Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Mengapa Kejawen Gagal Membaca Tantra Secara Utuh?

· Renungan

Meski judul menggelitik sebagai sebuah pertanyaan yang cukup kontroversial, tapi seringkali hanya dijawab seperti “sebab penganut Kejawen kurang paham Tantra”, atau “karena Kejawen adalah Tantra yang diJawakan”. Buat saya kedua jawaban semacam itu terlalu dangkal dan menyederhanakan masalah.

Antara Kejawen dan Tantra, tentu saja jelas ada hubungannya, tetapi relasi itu bukan berbentuk garis lurus. Jalinan tersebut lebih menyerupai lapisan-lapisan geologis; ada jejak lama, ada endapan baru, ada percampuran, ada penghapusan, ada penafsiran ulang, dan ada simbol-simbol yang bertahan lebih lama daripada sistem yang dulu menghidupinya. Ketika hari ini sebagian orang Kejawen berbicara tentang seks, guru, energi, kesaktian, tapa, dan manunggaling kawula-Gusti lalu menggabungkannya ke dalam satu paket bernama “Tantra,” maka apa yang sebenarnya sedang terjadi bukan sekadar salah baca individual, melainkan akibat dari sejarah panjang pewarisan yang sudah retak.

Secara historis, Jawa memang tidak steril dari dunia esoterik yang dekat dengan Tantra. Teks Saṅ Hyaṅ Kamahāyānikan dan Saṅ Hyaṅ Kamahāyānan Mantranaya menjadi bukti bahwa Jawa mengenal Buddhisme esoterik dalam bentuk yang tekstual dan relatif teknis. Kajian-kajian modern atas teks ini menempatkannya dalam konteks Buddhisme esoterik di Jawa, dan bukan sekadar “mistik umum” yang kabur. Pada saat yang sama, studi Andrea Acri tentang kultus Śiva-Buddha di Jawa dan Bali menunjukkan bahwa Śivaisme dan Buddhisme hidup berdampingan selama berabad-abad dan melahirkan konfrontasi, dialektika, sekaligus integrasi. Dengan kata lain, ada dasar yang kuat untuk mengatakan bahwa Jawa kuno memang pernah memiliki dunia simbolik dan ritual yang dapat dibaca dalam relasi dengan tradisi tantrik. Tetapi dasar sejarah ini tidak otomatis berarti bahwa Kejawen sekarang adalah kelanjutan utuh dari sistem tersebut. Justru di situlah sumber ilusi modern bermula ketika orang melihat jejak, lalu mengira sistemnya masih utuh.

Kejawen yang hidup belakangan adalah lahir dari proses yang jauh lebih rumit. Kejawen bukan museum Jawa-Hindu-Buddha yang dibiarkan membeku, melainkan terbentuk melalui Islamisasi, tradisi suluk, naskah Pegon, etika keraton, kebatinan, laku asketik lokal, dan kemampuan budaya Jawa untuk menyerap unsur yang berbeda ke dalam satu horizon batin yang terasa selaras. Inilah kekuatan sekaligus masalahnya. Disebut kekuatan, sebab Kejawen menjadi lentur, tahan hidup, dan mampu mengolah warisan lama ke dalam bentuk baru. Disebut masalah, karena dalam proses itu banyak perbedaan konseptual menjadi kabur. Apa yang dulu mungkin berasal dari Buddhisme esoterik, Śaivisme, asketisme lokal, tasawuf, atau dari spiritualisme modern, semuanya bisa larut ke dalam satu bahasa besar tentang rasa, batin, laku, daya, keselarasan, dan penyatuan. Ketika semua sudah larut seperti itu, maka orang kehilangan kemampuan untuk membedakan mana jejak tantrik, asketisme Jawa, mistik Islam, dan mana sekadar romantisasi modern.

