Viktor Frankl menempati posisi yang ganjil dalam kebudayaan intelektual modern, sebab sebagai neurolog dan psikiater, ia dibaca seperti filsuf moral. Fankl adalah seorang penyintas kamp konsentrasi Nazi dan penggagas suatu pendekatan psikoterapi, tapi kesaksiannya dipasarkan sebagai buku pengembangan diri yang kemudian dipakai oleh pemimpin perusahaan, rohaniwan, motivator, konsultan organisasi, penulis populer, dan pembicara tentang kedukaan. Namanya nyaris selalu muncul ketika manusia hendak meyakini bahwa kehidupan masih mempunyai makna setelah segala sesuatu yang menopangnya sudah hancur berantakan. Popularitas semacam itu bukan sebuah kebetulan lantaran Frankl menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan manusia modern soal kemungkinan bahwa penderitaan tidak harus mempunyai kata-kata final. Akan tetapi, di tangan para pengagumnya, kemungkinan tersebut sering berubah menjadi dogma bahwa setiap luka mengandung pelajaran, setiap kehilangan merupakan jalan pendewasaan, cinta dapat menyelamatkan manusia dari apa pun, dan kebahagiaan akan datang apabila seseorang cukup mampu mengubah sikapnya. Frankl tidak lagi dibaca sebagai seorang pemikir dengan konteks, perkembangan, kontradiksi, dan keterbatasan, melainkan diperlakukan sebagai seorang santo sekuler ketabahan.
Maka Viktor Frankl bertahan sebagai salah satu pemikir psikologi paling berpengaruh abad kedua puluh mengajukan pertanyaan yang tidak pernah benar-benar selesai dijawab manusia, yakni bagaimana seseorang tetap mempunyai alasan untuk hidup ketika keadaan telah merampas hampir semua hal yang memberinya identitas, harapan, dan rasa aman? Jawaban Frankl yang terkenal adalah manusia membutuhkan makna. Hanya saja, popularitas jawaban itu justru melahirkan penyederhanaan besar. Dalam kebudayaan motivasi dan spiritualitas populer, Frankl sering diubah menjadi pembenar tiga keyakinan sentimental yakni soal cinta dapat menyelamatkan manusia dari apa pun, penderitaan selalu menyimpan pelajaran, dan kebahagiaan akan muncul apabila seseorang cukup mampu mengendalikan sikapnya. Ketiganya mengambil unsur nyata dari pemikiran Frankl, tapi kemudian melepaskannya dari batas yang sudah ia tetapkan.
Pembacaan semacam itu menghilangkan perbedaan penting antara menemukan makna di tengah penderitaan dan menyatakan bahwa penderitaan diperlukan agar manusia menemukan makna. Orang juga mengacaukan kebebasan untuk mengambil sikap dengan anggapan bahwa manusia sepenuhnya berdaulat atas kondisi psikologisnya. Apa yang lebih berbahaya adalah, cerita keberhasilan seorang penyintas rezim Nazi dapat berubah menjadi ukuran moral untuk menghakimi korban lain yang tidak mampu mengubah luka menjadi karya, pelayanan, atau kebijaksanaan. Maka Frankl perlu dibaca kembali bukan sebagai orang suci yang bicara soal penderitaan, tapi sebagai pemikir yang kuat sekaligus problematis. Kontribusi terbesarnya adalah memperlihatkan bahwa penderitaan tidak selalu berhasil menghancurkan seluruh kemungkinan hidup. Kelemahannya muncul ketika kemungkinan tersebut berkembang menjadi bahasa heroisme yang memberi status terlalu tinggi terhadap penderitaan itu sendiri. Adapun kesalahan para pemujanya adalah mengubah hak seseorang untuk memberi makna kepada lukanya sendiri menjadi kewajiban bagi semua orang untuk belajar dari luka mereka.
Dalam autobiografinya, disebut Viktor Emil Frankl lahir di Wina pada tanggal 26 Maret 1905 dan ia menampilkan dirinya sebagai anak yang sejak dini tertarik kepada kedokteran, kematian, dan pertanyaan mengenai arti kehidupan. Ia tumbuh di lingkungan intelektual Wina ketika psikoanalisis, sosialisme, filsafat
eksistensial, krisis kekaisaran, dan modernitas saling bertabrakan. Pada masa sekolah menengah ia telah berkorespondensi dengan Sigmund Freud. Ketika keduanya bertemu secara kebetulan, Freud langsung mengenali nama dan alamatnya dari surat-surat yang pernah mereka tukarkan. Pada saat itu Frankl telah bergerak menuju lingkaran Alfred Adler, yang menerbitkan salah satu makalah ilmiahnya dalam jurnal psikologi individual pada tahun 1925. Perjalanan intelektual dari Freud menuju Adler, lalu keluar dari keduanya, menjadi fondasi logoterapi. Frankl menolak kecenderungan Freud mereduksi manusia menjadi makhluk yang terutama digerakkan oleh dorongan dan pencarian kenikmatan. Ia juga menganggap gagasan Adler mengenai inferioritas, kompensasi, dan kehendak berkuasa belum cukup menjelaskan kemampuan manusia mengabdi kepada nilai yang melampaui keuntungan pribadi. Pengaruh Max Scheler kemudian membantunya merumuskan gagasan bahwa nilai tidak sekadar merupakan proyeksi kebutuhan
psikologis. Dalam rekonstruksi perkembangan intelektualnya, karya Scheler membantu Frankl keluar dari psychologism, yakni kecenderungan menjelaskan kebenaran, nilai, agama, dan moralitas hanya sebagai gejala kehidupan psikis.
