Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Kali Yuga Sebagai

Genealogi Zaman yang Retak

Kemerosotan Dharma, Kekuasaan yang Membusuk, hingga Ilusi bahwa Dunia Kita Paling Kacau

· Renungan

Di zaman sekarang, orang sering berkomentar bahwa saat ini sudah terjadi kemerosotan moral, konflik dan ketidakadilan sehingga patutlah disebut sebagai Kali Yuga. Jika ditelaah lebih dalam, istilah Kali Yuga bisa jadi merupakan salah satu konsep India kuno yang paling sering digunakan dan sekaligus juga paling sering disederhanakan. Sebab setiap kali perang meledak, korupsi membesar, agama diperdagangkan, politik menjadi vulgar, hubungan manusia semakin transaksional, atau teknologi menghasilkan kekacauan baru, maka muncul kalimat yang terdengar seolah sudah menyelesaikan persoalan bahwa “Sekarang sudah memasuki Kali Yuga." Pernyataan itu memberi nama pada kegelisahan, tapi sering tidak memberi penjelasan. Lebih buruk lagi, pernyataan dapat menghasilkan logika melingkar bahwa dunia kacau karena Kali Yuga dan kita tahu ini Kali Yuga karena dunia kacau. Apa pun yang terjadi menjadi bukti, sehingga tidak ada keadaan yang mungkin membantahnya.

Masalah pertama sebenarnya bersifat historiografis, sebab apa yang sekarang disebut “doktrin Kali Yuga” bukanlah sekadar sebuah sistem yang sejak awal muncul utuh dengan empat zaman, rasio 4:3:2:1, jutaan tahun kosmis, kemerosotan moral, Kalki, dan sederet ramalan sosial. Jejaknya berkembang berlapis-lapis dengan literatur Veda mengenal istilah Kṛta, Tretā, Dvāpara dan Kali. Artinya, sistem empat zaman dunia yang matang merupakan hasil perkembangan intelektual yang lebih panjang. Vincent Eltschinger dalam “On the Early History of the Brahmanical Yugas.” pada At the Shores of the Sky: Asian Studies for Albert Hoffstädt (2020), meneliti tentang sejarah awal yuga Brahmanis. Penelitian itu memperlihatkan perlunya membedakan penggunaan awal nama-nama tersebut dari sistem kosmologis yang matang. Demikian pula Luis González-Reimann dalam The Mahābhārata and the Yugas (2002) bahkan mengkritik kecenderungan membaca teori Purāṇik yang lebih kemudian kembali ke seluruh Mahābhārata seolah-olah teori itu sudah seragam sejak lapisan tertua epos. Dengan kata lain, Kali Yuga memiliki nilai sejarah tapi bukan konsep kaku yang jatuh dari langit dalam bentuk final.

Maka di sinilah muncul sumber primer tertua menjadi sangat penting dan itu justru mengganggu pemahaman populer tentang Kali. Dalam Aitareya Brāhmaṇa 7.15, pada episode Rohita, terdapat rangkaian terkenal yang diakhiri refrain caraiveti, artinya “teruslah berjalan”, “terus bergerak”. Penomoran internal sedikit berbeda antaredisi, tapi tiga bagian berurutan yang paling relevan berbunyi: āste bhaga āsīnasya ūrdhvas tiṣṭhati tiṣṭhataḥ | śete nipadyamānasya carati carato bhagaḥ || caraiveti caraiveti || kaliḥ śayāno bhavati saṃjihānas tu dvāparaḥ | uttiṣṭhaṃs tretā bhavati kṛtaṃ sampadyate caran || caraiveti caraiveti || caran vai madhu vindati caran svādum udumbaram | sūryasya paśya śremāṇaṃ yo na tandrayate caran || caraiveti caraiveti || Secara mengalir bagian tersebut dapat diterjemahkan: “Keberuntungan orang yang duduk ikut duduk; ketika ia berdiri, keberuntungan itu bangkit; ketika ia merebahkan diri, keberuntungan itu tidur; keberuntungan bergerak bersama orang yang bergerak. Teruslah bergerak. Orang yang berbaring adalah Kali; yang mulai bangkit adalah Dvāpara; yang telah berdiri adalah Tretā; yang berjalan mencapai Kṛta. Teruslah bergerak. Orang yang berjalan mendapatkan madu; dengan berjalan ia memperoleh buah udumbara yang manis. Lihatlah kemuliaan Matahari: ia bergerak dan tidak menyerah kepada kemalasan. Teruslah bergerak.”

Dalam teks ini Kali belum berfungsi terutama sebagai “zaman 432.000 tahun yang tak terhindarkan”. Empat istilah tersebut merupakan metafor keadaan dan gerak: Kali adalah terbaring, Dvāpara adalah mulai menggeliat, Tretā berdiri, Kṛta bergerak. Nama-nama ini juga berhubungan dengan terminologi permainan dadu India kuno. Kṛta diasosiasikan dengan hasil paling menguntungkan, sedangkan Kali dengan hasil terburuk. Sumber Veda lainnya menggunakan nama-nama yang sama dalam konteks dadu. Misalnya, Taittirīya Saṃhitā 4.3.3 menyebut Kṛta, Tretā dan Dvāpara bersama nama lemparan lain, Taittirīya Brāhmaṇa 3.4.16 sudah menempatkan Kṛta, Tretā, Dvāpara dan Kali dalam satu rangkaian terminologi dadu, sedangkan Chāndogya Upaniṣad 4.1.4 secara eksplisit menggambarkan Kṛta sebagai lemparan yang menaklukkan lemparan-lemparan yang lebih rendah. Dari tradisi permainan inilah kemungkinan besar berkembang simbolisme Kṛta sebagai keadaan unggul dan Kali sebagai keadaan paling tidak menguntungkan, yang kemudian dipakai untuk membangun hierarki moral empat yuga. Oleh karena itu perkembangan selanjutnya dari Kṛta menuju Kali mempunyai logika simbolik yang kuat yakni dari keadaan terbaik menuju keadaan yang paling tidak menguntungkan. Akan tetapi yang jauh lebih penting adalah implikasinya terhadap fatalisme. Jika salah satu pemakaian tertua Kali menyamakan Kali dengan “tidur dan tidak bertindak”, maka ucapan “ini memang zaman Kali Yuga, jadi apa yang dapat dilakukan?” mengandung ironi. Sikap pasif tersebut justru merupakan keadaan yang oleh teks disebut Kali. Lawannya bukan menunggu kosmos mengganti zaman, melainkan caraiveti atau bergerak. Maka lewat analisis ini, kita sudah menemukan lapisan pertama konsep Kali bukanlah kalender atau waktu, melainkan kualitas eksistensial di mana keadaan zaman dan keadaan manusia belum sepenuhnya dipisahkan.