Jadi, akar persoalannya adalah kesinambungan sistem yang terpenggal. Tantra bukan sekadar kumpulan simbol tentang tubuh, seks, mantra, energi, atau kuasa. Tantra adalah struktur dan di dalamnya ada transmisi, guru, inisiasi, kosmologi, teknik tubuh halus, ritus, relasi antara simbol dan praksis, dan ada batas-batas makna yang dijaga oleh komunitas interpretatif. Begitu struktur ini melemah atau hilang, yang tersisa hanyalah pecahan bnerupa simbol, aura, cerita, laku-laku tertentu yang semuanya bertahan, tetapi tata bahasa batinnya memudar. Dalam konteks Jawa, situasi ini terlihat sangat jelas pada warisan candi dan relief. Misalnya, studi yang dilakukan oleh Lydia Kieven, membaca Candi Panataran sebagai ruang simbolik yang mengantar peziarah ke doktrin tantrik. Pembacaan ini penting karena menunjukkan bahwa warisan material Jawa bukan sekadar dekorasi religius, melainkan pernah punya kedalaman esoterik. Hanya saja candi memang dapat bertahan berabad-abad, sementara jalur yang dulu mengajarkan cara membacanya bisa hilang. Akibatnya, generasi belakangan melihat simbol-simbol itu dan menafsirkannya dengan bahasa yang sudah berubah. Mereka menangkap auranya, tetapi tidak lagi memiliki mesin pembacanya.

Dari sini lahir patahan pertama berupa transmisi yang terputus. Saat transmisi putus, orang tak lagi menerima ajaran sebagai sistem, melainkan sebagai fragmen. Fragmen-fragmen ini lalu dihubungkan ulang berdasarkan rasa, intuisi, atau kebutuhan zaman. Seks dianggap bagian dari penyatuan. Kesaktian dianggap bukti kemajuan spiritual. Guru dianggap siapa saja yang karismatik. Tapa dianggap otomatis esoterik. Energi dijadikan kata sapu jagat buat apa saja. Manunggaling kawula-Gusti dijadikan payung bagi semua konsep non-dualitas. Semua itu terlihat masuk akal karena sisa-sisa simboliknya memang masih beredar. Akan tetapi itu tetaplah sebagai racikan belakangan, bukan kesinambungan yang bersih.

Patahan kedua adalah bahasa teknis yang terdistorsi. Dalam tradisi tantrik, istilah-istilah tidaklah berdiri liar. Tubuh, śakti, mantra, visualisasi, deitas, persatuan, ritual, dan transformasi batin berada dalam jaringan konsep yang relatif presisi. Sementara dalam banyak bentuk Kejawen modern, bahasa teknis itu digantikan oleh bahasa rasa seperti alus, jumbuh, manunggal, daya, getaran, kawruh batin, rasa sejati, hening. Bahasa ini kaya secara pengalaman, tetapi terlalu cair jika dipakai untuk menggantikan presisi doktrinal. Begitu bahasa rasa menjadi dominan, semua yang terasa dalam dianggap tinggi, semua yang terasa kuat dianggap energi, semua yang terasa tak biasa dianggap sakral, dan semua yang terasa menyatu dianggap pencerahan. Dari sini campur-aduk menjadi hampir tak terhindarkan. Perbedaan antara psikologi, sugesti, ritus, teologi, filsafat, dan simbolisme jadi kabur karena semua diterjemahkan ke dalam kosa kata yang sama.

Patahan ketiga adalah pergeseran horizon metafisis. Jawa tidak bergerak lurus dari Śiva-Buddha ke Kejawen modern. Ada lapisan Islamisasi yang besar, dan lapisan itu tidak hanya mengganti istilah, tetapi juga mengubah cara pengalaman batin dipahami. Kajian tentang Suluk Lonthang menunjukkan dengan sangat jelas bahwa lanskap religius Jawa abad ke-19 bersifat multifaset dan multivokal, mempertemukan
filologi Jawa, studi Tantra, dan studi Islam dalam satu teks yang hidup di wilayah ambang. Artinya, simbol atau tema yang tampak “kuno” bisa saja sudah dibaca ulang dalam horizon mistik Islam. Ini penting terutama untuk memahami mengapa konsep seperti penyatuan dan pelenyapan ego di Jawa tidak bisa langsung disamakan dengan non-dualitas dalam Tantra. Tentu saja ada resonansi tetapi itu bukanlah identitas. Di sini orang modern sering gagal membedakan keduanya.