Dari sinilah lahir logoterapi, yang kemudian disebut sebagai Mazhab Psikoterapi Wina Ketiga setelah psikoanalisis Freud dan psikologi individual Adler. Jika Freud diasosiasikan dengan will to pleasure dan Adler dengan will to power, maka Frankl menempatkan will to meaning ~kehendak untuk menemukan dan memenuhi makna, sebagai motivasi dasar manusia. Logoterapi tidak memusatkan seluruh perhatian kepada rekonstruksi masa lalu, melainkan kepada kondisi konkret kehidupan sekarang dan tugas yang masih menunggu untuk dipenuhi. Fakta ini membongkar salah satu mitos terbesar mengenai Frankl bahwa logoterapi tidak lahir di kamp konsentrasi Auschwitz. Dalam autobiografinya, Frankl menyatakan bahwa sejak tahun 1929 ia telah merumuskan tiga jalan menuju makna. Istilah logotherapy digunakannya sebelum perang, sementara istilah existenzanalyse mulai dipakainya sejak awal tahun 1930-an. Jadi, kamp konsentrasi bukanlah tempat ia menemukan makna untuk pertama kalinya. Kamp justru menjadi tempat teori yang telah dibangunnya diuji, dipertajam, dan kemudian memperoleh otoritas moral yang luar biasa. Perbedaan ini amatlah penting sebab jika gagasan logoterapi dianggap lahir langsung dari kamp, maka penderitaan Frankl tampak sebagai bukti empiris bahwa teorinya benar. Padahal betapapun ekstrem pengalaman pribadi, tidak dapat mengesahkan teori universal dengan sendirinya. Maka lebih tepat adalah mengatakan bahwa Frankl membawa kerangka makna ke dalam kamp, menggunakan kerangka itu untuk bertahan dan menafsirkan pengalamannya, lalu kembali dari kamp dengan keyakinan yang semakin kuat terhadap kerangka tersebut.
Setelah aneksasi Austria oleh Nazi Jerman pada tahun 1938, kehidupan Frankl berubah dari perdebatan intelektual menjadi perjuangan konkret melawan penghancuran kehidupan Yahudi. Ia bekerja di Rumah Sakit Rothschild, salah satu fasilitas medis terakhir bagi warga Yahudi Wina. Jabatan itu memberi perlindungan sementara kepada dirinya dan orang tuanya dari deportasi. Dalam autobiografinya, Frankl menggambarkan betapa rumah sakit menerima banyak korban percobaan bunuh diri ketika warga Yahudi kehilangan pekerjaan, hak sipil, harta, keamanan, dan kemungkinan masa depan. Kemudian Frankl menikahi Tilly Grosser, seorang perawat. Kebijakan Nazi memasuki kehidupan perkawinan mereka sampai ke tingkat paling intim. Perempuan Yahudi yang hamil menghadapi ancaman deportasi, dan Tilly harus menggugurkan kandungannya. Frankl kemudian mempersembahkan salah satu bukunya kepada anak mereka yang tidak pernah lahir. Kejadian ini penting karena menunjukkan bahwa kehilangan Frankl tidak terbatas pada keluarga yang dibunuh di kamp. Rezim Nazi juga merampas masa depan yang belum sempat hadir.
Pada bulan September 1942, Frankl, Tilly, dan orang tuanya dideportasi ke Theresienstadt. Di sana ia bekerja dalam pelayanan medis dan terlibat dalam penanganan tahanan yang menunjukkan kecenderungan bunuh diri. Theresienstadt merupakan ghetto dan kamp transit yang dibangun dalam sistem penghinaan, kepadatan, penyakit, ketakutan, dan deportasi. Ayah Frankl pun meninggal di kamp tersebut. Dalam autobiografinya, Frankl mengingatbagaimana ia memberikan morfin untuk mengurangi sesak dan penderitaan ayahnya yang sekarat akibat edema paru, pneumonia, kelaparan, dan usia lanjut. Pada bulan Oktober 1944, Frankl dan Tilly dikirim ke Auschwitz dan kemudian dipisahkan. Frankl segera dipindahkan ke Kaufering III, salah satu subkamp Dachau di Bavaria, lalu ke Türkheim. Berdasarkan catatan tahanan, masa Frankl di Auschwitz hanya sekitar dua atau tiga hari, meskipun seluruh masa internirannya berlangsung sekitar tiga tahun jika Theresienstadt, Auschwitz, Kaufering, dan Türkheim dihitung bersama. Meski demikian koreksi ini tidak mengurangi teror kamp konsentrasi terhadapnya. Beberapa hari di Auschwitz tetap dapat menjadi pengalaman yang mengubah seluruh kehidupan. Akan tetapi, secara historiografis, ketepatan itu penting karena reputasi Frankl sering dibangun melalui citra seolah-olah ia menjalani sebagian besar masa tahanannya di Auschwitz. Penyebutan “penyintas Auschwitz” secara retoris jauh lebih kuat daripada uraian kompleks mengenai Theresienstadt dan subkamp Dachau.
Kemudian Frankl dibebaskan pada bulan April 1945. Ketika kembali ke Wina, ia mengetahui bahwa ayah, ibu, saudara, dan Tilly telah meninggal. Ibunya dibunuh di Auschwitz, saudaranya meninggal di salah satu kamp cabang, sedangkan Tilly wafat setelah pembebasan Bergen-Belsen akibat penyakit, kelaparan, dan kelelahan. Dalam autobiografinya, ia mengingat bahwa kabar kematian Tilly diterimanya segera setelah kembali ke Wina. Pada titik inilah makna bagi Frankl bukan lagi sekadar konsep psikoterapi, melainkan menjadi alat untuk mencegah masa lalu yang buyar menjadi kehampaan absolut. Gagasan bahwa apa yang telah dilakukan dan dicintai tetap “tersimpan” dalam masa lalu memberinya cara mempertahankan keberadaan orang-orang yang telah hilang. Baginya, masa lalu tidak lagi dapat dihapus oleh kematian karena sesuatu yang pernah diwujudkan telah menjadi kenyataan permanen. Rekonstruksi kritis terhadap pemikirannya menunjukkan bahwa konsepsi ini sekaligus merupakan filsafat waktu dan cara mengatasi kehilangan. Di sini terlihat kekuatan sekaligus persoalan Frankl sebab ia mengubah luka menjadi suatu struktur pemahaman. Itu memungkinkan kehidupan berlanjut, tapi struktur yang menyembuhkan penciptanya tidak otomatis menjadi hukum universal bagi semua manusia.