Sementara itu dalam Mānava-Dharmaśāstra atau Manusmṛti, teori itu menjadi jauh lebih sistematis. Teks ini, yang terbentuk pada sekitar awal abad-abad Masehi dalam konteks tradisi Dharmaśāstra sebagai teks normatif Brahmanis yang menyusun tatanan kosmos, masyarakat, hukum, ritus, dan kekuasaan. Dengan demikian teks harus dibaca sebagai konstruksi normatif zamannya, dan bukan sebagai deskripsi netral seluruh masyarakat India apalagi global seperti sekarang. Arsitektur waktunya muncul sebagai satu kesatuan dalam Manusmṛti 1.68–73: brāhmasya tu kṣapāhasya yat pramāṇaṃ samāsataḥ | ekaikaśo yugānāṃ tu kramaśas tan nibodhata || 1.68 || catvāry āhuḥ sahasrāṇi varṣāṇāṃ tat kṛtaṃ yugam |*tasya tāvacchatī sandhyā sandhyāṃśaś ca tathāvidhaḥ || 1.69 || itareṣu sasandhyeṣu sasandhyāṃśeṣu ca triṣu | ekāpāyena vartante sahasrāṇi śatāni ca || 1.70 || yad etat parisaṅkhyātam ādāv eva caturyugam | etad dvādaśasāhasraṃ devānāṃ yugam ucyate || 1.71 || daivikānāṃ yugānāṃ tu sahasraṃ parisaṅkhyayā | brāhmam ekam ahar jñeyaṃ tāvatīṃ rātrim eva ca || 1.72 || tad vai yugasahasrāntaṃ brāhmaṃ puṇyam ahar viduḥ | rātriṃ ca tāvatīm eva te ’horātravido janāḥ || 1.73 || Rangkaian itu dapat diterjemahkan, “Ketahuilah secara berurutan ukuran siang dan malam Brahmā dan masing-masing yuga. Kṛta Yuga dikatakan berlangsung empat ribu tahun; masa fajarnya empat ratus dan masa senjanya juga empat ratus. Dalam ketiga yuga lainnya, termasuk masa fajar dan senjanya, bilangan ribuan dan ratusannya berkurang masing-masing satu demi satu. Empat yuga yang dihitung demikian seluruhnya berjumlah dua belas ribu tahun para dewa. Seribu rangkaian yuga ilahi itu merupakan satu hari Brahmā, dan malamnya mempunyai panjang yang sama. Orang yang mengetahui bahwa satu hari Brahmā berakhir setelah seribu yuga dan bahwa malamnya sama panjangnya mengetahui ukuran siang dan malam Brahmā.”

Dari struktur itulah terbentuk rasio yang kemudian terkenal yakni Kṛta memperoleh 4.000 + 400 + 400 = 4.800 tahun ilahi, Tretā 3.600, Dvāpara 2.400, dan Kali 1.200 sehingga totalnya 12.000 tahun ilahi. Dalam sistem kosmologis yang kemudian menjadi standar, satu tahun ilahi setara dengan 360 tahun manusia, sehingga satu caturyuga atau mahāyuga menjadi 4.320.000 tahun manusia: Kṛta 1.728.000, Tretā 1.296.000, Dvāpara 864.000, dan Kali 432.000 tahun. Jadi angka 432.000 berasal dari arsitektur perhitungan kosmologis yang telah mapan dalam tradisi Sanskrit. Hanya saja, membaca hanya angka berarti kehilangan jantung teorinya. Beberapa bait dalam Manusmṛti kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya berubah bersama yuga. Śloka 1.81–86 dibaca sebagai satu argumentasi: catuṣpāt sakalo dharmaḥ satyaṃ caiva kṛte yuge | nādharmeṇāgamaḥ kaścin manuṣyān prati vartate || 1.81 || itareṣv āgamād dharmaḥ pādaśas tv avaropitaḥ | caurikānṛtamāyābhir dharmaś cāpaiti pādaśaḥ || 1.82 || arogāḥ sarvasiddhārthāś caturvarṣaśatāyuṣaḥ | kṛte tretādiṣu hy eṣām āyur hrasati pādaśaḥ || 1.83 || vedoktam āyur martyānām āśiṣaś caiva karmaṇām | phalanty anuyugaṃ loke prabhāvaś ca śarīriṇām || 1.84 || anye kṛtayuge dharmās tretāyāṃ dvāpare ’pare | anye kaliyuge nṝṇāṃ yugahrāsānurūpataḥ || 1.85 || tapaḥ paraṃ kṛtayuge tretāyāṃ jñānam ucyate | dvāpare yajñam evāhur dānam ekaṃ kalau yuge || 1.86 || Terjemahannya, “Pada Kṛta Yuga dharma utuh dengan keempat kakinya dan demikian pula kebenaran; manusia tidak memperoleh keuntungan melalui adharma. Pada zaman-zaman berikutnya dharma kehilangan satu demi satu bagiannya, sementara pencurian, ketidakbenaran dan tipu daya membuatnya menyusut seperempat demi seperempat. Pada Kṛta manusia bebas penyakit, mencapai tujuannya dan memiliki umur panjang; pada Tretā dan zaman-zaman sesudahnya umur mereka berkurang tahap demi tahap. Umur yang disebutkan Veda, keberhasilan tindakan dan kapasitas manusia juga berubah menurut yuga. Dharma yang berlaku bagi manusia berbeda pada Kṛta, Tretā, Dvāpara dan Kali sesuai kemerosotan zaman. Tapas dinyatakan utama pada Kṛta, pengetahuan pada Tretā, yajña pada Dvāpara, dan dāna pada Kali.”

Rangkaian Manusmṛti tersebut dibaca sebagai teori tentang menyusutnya daya dukung dharma, dan bukan sebagai hitungan literal bahwa manusia Kali Yuga hanya “25 persen baik”. Pada Kṛta, dharma berdiri utuh karena adharma tidak memberi keuntungan. Kemerosotan dimulai ketika pencurian, kebohongan, dan tipu daya justru menjadi efektif dan menguntungkan. Dengan kata lain, apa yang melemah bukan sekadar moralitas individu, tapi hubungan antara tindakan benar dan hasil yang diterimanya. Śloka 1.83–84 memperluas kemerosotan itu kepada kapasitas manusia: umur, kesehatan, kekuatan, dan kemampuan mencapai tujuan ikut menurun. Sebaliknya śloka 1.85–86 menolak fatalisme, bahwa dharma tidak hilang, melainkan menyesuaikan diri dengan kapasitas zaman, di mana tapas ditekankan pada Kṛta, jñāna pada Tretā, yajña pada Dvāpara, dan dāna pada Kali. Di sinilah logikanya menjadi tajam, sebab jika Kali ditandai oleh kecenderungan mengambil, menipu, dan mencari keuntungan melalui adharma, maka dāna ~memberi dan melepaskan, menjadi tindakan yang langsung melawan struktur Kali. Jadi Kali bukan zaman tanpa dharma, melainkan zaman ketika dharma menjadi lebih sulit karena adharma sering lebih menguntungkan. Ujiannya cukup sederhana, bahwa ketika keburukan memberi keuntungan, apakah seseorang masih memilih yang benar?