Dari tiga patahan tersebut kemudian lahir beberapa salah paham yang terus berulang. Terpopuler adalah salah paham tentang seks. Dalam imajinasi populer, terutama setelah pengaruh pembacaan modern dan pasar spiritual global, Tantra nyaris otomatis direduksi menjadi seks spiritual. Ini salah pada dua level. Pertama, karena tidak semua Tantra berpusat pada ritus seksual. Kedua, karena bahkan dalam arus-arus yang memang mengenal ritus seksual, praktik itu hadir dalam konteks ritual dan doktrinal yang sangat spesifik, bukan sebagai legitimasi umum untuk erotika yang diberi baju mistik. Dalam konteks Jawa, kekeliruan ini makin menjadi karena ada simbol kesuburan, pasangan, penyatuan laki-perempuan, dan beberapa lapisan erotika sakral yang memang muncul dalam seni atau situs. Orang lalu menggabungkan simbol-simbol itu dengan citra populer Tantra, lalu menyimpulkan bahwa inti Tantra adalah seks, dan bahwa semua simbol penyatuan dalam Jawa dapat dijelaskan dari sana. Padahal ini jelas reduksionis. Simbol pasangan belum tentu ritus seksual, dan ritus seksual sendiri belum tentu pusat ajaran. Penyatuan kosmis tidak identik dengan erotisasi spiritual modern. Pembacaan Lydia Kieven sendiri menempatkan penyatuan laki-perempuan di Panataran sebagai bagian dari jalur simbolik yang mengantar peziarah ke tahap kebijaksanaan yang lebih tinggi, bukan sekadar erotika literal.

Salah paham kedua adalah menyangkut soal guru. Dalam banyak tradisi tantrik, guru bukan hanya penasihat moral atau orang tua rohani. Guru adalah poros transmisi, penjaga ritus, dan jembatan sah menuju praktik. Oleh karena itu, hilangnya garis transmisi membuat istilah guru menjadi amat rawan. Dalam banyak lingkungan Kejawen modern, siapa saja yang halus rasanya, tua pengalamannya, sakti, atau punya wibawa batin dapat disebut guru. Di satu sisi, ini melahirkan kultus figur yang longgar tentang seorang paranormal, sesepuh, atau tokoh kebatinan lokal bisa dianggap otomatis punya otoritas tantrik. Di sisi lain, muncul versi kebalikannya di mana orang merasa cukup mengikuti rasa dan pengalaman personal, seolah guru tidak penting. Keduanya sama-sama muncul dari kehilangan pemahaman tentang fungsi transmisi. Begitu guru diputus dari sistemnya, yang tersisa tinggal karisma atau anti-karisma.

Salah paham ketiga adalah tentang energi. Ini mungkin istilah paling rusak dalam spiritualitasn populer. Dalam bahasa sehari-hari, energi dipakai untuk segala hal mulai dari aura seseorang, beratnya suatu tempat, emosi, frekuensi, pengaruh batin, sugesti, sampai stamina. Oleh karena Tantra sering dibayangkan sebagai jalan śhakti, tubuh, dan transformasi, banyak orang lalu merasa aman memakai “energi” sebagai kata universal untuk menjelaskan seluruh wilayah itu. Padahal konsep daya atau śhakti dalam tradisi tantrik bukan jargon motivasional. Ia berada di dalam jaringan deitas, kosmologi, tubuh halus, mantra, ritus, dan visualisasi. Jika semua ini diringkas hanya menjadi “bermain dengan energi,” maka yang tersisa bukan lagi ajaran, melainkan slogan. Dalam konteks Kejawen, bahasa energi kemudian bertemu bahasa rasa, daya, karisma, wingit, dan tenaga dalam. Hasilnya adalah kabut besar di mana hampir semua gejala batin atau simbolik dibaca sebagai manifestasi satu jenis “energi” yang sama. Itu membuat orang tidak lagi mampu membedakan pengalaman psikologis, pengalaman ritual, sugesti sosial, dan konsep esoterik yang sesungguhnya sangat berbeda.