Inti gagasan Frankl soal logoterapi bukanlah perintah agar manusia menciptakan satu “tujuan hidup” besar, malah justru menolak makna yang terlalu abstrak. Makna bersifat konkret, berubah menurut situasi, dan menuntut jawaban yang berbeda pada setiap waktu. Menurut logika Frankl, pertanyaan yang tepat bukan “Apa yang saya harapkan dari kehidupan?” melainkan “Apa yang sedang diminta kehidupan dari saya?” Manusia bukan hanya pihak yang menuntut kebahagiaan, keberhasilan, dan kepuasan, melainkan juga makhluk yang ditanya oleh keadaan yakni soal apa yang akan dilakukan, siapa yang akan dipertanggungjawabkan, nilai apa yang akan dipertahankan, serta tugas apa yang tidak boleh ditinggalkan. Oleh karena itu, makna tidak identik dengan perasaan nyaman. Seseorang dapat melakukan sesuatu yang bermakna tanpa merasa bahagia. Merawat orang sakit, menyelesaikan kewajiban, mempertahankan kejujuran, atau meninggalkan hubungan yang merusak dapat menghadirkan rasa takut dan kehilangan, tapi tindakan itu tetap mempunyai nilai.
Frankl juga berbicara tentang existential vacuum, kekosongan yang muncul ketika manusia memiliki sarana untuk hidup tetapi tidak tahu untuk apa ia hidup. Kekosongan itu dapat hadir sebagai kebosanan, apati, konsumsi tanpa kepuasan, ketergantungan kepada pengakuan, konformitas, kecanduan rangsangan, atau pekerjaan yang berhasil secara material tetapi kehilangan orientasi batin. Dalam pemaparan popularisasi logoterapi, pertanyaan “survival for what?” muncul justru ketika kebutuhan dasar sebagian orang telah terpenuhi tapi kehidupan terasa tidak mempunyai arah. Konsep ini masih kuat karena menjelaskan sesuatu yang tidak selalu dapat diterangkan oleh kekurangan materi. Manusia dapat mempunyai rumah, pekerjaan, relasi, dan status, tapi tetap mengalami kehampaan. Meski demikian, konsep tersebut akan menyesatkan apabila dipakai untuk meremehkan kebutuhan material. Tidak semua keputusasaan adalah krisis makna sebab terkadang seseorang putus asa karena tidak mempunyai uang, tempat aman, kesehatan, atau perlindungan. Kondisi semacam itu memerlukan tindakan material sebelum refleksi eksistensial.
Frankl juga membedakan sumber penderitaan yang bersifat fisik, psikologis, dan noogenik atau eksistensial. Logoterapi terutama ditujukan kepada dimensi noogenik yakni konflik nilai, kehampaan, hilangnya orientasi, serta kegagalan memenuhi sesuatu yang dianggap bermakna. Dalam kerangka ini manusia tidak direduksi menjadi tubuh atau mekanisme psikis lantaran mempunyai kemampuan mengambil jarak dari kondisinya dan menentukan hubungan terhadap kondisi tersebut. Inilah salah satu sumbangan terpenting Frankl di mana diagnosis tidak harus menjadi identitas, trauma tidak harus menjadi seluruh diri dan kegagalan tidak perlu mendefinisikan keseluruhan kehidupan. Hanya saja, kemampuan mengambil jarak tidak sama dengan kemampuan membatalkan keadaan. Manusia dapat mengambil sikap terhadap penyakit, meski tidak dapat selalu menyembuhkannya dengan sikap. Orang dapat mempertahankan martabat di tengah kemiskinan yang tetap harus diatasi secara ekonomi dan politik.
Kemudian Frankl merumuskan tiga cara utama manusia menemukan makna. Pertama, melalui sesuatu yang dikerjakan atau diciptakan. Kedua, melalui sesuatu atau seseorang yang dialami dan dicintai. Ketiga, melalui sikap yang diambil terhadap nasib yang benar-benar tidak dapat diubah. Dalam autobiografinya ia menyebut kerja atau perbuatan, pengalaman atau cinta, serta perubahan sikap ketika menghadapi keadaan yang tidak dapat diubah seperti penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Urutan ini merupakan kunci yang paling sering hilang ketika Frankl dipopulerkan. Penderitaan bukanlah jalan pertama menuju makna, kehidupan yang bermakna tidak memerlukan tragedi dan kebanyakan makna justru ditemukan dalam kerja, hubungan, tanggung jawab, perjumpaan, keindahan, kreativitas, dan kehidupan sehari-hari. Nilai sikap ini baru relevan ketika daya untuk mengubah keadaan objektif telah berakhir. Ketika penyakit masih bisa disembuhkan, maka yang dibutuhkan adalah pengobatan dan bukan romantisasi. Ketidakadilan yang dapat dihentikan harus dilawan dan tidak diterima sebagai takdir. Hubungan yang penuh kekerasan tidak perlu dipertahankan atas nama pertumbuhan spiritual. Demikian pula kondisi kerja yang buruk tidak boleh ditutupi dengan tuntutan agar pekerja sekadar berpikir positif. Dari sini harus ditarik pembedaan tegas antara dua kalimat yakni (a) “Saya tidak dapat mengubah kejadian yang telah berlangsung, tapi saya masih dapat menentukan sebagian tindakan saya setelahnya” sebagai pemikiran Frankl yang kuat, dibandingkan (b) “Saya tidak perlu mengubah keadaan karena yang penting adalah sikap saya” yang merupakan penyalahgunaan gagasan Frankl.
Dalam gagasan Frankl, kebahagiaan adalah salah satu bagian paling tajam dari logoterapi. Menurutnya, kebahagiaan tidak dapat dikejar secara langsung dan muncul sebagai akibat samping dari keterlibatan dalam sesuatu yang bermakna. Semakin manusia menjadikan kebahagiaan sebagai target yang harus dicapai, maka mereka semakin mengawasi dirinya sendiri dan semakin sulit benar-benar mengalami kehidupan. Frankl merumuskan paradoks ini dengan mengatakan bahwa keberhasilan dan kebahagiaan harus “terjadi” sebagai hasil pengabdian kepada tujuan yang lebih besar daripada diri atau penyerahan kepada orang lain. Secara psikologis, argumen ini kuat dengan ketika seseorang terus bertanya apakah ia bahagia, maka ia membagi dirinya menjadi dua yakni satu bagian mengalami kehidupan, sedangkan bagian lain mengawasi dan menilainya. Orang itu tidak lagi sekadar menikmati makanan, berbicara dengan sahabat, bercinta, bekerja, atau beristirahat. Ia malah memeriksa apakah semua itu cukup membahagiakan.
