Dalam perbincangan umum yang sering ditemui di dunia nyata mau pun media sosial, ada skeptisisme yang terlihat cerdas di permukaan tapi rapuh secara logika, yakni penolak terhadap kata “energi” utamanya dalam dimensi spiritualitas. Alasannya sederhana, hanya karena kata itu tidak bisa dibuktikan oleh ilmu psikologi maka energi macam begitu tidak ada. Kalimat demikian seolah akademis, padahal sebenarnya seringkali memindahkan masalah dari ranah empiris ke semantik. Artinya, fenomena tentang energi spiritual tidak benar-benar dibantah melainkan sekadar alergi pada kata tersebut. Hal ini penting untuk melakukan pembedaan, sebab dalam sehari-hari ketika orang berkata “ruangan ini berat”, “orang itu auranya menekan”, “habis ketemu dia saya terkuras”, belum tentu mereka sedang mengajukan teori fisika baru. Sering kali mereka sedang menceritakan pengalaman tubuh, emosi, dan relasi yang nyata, tapi dengan bahasa awam yang belum rapi. Menertawakan pengalaman itu hanya lantaran istilahnya tidak cocok dengan kamus laboratorium, jelas bukan tanda berpikir ilmiah. Itu justru tanda bahwa seseorang tidak paham bagaimana ilmu bekerja. Padahal ilmu kerap maju bukan dengan menolak pengalaman, melainkan dengan menerjemahkannya ke dalam konstruksi yang lebih operasional.
Kalau ditelusuri ke belakang secara historis, psikologi sendiri justru lahir dari upaya membaca pengalaman subjektif melalui tubuh. William James, dalam esainya yang klasik “What Is an Emotion?” (1884), membalik intuisi umum bahwa emosi lebih dulu lalutubuh bereaksi. James berargumen bahwa perubahan tubuh mengikuti persepsi terhadap suatu kejadian, dan perasaan atas perubahan tubuh itulah yang kita sebut emosi. Intinya jelas bahwa pengalaman afektif tidak melayang di udara sebagai abstraksi murni melainkan tertanam dalam respons tubuh. Jadi, jauh sebelum orang modern sibuk mengejek kata “energi”, psikologi sudah mengakui bahwa manusia mengalami dunia melalui perubahan denyut, tegangan, tarikan napas, kontraksi otot, dan rasa internal yang kemudian diberi makna mental. Dengan kata lain, tubuh bukan dekorasi pasif bagi pikiran, tapi adalah salah satu medium utama pembentukan pengalaman. Menolak seluruh bahasa “energi” hanya karena belum dipetakan secara rapi ke terminologi ilmiah, berarti melupakan akar paling mendasar dari psikologi emosi itu sendiri.
Di sinilah kemudian beberapa teori modern berkembang, antara lain tentang interoception yang menjadi sangat relevan. Anil K. Seth dalam artikel “Interoceptive Inference, Emotion, and the Embodied Self” (2013), menjelaskan bahwa keadaan perasaan subjektif lahir dari model prediktif otak terhadap sinyal-sinyal internal tubuh. Demikian pula dengan Hugo Critchley dan Sarah Garfinkel dalam “Interoception and Emotion” (2017) juga menegaskan bahwa interoception mencakup sinyal aferen, pemrosesan sentral, dan representasi mental atas keadaan tubuh, serta bahwa proses itu berperan penting dalam emosi. Sama halnya dengan Antonio Damasio dan Gil B. Carvalho dalam “The Nature of Feelings: Evolutionary and Neurobiological Origins” (2013) bahkan merumuskan dengan lugas, feelings are mental experiences of body states. Jadi kalau seseorang berkata, “Saya merasa energi orang ini buruk,” psikologi tidak harus menelan istilah itu secara mentah, tapi juga tidak berhak bersikap bodoh dengan berkata, “Oleh karena kata energi tidak ilmiah, maka pengalaman itu palsu.” Terjemahan yang lebih cermat adalah orang itu mungkin sedang menangkap perubahan internal ~ketegangan viseral, aktivasi sistem saraf, perubahan napas, rasa terancam, atau kewaspadaan halus, yang belum ia uraikan dalam istilah teknis. Bahasa awamnya mungkin masih longgar, tetapi fenomena yang dirasakan bisa sangat nyata.