Hanya saja śloka 1.85–86 mengandung koreksi yang sering diabaikan. Dharma tidaklah lenyap dan modus praksisnya berubah sesuai kapasitas zaman. Dalam kerangka Manu, manusia Kali tidak diminta melakukan yang mustahil baginya dengan kapasitas manusia Kṛta. Dāna menjadi bentuk yang secara khusus ditekankan. Itu menjawab mengapa praktik yang lebih mudah dilaksanakan, memperoleh penekanan ketika kapasitas manusia menurun. Jadi teori kemerosotan di sini sekaligus merupakan teori adaptasi praksis lantaran Kali bukan ruang tanpa dharma. Apa yang lebih merusak adalah fatalisme kemudian muncul dalam bait kemudian. Dalam pembahasan mengenai raja, Manusmṛti 9.301–302 menggunakan empat yuga dengan cara yang langsung menggemakan Aitareya Brāhmaṇa: kṛtaṃ tretāyugaṃ caiva dvāparaṃ kalir eva ca | rājño vṛttāni sarvāṇi rājā hi yugam ucyate || 9.301 || kaliḥ prasupto bhavati sa jāgrad dvāparaṃ yugam | karmasv abhyudyatas tretā vicaraṃs tu kṛtaṃ yugam || 9.302 || Artinya, “Kṛta, Tretā, Dvāpara dan Kali seluruhnya merupakan bentuk-bentuk perilaku raja; sebab raja itu sendiri disebut yuga. Ketika ia tertidur, ia adalah Kali; ketika terjaga ia Dvāpara; ketika bangkit untuk bertindak ia Tretā; ketika benar-benar bergerak menjalankan tugasnya ia Kṛta.” Di sini jelas bahwa penguasa tidak boleh berdalih bahwa Kali merupakan suatu keadaan eksternal sehingga dirinya tidak bertanggung jawab, sebab tindakan raja sendiri menghasilkan kualitas yang dinyatakan dengan nama-nama yuga tersebut. Kalimat rājā hi yugam ucyate ~“raja itu sendiri disebut yuga”, mungkin merupakan salah satu koreksi paling keras terhadap penggunaan Kali Yuga sebagai alibi politik. Jika pemerintahan tidur, hukum tidak dijalankan dan kekuasaan membiarkan kekacauan, maka dalam kerangka ini bukan Kali kosmis yang dapat disalahkan terlebih dahulu, malah melainkan penguasa yang sedang membuat Kali. Jadi, jejak dari Aitareya ke Manu sangat jelas bahwa jika dahulu orang yang tidur adalah Kali, maka kemudian penguasa yang tidur adalah Kali.

Sementara itu, Mahābhārata membawa diagnosis lebih jauh. Dalam Vana Parvan, Mārkaṇḍeya menjelaskan kepada Yudhiṣṭhira bagaimana dunia berubah ketika memasuki masa yang tercemar. Pada 3.188.9–17, teks bergerak dari struktur dharma menuju manusia, kemudian institusi, pengetahuan, keserakahan, dan akhirnya kekerasan. Disebut bahwa bhaviṣyaṃ sarvalokasya vṛttāntaṃ bharatarṣabha | kaluṣaṃ kālam āsādya kathyamānaṃ nibodha me || 3.188.9 || kṛte catuṣpāt sakalo nirvyājopādhivarjitaḥ | vṛṣaḥ pratiṣṭhito dharmo manuṣyeṣv abhavat purā || 3.188.10 || adharmapādaviddhas tu tribhir aṃśaiḥ pratiṣṭhitaḥ | tretāyāṃ dvāpare ’rdhena vyāmiśro dharma ucyate || 3.188.11 || tribhir aṃśair adharmas tu lokān ākramya tiṣṭhati | caturthāṃśena dharmas tu manuṣyān upatiṣṭhati || 3.188.12 || āyur vīryam atho buddhir balaṃ tejaś ca pāṇḍava | manuṣyāṇām anuyugaṃ hrasatīti nibodha me || 3.188.13 || rājāno brāhmaṇā vaiśyāḥ śūdrāś caiva yudhiṣṭhira | vyājair dharmaṃ cariṣyanti dharmavaitaṃsikā narāḥ || 3.188.14 || satyaṃ saṃkṣepsyate loke naraiḥ paṇḍitamānibhiḥ | satyahānyā tatas teṣām āyur alpaṃ bhaviṣyati || 3.188.15 || āyuṣaḥ prakṣayād vidyāṃ na śakṣyanty upaśikṣitum | vidyāhīnān avijñānāl lobho ’py abhibhaviṣyati || 3.188.16 || lobhakrodhaparā mūḍhāḥ kāmasaktāś ca mānavāḥ | vairabaddhā bhaviṣyanti parasparavadhepsavaḥ || 3.188.17 ||

Terjemahan secara menyeluruh adalah, “Dengarkanlah gambaran masa depan dunia ketika masa yang tercemar tiba. Dahulu, pada Kṛta, dharma tegak dengan keempat penyangganya, utuh dan bebas dari kepura-puraan. Pada Tretā ia mulai dilukai oleh adharma, dan pada Dvāpara keduanya bercampur dalam keseimbangan. Kemudian adharma menguasai tiga bagian dunia sedangkan dharma tinggal menyertai manusia dengan satu bagiannya. Umur, daya hidup, kecerdasan, kekuatan dan vitalitas manusia berkurang dari yuga ke yuga. Raja, brāhmaṇa, vaiśya dan śūdra menjalankan dharma melalui kepura-puraan; manusia menjadi pemalsu atau peniru dharma. Kebenaran dipersempit oleh orang-orang yang menganggap dirinya pandai. Dengan hilangnya kebenaran, kehidupan menyusut; karena kehidupan menyusut, kemampuan memperoleh pengetahuan pun melemah. Ketika pengetahuan berkurang, ketidaktahuan membuka jalan bagi keserakahan. Dikuasai keserakahan, kemarahan dan nafsu, manusia mengikat permusuhan satu sama lain dan berkeinginan saling membunuh.”