Salah paham keempat adalah kesaktian. Dalam imajinasi populer Jawa, kesaktian sangat mudah menjadi jembatan antara ilmu gaib, laku prihatin, guru, dan klaim esoterik. Oleh karena sebagian praktik tantrik dalam sejarah memang dikaitkan dengan pencarian siddhi atau daya-daya khusus, maka orang lalu menyimpulkan bahwa Tantra adalah mesin pembuat sakti. Pembacaan seperti ini sangat pragmatis, dan sangat miskin. Itu sebabnya juga saya membedakan penulisan antara śhakti, siddhi dan sakti. Tentu saja tradisi esoterik tertentu memang mengakui kemungkinan munculnya siddhi, tapi itubukan tujuan tunggal semua Tantra, bahkan dalam banyak konteks justru dilihat sebagai potensi jebakan. Di tangan pembaca Kejawen populer, nuansa semacam ini menjadi hilang. Kesaktian dibaca sebagai bukti otomatis kedalaman spiritual. Orang yang bisa “melihat,” “merasa,” “mengirim,” “membuka,” atau “memagari” lalu mudah dibayangkan berada dalam garis yang sama dengan esoterisme tantrik. Padahal itu bisa berasal dari campuran asketisme lokal, tahayul, sugesti, psikologi, kebatinan sinkretik, atau teknik-teknik lain yang tidak ada hubungannya dengan Tantra sebagai sistem.

Salah paham kelima adalah soal lelaku tapa. Banyak orang menyamakan semua bentuk tirakat, mutih, ngalong, ngidang, ngrowot, semedi, puasa, menepi, dan laku keras dengan praktik tantrik. Ini tentu saja juga keliru. Tapa adalah kategori yang jauh lebih luas, baik di India maupun di Jawa. Tapa dapat hadir dalam asketisme Brahmanis, latihan lokal, laku kejawen, kesalehan Islam, bahkan disiplin tubuh biasa. Bahwa tradisi tantrik tertentu dapat berinteraksi dengan bentuk-bentuk asketik tidak berarti semua asketisme otomatis tantrik. Dalam konteks Jawa, campur-aduk ini terjadi karena yang terlihat hanya permukaan yakni sama-sama berat, rahasia, dan menuntut disiplin. Maka laku apa pun yang keras segera diberi aura esoterik dan lalu diseret ke label Tantra. Ini contoh klasik dari kesalahan genealogis tentang dua hal dianggap sama hanya karena tampilannya mirip.


Salah paham keenam adalah perihal manunggaling kawula-Gusti. Ini yang paling halus dan paling sering dipakai untuk menjembatani segala sesuatu. Oleh karena Tantra mengenal bahasa non-dualitas dan mistik Jawa mengenal manunggaling kawula-Gusti, banyak orang buru-buru menyamakan keduanya. Padahal, sekali lagi, kesamaan tema bukan kesamaan sistem. Dalam Jawa klasik Śiva-Buddha, non-dualitas bekerja dalam jaringan konsep tertentu. Dalam Jawa-Islam belakangan, manunggaling kawula-Gusti hidup di dalam horizon yang sudah dibentuk oleh suluk, tasawuf, dan pembacaan ontologis yang berbeda. Ada resonansi, tetapi tidak identik. Ketika resonansi ini disulap menjadi identitas, manunggaling kawula-Gusti lalu dijadikan payung raksasa. Misalnya penyatuan seks dianggap sama dengan penyatuan kosmis, pelenyapan ego dianggap sama dengan fanā’, keselarasan rasa dianggap sama dengan realisasi non-dual, dan semua itu lalu disebut Tantra. Di sinilah kebingungan yang sudah ada terakumulasi mencapai puncaknya.

Lantas mengapa semua ini dicampur-aduk? Sebab budaya mewarisi fragmen jauh lebih lama daripada penjelasannya. Bahasa rasa menghapus batas teknis dan sinkretisasi Jawa memang bekerja dengan logika penyerapan. Selain itu, modernitas menambahkan satu lapisan baru yakni romantisasi. Di era sekarang, kata “Tantra” terdengar eksotis, liar, sakral, tubuh-sentris, dan menjual. Sementara “Kejawen” dibayangkan sebagai mistik Jawa yang dalam, rahasia, dan menyimpan ilmu tua. Ketika dua imajinasi ini bertemu, lahirlah konstruksi yang sangat menggoda bahwa semua yang misterius, sakti, sensual, atau transgresif di Jawa segera dilabeli “Tantra Jawa.” Label ini menarik secara pasar, tetapi lemah secara sejarah, lantaran lebih banyak mengatakan sesuatu tentang imajinasi modern daripada tentang silsilah ajaran yang sesungguhnya.

