuju kelas menengah” mencapai 138,31 juta orang atau 49,29 persen, sementara kelompok rentan miskin 68,51 juta orang atau 24,42 persen. Jadi, mayoritas penduduk Indonesia bukan hidup di wilayah kemapanan tebal, melainkan di sabuk sosial yang sangat mudah tergelincir. Dengan kata lain, orang bisa tampak mapan, tetapi pijakannya tipis dan berisiko retak.
Jika ditarik ke belakang, maka penyusutan itu jelas. Data resmi melaporkan bahwa porsi kelas menengah Indonesia turun dari sekitar 21,5 persen populasi pada 2019 menjadi sekitar 17,1 persen pada 2024. BPS sendiri menegaskan bahwa sekalipun komposisi ini mengecil, kelas menengah bersama kelompok menuju kelas menengah tetap mencakup 66,35 persen penduduk dan menyumbang 81,49 persen total konsumsi rumah tangga. Dengan kata lain, kelas menengah melemah justru ketika ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada belanja mereka. Ini paradoks yang serius dengan kesimpulan bahwa kelompok yangmenopang konsumsi nasional justru hidup dalam rasa aman yang makin genting.
Oleh karena itu, budaya pamer kelas menengah tidak cukup dibaca hanya sebagai kebiasaan norak atau sekadar kegemaran bermedsos. Di sinilah Jean Baudrillard jauh lebih berguna daripada komentar moral biasa. Kerangka yang relevan bertumpu pada karya-karya spesifiknya seperti The System of Objects (1968), The Consumer Society (1970), For a Critique of the Political Economy of the Sign (1972; terjemahan Inggris 1981), dan kemudian Simulacra and Simulation (1981; edisi Inggris 1994). Fase awal gagasan Baudrillard ini adalah upaya membaca objek, konsumsi, dan tanda sebagai struktur sosial yang bukan sekadar soal fungsi barang.
Dalam The System of Objects (1968), Baudrillard menyatakan objek modern tidak pernah netral, di mana barang bukan hanya alat, melainkan bagian dari sistem makna. Dari The Consumer Society (1970), gagasan itu diperluas bahwa konsumsi bukan terutama soal memenuhi kebutuhan biologis, tetapi soal diferensiasi sosial, soal bagaimana manusia menempatkan diri di hadapan orang lain lewat benda. Jadi, membeli bukan cuma tindakan ekonomi, melainkan tindakan semiotik. Orang mengonsumsi untuk dibaca, dan ketika sebuah masyarakat semakin visual, kompetitif, dan haus pengakuan, maka benda-benda itu berubah menjadi bahasa status yang jauh lebih fasih daripada kata-kata. Kemudian datanglah simpul yang paling penting untuk kasus Indonesia yakni For a Critique of the Political Economy of the Sign (1972). Di sini, pembacaan tentang sign-value menjadi tajam. Sebab bagi Baudrillard, komoditas tidak lagi cukup dijelaskan lewat use value atau exchange value, lantaran itu juga memikul sign-value yakni gaya, prestise, kemewahan, kuasa, dan social standing. Barang dibeli dan dipajang bukan hanya untuk dipakai, tetapi untuk menandai posisi. Semakin prestisius rumah, mobil, atau pakaian seseorang, semakin tinggi nilainya dalam sistem tanda itu. Inilah titik yang paling relevan ketika kita melihat kelas menengah Indonesia memamerkan mobil, saham, hotel, hingga kopi mahal. Apa yang dikonsumsi bukan lagi fungsi semata, melainkan status yang bisa dibaca publik.
Gagasan berikutnya datang melalui Simulacra and Simulation (1981). Di sini Baudrillard bergerak lebih jauh dengan pernyataan bahwa masyarakat kontemporer tidak lagi diaturterutama oleh produksi barang, tetapi oleh sirkulasi citra, model, kode, dan permainan tanda. Ini adalah fase di mana masyarakat yang diorganisasi oleh “simulasi”, yakni ketika identitas, relasi sosial, bahkan persepsi tentang realitas dibentuk oleh citra dan model yang beredar. Artinya, yang tampil di depan mata bukan lagi cermin realitas, tetapi pengganti realitas. Orang hidup bukan hanya dalam dunia benda, melainkan dalam dunia representasi benda. Bukan lagi “apakah kamu aman?”, tetapi “apakah kamu tampak aman?” Bukan “apakah kamu kaya?”, melainkan “apakah kamu terlihat seperti orang kaya?”