Di sini yang menarik adalah urutan kausalnya dan teks mulai dengan hilangnya integritas dharma, lalu penurunan kapasitas, kemudian vyāja atau kepura-puraan, memasuki institusi. Setelah itu muncul paṇḍitamānin yakni orang yang menganggap dirinya pandai, yang justru mempersempit satya. Ketika pengetahuan rusak, maka lobha atau keserakahan, menjadi besar. Keserakahan berkombinasi dengan krodha dan kāma, baru kemudian manusia memasuki vaira ~permusuhan, dan keinginan saling membunuh. Jadi peperangan dalam rangkaian itu merupakan hilir, bukan pangkal Kali. Pangkal Kali adalah kegagalan epistemik dan etis di mana adharma menggantikan dharma, pretensi atau kepura-puraan menggantikan pengetahuan, keserakahan menguasai ketidaktahuan, baru kekerasan menjadi mungkin. Inilah mengapa melihat Kali hanya dengan menghitung jumlah perang sebenarnya miskin penalaran. Dalam logika Mahābhārata, sebuah masyarakat bisa tidak sedang berperang tapi sudah sangat “Kali” jika institusinya dipenuhi vyāja, di mana elite intelektualnya hanyalah paṇḍitamānin, dan keserakahan sudah menentukan tatanan sosial. Hanya saja, Mahābhārata merupakan teks berlapis yang berkembang melalui sejarah redaksi panjang. Oleh karena itu orang tidak bisa menganggap setiap penyebutan yuga di seluruh epos tersebut otomatis mengandung sistem Purāṇik lengkap yang sama. Justru dengan mengakui stratifikasi itu, perkembangan gagasan menjadi lebih terlihat.

Sedangkan dalam Purāṇa, sistem tersebut menjadi semakin eksplisit dan luas. Viṣṇu Purāṇa VI.1 menempatkan pembahasan Kali sebagai dialog Maitreya dan Parāśara. Maitreya meminta penjelasan tentang svarūpa ~hakikat atau bentuk Kali. Kemudian Parāśara memberi rangkaian sosial yang panjang dalam bagian 6.1.8–20 untuk patut dibaca utuh: maitreya uvāca: kaleḥ svarūpaṃ bhagavan vistarād vaktum arhasi | dharmaś catuṣpād bhagavan yasmin viplavam ṛcchati || 8 || parāśara uvāca: kaleḥ svarūpaṃ maitreya yad bhavān praṣṭum icchati | tan nibodha samāsena vartate yan mahāmune || 9 || varṇāśramācāravatī pravṛttir na kalau nṛṇām | na sāmaṛgyajurvedaviniṣpādanahaitukī || 10 || vivāhā na kalau dharmyā na śiṣyagurusaṃsthitiḥ | na dāmpatyakramo naiva vahnidevātmakaḥ kramaḥ || 11 || yatra tatra kule jāto balī sarveśvaraḥ kalau | sarvebhya eva varṇebhyo yogyaḥ kanyāvarodhane || 12 || yena tenaiva yogena dvijātir dīkṣitaḥ kalau | yaiva saiva ca maitreya prāyaścittakriyā kalau || 13 || sarvam eva kalau śāstraṃ yasya yad vacanaṃ dvija | devatāś ca kalau sarvāḥ sarvaḥ sarvasya cāśramaḥ || 14 || upavāsas tathāyāso vittotsargas tathā kalau | dharmo yathābhirucitair anuṣṭhānair anuṣṭhitaḥ || 15 || vittena bhavitā puṃsāṃ svalpenāḍhyamadaḥ kalau | strīṇāṃ rūpamadaś caiva keśair eva bhaviṣyati || 16 || suvarṇamaṇiratnādau vastre copakṣayaṃ gate | kalau striyo bhaviṣyanti tadā keśair alaṃkṛtāḥ || 17 || parityakṣyanti bhartāraṃ vittahīnaṃ tathā striyaḥ | bhartā bhaviṣyati kalau vittavān eva yoṣitām || 18 || yo yo dadāti bahulaṃ sa sa svāmī tadā nṛṇām | svāmitvahetuḥ saṃbandho bhāvī nābhijanas tadā || 19 || gṛhāntā dravyasaṃghātā dravyāntā ca tathā matiḥ | arthāś cātmopabhogāntā bhaviṣyanti kalau yuge || 20 ||

Artinya, Maitreya berkata, “Bhagavan, berkenanlah menjelaskan secara rinci hakikat Kali, zaman ketika dharma yang berkaki empat mengalami keruntuhan.” Parāśara menjawab, “Wahai Maitreya, dengarkanlah secara ringkas hakikat Kali sebagaimana keadaannya akan berlangsung. Pada Kali, manusia tidak lagi menjalani tata kehidupan berdasarkan varṇa dan āśrama, dan tindakan mereka tidak lagi berlandaskan pelaksanaan ajaran Sāma, Ṛg, dan Yajur Veda. Perkawinan tidak lagi diselenggarakan menurut tata dharma; hubungan guru dan murid tidak lagi terpelihara sebagaimana mestinya; demikian pula tata kehidupan suami-istri serta kewajiban yang berkaitan dengan api suci dan pemujaan kepada para dewa. Seseorang dari keluarga mana pun, selama ia memiliki kekuatan, dapat menjadi penguasa atas semuanya, sementara batas-batas varṇa dalam urusan perkawinan kehilangan daya ikatnya. Seorang dvijāti dapat menerima inisiasi dengan cara apa pun, dan tindakan penebusan kesalahan dilakukan menurut cara yang dianggap memadai. Apa pun yang dikatakan seseorang dapat dianggap sebagai śāstra; segala sesuatu dapat dijadikan dewa, dan setiap orang menjalankan bentuk kehidupan religius sesuai pilihannya sendiri. Puasa, berbagai bentuk penyiksaan diri, dan pemberian kekayaan dianggap sebagai dharma, sementara praktik keagamaan dijalankan menurut selera masing-masing. Sedikit kekayaan saja sudah cukup membuat seseorang sombong karena merasa kaya, sedangkan kecantikan perempuan semakin dilekatkan pada penampilan, terutama rambut. Ketika emas, permata, batu mulia, dan pakaian berharga semakin sulit diperoleh, rambut menjadi perhiasan utama. Perempuan akan meninggalkan suami yang tidak memiliki kekayaan, sedangkan laki-laki kaya menjadi pasangan yang paling diinginkan. Siapa pun yang mampu memberi paling banyak akan dipandang sebagai tuan, dan hubungan sosial semakin ditentukan oleh kekayaan serta kemampuan memberi, bukan lagi oleh asal-usul keluarga. Rumah tangga diarahkan kepada pengumpulan harta, pikiran manusia berhenti pada harta, dan kekayaan itu sendiri pada akhirnya hanya diarahkan kepada kenikmatan pribadi. Demikianlah keadaan manusia pada Kali Yuga.”

