Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

36 Tattwa Abhinawagupta versus Spiritual Kekinian

Salah satu masalah dalam spiritualitas modern adalah obsesinya pada penyederhanaan. Semua mau dibuat cepat, ringan, mudah dikutip, dan enak dijadikan slogan, seperti “heal yourself”, “raise your
vibration”, “be present”, “let it go”, “manifest”. Kalimat-kalimat itu memang tidak selalu salah, tetapi sangat sering berperan menjadi kemasan dangkal untuk realitas batin yang jauh lebih rumit.

Jika merujuk kepada 36 Tattwa Kashmir ShaivaTantra/KST oleh Abhinawagupta ~sebagai perluasan dari 25 tattwa filsafat Sāṁkhya, maka manusia tidak direduksi menjadi sekadar emosi sesaat, trauma masa lalu
atau afirmasi positif. Ia justru membaca manusia sebagai lapisan-lapisan kesadaran yang bertingkat, dari yang paling ilahi sampai yang paling material. Jadi, bukan sekadar “bagaimana agar merasa lebih baik”, tetapi siapa yang merasa, pada lapisan apa, dan mengapa orang itu terjebak di sana.

Oleh karenanya, realitas tidak dibelah kasar antara “spiritual” dan “duniawi”. Itu justru salah satu jebakan paling umum. Banyak orang modern merasa spiritual ketika menjauhi dunia, konflik, tubuh, tanggung jawab, bahkan kompleksitas hidup itu sendiri. Dalam sistem 36 tattwa,tubuh, pikiran, ego, waktu, hasrat, bahasa, indra, dan dunia material bukan sampah yang harus dibuang. Itu semua adalah manifestasi bertingkat dariKesadaran itu sendiri. Dengan kata lain, masalah manusia bukan karena hidup di dunia, akan tetapi karena salah mengenali kedudukan dirinya di dalam struktur realitas. Itu jauh lebih tajam daripada slogan self-help yang menyuruh orang “jangan overthinking” seolah pikiran adalah musuh yang tinggal dimatikan begitu saja.

Maka 36 Tattwa memberi peta yang sangat kuat dalam tiga lapis. Pertama, ada wilayah śuddha tattwa, lapisan murni dari Śiva hingga Śuddhavidyā, di mana kesadaran belum mengalami keterpecahan. Kedua ada wilayah māyīya, ketika kesadaran mulai dibatasi oleh Māyā dan lima kañcuka yakni keterbatasan kuasa, keterbatasan pengetahuan, keterikatan, waktu, dan kondisi. Ketiga, barulah wilayah aśuddha tattwa /psiko-material seperti puruṣa, prakṛti, buddhi, ahaṁkāra, manas, indra-indra, unsur halus, dan unsur kasar. Abhinawagupta sedang menunjukkan sesuatu yang sangat penting bahwa manusia
tidak menderita hanya karena “pikiran negatif”, melainkan karena kesadaran tak terbatas telah menerima rezim pembatasan dan mengira itu identitas finalnya. Itu penjelasan yang jauh lebih dalam daripada teori motivasi instan di media sosial.

Pada titik itu, 36 Tattwa punya bentuk operasionalisasi yang terlihat. Jika seseorang iri, takut, cemas, haus
validasi, fanatik, atau terobsesi kontrol, maka praktisi yang memahaminya tidak akan berhenti pada label moral atau nasihat etis. Ia akan bertanya, pada tattwa mana keterikatan itu mengeras? Apakah ego sedang terlalu dominan? Apakah intelek sedang dibajak oleh rasa kurang tahu? Apakah individu sedang tercekik oleh kañcuka kala/waktu, sehingga hidup dalam kecemasan akan keterlambatan, usia, atau kehilangan momentum? Apakah diperdaya oleh vidyā yang terbatas,sehingga setengah pengetahuan disangka pencerahan? Ini yang membuat 36 tattwa sangat kuat sebagai alat baca psikologis-spiritual karena tidak berhenti di permukaan gejala.

Sebaliknya, spiritualitas modern sering gagal justru karena terlalu cepat memberi narasi penghiburan. Orang trauma disebut “sedang berproses”. Mereka yang malas disebut “sedang menjaga energi”. Bagi
yang bingung disebut “sedang mencarifrekuensi yang tepat”. Untuk yang takutterhadap realitas disebut “sedang memilih kedamaian”. Bahasa-bahasa ini kadang terdengar lembut, tetapi sering menjadi bentuk pemutihan terhadap kebingungan.