Keberatan berikutnya biasanya datang dari kubu yang terlalu cepat berkata, “Kalau memang ada pengaruh begitu, tunjukkan dong buktinya.” Bukti psikologis tidak selalu berbentuk alat yang menyala atau aura yang tertangkap kamera. Kadang bukti itu tampak pada akurasi persepsi sosial dari potongan perilaku yang sangat singkat. Nalini Ambady dan Robert Rosenthal, dalam meta-analisis “Thin Slices of Expressive Behavior as Predictors of Interpersonal Consequences” (1992), menunjukkan bahwa manusia dapat membuat prediksi yang cukup akurat tentang orang lain dari observasi perilaku yang sangat singkat ~sekitar di bawah lima menit, dengan ukuran efek keseluruhan r = .39. Bahkan jenis kanal perilaku seperti wajah, tubuh, ucapan, dan nada suara tidak secara signifikan menghapus akurasi itu. Artinya, manusia memang menangkap sesuatu dari orang lain secara cepat, tapi sering kali belum sempat menjelaskannya secara verbal. Orang awam menyebutnya “vibe”, “getaran”, atau “energi”. Ilmu psikologi menyebutnya pembacaan cepat atas isyarat ekspresif dan nonverbal. Tentu saja nama boleh berbeda tapi fenomenanya tetap ada. Maka yang tolol bukan orang yang merasa ada “sesuatu”, melainkan mereka yang mengira bahwa sesuatu itu tidak ada hanya karena belum paham kanal transmisinya.
Kemudian ada mekanisme lain yang lebih telanjang lagi yakni emotional contagion. Elaine Hatfield, John T. Cacioppo, dan Richard L. Rapson dalam buku Emotional Contagion (1994) merangkum bukti bahwa manusia cenderung secara otomatis menyelaraskan ekspresi wajah, suara, postur, dan gerakan dengan orang lain, lalu pengalaman emosionalnya dipengaruhi oleh umpan balik dari peniruan itu. Dengan kata lain, kita bukan makhluk yang tertutup, melainkan saling “menginfeksi” suasana batin melalui ritme interaksi. Hal ini menjelaskan mengapa ada orang yang setelah lima menit bersama seseorang langsung merasa berat, sesak, cemas, atau sebaliknya menjadi lega, tenang, dan terang. Apakah itu “energi” dalam pengertian fisika? Belum tentu. Apakah itu omong kosong? Jelas tidak. Itu adalah fenomena psikologis-relasional yang telah lama dipelajari. Jadi ketika seorang skeptis mencibir, “Ah, itu cuma sugesti,” justru ia sering lupa bahwa sugesti, penularan afeksi, mimikri, sinkronisasi, dan regulasi sosial justru merupakan wilayah serius dalam psikologi. Mengatakan “cuma sugesti” tidaklah membatalkan fakta, melainkan hanya menunjukkan kemalasan intelektual untuk memahami mekanismenya.
Lebih memalukan lagi, banyak orang yang menganggap dirinya rasional justru menutup mata terhadap riset soal placebo dan nocebo. Fabrizio Benedetti, Luana Colloca, Andrea Evers, dan banyak peneliti lain telah menunjukkan bahwa ekspektasi positif maupun negatif dapat menghasilkan perubahan nyata pada gejala, rasa sakit, dan pengalaman tubuh. Colloca menulis dalam ulasan “The Nocebo Effect” (2023/2024) bahwa nocebo adalah fenomena neurobiologis yang berkaitan dengan kerugian aktual atau yang dipersepsikan, dan dapat terjadi karena negative expectancies. Evers dkk. dalam “Implications of Placebo and Nocebo Effects for Clinical Practice” (2018) menekankan konsensus bahwa memaksimalkan placebo dan meminimalkan nocebo berdampak pada hasil klinis yang lebih baik dengan efek samping lebih sedikit. Ini artinya konteks, kata-kata, ekspektasi, relasi dengan figur otoritas, dan makna yang ditempelkan pada pengalaman bisa mengubah sensasi tubuh secara konkret. Orang bisa sungguh merasa kondisinya memburuk karena bahasa yang menakutkan, dan sungguh merasa terbantu karena konteks relasional yang menenangkan. Jadi, bahkan jika sebagian pengalaman “energi” ternyata bekerja lewat ekspektasi, itu tetap bukan kebohongan, tapi justru menjadi bukti bahwa tubuh manusia sangat peka terhadap medan sosial-psikologis. Mereka yang berkata, “Kalau tidak terlihat, berarti tidak ada,” tampak lupa bahwa dalam psikologi, makna yang tak terlihat justru sering memproduksi akibat yang paling terlihat.