Bagian teks ini tidak bisa dipakai secara polos sebagai daftar “ramalan yang terbukti” sebab sebagian kecemasannya jelas berasal dari horizon normatif Brahmanis yakni runtuhnya varṇāśrama, perubahan bentuk perkawinan, pergeseran otoritas ritus, dan perubahan peran sosial dibaca sebagai kemerosotan karena teks berbicara dari suatu tatanan normatif tertentu. Historiografi yang kritis tidak boleh mengubah seluruh preferensi sosial teks kuno menjadi hukum universal. Misalnya, perubahan kasta atau struktur perkawinan, tidak otomatis merupakan bukti objektif degenerasi umat manusia. Akan tetapi kalau konteks historis tersebut dipertahankan, ada mekanisme yang lebih umum dan jauh lebih menarik. Rangkaian itu memperlihatkan substitusi di mana otoritas normatif digantikan kekuatan, kedalaman ritus digantikan prosedur yang sembarang, teks otoritatif digantikan pendapat personal, hubungan digantikan kalkulasi ekonomi dan kekayaan berubah dari sarana menjadi ukuran manusia sehingga pada akhirnya artha tidak lagi mengarah kepada tujuan lebih besar daripada konsumsi diri. Dengan kata lain, Viṣṇu Purāṇa melihat Kali sebagai saat ketika alat mengambil alih posisi tujuan. Ini jelas bukan sekadar kalender waktu, melainkan kritik peradaban.

Rangkaian yang lebih terkenal muncul dalam Bhāgavata Purāṇa XII.2. Kesalahan paling umum dalam teks ini adalah mengambil satu śloka ~biasanya tentang kekayaan atau perkawinan, lalu mencocokkannya dengan berita kontemporer. Padahal 12.2.1–8 membentuk satu argumentasi yang sangat terstruktur yakni: śrīśuka uvāca: tataś cānudinaṃ dharmaḥ satyaṃ śaucaṃ kṣamā dayā | kālena balinā rājan naṅkṣyaty āyur balaṃ smṛtiḥ || 12.2.1 || vittam eva kalau nṝṇāṃ janmācāraguṇodayaḥ | dharmanyāyavyavasthāyāṃ kāraṇaṃ balam eva hi || 12.2.2 || dāmpatye ’bhirucir hetur māyaiva vyāvahārike | strītve puṃstve ca hi ratir vipratve sūtram eva hi || 12.2.3 || liṅgam evāśramakhyātāv anyonyāpattikāraṇam | avṛttyā nyāyadaurbalyaṃ pāṇḍitye cāpalaṃ vacaḥ || 12.2.4 || anāḍhyataivāsādhutve sādhutve dambha eva tu | svīkāra eva codvāhe snānam eva prasādhanam || 12.2.5 || dūre vāryayanaṃ tīrthaṃ lāvaṇyaṃ keśadhāraṇam | udaraṃbharatā svārthaḥ satyatve dhārṣṭyam eva hi | dākṣyaṃ kuṭumbabharaṇaṃ yaśo ’rthe dharmasevanam || 12.2.6 || evaṃ prajābhir duṣṭābhir ākīrṇe kṣitimaṇḍale | brahmaviṭkṣatraśūdrāṇāṃ yo balī bhavitā nṛpaḥ || 12.2.7 || prajā hi lubdhai rājanyair nirghṛṇair dasyudharmabhiḥ | ācchinnadāradraviṇā yāsyanti girikānanam || 12.2.8 || Artinya, “Śuka berkata: Hari demi hari dharma, kebenaran, kemurnian, kesabaran dan belas kasih akan menyusut karena kekuatan waktu; demikian pula umur, kekuatan dan ingatan. Pada Kali kekayaan menjadi penentu kelahiran baik, perilaku dan kualitas; dalam penetapan dharma dan keadilan, kekuatan menjadi penentunya. Hubungan pasangan ditentukan oleh ketertarikan, transaksi diwarnai tipu daya, sedangkan status seorang vipra cukup ditandai oleh benang luarnya. Kedudukan spiritual dikenali dari tanda eksternal; orang yang tidak memiliki penghidupan kehilangan wibawa dalam urusan keadilan, dan kelincahan bicara dianggap sebagai kepandaian. Kemiskinan dianggap sebagai tanda ketidaklayakan, sementara pretensi dianggap kebajikan. Kesepakatan diperlakukan sebagai dasar perkawinan dan mandi sebagai cukup untuk berhias. Tempat jauh yang memiliki air dianggap tempat suci, rambut menjadi ukuran kecantikan, memenuhi perut menjadi tujuan hidup, keberanian kurang ajar dianggap kebenaran, kemampuan sekadar memelihara keluarga dianggap keahlian, dan dharma dijalankan demi reputasi. Ketika masyarakat menjadi demikian, orang terkuatlah yang menjadi raja; dan rakyat kemudian dijarah oleh penguasa yang rakus dan tidak berbelas kasih, yang perilakunya menyerupai perampok, hingga mereka kehilangan harta serta keamanan dan melarikan diri ke pegunungan dan hutan.”

Jika di terjemahkan sebagai satu kesatuan, maknanya menjadi jauh lebih jelas dari sekadar ramalan. Inti rangkaian itu ternyata bukan rambut, mandi, seks, atau adat perkawinan. Semua itu merupakan variasi dari satu struktur besar bahwa tanda menggantikan substansi. Kekayaan menggantikan kualitas. Bala/kekuatan, menggantikan nyāya atau keadilan. Benang suci menggantikan kompetensi spiritual. Liṅga atau tanda luar, menggantikan kualitas keadaan hidup. Cāpalaṃ vacaḥ ~kelincahan atau kelihaian verbal, menggantikan pāṇḍitya, pengetahuan. Dambha ~kepura-puraan atau pretensi, menggantikan sādhutva, kebajikan. Dhārṣṭya, keberanian yang menjurus pada kelancangan, menggantikan satya. Bahkan praktik dharma sendiri akhirnya dilakukan yaśo ’rthe atau demi reputasi. Barulah setelah rantai substitusi itu sempurna, bait 12.2.7–8 membawa kita kepada politik bahwa yang paling kuat menjadi penguasa, lalu penguasa berubah menjadi perampok.

Jadi apa sebenarnya definisi Kali Yuga? Jika seluruh sumber primer yang sudah dijelaskan itu diletakkan dalam garis sejarah, istilah Kali Yuga ternyata mempunyai beberapa lapisan yang harus dibedakan. Pada lapisan paling awal yang tampak dalam Aitareya Brāhmaṇa, Kali merupakan bahasa tentang keadaan tindakan yakni tidur, pasif, hasil terburuk sedangkan sebaliknya Kṛta adalah bergerak dan keadaan terbaik. Dalam Dharmaśāstra, Kali berkembang menjadi kategori kronometris dan normatif sebagai salah satu dari empat yuga, dengan proporsi waktu tertentu dan tingkat kestabilan dharma yang berbeda. Dalam Mahābhārata, Kali menjadi diagnosis antropologis dan institusional terhadap kemunduran pengetahuan, kepura-puraan dalam dharma, keserakahan, kemarahan dan permusuhan. Dalam teori raja Manu, Kali menjadi kategori politik, karena kualitas pemerintahan dapat menciptakan keadaan Kali atau Kṛta. Dalam Purāṇa, Kali berkembang menjadi kritik sosial menyeluruh mengenai kekuasaan, kekayaan, penampilan, status, agama dan hubungan manusia. Dengan demikian, definisi “Kali Yuga adalah zaman kekacauan” sebenarnya terlalu terlalu dangkal. Lebih tepat, adalah “Kali Yuga adalah model kosmologis dan moral tentang suatu kondisi ketika penyangga dharma melemah, sehingga tanda semakin terpisah dari substansi, kekuasaan semakin mudah menggantikan legitimasi, dan manusia semakin sukar mempertahankan kebenaran, pengendalian diri, pengetahuan dan belas kasih.”