Frankl menyebut kecenderungan itu sebagai bentuk hyper-reflection atau pemantauan diri yang berlebihan. Salah satu teknik logoterapi yang disebut dereflection, berusaha mengalihkan perhatian dari kecemasan mengenai diri menuju aktivitas, tugas, atau pribadi di luar diri. Dalam pembahasan tentang disfungsi seksual, misalnya, Frankl melihat bahwa usaha obsesif mencapai kenikmatan dapat menghalangi spontanitas kenikmatan itu sendiri. Pemikiran ini sangat relevan dalam masyarakat yang mengubah kebahagiaan menjadi kewajiban. Orang diminta terus berkembang, menyembuhkan diri, menemukan gairah, meningkatkan produktivitas, membangun relasi ideal, dan menikmati hidup secara optimal. Bahkan istirahat harus mempunyai manfaat. Liburan harus transformatif, meditasi harus meningkatkan performa, dan hobi harus menghasilkan pencapaian. Dalam situasi demikian, Frankl mengingatkan bahwa hidup tidak dapat dialami sepenuhnya apabila manusia terus mengaudit kualitas pengalamannya.
Akan tetapi, kritiknya terhadap pengejaran kebahagiaan kadang bergeser menjadi kecurigaan terhadap kenikmatan itu sendiri. Dalam beberapa formulasi, Frankl menempatkan makna spiritual, pengorbanan, dan penderitaan lebih tinggi daripada kesenangan jasmani. Oleh karena kesenangan tidak dapat mengatasi kematian, itu dianggap tidak cukup menjadi dasar makna terakhir. Kritik terhadap Frankl mencatat kecenderungannya membangun pertentangan antara pengalaman organik dan makna spiritual, lalu mengangkat penderitaan heroik sebagai pengalaman yang lebih luhur. Di titik ini, Frankl perlu dikoreksi sebab kesenangan tidak harus menjadi makna tertinggi agar tetap bernilai. Makan enak, tidur nyenyak, bercanda, menikmati tubuh, mendengarkan musik, atau menghabiskan waktu tanpa menghasilkan sesuatu tidak perlu memperoleh pembenaran moral. Manusia tidak harus mengubah semua kenikmatan menjadi pelajaran, sebagaimana ia tidak harus mengubah semua penderitaan menjadi makna. Kebahagiaan memang tidak dapat diperintah, hanya saja kondisi yang memungkinkan manusia hidup lebih baik ~seperti keamanan, waktu luang, penghasilan layak, kesehatan, relasi yang sehat, dan kebebasan dari kekerasan, tetap dapat diperjuangkan. Kebahagiaan sebagai perasaan mungkin tidak dapat dikejar langsung, tapi keadilan sosial yang memungkinkan kehidupan lebih manusiawi bukan sesuatu yang harus dibiarkan “terjadi”.
Demikian juga dengan cinta yang menempati posisi penting dalam pemikiran Frankl sebab cinta merupakan bentuk self-transcendence. Manusia keluar dari keterpusatan pada dirinya dan mengarahkan perhatian kepada keberadaan lain. Dalam cinta, seseorang tidak hanya melihat sifat, fungsi, atau kegunaan orang lain, tapi keunikannya sebagai pribadi yang tidak dapat digantikan. Melalui autobiografinya, Frankl menceritakan bahwa ia memutuskan menikahi Tilly bukan karena perempuan itu memenuhi daftar kualitas tertentu. Ia memilihnya karena “she was she”—karena Tilly adalah Tilly. Kalimat sederhana ini mungkin lebih penting daripada seluruh sentimentalitas tentang cinta yang kemudian dilekatkan kepada Frankl. Dalam pengertian itu, cinta adalah pengakuan terhadap singularitas. Kita tidak mencintai seseorang hanya karena orang itu membuat kita nyaman, memenuhi kebutuhan, memberi status, atau menjalankan fungsi tertentu. Kita melihatnya sebagai pribadi yang nilainya tidak habis oleh kegunaannya.
Pengalaman di kamp konsentrasi memperdalam gagasan tersebut. Ketika bekerja dalam dingin, lapar, dan kelelahan, Frankl membayangkan Tilly dan seolah-olah berbicara dengannya tanpa mengetahui apakah istrinya masih hidup. Dari pengalaman ini ia menyimpulkan bahwa cinta tidak sepenuhnya bergantung pada kehadiran fisik atau balasan aktual. Citra Tilly menjadi sumber orientasi yang membuat hidupnya tidak sepenuhnya dikuasai keadaan kamp. Gagasan ini kuat karena menunjukkan bahwa orang yang hilang tetap dapat mempunyai kenyataan eksistensial. Hubungan yang pernah terjadi tidak menjadi nihil hanya karena kematian. Cinta kepada seseorang yang telah meninggal dapat tetap mengarahkan tindakan, ingatan, dan pilihan moral. Akan tetapi, kalimat bahwa manusia “diselamatkan melalui cinta” mudah dilebih-lebihkan. Cinta dapat memberi alasan untuk bertahan, tapi tidak otomatis menyembuhkan trauma, depresi, atau penyakit. Cinta tidak menggantikan obat, keamanan ekonomi, tempat tinggal, perlindungan hukum, dan terapi. Cinta juga tidak membuat hubungan yang abusif menjadi suci. Ketika cinta dijadikan jawaban universal, seseorang dapat didorong mempertahankan hubungan yang merusak karena penderitaannya dianggap bukti kedalaman cinta. Orang yang tidak mempunyai pasangan atau keluarga juga dapat merasa bahwa hidupnya kurang bermakna. Padahal cinta romantis hanyalah salah satu bentuk nilai pengalaman. Persahabatan, solidaritas, alam, seni, ilmu, komunitas, dan pengabdian juga dapat membawa manusia keluar dari keterpusatan pada diri. Maka self-transcendence bukanlah penghapusan diri. Keluar dari diri tidak berarti membiarkan diri dieksploitasi. Sebaliknya, memberi perhatian kepada orang lain juga tidak mengndaikan kehilangan hak atas batas, keselamatan, dan kebutuhan sendiri.