Pada titik ini, kesimpulan yang paling jujur bukanlah bahwa Kejawen tidak punya hubungan dengan Tantra, melainkan bahwa hubungan itu ada dan bersifat genealogis tapi retak. Ada jejak, gema, resonansi, serta kemungkinan kesinambungan simbolik tertentu. Akan tetapi ada juga kehilangan besar berupa transmisi, bahasa teknis, horizon asal, dan kehilangan kemampuan membedakan yang mirip dari yang benar-benar sama. Itulah sebabnya, Kejawen gagal membaca Tantra secara utuh bukan semata karena ketidaktahuan para penganutnya, melainkan karena yang diwarisi memang sering sudah datang dalam bentuk puing-puing. Orang menerima abu lalu mengira itu masih ada api. Atau melihat reruntuhan lalu merasa masih tinggal di istana. Itulah sebabnya seks, guru, energi, kesaktian, tapa, dan manunggaling kawula-Gusti bisa dicampur-aduk. Semua itu hadir sebagai sisa-sisa yang terapung di atas permukaan budaya, sementara dasar sistem yang dulu menyatukan atau membedakannya telah lama retak.

Sebaliknya, persepsi terhadap Tantra sendiri menjadi retak lantaran apa yang hidup tumbuh berkembang di masyarakat seringkali bukan lagi tubuh ajarannya, melainkan endapan panjang dari sejarah yang telah berkali-kali membahasakan ulang warisan esoterik lama. Simbol masih hidup, tetapi manualnya tidak dipelajari. Pengalaman batin masih kuat, tetapi pemahaman kosmologi oleh publik sudah tercerai-berai. Selain itu budaya Jawa begitu berhasil menghaluskan, menyerap, serta menata ulang warisan lama, sampai banyak orang modern tidak lagi bisa membedakan mana suara asli, mana gema, dan mana fantasi yang lahir jauh belakangan. Itulah sebabnya, dalam konteks Jawa, Tantra tidak selalu lenyap. Malah sering kali itu justru terkubur di bawah keberhasilan tradisi belakangan menyerapnya.

Selain itu banyak orang ingin mewarisi kedalaman Tantra tanpa mau menanggung disiplin berpikir yang dibutuhkan. Mereka memungut istilah, memamerkan simbol, meminjam auranya, lalu mencampur seks, kesaktian, guru, energi, tapa, dan manunggaling kawula-Gusti ke dalam satu adonan kabur yang terasa sakral hanya karena tidak dipahami. Padahal sesuatu tidak menjadi dalam hanya karena terdengar kuno. Tidak menjadi benar juga hanya karena terasa wingit lalu menjadi tantrik lantaran dibungkus bahasa rahasia. Selama Kejawen terus dipakai sebagai karung besar untuk menampung semua fragmen yang tak lagi dimengerti asal-usulnya, selama itu pula Tantra akan terus diperlakukan bukan sebagai jalan pengetahuan yang tajam, melainkan sebagai pajangan eksotik bagi orang-orang yang lebih mencintai ilusi kedalaman daripada keberanian untuk menelusuri kedalaman itu sampai ke akar. (end/frs)

Subscribe
Previous
Jalan Tantra dan awal Islam di Jawa
Next
 Return to site
strikingly iconPowered by Strikingly
Cookie Use
We use cookies to improve browsing experience, security, and data collection. By accepting, you agree to the use of cookies for advertising and analytics. You can change your cookie settings at any time. Learn More
Accept all
Settings
Decline All
Cookie Settings
Necessary Cookies
These cookies enable core functionality such as security, network management, and accessibility. These cookies can’t be switched off.
Analytics Cookies
These cookies help us better understand how visitors interact with our website and help us discover errors.
Preferences Cookies
These cookies allow the website to remember choices you've made to provide enhanced functionality and personalization.
Save