Sependek yang saya tahu dan cari, Ilya Prigogine ilmuwan kimia-fisika yang terkenal karena karyanya tentang termodinamika non-equilibrium, khususnya teori dissipative structures. Saya tidak menguasai bidang itu, belajar fisika pun hanya sebatas pendekatan filosofis seperti halnya bahasan soal Schrödinger kemarin. Akan tetapi jadi tergelitik juga untuk membuat semacam komparasi sederhana tentang gagasan
mereka.
Keduanya memang sama-sama tidak puas dengan fisika yang terlalu sempit dipahami sebagai mesin dingin yang hanya menjelaskan gerak benda. Jika Schrödinger ~terutama lewat bukunya What Is Life? tertarik kepada pertanyaan bagaimana kehidupan bisa mempertahankan keteraturan di tengah kecenderungan menuju kekacauan, maka Prigogine lebih luas lagi dengan mau menjelaskan tentang bagaimana waktu, ketakterbalikan, dan kompleksitas sungguh nyata dalam alam, bukan sekadar ilusi pengamatan. Itu tercermin dalam bukunya, From Being to Becoming: Time and Complexity in the Physical Sciences. Jadi kedua-duanya sama-sama berusaha menghubungkan fisika dengan problem yang lebih
besar yakni hidup, keteraturan, perubahan, dan makna alam yang berkembang. Catatan, saya baru baca satu buku itu doang. Blom sampai pada Order Out of Chaos, The End Of Certainty dan lainnya. Kapan-kapanlah kalo lagi kepengen.
Jika Schrödinger berangkat dari mekanika kuantum dan lalu melirik biologi tentang bagaimana organisme hidup mempertahankan keteraturan, maka Prigogine berangkat dari termodinamika nonequilibrium dan proses irreversible. Singkatnya, kalo Schrödinger bertanya soal bagaimana kehidupan mempertahankan
keteraturan, maka Prigogine bertanya tentang bagaimana keteraturan dan kompleksitas justru bisa lahir dari proses yang tak seimbang dan tak bisa dibalik.
Terus terang, buku From Being to Becoming: Time and Complexity in the Physical Sciences nggak mudah dibaca. Secara garis besar ada tiga bagian yang diawali dengan bahasan soal physics of being yakni
dinamika klasik dan mekanika kuantum. Pada bagian tengah membahas physics of becoming berupa termodinamika, self-organization, dan fluktuasi nonequilibrium. Di bagian akhir Prigogine berusaha membangun jembatan antara keduanya lewat teori kinetik dan teori mikroskopik proses irreversible. Jadi buku ini bukan sekadar fisika teknis, tetapi juga upaya filsafat untuk menjelaskan waktu, perubahan, dan munculnya kompleksitas dalam satu pandangan.
Intinya adalah, Prigogine membahas satu pertanyaan besar; apakah alam semesta itu pada dasarnya “diam dan tetap”, atau justru “selalu menjadi”, berubah, dan berkembang? Iamengkritik cara lama dalam
fisika yang terlalu melihat dunia sebagai sistem yang rapi, stabil, dan bisa dibalik arah waktunya begitu saja. Dalam fisika klasik dan banyak bagian mekanika kuantum, masa lalu dan masa depan seolah simetris. Akan tetapi dalam kehidupan nyata kita justru melihat hal yang lain, misalnya panas menyebar, zat
bercampur, organisme tumbuh, struktur muncul, dan waktu terasa punya arah. Dari situlah ia menekankan pentingnya irreversibility atau proses yang tidak bisa begitu saja dibalik.
Jadi yang bisa ditangkap adalah gagasan bahwa proses tak-balik tersebut bukan ilusi, bukan pula sekadar efek dari keterbatasan pengamatan manusia, melainkan bagian nyata dan mendasar dari alam. Lebih jauh lagi , proses semacam itu justru bisa menciptakan keteraturan baru. Jadi, entropi tidak hanya berarti kemerosotan menuju kacau. Pada kondisi tertentu ~terutama ketika sistem jauh dari keseimbangan, maka bisa muncul pola, organisasi, dan struktur baru. Di sinilah Prigogine berbicara tentang dunia sebagai sesuatu yang evolving, bukan sekadar mesin statis. Ia mencoba menjembatani being (apa yang tetap, stabil, dapat dijelaskan lewat hukum reversibel) dengan becoming (apa yang berubah, historis, kreatif, dan
bertumbuh).
Tampak terlihat bahwa Prigogine dengan keberanian dan keluasan visinya, tidak puas dengan fisika yang hanya menjelaskan gerak benda. Ia ingin menjelaskan mengapa dunia nyata memunculkan evolusi, sejarah, kehidupan, keteraturan, dengan menghubungkan fisika, kimia, biologi, dan filsafat dalam satu percakapan besar. Prigogine juga sangat kuat ketika menjelaskan bahwa organisme hidup adalah sistem yang jauh dari keseimbangan, sehingga perubahan dan ketidakstabilan bukan musuh kehidupan,
melainkan syarat kemunculannya.
Tapi bahasan teknisnya jelas tidak ringan. Harus punya dasar fisika teoretis dan kimia. Sebab ada bagian-bagian tentang operator, teori transformasi, atau hubungan mikroskopik antara dinamika dan
irreversibility bisa terasa berat dan abstrak. Selain itu, tulisan Prigogine juga punya kesan sangat ambisius, sebab kadang nadanya terasa lebih seperti manifesto intelektual ketimbang penjelasan yang benar-benar mudah dicerna dari awal sampai akhir. Jadi, nilai besarnya sangat tinggi, tetapi aksesibilitasnya
terbatas.
Saya mencoba juga melihat korelasinya dengan gagasan tantrik, tapi hanya berhenti pada kemungkinan analogis non tekstual. Misalnya, Prigogine melihat realitas sebagai proses, transformasi, ketegangan
kreatif, dan munculnya keteraturan dari kondisi yang tidak seimbang. Dalam pembacaan tertentu, itu bisa terasa dekat dengan cara sebagian pemikiran Tantra melihat realitas sebagai dinamika Śhakti, proses manifestasi, dan permainan perubahan. Tetapi itu tentu saja tafsir subjektif dan tidak eksplisit.
Maka kalo ditarik dari sisi filsafat, Schrödinger cenderung lebih spekulatif-metafisik dan lebih terbuka ke
pertanyaan kesatuan realitas, kesadaran, dan bahkan tema yang dekat dengan Vedanta. Prigogine juga sama filosofis, tetapi nadanya lebih historis-saintifik dengan keinginan untuk merevisi citra dunia fisika dari yang statis menjadi yang evolutif, dari yang hanya “ada”/being, kemudian yang “menjadi”/becoming. Ia
ingin menunjukkan bahwa kehidupan, sejarah, dan kompleksitas tidak perlu dianggap gangguan pinggiran, melainkan bagian dari struktur alam itu sendiri.
Schrödinger mau memahami rahasia keteraturan hidup, sedangkan Prigogine ingin menunjukkan bahwa perubahan, waktu, dan lahirnya keteraturan itu sendiri adalah bagian mendasar dari realitas. Keduanya
bertemu dalam kritik terhadap pandangan mekanistik yang terlalu sempit, tetapi berpisah pada fokus masing-masing. Schrödinger lebih kepada “misteri kehidupan,” Prigogine lebih bicara soal “hukum perubahan.” (end/frs)