Bagian paling terkenal dari Frankl sekaligus yang paling banyak disalahgunakan adalah gagasannya tentang penderitaan. Versi populernya berbunyi sederhana, bahwa manusia mungkin tidak dapat mengubah keadaan, tapi tetap dapat memilih sikap. Kalimat tersebut memberi harapan karena menyisakan wilayah kebebasan ketika kekuasaan eksternal telah menghancurkan hampir seluruh pilihan. Meski demikian, kebebasan batin Frankl tidak seharusnya dibaca sebagai kedaulatan mutlak. Manusia tidak memilih trauma, kelaparan, kekerasan, kehilangan, atau penyakit. Orang juga tidak mempunyai kapasitas psikologis yang sama dalam menghadapi keadaan. Trauma dapat merusak ingatan, pengaturan emosi, konsentrasi, kemampuan percaya, serta pengambilan keputusan. Jadi penyakit mental bukanlah kegagalan memilih sikap yang tepat. Frankl sendiri memberikan batas etis yang sangat penting sebab ketika membahas orang yang menghadapi penyakit yang tidak dapat disembuhkan, ia menyatakan bahwa manusia mungkin masih dapat mengubah penderitaan menjadi kesaksian mengenai martabat. Hanya saja, ia segera menambahkan bahwa heroisme seperti itu hanya boleh dituntut oleh seseorang dari dirinya sendiri. Tidak seorang pun berhak menuntut heroisme dari korban lain atau menghakimi mereka dari tempat yang aman.
Itulah yang seharusnya menjadi pusat seluruh pembacaan terhadap gagasan Frankl. Seseorang boleh berkata kepada dirinya sendiri, “Saya akan berusaha membuat sesuatu dari luka ini.” Akan tetapi ia tidak berhak berkata kepada orang lain, “Luka ini datang agar kamu belajar.” Pernyataan pertama adalah tindakan mengambil kembali agensi, sedangkan pernyataan kedua adalah penguasaan terhadap pengalaman orang lain. Frankl juga tidak mengatakan penderitaan merupakan syarat untuk menemukan makna. Penjelasan logoterapi yang bersumber dari pemikirannya menegaskan bahwa pengalaman traumatis bukan prasyarat kehidupan bermakna. Makna dapat ditemukan meskipun penderitaan terjadi, bukan karena manusia perlu menderita. Masalahnya, Frankl kadang melampaui batas tersebut. Dalam perkembangan pemikirannya, penderitaan, kematian, dan rasa bersalah semakin dekat dengan nilai spiritual tertinggi. Ketika nilai sikap dianggap puncak kemampuan manusia, penderitaan mudah tampak lebih luhur daripada kehidupan biasa. Dari sini muncul kesan bahwa manusia paling autentik justru ketika menanggung tragedi.
Kritik terhadap Frankl menunjukkan bahwa narasi survival-nya dapat membuat Holocaust tampak lebih dapat dikelola daripada kenyataannya. Jika orientasi masa depan, misi, dan kekuatan batin dianggap sebagai faktor utama survival, maka mereka yang tidak bertahan dapat secara implisit terlihat kurang kuat atau kurang memiliki tujuan. Kritik Lawrence Langer, sebagaimana direkonstruksi dalam biografi intelektual Frankl, menilai bahwa pendekatan semacam itu menjadikan survival seolah-olah persoalan kesehatan mental dan keberhasilan moral. Langer mengkritik cara Frankl menarasikan kehidupan di kamp konsentrasi karena penekanannya pada tujuan hidup, keteguhan batin, dan kemampuan mengubah penderitaan menjadi kemenangan dapat memberi kesan bahwa peluang bertahan terutama ditentukan oleh kekuatan psikologis serta kualitas moral seorang tahanan. Konsekuensinya, mereka yang hancur atau tidak selamat secara tidak langsung dapat terlihat kurang tangguh atau kurang memiliki alasan untuk hidup. Padahal keselamatan di kamp konsentrasi sangat ditentukan oleh kelaparan, penyakit, seleksi, kerja paksa, kekerasan penjaga, posisi dalam hierarki tahanan, bantuan orang lain, dan faktor kebetulan.
Frankl sendiri mengakui adanya unsur keberuntungan dan menyatakan bahwa mereka yang terbaik justru sering tidak kembali atau selamat. Makna mungkin membantu sebagian orang mempertahankan kehendak hidup, tapi tidak dapat dijadikan penjelasan tunggal mengapa seseorang bertahan. Di sinilah muncul survivorship bias, lantaran kita mendengar Frankl karena ia selamat, menulis, mengajar, dan menjadi terkenal. Kita tidak dapat mendengar jutaan orang yang dibunuh dan juga jauh lebih jarang membaca mereka yang selamat tapi tidak pernah dapat mengubah pengalaman menjadi narasi yang rapi. Jadi, ketidakmampuan menemukan makna bukanlah kegagalan moral dan penderitaan tidak otomatis memperdalam manusia. Penderitaan dapat memperbesar empati, melahirkan karya dan memperkuat hubungan tapi dapat pula menghasilkan mati rasa,agresi, ketakutan, dan ketidakmampuan mempercayai orang lain Penderitaan dapat melahirkan atau menghancurkan kemampuan berkarya, memperkuat hubungan, tapi juga dapat merusaknya secara permanen. Oleh karena itu, makna bukan sifat objektif yang otomatis berada di dalam luka. Makna mungkin baru dirangkai setelah luka terjadi dan fungsinya membantu seseorang menata pengalaman serta bukan membenarkan penyebabnya, mengangkat pelaku sebagai guru, atau memuliakan tragedi.
Salah satu titik lemah utama pemikiran Frankl terletak pada kecenderungannya menuju individualisme heroik. Ia menaruh tekanan besar pada kebebasan batin, yakni kemampuan manusia menentukan sikap meskipun keadaan eksternal tidak dapat lagi dikendalikan. Gagasan ini bernilai karena menolak memandang manusia sebagai korban pasif yang seluruh dirinya ditentukan oleh nasib. Akan tetapi jika ditegaskan terlalu jauh, kebebasan batin dapat terlihat seolah-olah berdiri mandiri dari tubuh, lingkungan, dan struktur sosial. Padahal ruang psikologis untuk memilih, tidak pernah tersedia dalam ukuran yang sama bagi semua orang. Kelaparan, psikosis, kurang tidur berkepanjangan, ancaman kekerasan, kemiskinan, isolasi, dan trauma berat dapat menyempitkan kemampuan seseorang untuk menimbang pilihan, mengendalikan emosi, atau membayangkan masa depan. Orang yang aman, sehat, dan dikelilingi dukungan tidak menghadapi medan keputusan yang sama dengan seseorang yang hidup dalam ketakutan atau kekurangan ekstrem. Kebebasan memang mungkin tetap ada, meski bentuknya terbatas, rapuh, dan sangat bergantung pada kondisi.