Tambahan di sini adalah Social Baseline Theory dari James A. Coan dan kolega. Dalam tinjauan “Social Baseline Theory: The Social Regulation of Risk and Effort” (2014/2015), mereka berargumen bahwa otak manusia pada dasarnya mengharapkan akses pada relasi sosial yang membantu mengurangi risiko dan beban usaha. Artinya, kehadiran orang lain bukan sekadar aksesori emosional, tapi bagian dari pengaturan dasar biaya fisiologis dan kognitif. Kedekatan sosial bisa menurunkan beban dan sebaliknya, keterasingan bisa menaikkan ongkos regulasi diri. Hal ini selaras dengan pengalaman umum bahwa kehadiran seseorang bisa membuat hidup terasa lebih ringan, atau sebaliknya lebih berat, bahkan sebelum ada argumen rasional yang panjang. Sekali lagi, orang awam mungkin menyebutnya “energi orang itu enak” atau “energinya bikin capek”. Ilmu psikologi tidak perlu mengamini metafisika apa pun untuk mengakui bahwa manusia memang saling memodulasi rasa aman, beban, dan kesiagaan. Jadi yang harus dikoreksi bukan pengalaman manusianya, melainkan kemiskinan vocabulariumnya.
Meski demikian eksplanasi di atas tidak membuat otomatis sah untuk melompat ke klaim liar bahwa semua obrolan tentang aura, frekuensi, atau energi halus sudah terbukti. Di titik itulah malah banyak orang spiritual juga ceroboh. Mereka mencampur pengalaman subjektif yang valid dengan metafisika yang belum teruji, lalu menyangka semua itu setara. Itu juga bentuk kesalahan berpikir, sebab yang waras adalah pernyataan bahwa pengalaman “energi” mungkin merupakan bahasa rakyat untuk menamai gabungan dari interoception, arousal, persepsi nonverbal, penularan afek, memori implisit, ekspektasi, dan regulasi sosial. Selain, itu bisa juga ada dimensi lain yang belum cukup dipetakan, hanya saja psikologi belum berhak mengukuhkannya sebagai fakta. Dengan demikian, posisi yang kuat bukanlah percaya buta, dan bukan pula menolak begitu saja. Sebab yang terpenting adalah adalah disiplin membedakan fenomena, istilah, dan penjelasan. Orang yang tidak mampu membedakan itu biasanya mengira dirinya logis, padahal cuma kasar dalam berpikir.
Bagi orang yang kepala batu menolak seluruh pembicaraan tentang “energi” dalam konteks spiritual tentunya perlu diarahkan tepat sasaran. Masalah terbesar mereka biasanya bukan cinta pada sains, melainkan fetisisme terhadap apa yang sudah diberi nama oleh sains. Mereka baru mau mengakui sesuatu kalau istilahnya terdengar seperti jurnal, seakan-akan realitas mulai ada hanya setelah ada memberi stempel akademik. Itu tentu saja kekanak-kanakan sebab sebelum psikologi menamai trauma, attachment, interoception, dysregulation, implicit bias, dan emotional contagion, justru manusia sudah lebih dulu mengalaminya. Bahasa sehari-hari memang sering kacau, tapi pengalaman manusia tidak menunggu izin terminologis dari kampus untuk menjadi nyata. Jadi, ketika seseorang berkata, “Saya tidak percaya energi karena psikologi tidak membuktikannya,” jawaban yang paling tepat adalah mungkin yang tidak terbukti bukan pengalamannya, melainkan ketidakmampuan menerjemahkan pengalaman ke dalam konsep yang cukup halus. Skeptisisme yang sehat menuntut kehati-hatian, sedangkan yang malas hanya menuntut agar dunia sesempit kosa kata sendiri.
Pada akhirnya, perdebatan ini bukan hanya percaya atau tidak percaya pada “energi”, tapi soal kualitas berpikir. Apakah kita cukup jujur untuk mengakui bahwa manusia menangkap dunia bukan hanya lewat proposisi verbal, tetapi juga lewat tubuh, suasana, ekspresi, ritme, ekspektasi, dan relasi? Atau jangan-jangan lebih suka berpura-pura rasional dengan menertawakan apa pun yang belum selesai diberi nama? Orang yang matang secara intelektual tidak akan buru-buru mengkultuskan istilah “energi”, tetapi juga tidak akan sok menang hanya karena berhasil mengejek katanya. Sebaliknya mereka harus bertanya bertanya, pengalaman apa yang sedang dilaporkan, mekanisme apa yang mungkin bekerja, mana yang sudah ditopang data atau masih hipotesis. Di situlah sains bertemu kerendahan hati lantaran banyak skeptis palsu justru ambruk gegara mereka mengira penolakan otomatis adalah bukti kecerdasan, padahal sering kali itu cuma bentuk lain dari dogma. It is not your disbelief that makes you rational, but your ability to think beyond the prison of your own vocabulary. (end/frs)

