Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me


Mengapa Media Sosial

Menjadi Pelarian Bagi

Mereka Yang Merasa Kurang?

Analisis Singkat Dalam Pendekatan Tantrik

· Renungan

Judul sebagai pertanyaan itu memuat jawaban yang sederhana tapi memiliki penjelasan yang kompleks dan dalam. Sangatlah mudah untuk menjawab bahwa manusia modern saat ini membawa terlalu banyak rasa serba kurang yang tidak pernah sungguh dihadapi. Rasa kurang itu bisa muncul sebagai miskin, jomblo, bodoh, tidak dianggap, tertindas, tidak punya kuasa, tidak punya prestasi, tidak punya masa depan yang jelas, atau sekadar merasa hidup orang lain selalu tampak lebih berhasil. Ketika rasa kurang itu menumpuk, manusia mencari tempat yang memungkinkan dirinya tetap terlihat utuh tanpa harus sungguh-sungguh menjadi utuh. Di situlah media sosial sebagai refeksi kecanggihan teknologi bekerja dengan sangat efisien. Sehingga, medsos bukan sekadar ruang komunikasi tetapi juga panggung kompensasi.

Dalam disiplin tantrik, fenomena semacam itu dapat dilihat dari dua poros yakni āṇava mala dan ahaṁkāra. Āṇava mala adalah rasa kecil, kurang, tidak penuh, rasa bahwa diri ini cacat bila dibandingkan dengan yang lain. Ahaṁkāra adalah pembentuk identitas “aku”, yaitu mekanisme batin yang terus-menerus menyusun citra agar ego atau diri ini terasa punya bentuk, nilai, posisi, status, eksistensi dan lainnya. Begitu dua poros ini dipakai, fenomena medsos menjadi jauh lebih jelas. Orang lari ke layar bukan hanya untuk hiburan, tetapi untuk mengelola rasa kurang tanpa benar-benar menyentuh akarnya. Āṇava mala melahirkan luka. Ahaṁkāra lalu datang membawa kostum.

Mereka yang merasa miskin misalnya, tidak hanya menderita karena tidak punya uang tapi juga menderita karena identitas sosial yang melekat pada kemiskinan seperti merasa kalah, kecil, tertinggal, dan dipandang rendah. Kemiskinan bukan lagi sekadar situasi material, tetapi menjadi luka simbolik. Di dunia nyata, orang seperti itu harus berurusan dengan tagihan, keterbatasan pilihan, ketergantungan, rasa malu, dan iri kepada mereka yang jauh lebih leluasa. Semua itu berasa berat dan cenderung menyakitkan. Maka media sosial menjadi jalan pintas yang menggoda. Di sana mereka bisa membangun versi diri yang lebih rapi dengan foto di tempat estetik, gaya bicara seolah hidup stabil, unggahan yang memberi kesan sibuk, keren, terhubung, bahkan berhasil. Itu semua bukan karena kenyataan hidupnya sudah berubah, melainkan ahaṁkāra tahu satu hal bahwa selama citra masih bisa dijaga, maka rasa kecil itu bisa diredam sesaat.

Selanjutnya adalah cara āṇava mala bekerja dengan membuat orang tidak tahan terhadap identitas “kurang”. Bukan hanya tidak tahan miskin, tetapi tidak tahan terlihat miskin. Maka apa yang dikejar bukan lagi perbaikan daya, melainkan pengelolaan impresi. Orang rela membeli barang demi gengsi meski keuangan amburadul. Mereka memaksakan nongkrong, tampil, dan ikut tren bukan karena mampu, tetapi karena takut kehilangan tempat dalam pasar pandangan. Dalam kondisi seperti ini media sosial menjadi semacam etalase tempat seseorang bisa meminjam martabat tanpa benar-benar memiliki fondasinya, seperti membeli sesuatu dengan harga mahal bukan dengan uangnya sendiri alias ngutang, dan hanya untuk memamerkannya kepada orang tak dikenal.