Masalah berikutnya muncul dari dimensi moralistik logoterapi. Frankl menganggap makna bukan semata-mata diciptakan menurut selera pribadi, melainkan ditemukan dalam tuntutan konkret kehidupan. Hanya saja, anggapan bahwa suatu makna objektif sedang menunggu untuk ditemukan segera memunculkan pertanyaan yakni siapa yang berhak menentukan bahwa suatu tujuan benar-benar bermakna? Dalam praktik terapi, bahaya muncul ketika terapis terlalu yakin bahwa kehidupan pasien pasti mempunyai tugas tertentu yang belum dikenali. Pendampingan dapat perlahan berubah menjadi pengarahan moral. Terapis tidak lagi membantu pasien menjernihkan nilai, konflik, dan pilihannya sendiri, dan malah mulai menyisipkan pandangan mengenai bagaimana pasien seharusnya hidup. Kritik terhadap kecenderungan ini lantaran logoterapi seperti menawarkan jawaban yang terlalu jelas bagi kehidupan yang sebenarnya ambigu, kontradiktif, dan tidak selalu dapat diselesaikan melalui satu tujuan. Ketika pasien tidak menemukan alasan untuk hidup, seseorang yang punya otoritas dapat tergoda untuk memberikan alasan itu dari luar. Di sinilah paradoks logoterapi terlihat paling jelas bahwa Frankl ingin mengembalikan tanggung jawab kepada individu, tapi keyakinannya mengenai makna yang objektif justru dapat memberi kuasa lebih besar kepada terapis, rohaniwan, pemimpin, atau pembicara motivasi. Atas nama membantu seseorang menemukan makna, mereka dapat merasa berhak menafsirkan penderitaan orang lain, menetapkan kewajiban moralnya, atau memutuskan bahwa orang itu seharusnya melihat tragedi sebagai panggilan. Tanggung jawab pribadi yang semula hendak dipulihkan akhirnya dapat diambil alih oleh figur yang mengklaim mengetahui apa yang dituntut kehidupan dari orang tersebut. Logoterapi menjadi paling sehat ketika makna muncul melalui dialog dan pemeriksaan pengalaman. Sebaliknya, menjadi berbahaya ketika berubah menjadi doktrin mengenai bagaimana seseorang wajib menanggapi nasibnya.
Ketegangan lain terdapat dalam hierarki nilai yang tersirat dalam pemikiran Frankl. Ia menempatkan karya, cinta, dan terutama keberanian mengambil sikap terhadap penderitaan sebagai sumber makna yang tinggi. Formulasi tersebut memberi martabat kepada manusia yang sedang menghadapi kehilangan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Hanya saja, ia juga dapat menciptakan kesan bahwa kehidupan yang ditempa tragedi lebih mendalam daripada kehidupan yang damai, menyenangkan, dan relatif bebas dari penderitaan. Kenikmatan biasa kemudian tampak lebih rendah daripada pengorbanan, sedangkan kenyamanan mudah dicurigai sebagai kedangkalan. Kecenderungan semacam ini mendekati asketisme yakni nilai tertinggi seolah-olah baru sungguh diperoleh melalui penyangkalan diri, luka, atau kehilangan. Padahal persahabatan yang ringan, kesehatan, humor, makanan, istirahat, dan ketenteraman juga merupakan bagian sah dari kehidupan manusia. Mereka tidak harus menghasilkan pelajaran besar agar menjadi bernilai.
Pemikiran Frankl juga sering bergerak terlalu cepat dari pengalaman personal menuju formula universal. Pengalaman kamp konsentrasi memberinya otoritas moral dan kedalaman kesaksian yang tidak dapat disangkal, tapi satu bentuk trauma tidak bisa menjadi model bagi seluruh penderitaan. Kehilangan pasangan berbeda dari kemiskinan kronis, kekerasan domestik berbeda dari penyakit saraf, pengangguran berbeda dari diskriminasi sistemik dan seluruhnya tidak dapat disamakan begitu saja dengan kehidupan di kamp konsentrasi. Masing-masing mempunyai struktur sebab, dampak psikologis, pilihan praktis, dan kebutuhan pertolongan yang berbeda. Satu ajaran mengenai tujuan, cinta, atau perubahan sikap mungkin berguna dalam sebagian keadaan, tapi tidak dapat diterapkan tanpa memperhatikan perbedaan tersebut. Ketika kerangka yang sama digunakan untuk semua luka, kompleksitas penderitaan direduksi menjadi satu narasi bahwa manusia mengalami tragedi, menemukan makna, lalu bertumbuh. Padahal kehidupan nyata jauh lebih tidak teratur dibandingkan kamp konsentrasi.
Selain itu, pemisahan Frankl antara keadaan dan sikap kadang terlihat terlalu tegas, seolah-olah sikap berasal dari pusat kehendak yang sepenuhnya bebas dari tubuh dan lingkungan. Padahal cara seseorang memahami dunia sangat dipengaruhi oleh kondisi biologis dan sosialnya: fungsi saraf, hormon, kelelahan, rasa sakit, obat-obatan, nutrisi, pengalaman traumatis, serta ada atau tidaknya dukungan dari orang lain. Seorang pasien dengan depresi berat, misalnya, bukan sekadar “memilih” melihat hidup secara suram, karena penyakit itu sendiri memengaruhi cara otak memproses harapan, ancaman, dan masa depan. Demikian pula, orang yang lama mengalami kekerasan dapat kehilangan kepercayaan pada penilaiannya sendiri, sedangkan seseorang yang dalam keadaan kelaparan atau kurang tidur tidak memiliki kapasitas regulasi emosi yang sama dengan orang yang sehat dan aman. Oleh karena itu, kebebasan batin sebaiknya dipahami bukan sebagai kemampuan mutlak yang selalu tersedia, melainkan sebagai spektrum di mana pada kondisi tertentu cukup luas, pada kondisi lain sangat menyempit, dan dalam situasi ekstrem hampir tidak dapat digunakan tanpa pertolongan medis, psikologis, atau sosial.