Jika kerangka itu ditarik ke Indonesia hari ini, maka kita bisa membaca budaya pamer kelas menengah sebagai apa yang secara populer dapat disebut agama pamer. Ini tentu bukan istilah Baudrillard, melainkan inferensi dari kerangkanya. Mengapa “agama”? Sebab itu punya dogma, ritus, dan ganjaran. Dogmanya, nilai manusia harus terlihat. Ritusnya berupa unggah, pamer, bandingkan, dan perbarui citra. Ganjarannya jelas seperti validasi, iri sosial, rasa aman semu, dan pengakuan. Hukuman bagi yang gagal menjalankan ritus itu juga jelas yakni dianggap biasa saja, ketinggalan, gagal naik kelas, atau kalah dalam pasar gengsi. Dalam skema ini, konsumsi bukan lagi perilaku melainkan menjadi liturgi status. Terlebih media sosial membuat logika semacam itu meledak. DataReportal mencatat bahwa pada awal 2025 Indonesia memiliki 212 juta pengguna internet dan 143 juta identitas pengguna media sosial, setara 50,2 persen populasi. Dalam masyarakat sebesar itu, setiap pembelian berpotensi menjadi pertunjukan, setiap pengalaman bisa
diproduksi sebagai bukti, dan setiap bukti bisa dikapitalisasi menjadi citra diri. Apa yang dulu hanya dipamerkan ke tetangga kini dipamerkan ke ratusan, ribuan, bahkan jutaan pasang mata. Maka hotel mewah bukan lagi tempat istirahat, melainkan latar visual. Saham bukan cuma instrumen investasi, tapi kostum literasi finansial. Mobil bukan semata alat mobilitas karena itu jadi caption tanpa kata tentang “aku berhasil.”
Pada titik ini, pertanyaan pentingnya berubah dengan bukan lagi “mengapa mereka suka pamer?”, melainkan “mengapa mereka membutuhkan pamer?” Jawabannya jelas ada pada kecemasan status. Kelas menengah adalah lapisan yang paling mudah cemas karena berada di ruang antara dua ketakutan yakni perasaan belum cukup mapan untuk tenang, tetapi sudah cukup naik untuk takut jatuh. Mereka tidak memiliki bantalan aset setebal kelas atas, tetapi juga tidak lagi bisa hidup tanpa menjaga penampilan sosial. Jadi kelas menengah harus terus membuktikan diri, sebab bekerja saja tidak cukup dan hasil kerja harus terlihat. Menabung saja tidak memadai karena kecerdasan finansial harus dipertontonkan. Liburan saja tidak puas lantaran suasananya harus dipublikasikan. Itulkah sebabnya kelas menengah hidup bukan cuma di pasar tenaga kerja, tetapi juga di pasar persepsi.
Kecemasan seperti itu tidak lahir dari ruang hampa. BPS mencatat bahwa proporsi pekerjaan informal naik dari 59,17 persen pada Februari 2024 menjadi 59,40 persen pada Februari 2025. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran terbuka memang turun tipis, tetapi jumlah penganggur absolut justru naik dari 7,20 juta menjadi 7,28 juta karena pertumbuhan angkatan kerja lebih cepat daripada penyerapan kerja. Jadi problemnya bukan semata “ada kerja atau tidak,” melainkan kualitas dan kestabilan kerja. Banyak orang bekerja, tetapi tidak cukup aman untuk merasa masa depannya kokoh. Dalam situasi seperti ini, citra sukses menjadi semacam penyangga psikologis sebagai upaya berpikir positif bahwa setidaknya kalau ekonomi belum benar-benar kokoh, tampilannya harus kokoh dulu.
Oleh karena itu, mobil mewah dalam kelas menengah Indonesia sering bekerja sebagai pernyataan ontologis yakni “aku bukan orang gagal.” Dalam pembacaan populer, orang kerap bilang, “biarkan saja, toh itu hasil kerja keras.” Kalimat itu tentunya tidak salah, tetapi terlalu dangkal. Sebab apa yang perlu dilihat adalah mengapa hasil kerja keras itu harus segera diterjemahkan ke dalam simbol yang bisa dibaca orang. Jawabannya sederhana, karena dalam masyarakat yang digerakkan sign-value, pengakuan sosial tidak menunggu kualitas batin, integritas intelektual, atau kedalaman karakter. Masyarakat seperti itu membaca benda lebih cepat daripada membaca manusia. Mobil adalah singkatan sosial yang efisien sehingga orang tidak perlu kenal isimu untuk mengira nilai dirimu. Hal yang sama berlaku pada saham. Di Indonesia sekarang, saham tidak hanya menjadi perangkat akumulasi, tetapi juga aksesoris identitas. Begitu seseorang bisa membicarakan portofolio, IHSG, atau cuan mingguan, ia tidak cuma sedang mengelola uang tapi juga sedang menampilkan diri sebagai manusia modern, rasional, visioner, dan “naik level.” Padahal, dalam logika Baudrillard, justru di sini jebakannya; tanda kecerdasan finansial bisa beredar lebih cepat daripada substansinya. Screenshot aplikasi sekuritas dapat berfungsi sebagai simbol kelas, bahkan ketika nilai investasinya sendiri kecil, volatil, atau belum berarti secara struktural. Sebab apa yang dijual bukan portofolionya, tetapi auranya. Saham menjadi semacam parfum intelektual bagi kelas menengah urban.