Hal serupa terjadi pada orang yang jomblo atau kesepian. Kesepian adalah pengalaman yang telanjang lantaran memaksa seseorang berhadapan dengan fakta bahwa tidak ada yang hadir ketika malam panjang, atau sungguh mengenal isi kepalanya, serta tidak ada pula yang memeluk kegelisahan tanpa perlu performa. Akan tetapi pengalaman seperti ini sulit ditanggung. Karena itu banyak orang lebih memilih kompensasi daripada konfrontasi. Media sosial memberi banyak bentuk kompensasi seperti flirt ringan, kode-kode status, unggahan yang memancing simpati, foto yang dirancang agar mengundang validasi, atau cerita personal yang setengah curhat, setengah pancingan.

Tentu saja di permukaan tampak seperti ekspresi diri. Di bawahnya sering bekerja āṇava mala berupa “aku takut tidak diinginkan, takut tidak dipilih, dan takut tidak punya nilai.” Lalu ahaṁkāra membangun strategi, “kalau begitu, aku harus tetap tampak menarik.” Maka lahirlah persona yang selalu ingin tampak desirable, witty, santai, seksi, berkelas, dalam, atau paling tidak aktif. Sementara bayangan yang muncul adalah sikap nyinyir, judes dan tak mau tersaingi jika ada orang lain yang serupa atau lebih di medsos. Padahal apa yang sedang terjadi hanyalah rasa sepi yang tidak sanggup duduk diam. Maka terlihat bahwa orang tidak mencari relasi, tetapi mencari pantulan bahwa dirinya masih punya daya tarik. Notifikasi lalu berubah menjadi pengganti keintiman, respons cepat menjadi penukar kedekatan, dan reaksi menjadi suplemen kehadiran meski pada dasarnya semu.

Justru apa yang paling tragis adalah mekanisme semacam itu sering membuat orang makin jauh dari kemungkinan relasi yang sehat. Oleh karena terlalu sibuk mengelola citra, ia tidak sempat menumbuhkan kualitas yang membuat relasi benar-benar mungkin terjadi seperti ketulusan, kedewasaan emosi, kapasitas mendengar, kemampuan menanggung frustrasi, keberanian menghadapi penolakan, dan kejujuran melihat pola rusaknya sendiri. Mereka ingin terlihat layak dicintai, tetapi belum tentu siap untuk benar-benar mencintai atau dicintai tanpa topeng. Jadi media sosial tidak menyembuhkan kesepian melainkan hanya memberi lampu warna-warni pada ruang kosong.

Pada orang yang merasa bodoh atau tidak percaya diri secara intelektual, pola ini tampak dalam bentuk lain. Tidak semua orang punya disiplin berpikir. Tidak semua juga orang tahan membaca yang rumit, mengurai argumen, menahan diri sebelum berpendapat, atau mengakui bahwa dirinya belum paham. Akan tetapi di era media sosial, semua orang bisa tampil seolah-olah tahu dan itulah surganya ahaṁkāra. Mereka tidak butuh pengetahuan yang matang melainkan hanya perlu penampilan yang meyakinkan. Orang cukup memungut istilah, kutipan, jargon, atau opini populer, lalu menyusunnya menjadi identitas digital yang tampak kritis, cerdas, dan relevan.

Di sinilah āṇava mala bekerja sebagai rasa inferior intelektual. Seseorang diam-diam tahu bahwa kapasitasnya dangkal, bacaannya kurang, logikanya goyah, dan keberaniannya melebihi pengertiannya. Hanya saja ia tidak tahan dengan posisi itu dan malu menjadi biasa. Ia malu mengakui tidak tahu. Maka ahaṁkāra menawarkan jalan cepat dengan menjadi nyaring, tegas, tajam dankeras dalam kalimat pendek terhadap isu yang sedang ramai. Di dunia digital, kepercayaan diri sering lebih laku daripada kedalaman. Akibatnya banyak orang tidak membangun kecerdasan, tetapi membangun kesan cerdas.