Dengan demikian, Frankl berada pada posisi paling kuat ketika menegaskan bahwa manusia tidak sepenuhnya habis dijelaskan oleh keadaan, diagnosis, atau trauma yang menimpanya. Ia mengingatkan bahwa seseorang masih mungkin memiliki sesuatu yang melampaui fakta penderitaannya dalam hubungan, tanggung jawab, ingatan, nilai, atau tindakan berikutnya. Justru, pemikirannya melemah ketika pernyataan tersebut dibaca seolah-olah kondisi material hampir tidak penting. Manusia memang lebih dari kondisinya, tapi orang tetap hidup melalui tubuh, sejarah, hubungan, dan struktur sosial. Kebebasan batin tidak menghapus kebutuhan akan makanan, keamanan, terapi, obat, keadilan, dan dukungan. Makna dapat membantu seseorang hidup di dalam keadaan yang tidak dapat diubah, hanya saja tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keadaan yang masih dapat diperbaiki.
Jika diamati, para pemuja Frankl juga melakukan kesalahan yang berbeda dari kelemahan asli Frankl. Mereka tidak hanya mengembangkan gagasannya, melainkan menghapus semua batasnya. Apa yang sering dilakukan terutama adalah mengubah sebuah kemungkinan eksistensial menjadi kewajiban moral. Frankl berbicara tentang kemampuan manusia menemukan makna di tengah penderitaan dan dalam versi populer gagasan itu bergeser menjadi tuntutan agar setiap luka menghasilkan pertumbuhan. Korban tidak lagi diberi ruang untuk marah, hancur, bingung, atau sekadar bertahan, malah mereka diharapkan segera mengolah pengalaman menjadi kebijaksanaan. Dari sinilah penderitaan diperlakukan seperti kurikulum yang sengaja dirancang untuk mendidik manusia. Kekerasan disebut pelajaran tentang batas, penyakit dianggap jalan menuju kesadaran, pengkhianatan dipandang sebagai sarana pendewasaan, bahkan kematian orang tercinta dicari-cari hikmahnya. Bahasa semacam ini terdengar religius atau spiritual, tapi sebenarnya mengandung kesombongan epistemik bahwa seolah-olah seseorang mengetahui tujuan tersembunyi di balik tragedi orang lain. Tidak ada dasar untuk menyatakan bahwa setiap luka datang dengan maksud pedagogis. Sebagian penderitaan mungkin kemudian diolah menjadi sesuatu yang bernilai, hanya saja hal itu merupakan hasil kerja manusia setelah kejadian, bukan bukti bahwa tragedi tersebut sejak awal diperlukan atau dirancang demi kebaikannya.
Pemujaan itu juga dibangun melalui seleksi cerita dan terus diulang seperti kisah Frankl, Mandela, atau tokoh lain yang mengubah penderitaan menjadi karya, pelayanan, dan pengaruh moral. Hampir tidak pernah dibicarakan jutaan manusia yang tetap terluka, kehilangan kemampuan bekerja, menjalani hidup biasa, atau tidak mampu menghasilkan warisan heroik. Akibatnya, contoh luar biasa diperlakukan sebagai pola umum, sementara pengalaman yang tidak cocok dengan narasi inspiratif disingkirkan. Penderitaan nyata yang biasanya kacau, melelahkan, berulang, dan tidak memiliki akhir yang memuaskan kemudian dirapikan menjadi alur yang enak dikonsumsi seperti tragedi, perenungan, penerimaan, pertumbuhan, lalu kebijaksanaan. Cerita seperti ini lebih banyak memenuhi kebutuhan pendengar akan kepastian daripada menggambarkan kehidupan korban secara jujur. Korban seakan-akan harus menyajikan penderitaannya dalam bentuk yang indah, dapat dipahami, dan memberi pelajaran bagi orang lain. Ketika ia tidak mampu melakukannya, masalahnya dianggap terletak pada ketidakmatangan, dan bukan pada luka yang memang mungkin tidak pernah tersusun menjadi cerita yang utuh.
Sedangkan dampak paling politis dari pemujaan tersebut adalah penggantian keadilan dengan ketahanan. Pertanyaan tentang siapa yang menyebabkan penderitaan, struktur apa yang mempertahankannya, dan bagaimana menghentikannya digeser menjadi pertanyaan tentang bagaimana korban dapat menjadi lebih kuat. Kekerasan, eksploitasi, atau ketimpangan tetap berlangsung, sementara orang yang menanggung akibatnya dibebani tugas tambahan untuk mengubah luka menjadi makna. Otoritas Frankl sendiri kemudian diperluas melampaui batas yang wajar. Pengalamannya sebagai penyintas Holocaust memang memberi bobot besar pada kesaksiannya, tapi tidak menjadikan setiap teori yang ia rumuskan kebal dari kritik atau berlaku bagi semua jenis penderitaan. Proses pemujaan semakin kuat melalui industri kutipan, ketika kalimat-kalimat yang terdengar dalam dilekatkan kepadanya tanpa pemeriksaan sumber dan disebarkan sebagai kebijaksanaan final. Frankl akhirnya berubah dari tokoh historis yang kompleks menjadi merek moral tentang ketabahan. Kesalahan mendasarnya terletak di sini yakni hak seseorang untuk memberi makna kepada penderitaannya sendiri diambil alih dan diubah menjadi tuntutan agar semua orang menanggung luka dengan tenang, produktif, dan anggun.