Selain itu, dimensi kekacauan juga hanyalah satu satu dampak dari Kali. Sistem Purāṇik-astronomis yang menjadi konvensional menempatkan Kali Yuga pada panjang 432.000 tahun manusia. Tradisi astronomis India juga menggunakan epos tentang Kali yang diletakkan pada 3102 Sebelum Masehi. John. F. Fleet dalam “The Kali-yuga Era of B.C. 3102” (1911) sudah membahas secara klasik soal kontruksi era ini. Apayang harus dibedakan secara metodologis adalah dua proposisi yakni “tradisi astronomis menghitung era Kali dari 3102 SM” dan “sebuah peristiwa historis bernama permulaan Kali Yuga telah dibuktikan secara empiris terjadi pada 3102 SM.” Proposisi pertama adalah fakta sejarah tradisi komputasi sedangkan proposisi yang kedua merupakan klaim metafisis yang tidak dapat disamakan dengan tanggal peristiwa sejarah berdasarkan dokumentasi kontemporer. Maka konsekuensinya cukup ironis, sebab jika seseorang menerima kronologi tradisional secara literal, maka pada pada tahun 2026 saat ini baru sekitar lima milenium dari total 432.000 tahun Kali yang berlalu. Oleh karena itu slogan “sekarang Kali sudah mencapai puncaknya” karena adanya internet, perang modern atau perubahan budaya justru tidak mempunyai dasar dalam skala waktu ortodoks tersebut. Kita bahkan baru berada sedikit di atas satu persen dari keseluruhan Kali. Ada dua pilihan yang sama-sama sah tapi tidak boleh dicampur, yakni (1) Kali dapat diterima sebagai waktu kosmologis literal, tapi kemudian durasi tradisionalnya juga harus diterima secara konsisten. Atau (2) itu dibaca sebagai metafora historis-filosofis, hanya kemudian orang tidak boleh menggunakan kronologi 432.000 tahun sebagai bukti saintifik. Kesalahan terjadi ketika orang berpindah di antara kedua model sesuai kebutuhan argumen.

Dalam perspektif modern, salah satu bukti favorit untuk menyatakan bahwa manusia memang hidup dalam zaman kekacauan adalah angka dramatis yang dipopulerkan Will dan Ariel Durant dalam The Lessons of History (1968), bahwa dari sekitar 3.421 tahun sejarah tercatat, hanya 268 tahun yang disebut bebas dari perang. Jika dihitung mentah, berarti lebih dari 90 persen tahun sejarah manusia merupakan “tahun perang”. Angka ini memang memukul secara retoris, tetapi bermasalah secara statistik. Pertama, apa sebenarnya unit yang dihitung? Misalnya, jika pada tahun 1904 terjadi Perang Rusia–Jepang di Asia Timur, sementara sebagian besar penduduk Amerika Selatan, Afrika, Asia Tenggara, dan banyak wilayah Eropa sama sekali tidak berada di medan perang, apakah tahun 1904 tetap harus disebut sebagai “tahun perang bagi umat manusia”? Dengan metode seperti itu, satu konflik regional kecil mempunyai bobot yang sama dengan tahun 1942 ketika Perang Dunia Ke-2 melibatkan puluhan negara dan menelan jutaan korban. Keduanya sama-sama diberi nilai sederhana yakni “ada perang”. Statistik itu karena itu tidak membedakan perang kecil dan perang dunia, seratus korban dan jutaan korban, ataupun satu persen penduduk bumi yang terdampak dan sebagian besar populasi dunia yang terseret langsung ke dalam perang.

Kedua, semakin besar dan semakin terhubung dunia, semakin kecil peluang menemukan satu tahun ketika tidak ada satu pun konflik di mana pun. Bayangkan sebuah kampung berisi 100 orang dengan peluang tidaka da perkelahian sama sekali selama setahun mungkin cukup besar. Akan tetapi jika kita menggabungkan 80.000 kampung dan bertanya apakah sepanjang tahun itu tidak terjadi satu pun perkelahian di seluruh wilayah, peluang jawabannya tentu jauh lebih kecil. Prinsip yang sama berlaku pada sejarah dunia. Ketika jumlah negara bertambah, populasi membesar, dan media serta lembaga riset mampu merekam konflik yang dahulu tidak pernah masuk kronik sejarah, kemungkinan menemukan setidaknya satu perang di suatu tempat otomatis meningkat. Oleh karena itu angka “hanya 268 tahun damai” tidak hanya mengukur kecenderungan manusia berperang, tetapi juga luasnya dunia yang diamati, jumlah aktor politik yang ada, dan seberapa baik konflik tersebut terdokumentasi. Dengan kata lain, satu perang yang terjadi di satu sudut bumi tidak otomatis berarti seluruh planet sedang hidup dalam kondisi perang.

Peter Brecke dalam “Violent Conflicts 1400 A.D. to the Present in Different Regions of the World” (1999) mencoba membangun ukuran yang lebih sistematis melalui Conflict Catalog. Ia memasukkan konflik yang menyebabkan sedikitnya sekitar 32 kematian dalam satu tahun. Angka 32 bukan batas alamiah yang memisahkan “damai” dan “perang”, melainkan ambang statistik yang diambil dari skala Lewis Fry Richardson yakni besarnya konflik dihitung sebagai logaritma basis sepuluh dari jumlah kematian, sehingga magnitude 1,5 setara dengan sekitar 31,6 atau dibulatkan menjadi 32 korban. Kategorinya pun lebih luas daripada perang antarnegara yakni dengan pemberontakan, pembantaian warga sipil, konflik antarkelompok, atau pertikaian bersenjata tanpa keterlibatan negara dapat tercatat selama merupakan kekerasan mematikan yang terorganisasi dan melewati ambang tersebut. Jadi, misalnya, bentrokan politik terorganisasi yang menewaskan 40 orang dapat masuk katalog Brecke, sedangkan bentrokan yang menewaskan 20 orang tidak, walaupun secara sosial keduanya tetap merupakan kekerasan serius. Ambang itu diperlukan agar ribuan peristiwa lintas abad dapat dibandingkan menggunakan aturan yang relatif konsisten, bukan karena kematian ke-32 secara substantif tiba-tiba mengubah suatu konflik menjadi “perang”. Masalahnya, semakin jauh kita mundur ke masa lalu, semakin besar kemungkinan konflik kecil bahkan konflik besar tidak tercatat sama sekali. Oleh karena itu Conflict Catalog jauh lebih sistematis daripada klaim kasar mengenai “berapa tahun manusia berperang”, tapi tetap tidak dapat menghasilkan kalender lengkap perang-damai bagi seluruh sejarah manusia.