Oleh karena itu kebodohan modern sering tidak tampak sebagai keheningan, melainkan sebagai kebisingan. Orang yang sesungguhnya rapuh secara pemahaman justru paling gemar bicara besar. Ia tidak mencari kebenaran atau ingin belajar, melainkan hanya mencari posisi dan menang tampilan. Media sosial tentu sangat memfasilitasi semua itu, sebab algoritme tidak menghargai kerendahan hati intelektual. Dengan kata lain, medsos lebih senang pada gestur yang cepat, tegas, memicu reaksi, mudah dibagikan, dan di titik itulah media sosial menjadipanggung besar bagi ahaṁkāra yang menolak mengakui keterbatasan dirinya.

Lalu bagaimana dengan orang yang merasa tertindas, diremehkan, atau kalah dalam struktur sosial? Pada kelompok ini, medsos sering berfungsi sebagai kompensasi kuasa. Di kehidupan nyata seseorang bisa lemah, takut, dibungkam, tidak didengar, atau selalu kalah posisi. Akan tetapi di ruang digital mereka bisa menyerang, mempermalukan, menggiring opini, membangun kubu, menuntut pengakuan, dan menikmati sensasi bahwa suaranya akhirnya punya dampak. Dalam beberapa kasus, media sosial memang dapat menjadi alat artikulasi bagi mereka yang sebelumnya dipinggirkan. Akan tetapi tidak jarang pula yang muncul justru bentuk lain dari luka yang belum diolah.

Ketika āṇava mala menumpuk sebagai rasa “saya diinjak, diremehkan, dan tak pernah punya kuasa,” ahaṁkāra akan sangat menikmati setiap peluang untuk berbalik menguasai. Maka orang bisa mabuk pada kemarahan moral. Merekamerasa benar bukan lantaran sungguh jernih, tetapi karena untuk pertama kalinya mereka bisa menatap orang lain dari atas. Orang semacam itu senang menghukum, merundung, menelanjangi, mengabaikan, menyindir bahkan mengajak yang lain untuk menolak dan memusuhi, sebab semua itu memberinya apa yang lama hilang yakni sensasi punya kuasa. Di titik ini, kritik tidak lagi murni lahir dari kejernihan etis, tetapi juga dari kenikmatan psikologis saat luka inferioritas mendapat saluran dan peluang untuk menyerang balik.

Maka tidak semua aktivisme digital lahir dari kesadaran yang matang. Sebagian memang lahir dari kepedulian. Sebagian lain lahir dari ahaṁkāra yang akhirnya menemukan panggung untuk melampiaskan dendam simbolik. Ini bukan berarti kemarahan selalu palsu. Masalahnya terletak pada apakah seseorang sadar akan motif terdalamnya, atau justru sedang menutupi rasa kecil dengan posisi moral yang tinggi. Orang yang tidak pernah beres dengan āṇava mala bisa sangat mudah mengubah luka menjadi identitas, lalu menjual identitas itu sebagai kebenaran.

Jika diperluas lagi, mekanisme ini bukan hanya berlaku pada kemiskinan, kesepian, kebodohan, atau ketertindasan, tetapi juga berlaku pada hampir semua bentuk rasa kurang. Manusia yang tidak punya prestasi mencari citra produktif. Orang yang hidupnya tidak bergerak mencari citra sibuk. Mereka yang tidak punya kedalaman spiritual mencari citra bijak. Siapa yang tidak punya keberanian menghadapi dirinya
sendiri mencari citra reflektif. Pribadi yang tidak punya daya cipta mencari citra kurator selera. Ia yang tidak punya otoritas batin mencari citra paling sadar. Media sosial memberi perlengkapan untuk semua itu dengan menyediakan filter, caption, tempo, panggung, audiens, dan metrik.