Itu berbeda dengan 36 Tattwa harus harus diakui lebih jujur karena tidak secara otomatis menganggap pengalaman batin itu luhur hanya karena terasa lebih dalam. Artinya, dalam perspektif ini seseorang
bisa saja mengalami sesuatu yang intens, emosional, magis, bahkan ekstatis, tetapi tetap belum menembus ilusi utama yakni dirinya masih terpisah dari totalitas kesadaran. Jadi intensitas pengalaman bukanlah ukuran kebenaran. Ini poin yang sangat penting dan sangat sering hilang dalam spiritualitas kekinian.

Selain itu, 36 Tattwa adalah tidak anti dunia. Banyak model spiritualitas modern diam-diam masih mewarisi cara pandang yang curiga terhadap tubuh, seksualitas, kuasa, ambisi, dan materi. Semua itu
dianggap menurunkan vibrasi atau menghambat cahaya. Abhinawagupta jauh lebih matang dengan mengetahui bahwa masalah bukan terletak pada dunia material itu sendiri, melainkan pada ketidaksadaran dalam mengalaminya. Oleh karena itu Tantra tidak sibuk kabur dari realitas, melainkan menembus realitas sampai jantungnya. Mengenali fondasi kesadaran membuat pengalaman menjadi landasan, bukan malah menjauhinya. Sistem semacam ini membuat orang menjadi lebih dewasa ketimbang spiritualitas yang hanya menghasilkan citra “orang baik”, tetapi rapuh saat diuji oleh konflik, hasrat, kehilangan, atau kuasa.

Meski demikian 36 Tattwa juga punya tantangan tersendiri, lantaran kompleksitasnya begitu tinggi. Ada kecenderungan untuk mudah jatuh ke dalam akademisme atau elitisme intelektual. Orang bisa saja
menghafal secara lengkap dan indah secara istilah, tapi tidak berubah apapun. Selain itu untuk pembaca modern, model ini tidak bisa diperlakukan sebagai sains empiris karena memang tidak dirancang untuk laboratorium. Ke-36 Tattwa adalah untuk kontemplasi, pengenalan diri, dan transformasi kesadaran.
Kelemahannya bukan pada kedangkalan, melainkan pada risiko diperlakukan secara terlalu literal atau bahkan terlalu skolastik.

Kalo dibandingkan dengan Sāṁkhya, perbedaannya makin tajam. Sāṁkhya memberi peta 25 Tattwa dan sangat berguna untuk menganalisis struktur pengalaman, tetapi tetap berdiri di atas dualisme antara
puruṣa dan prakṛti. Artinya, kesadaran dan alam pada akhirnya dibedakan sebagai dua prinsip. Abhinawagupta menolak pemisahan itu sebagai pembacaan yang belum tuntas. Ia menambahkan lapisan-lapisan sebelum puruṣa-prakṛti, yakni wilayah kesadaran murni dan pembatasan kosmis, untuk menunjukkan bahwa seluruh manifestasi tidak pernah sungguh terputus dari sumber non-dual, Śiva-Śhakti. Jika Sāṁkhya masih memberi kesan bahwa pembebasan adalah semacam pelepasan dari
campur tangan alam, Abhinavagupta melihat pembebasan sebagai pengenalan kembali bahwa lila atau seluruh permainan alam sejak awal adalah ekspresi kesadaran yang sama.

Jadi, kalo spiritualitas modern suka menyederhanakan manusia menjadi kutipan pendek dan emosi sesaat, maka Abhinawagupta melakukan sebaliknya dengan mengembalikan kedalaman. Ia menolak
simplifikasi murahan dan tidak menjual kenyamanan psikologis sebagai pencerahan. Sistem 36 Tattwa mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang jatuh ke dalam keterbatasan bukan karena hina, tetapi lantaran lupa struktur dirinya sendiri. Di situlah letak ketajamannya; tidak memanjakan, tidak juga
menghukum melainkan benar membedah. Maka bisa jadi itu yang paling dibutuhkan saat ini sebagai kerangka yang cukup tajam untuk untuk menunjukkan di mana sebenarnya ilusi sedang bekerja, dan bukan spiritualitas yang membuat orang cepat merasa suci. Ngopi dululah. (end/frs)

Subscribe
Previous
MEMBACA AWAL SCHRÖDINGER
Next
ANTARA PRIGOGINE DAN SCHRÖDINGER
 Return to site
strikingly iconPowered by Strikingly
Cookie Use
We use cookies to improve browsing experience, security, and data collection. By accepting, you agree to the use of cookies for advertising and analytics. You can change your cookie settings at any time. Learn More
Accept all
Settings
Decline All
Cookie Settings
Necessary Cookies
These cookies enable core functionality such as security, network management, and accessibility. These cookies can’t be switched off.
Analytics Cookies
These cookies help us better understand how visitors interact with our website and help us discover errors.
Preferences Cookies
These cookies allow the website to remember choices you've made to provide enhanced functionality and personalization.
Save