Meski demikian, pemikiran Frankl mempunyai relevansi besar misalnya di Indonesia karena masyarakat telah lama memiliki bahasa penerimaan seperti sabar, ikhlas, pasrah, ambil hikmahnya, ini ujian, atau semua ada hikmahnya. Bahasa itu dapat membantu ketika seseorang menghadapi sesuatu yang tidak dapat dibatalkan. Dalam kematian, penyakit yang berat, atau kehilangan secara permanen, manusia memang membutuhkan kerangka yang membuat kehidupan tetap dapat dilanjutkan. Akan tetapi, bahasa penerimaan juga sering digunakan terlalu dini, seperti korban kekerasan rumah tangga diminta bersabar demi keluarga, pekerja dengan upah buruk diminta bersyukur masih mempunyai pekerjaan, anak yang mengalami kekerasan dikatakan sedang ditempa, bahkan orang yang sedang berduka didesak mencari hikmah sebelum sempat marah dan menangis. Dalam konteks ini, batas Frankl harus dipertahankan bahwa makna tidak menggantikan perubahan terhadap keadaan yang masih dapat diubah. Dengan kata lain, kekerasan harus dihentikan sebelum ditafsirkan, penyakit harus diobati sebelum dijadikan pelajaran spiritual, ketidakadilan harus dilawan sebelum korban diminta ikhlas, kemiskinan membutuhkan sumber daya dan bukan hanya motivasi, serta depresi pun membutuhkan dukungan dan pertolongan profesional, bukan semata-mata tujuan hidup.
Bahkan di dunia kerja, sebenarnya gagasan Frankl tentang pekerjaan yang bermakna dapat membantu orang melihat kerja sebagai sesuatu yang lebih luas daripada sekadar pertukaran waktu dengan upah. Melalui kerja, seseorang dapat menyumbangkan keterampilan, memenuhi tanggung jawab, membangun sesuatu yang bernilai, atau menopang kehidupan orang-orang yang bergantung kepadanya. Akan tetapi, bahasa tentang purpose juga mudah disalahgunakan oleh perusahaan untuk menutupi ketimpangan yang nyata. Upah rendah, beban berlebihan, jam kerja yang tidak sehat, dan loyalitas tanpa batas dapat dipoles sebagai pengabdian kepada misi bersama, sementara kelelahan pekerja diperlakukan sebagai kegagalan mengatur sikap. Padahal tidak setiap pekerjaan harus menjadi panggilan jiwa. Banyak orang bekerja terutama untuk bertahan hidup, menghidupi keluarga, dan menciptakan ruang bagi makna di luar kantor, yang semua itu bukanlah kekurangan eksistensial. Kerja boleh memiliki arti penting tanpa harus menjadi pusat identitas seseorang. Prinsip yang sama juga berlaku dalam keluarga dengan self-transcendence dapat memperkuat kepedulian dan tanggung jawab, meski dalam masyarakat komunal itu juga dapat berubah menjadi kewajiban berkorban yang terus dibebankan kepada perempuan, anak sulung, pencari nafkah, atau anggota keluarga yang dianggap paling kuat. Pengabdian baru bernilai apabila masih menyisakan nilai kebebasan. Ketika penolakan tidak dimungkinkan dan beban hanya bergerak ke satu arah, maka yang terjadi bukan transendensi diri melainkan eksploitasi yang diberi nama moral.
Dalam kehidupan beragama, gagasan Frankl tentang makna yang melampaui kemampuan manusia untuk memahaminya dapat menumbuhkan kerendahan hati. Seseorang mungkin berkata bahwa ia percaya bahwa ada arti yang belum dapat dilihat dari penderitaan yang dialaminya. Pernyataan itu tetap menyisakan ruang bagi ketidaktahuan, duka, dan pencarian. Berbeda halnya ketika seseorang menyatakan kepada korban bahwa Tuhan sengaja membuatnya menderita agar ia belajar. Kalimat semacam itu mengklaim mengetahui kehendak ilahi sekaligus menutup hak korban untuk marah, mempertanyakan, atau menuntut keadilan. Oleh karena itu, relevansi gagasan Frankl bukan terletak pada penambahan nasihat untuk sabar, ikhlas, atau menerima nasib, melainkan pada kemampuan membedakan secara jernih apa yang masih dapat diubah, apa yang benar-benar tidak dapat diubah, siapa yang bertanggung jawab atas keadaan tersebut, dan sikap apa yang layak diambil setelah semuanya diperiksa. Tanpa urutan itu, logoterapi mudah berubah menjadi alat kepasrahan yang membuat orang menanggung keadaan buruk lebih lama. Dengan urutan yang tepat, makna bukan alasan untuk bertahan dalam penindasan, melainkan sumber tenaga untuk mengubah yang masih mungkin diubah dan menjaga martabat ketika batas perubahan telah tercapai.
Jadi, pemikiran Frankl tetap penting karena memperlihatkan bahwa manusia tidak selalu harus menunggu keadaan ideal untuk melakukan sesuatu yang bernilai. Bahkan ketika pilihan menyempit, mungkin masih tersisa tindakan, perhatian, kesetiaan, karya, atau sikap yang belum sepenuhnya dirampas. Meski demikian, ruang itu tidak sama luas bagi semua orang. Bagi Frankl, ruang tersebut memungkinkan rekonstruksi manuskrip, refleksi, dan akhirnya karya besar. Bagi manusia lain, ruang itu mungkin hanya cukup untuk bertahan satu hari, menerima makanan, menghubungi teman, atau meminta bantuan. Tidak ada hierarki moral di antara keduanya. Maka, gagasan Frankl tidak seharusnya digunakan untuk mengatakan bahwa manusia dapat mengatasi segala sesuatu melalui pikiran. Itu lebih berguna sebagai pengingat bahwa manusia tidak sepenuhnya identik dengan apa yang menimpanya. Perbedaannya tipis tapi tetap menentukan. Itulah sebabnya, cinta dapat mempertahankan keterhubungan dengan sesuatu yang berharga tanpa menggantikan tuntutan akan keadilan. Kebahagiaan sering hadir ketika tidak lagi dikejar secara obsesif, sementara kenikmatan sederhana tetap memiliki tempat yang sah. Luka mungkin diolah menjadi sumber arti, tetapi tidak serta-merta menjadi suci. Adapun kebebasan batin selalu bekerja dalam batas tubuh, pengalaman hidup, dan struktur sosial yang membentuk manusia. Tidak semua luka punya tujuan dan luka pun tidak harus memiliki seluruh masa depan. “Meaning does not make suffering sacred; it keeps suffering from possessing the whole of life.” (end/frs)