Jadi masalahnya bukan terletak pada tampil, berbagi, atau membangun persona. Semua manusia memang tentu saja punya sisi performatif. Apa yang jadi masalah adalah ketika performa dipakai untuk menutupi retak yang tidak pernah mau disembuhkan. Di situlah ahaṁkāra bekerja paling efektif dengan membuat luka tampak seperti gaya, kekosongan terlihat seperti kebebasan, ketidakjelasan hidup tampak seperti misteri yang elegan, kecemasan muncul seperti kepekaan dan membuat ketergantungan pada atensi tampak seperti ekspresi diri. Dalam kerangka ini, kita bisa melihat mengapa media sosial terasa begitu adiktif. Itu bukan hanya karena desain aplikasinya, tetapi karena menyentuh daerah paling rapuh dalam manusia dengan memberi kesempatan untuk merakit ulang diri berkali-kali tanpa harus sungguh-sungguh berubah. Di dunia nyata, perubahan membutuhkan waktu, disiplin, rasa malu, kegagalan, dan kerja yang berulang.

Akan tetapi di dunia digital, satu unggahan bisa langsung memberi sensasi identitas baru, satu foto dapat memberi ilusi sukses, satu opini mampu memberi ilusi cerdas, satu video sanggup memberi ilusi dicintai, satu kemarahan beroleh memberi ilusi berkuasa dan satu narasi luka menipu rasa seolah berarti. Itulah sebabnya banyak orang sulit lepas bukan dari soal konten, tapi kesempatan membangun imaji meski hanya sebentar untuk tidak menjadi dirinya yang serba kurang di kehidupan nyata. Media sosial menawarkan ruang antara di mana tidak sepenuhnya bohong, tapi juga tidak sepenuhnya nyata. Hanya cukup nyata untuk bisa dipercaya orang lain dan cukup direkayasa untuk membuat diri terasa lebih nyaman. Di ruang antara itulah ahaṁkāra hidup subur.

Tentu saja ada harga yang mahal untuk dibayar. Semakin sering seseorang memakai media sosial sebagai kompensasi, maka semakin lemah kemampuannya berhadapan langsung dengan hidup. Orang menjadi sulit untuk menanggung keheningan, sukar berada sendirian tanpa harus dilihat, enggan bekerja tanpa diumumkan, malas berpikir tanpa menyiapkan opini untuk diposting, sedih tanpa menjadikannya materi konten dan sulit marah tanpa menjadikannya performa moral. Lambat laun, diri batin menjadi tergantung pada penonton. Ketika penonton itu sepi, ia merasa runtuh. Di sinilah kita melihat paradoks yang pahit bahwa media sosial menjanjikan koneksi, tetapi sering memperdalam keterasingan. Menawarkan ekspresi, tetapi sering memperkuat kepalsuan. Memberi pengakuan, tetapi membuat seseorang makin haus pengakuan. Menyediakan kebebasan, tetapi banyak orang justru diperbudak oleh kebutuhan untuk terlihat. Semua ini bisa dijelaskan dengan dua istilah tadi. Āṇava mala membuat manusia tidak tahan pada rasa kurang. Ahaṁkāra membuatnya sibuk membangun “aku” yang tampak lebih utuh daripada kenyataannya.

Pendekatan tantrik yang tajam tentunya tidak akan berhenti pada kritik. Itu menuntut pembacaan yang lebih jujur tentang apakah sebenarnya yang kita cari ketika membuka layar terus-menerus? Apakah kita sedang berkomunikasi, atau sedang mengobati rasa kecil? Apakah kita sedang berbagi, atau sedang merawat topeng? Apakah kita sedang mengekspresikan diri, atau sedang menghindari perjumpaan dengan diri yang sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak nyaman, tapi justru di sanalah nilainya. Sebab selama orang tidak mengenali motif halus di balik kebiasaannya, ia akan terus menyebut pelarian sebagai gaya hidup.