Sementara itu, Samuel Bowles dalam artikelnya “Did Warfare among Ancestral Hunter-Gatherers Affect the Evolution of Human Social Behaviors?” (2009), mencoba menjawab pertanyaan sederhana tapi sulit, “apakah manusia pemburu-peramu pada masa prasejarah cukup sering berperang sehingga perang ikut membentuk evolusi perilaku manusia?” Oleh karena tidak ada catatan tertulis, ia menggabungkan bukti arkeologis seperti tulang dengan luka senjata, kuburan massal, dan tanda kematian akibat kekerasan, dengan data etnografis dari masyarakat pemburu-peramu yang masih dapat dipelajari. Hasilnya menunjukkan bahwa konflik antarkelompok kemungkinan bukan peristiwa langka dan, pada beberapa populasi tingkat kematian akibat kekerasan cukup tinggi untuk memberi keuntungan evolusioner kepada kelompok yang anggotanya mampu bekerja sama dan berkorban demi kelompoknya. Menjadi catatan bahwa temuan ini tidak berarti bahwa seluruh manusia prasejarah hidup dalam perang terus-menerus. Data yang tersedia sangat tidak merata, banyak komunitas tidak meninggalkan bukti yang dapat dibaca, dan masyarakat pemburu-peramu modern tidak bisa begitu saja dianggap identik dengan manusia puluhan ribu tahun lalu. Maka penelitian Bowles terutama menunjukkan bahwa gambaran prasejarah sebagai “zaman damai tanpa perang” terlalu romantis, meski juga tidak membenarkan kesimpulan sebaliknya bahwa kehidupan manusia purba adalah perang tanpa henti.

Dengan demikian, mengapa di zaman sekarang terasa seperti Kali Yuga? Tentu saja ada alasan kuat mengapa tahun 2026 terasa lebih kacau daripada kehidupan seorang manusia beberapa abad lalu. Bahkan ketika kenyataan objektif pada indikator tertentu belum tentu lebih buruk, kita telah mengalami globalisasi kesadaran terhadap bencana. Misalnya, seorang petani di pedalaman Jawa abad XIV Masehi dapat hidup pada saat pembantaian besar terjadi di Asia Tengah, perang berlangsung di Eropa, epidemi berkecamuk di wilayah lain, dan sebuah kota dibakar ribuan kilometer jauhnya, tanpa ia pernah mengetahui semuanya. Dunia objektifnya mungkin penuh kekerasan, tapi dunia fenomenologisnya dibatasi radius pengalaman dan jaringan kabar. Sebaliknya, orang modern saat ini dapat melihat Ukraina, Gaza, Sudan, kriminalitas lokal, bencana di Asia, kerusuhan di Eropa, pembunuhan di Amerika, skandal korupsi dan ancaman ekonomi, bahkan sebelum orang itu selesai sarapan.

Hal tersebut bukan saja sekadar perbedaan kuantitas informasi di antara orang modern dan manusia tujuh ratus tahun lalu. Informasi yang berkembang ternyata mengubah pengalaman psikologis tentang dunia. Tversky dan Kahneman dalam “Availability: A Heuristic forJudging Frequency and Probability.” (1973) menyebut salah satu mekanismenya adalah availability heuristic, di mana manusia cenderung memperkirakan frekuensi atau probabilitas berdasarkan seberapa mudah contoh tertentu tersedia dalam ingatan. Peristiwa yang dramatis, baru, terus diulang dan penuh emosi menjadi sangat “available”. Oleh karenanya, itu mudah dianggap lebih umum daripada yang sebenarnya. Lingkungan informasi digital kemudian memberi mekanisme ekonomi kepada kecenderungan tersebut. Robertson dkk dalam “Negativity Drives Online News Consumption.” (2023) menganalisis 22.743 eksperimen teracak, sekitar 105.000 variasi berita, 5,7 juta klik dan lebih dari 370 juta impresi. Hasilnya, pada judul dengan panjang rata-rata, setiap tambahan satu kata negatif meningkatkan click-through rate sekitar 2,3 persen, sementara kata positif cenderung menurunkannya. Dengan demikian, dunia digital mempunyai insentif untuk menyeleksi negatif. Pembunuhan adalah berita dan satu juta orang yang tidak membunuh bukan berita. Pesawat jatuh adalah berita, sementara puluhan ribu penerbangan yang mendarat dengan selamat bukan berita. Koruptor tertangkap adalah berita, sedangkan jutaan transaksi yang berlangsung tanpa korupsi jarang menjadi berita. Satu kerusuhan memperoleh video, sebaliknya enam juta makan malam keluarga yang berakhir damai tidak mempunyai nilai informasi. Akibatnya, manusia menerima sampel realitas yang secara struktural tidak representatif. Inilah dasar psikologis dari sesuatu yang dapat disebut secara metaforis yakni Kali Yuga algoritmik. Ini bukan algoritma membuktikan Kali secara kosmologis, tapi algoritma yang mampu membuat keburukan dunia memperoleh representasi yang tidak proporsional dalam kesadaran.

Jadi, kesalahan berpikirnya cukup sederhana dalam dua sisi yakni oleh karena sekarang kita melihat jauh lebih banyak kekacauan, maka kita lalu mengira kekacauan pasti jauh lebih banyak daripada dahulu. Padahal apa yang meningkat belum tentu hanya jumlah peristiwanya, tapi juga kemampuan kita melihat, merekam, dan menyebarkannya. Ironisnya, kesalahan sebaliknya juga sering terjadi ketika masa kini dibandingkan dengan masa lalu yang sudah dibersihkan oleh nostalgia. Kita berkata dahulu orang lebih sopan, keluarga lebih kuat, agama lebih murni, dan pemimpin lebih bermartabat, tapi jarang bertanya; dahulu yang mana? Masa ketika perbudakan legal, kematian bayi sangat tinggi, perempuan tidak memiliki banyak hak dasar, penyiksaan publik dianggap wajar, kekerasan rumah tangga disembunyikan sebagai urusan privat, dan perang, penjarahan, atau wabah dapat membunuh ribuan orang tanpa pernah meninggalkan rekaman visual? Masa lalu sering tampak lebih tertib bukan karena selalu lebih baik, melainkan karena banyak penderitaannya tidak terdokumentasi, tidak dianggap masalah, atau sudah hilang bersama para korbannya.