Hotel mewah pun lebih menarik lagi karena memperlihatkan bagaimana kelas menengah modern tidak selalu mampu memiliki kemewahan, tetapi mampu menyewa fragmen kemewahan untuk dikurasi menjadi citra. Satu malam di hotel premium bisa menjadi paspor simbolik untuk masuk ke imajinasi elit, walau hanya sebentar. Di sini kemewahan berubah menjadi pengalaman sewaan yang tujuan utamanya bukan lagi menikmati ruang, tetapi menghasilkan bukti. Maka kita sedang menyaksikan pergeseran dari kepemilikan ke representasi. Orang tidak harus lama-lama menjadi elit, tapi cukuplah terlihat seperti elit selama konten itu hidup. Inilah simulakra bekerja sangat telanjang bahwa citra pengalaman menjadi lebih penting daripada pengalaman itu sendiri.
Hanya saja menyebut itu semua sebagai kesalahan moral individu saja, akan jadi asumsi yang terlalu malas sebab struktur ekonomi juga ikut memproduksi agama pamer. Dengan kata lain, pamer kelas menengah tidak boleh dibaca secara naif sebagai “suka gaya” belaka. Itu adalah gejala psikososial dari kecemasan status. Ketika mobilitas sosial makin berat, pekerjaan formal tidak tumbuh secepat yang dibutuhkan, dan biaya hidup naik lebih cepat daripada rasa aman, orang mulai mengandalkan citra untuk mempertahankan martabat. Pembacaan populer terhadap gejala ini biasanya jatuh ke dua kutub yang sama-sama dangkal. Kutub moralistik beranggapan orang pamer dianggap norak, haus validasi, atau kampungan. Sedangkan kutub permisif menyatakan itu hak pribadi, hasil jerih payah, jangan iri. Tentu saja keduanya meleset, sebab yang pertama gagal membaca struktur kecemasan dan ekonomi tanda, sedangkan yang kedua gagal membaca bagaimana subjek pelan-pelan menjadi budak bagi citra yang diciptakan sendiri. Maka yang lebih tepat adalah agama pamer kelas menengah adalah gejala ketika martabat pribadi tidak lagi cukup hanya ditopang oleh kerja, karakter, dan kompetensi, sehingga harus terus diinfus oleh representasi visual. Itu bukan cuma penyakit selera, tapi adalah gangguan pada cara masyarakat mengukur nilai manusia.
Dengan demikian problem terdalamnya bukan pada mobil, saham, atau hotel itu sendiri. Masalah intinya adalah ketika seluruh benda itu berubah menjadi prostetik harga diri. Begitu harga diri terlalu bergantung pada benda, subjek menjadi rapuh. Orang harus terus membeli tanda baru agar tidak merasa tenggelam. Mereka harus terus memproduksi bukti bahwa dirinya masih naik kelas, dan menyuplai feed dengan citra sukses agar tidak berhadapan dengan kekosongan yang lebih jujur bahwa banyak dari yang disebut “kemapanan” ternyata hanyalah manajemen persepsi. Dalam bahasa yang lebih kasar, sebagian kelas menengah Indonesia tidak sedang menikmati keberhasilan tapi sedang melakukan kurasi terhadap ketakutan agar tampak seperti berhasil.
Akhirnya, kelas menengah Indonesia hari ini secara nyata hidup di bawah tekanan ganda yakni tekanan ekonomi untuk bertahan dan tekanan simbolik untuk terlihat menang. Dari sinilah lahir figur sosial yang akrab sekali di kota-kota besar seperti penghasilan biasa, cicilan panjang, tabungan tipis, tetapi citra harus premium. Kelas menengah seperti ini tidak miskin dalam arti statistik, tetapi sering miskin dalam rasa aman. Oleh karena rasa aman itu mahal, maka dibeli dalam bentuk yang paling murah sekaligus paling berisik yakni sikap pamer. Pedihnya, masyarakat lalu bertepuk tangan pada kemasannya dan lupa bertanya apakah isinya sungguh ada. Itulah sebabnya agama pamer bukan sekadar kebiasaan jelek, tapi adalah gejala kebudayaan yang menukar kedewasaan dengan display, dan menukar integritas dengan estetika status.
Kesimpulannya sederhana, tapi tetap saja pahit bahwa kelas menengah Indonesia tidak sedang hidup dalam kemapanan, melainkan dalam dramaturgi kemapanan. Mereka harus terus terlihat naik karena diam sedikit saja bisa dibaca turun. Baudrillard membantu kita melihat bahwa mobil, saham, dan hotel mewah bukan sekadar benda, melainkan tanda. Di era simulasi, tanda itu sering lebih menentukan martabat sosial daripada realitas hidup yang sebenarnya. Maka pamer bukan lagi deviasi kecil, tetapi liturgi utama masyarakat yang sudah terlalu lama diajari bahwa eksistensi harus dibuktikan lewat display. Di hadapan masyarakat seperti ini, pertanyaan yang paling memalukan bukan “siapa yang paling kaya?”, melainkan “siapa yang paling takut terlihat biasa?”. Well, they are not displaying wealth. They are mass-producing the illusion that they have escaped precarity. (end/frs)