Jalan keluarnya bukan sekadar menghapus aplikasi atau sok anti-media sebab itu terlalu dangkal. Apa yang dibutuhkan adalah membalik arah perhatian. Seseorang harus belajar mengenali dan membedakan kapan membuka media sosial karena memang ada tujuan, serta kapan membukanya karena tidak tahan dengan dirinya sendiri. Ia harus berani melihat momen ketika unggahan lahir bukan dari kejernihan, tetapi dari lapar ingin dilihat, dibuktikan, diakui, dibalas, ditakuti, dikagumi, atau malah dikasihani. Semua itu adalah bahasa-bahasa ahaṁkāra yang tumbuh di tanah āṇava mala. Orang juga perlu jujur bahwa tidak semua kekurangan harus segera ditutup dengan citra. Miskin memang pahit, tapi gaya bukan solusi. Jomblo memang sepi, tapi perhatian acak atau sikap nyinyir bukanlah obatnya. Bodoh memang memalukan, tapi bising bukan jalan menuju pengetahuan. Tertindas memang menyakitkan, tapi posisi moral yang viral tidak otomatis memulihkan martabat. Banyak orang gagal karena mereka ingin langsung tampak sembuh, padahal mereka belum mau menjalani proses yang menyembuhkan. Mereka lebih tertarik pada bentuk luar transformasi daripada kenyataan transformasi itu sendiri.

Maka pendekatan tantrik yang matang justru meminta sesuatu yang berlawanan dengan logika media sosial yakni beranikah tinggal lebih lama di hadapan diri sendiri? Daripada buru-buru membuat persona, bongkarlah rasa kecil yang menjadi bahan bakarnya. Ketimbang mengelola impresi, susun ulanglah fondasi hidup. Ini berarti bekerja pada hal-hal yang tidak glamor di permukaan dengan meningkatkan kapasitas nyata, menata ekonomi, memperbaiki pola relasi, memperdalam pengetahuan, menanggung kesepian dengan jujur, dan berhenti meminjam nilai diri dari pantulan mata orang lain. Di titik itu, media sosial bisa kembali menjadi alat, bukan cermin trpuan. Medsos bisa dipakai tanpa harus dijadikan ruang kompensasi. Seseorang bisa berbagi tanpa mengemis validasi, mampu tampil tanpa mabuk citra, dapat bicara tanpa haus tepuk tangan, sanggup diam tanpa merasa hilang. Tetapi itu hanya mungkin bila āṇava mala tidak lagi memerintah secara buta, dan ahaṁkāra tidak lagi dibiarkan menjadi sutradara utama kehidupan.

Jadi kesimpulannya keras tetapi bersih bahwa media sosial menjadi pelarian hidup yang kurang karena terlalu banyak orang tidak berani mengalami kekurangannya secara langsung. Mereka ingin segera terlihat penuh sebelum sungguh belajar menjadi penuh. Maka āṇava mala membuat mereka takut tampak kecil, dan ahaṁkāra menawarkan topeng agar rasa kecil itu tampak seperti kelebihan. Di situlah tragedi manusia digital yakni tidak selalu mau berubah, melainkan hanya ingin luka-lukanya mendapat pencahayaan yang bagus. Jika mereka yang miskin lalu memoles gaya, jomblo merias daya tarik, bodoh mengilap opini, tertindas memamer kemarahan hanya sebatas citra, maka hidup tetap busuk di akar. Āṇava mala tidak runtuh oleh sorotan, dan ahaṁkāra tidak pernah menyembuhkan siapa pun. Keduanya hanya membuat penderitaan tampak presentable. (end/frs)

Subscribe
Previous
Mengapa Kejawen Gagal Membaca Tantra Secara Utuh?
Next
 Return to site
strikingly iconPowered by Strikingly
Cookie Use
We use cookies to improve browsing experience, security, and data collection. By accepting, you agree to the use of cookies for advertising and analytics. You can change your cookie settings at any time. Learn More
Accept all
Settings
Decline All
Cookie Settings
Necessary Cookies
These cookies enable core functionality such as security, network management, and accessibility. These cookies can’t be switched off.
Analytics Cookies
These cookies help us better understand how visitors interact with our website and help us discover errors.
Preferences Cookies
These cookies allow the website to remember choices you've made to provide enhanced functionality and personalization.
Save