Itulah sebabnya kecenderungan membayangkan bahwa sejarah terus merosot dari masa yang lebih baik disebut declinism, dan pola ini sangat mudah menempel pada narasi empat yuga: Satya Yuga dibayangkan sebagai masa lalu yang suci, sedangkan Kali Yuga menjadi nama bagi semua yang tidak kita sukai hari ini. Masalahnya, jika ciri-ciri Kali dalam teks Purāṇik diterapkan secara terlalu literal, hampir semua zaman juga dapat disebut Kali lantaran penguasa rakus sudah ada sejak kuno, kekayaan membeli hukum bukan penemuan modern, agama demi status sudah lama dikenal, intelektual palsu tidak menunggu media sosial, dan perang karena ambisi maupun keserakahan sudah dibahas dalam Mahābhārata. Oleh karena itu kemiripan antara gambaran Kali dan dunia sekarang tidak otomatis membuktikan bahwa abad XXI secara unik lebih rusak. Itu justru bisa menunjukkan bahwa teks-teks tersebut sedang menangkap pola kelemahan manusia yang berulang lintas zaman.

Maka, kesalahpahaman tentang Kali Yuga biasanya muncul karena orang mencampuradukkan mitologi, sejarah, moralitas, dan pengalaman sosial menjadi satu paket. Kali dalam Kali Yuga, misalnya, bukan Dewi Kālī dan secara etimologis dan historis ia berkembang dari medan makna yang berkaitan dengan keadaan buruk, konflik, dan terminologi permainan dadu, sedangkan Kālī adalah figur dewi dengan tradisi teologis yang berbeda. Tanggal 3102 SM juga sering diperlakukan terlalu harfiah, seolah-olah merupakan tanggal sejarah yang diverifikasi seperti penobatan seorang raja, padahal ia lebih tepat dipahami sebagai epos astronomis-tradisional dalam sistem kronologi India. Kesalahan lain adalah mengira bahwa hidup di Kali berarti semua manusia otomatis menjadi jahat, padahal sumber-sumber primer justru menunjukkan bahwa dharma masih mungkin dijalankan seperti Manusmṛti menekankan dāna, sementara Bhāgavata Purāṇa tetap membuka jalan pembebasan. Begitu pula tidak setiap perubahan budaya harus dibaca sebagai degenerasi; sebagian keluhan Purāṇik jelas lahir dari kecemasan suatu tatanan sosial tertentu terhadap perubahan zaman, sehingga kita harus membedakan mana norma historis teks dan mana pola manusia yang lebih universal. Perang pun tidak dapat dipakai sebagai “bukti ilmiah” bahwa Kali Yuga sedang berlangsung, sebab perang adalah fenomena empiris yang bisa dihitung, sedangkan Kali sebagai siklus kosmis adalah proposisi metafisis. Sementara itu kesalahpahaman yang paling berbahaya justru ketika Kali Yuga dipakai sebagai alasan untuk menyerah dengan argumen bahwa dunia memang rusak, jadi kita tidak perlu bertanggung jawab. Di sinilah tradisi itu sendiri memukul balik fatalisme tersebut. Aitareya Brāhmaṇa mengatakan kaliḥ śayāno bhavati ~“yang berbaring menjadi Kali”, sedangkan Manusmṛti menyatakan rājā hi yugam ucyate atau “raja itu sendiri disebut yuga.” Pesannya jelas bahwa kualitas zaman tidak hanya turun dari langit dan menimpa manusia secara pasif. Melalui kemalasan, pilihan, kepemimpinan, dan tindakan kita sendiri, manusia ikut menciptakan apakah dunianya menjadi lebih Kali atau lebih Kṛta.

Jika Kali Yuga masih mempunyai daya analitis hari ini, mungkin pusat persoalannya bukan sekadar “semakin banyak perang”, melainkan sesuatu yang lebih halus dan justru lebih berbahaya yakni jarak yang semakin lebar antara tanda dan substansi. Gelar, jabatan, kekayaan, kesalehan, popularitas, informasi, hukum, dan ritual tetap dipertahankan sebagai penanda otoritas, nilai, dan kebenaran, meskipun semakin sering kehilangan hubungan dengan pengetahuan, kapasitas, integritas, kontribusi, kualitas, keadilan, serta transformasi yang seharusnya menjadi isinya. Pola inilah yang berulang dari Mahābhārata hingga Bhāgavata Purāṇa di mana vyājair dharmaṃ cariṣyanti ~dharma dijalankan melalui kepura-puraan, paṇḍitamānibhiḥ atau orang menganggap dirinya pandai, vittam eva atau kekayaan menjadi ukuran, balam eva ~kekuatan menjadi penentu, pāṇḍitye cāpalaṃ vacaḥ ~kelincahan berbicara dianggap kecendekiaan, sādhutve dambha eva ~pura-pura dianggap kebajikan, dan yaśo ’rthe dharmasevanam atau dharma dijalankan demi reputasi.

Teks-teks itu sudah memperingatkan sesuatu yang jauh lebih mendasar bahwa masyarakat bisa tetap mempertahankan nama, simbol, dan penampilan kebajikan ketika isi kebajikan itu sendiri sudah kosong. Relevansinya dengan masa kini mudah terlihat. Meritokrasi mudah dibajak modal, kebenaran tunduk pada logika engagement, spiritualitas berubah menjadi citra dan jumlah pengikut, keadilan timpang karena akses hukum tidak setara, sementara pengetahuan kerap kalah oleh mereka yang berbicara paling cepat, keras, dan meyakinkan. Tentu saja tidak perlu membayangkan bahwa para ṛṣi melihat Twitter, Threads atau TikTok ribuan tahun ke depan untuk mengakui ketajaman diagnosis ini. Cukuplah mengakui bahwa mereka sudah memahami satu kelemahan tua manusia bahwa simbol sangat mudah mengambil alih tempat substansi, sampai kita lupa bahwa keduanya pernah berbeda. Maka sebenarnya paradoks terbesar Kali Yuga adalah bukan soal zaman kekacauan sebagai musuh. Musuh yang terselubung adalah kesadaran manusia yang berhenti bertindak jernih karena telah menjadikan kegelapan zaman sebagai takdir. “The darkest age is not the age with the most chaos, but the age in which power replaces truth, appearance replaces substance, and human beings call their surrender destiny.” (end/frs)

Subscribe
Previous
Menjinakkan Monyet, Menata Diri
 Return to site
strikingly iconPowered by Strikingly
Cookie Use
We use cookies to improve browsing experience, security, and data collection. By accepting, you agree to the use of cookies for advertising and analytics. You can change your cookie settings at any time. Learn More
Accept all
Settings
Decline All
Cookie Settings
These cookies enable core functionality such as security, network management, and accessibility. These cookies can’t be switched off.
These cookies help us better understand how visitors interact with our website and help us discover errors.
These cookies allow the website to remember choices you've made to provide enhanced functionality and personalization.
Save