Banyak manusia yang sangat rajin menyebut Tuhan, tapi tidak pernah sungguh membiarkan dirinya dilebur oleh pengalaman spiritual. Mereka rajin berdoa, tapi doanya tidak mengurangi kesombongan. Memuja, namun pemujaannya tidak melunakkan kebencian. Mengutip kitab, hanya saja kutipan itu tidak membuatnya lebih jernih, melainkan justru membuatnya lebih tajam menghakimi. Memakai simbol agama, sekadar simbol itu hanya menjadi seragam identitas, bukan api transformasi. Pada titik inilah sikap religius tidak mencerminkan spiritualitas yang mendalam karena hanya mencerminkan keberhasilan seseorang memakai bahasa suci untuk mempertahankan struktur ego yang lama.
Dalam perspektif tantrik, masalah utama manusia bukan kurang ritual, kurang doa, atau kurang identitas agama. Masalah utama manusia adalah ajñāna, ketidaktahuan batin. Tepatnya, ketidaktahuan tentang siapa dirinya, apa motifnya, apa yang sebenarnya menggerakkan ucapannya, dan mengapa begitu mudah merasa benar. Seseorang bisa religius, tapi tetap hidup dalam ajñāna. Orang itu bisa menundukkan tubuh di depan altar, namun egonya tetap berdiri tegak. Ia bisa melafalkan mantra, hanya saja pikirannya masih dipenuhi iri, dendam, dan kecurigaan. Bisa merasa membela Tuhan, padahal yang dia bela adalah rasa takutnya sendiri terhadap perbedaan.
Inilah ironi agama yang tidak masuk ke kedalaman batin karena membuat manusia terlihat tertib secara simbolik, tapi tidak selalu membuatnya jernih secara eksistensial. Agama memberi seseorang bahasa untuk berbicara tentang kebaikan, tapi belum tentu memberi keberanian untuk melihat kebusukan dirinya sendiri. Mengajarkan cara berdoa, namun belum tentu mengajarkan cara diam ketika ego ingin menyerang. Memberi aturan tentang suci dan najis, hanya saja belum tentu membersihkan motif tersembunyi yang membuat seseorang merasa berhak mempermalukan orang lain.
Tantra tidak menolak agama dan tidak membuang ritual. Justru Tantra kaya dengan mantra, pūjā, nyāsa, homa, mudrā, maṇḍala, dīkṣā, disiplin tubuh, disiplin napas, dan disiplin kesadaran. Akan tetapi Tantra menolak satu hal yakni ritual yang kehilangan daya pembakaran. Dalam Tantra, ritual bukanlah dekorasi melainkan teknologi batin. Mantra bukan bunyi indah tapi adalah tubuh halus devatā. Pūjā bukan sekadar bunga dan dupa melainkan justru peleburan ego dalam ruang kesadaran. Dhyāna bukan fantasi suci, malah itu adalah keteguhan buddhi yang tidak mudah diguncang oleh bentuk, dorongan, dan reaksi. Oleh karena itu, agama yang tidak membakar ego hanyalah memperhalus ego dengan tidak membebaskan manusia dari dirinya dan hanya membuat diri tampak lebih suci.
Mahānirvāṇa Tantra memberi kritik yang sangat keras terhadap praktik religius yang hanya bersifat mekanis. Dalam Bab III śloka 31 disebutkan mantrārthaṃ mantra-caitanyaṃ yo na jānāti sādhakaḥ | śata-lakṣa-prajapto’pi tasya mantraḥ na siddhyati || 31 || Secara harfiah, mantrārtham berarti makna mantra, mantra-caitanyam berarti kesadaran hidup mantra, yo na jānāti sādhakaḥ berarti sādhaka yang tidak mengetahuinya, dan śata-lakṣa-prajapto’pi berarti meskipun mantra itu dijapa ratusan ribu kali. Maka terjemahannya: “Seorang sādhaka yang tidak mengetahui makna mantra dan kesadaran hidup mantra, meskipun mantra itu telah dijapa sangat banyak kali, mantranya tidak mencapai siddhi.”
Śloka ini penting karena langsung mematahkan ilusi religius yang paling umum yakni ilusi bahwa pengulangan otomatis sama dengan kedalaman. Banyak orang mengira semakin sering membaca mantra, semakin dekat mereka pada realisasi. Itu bisa benar bila japa membangkitkan kesadaran. Akan tetapi jika japa hanya menjadi gerakan lidah, itu tidak membebaskan melainkan hanya menjadi kebiasaan suci yang menenangkan ego. Di sini Tantra memaksa kita bertanya; ketika seseorang menyebut nama Tuhan, siapa yang sebenarnya sedang dikuatkan? Kesadarannya atau citra dirinya? Sewaktu berdoa panjang, apakah batinnya makin jernih atau justru makin merasa punya hak moral atas orang lain? Saat membaca mantra, apakah menjadi lebih sadar terhadap gerak marah, iri, dan hasrat kuasanya, atau justru merasa lebih tinggi karena memiliki bacaan sakral? Mantra yang benar tidak hanya diucapkan melainkan menekan balik orang yang mengucapkannya, menyingkap ketidakteraturan batin, memperlihatkan bahwa di balik kata-kata suci masih ada dorongan untuk diakui, untuk menang, untuk dianggap lebih dekat dengan kebenaran. Jika seseorang tidak sanggup melihat ini, maka mantra belum menjadi caitanya melainkan masih menjadi suara.
Dalam Bab III śloka 35–36, Mahānirvāṇa Tantra menjelaskan lebih jauh bahwa kesadaran hidup mantra adalah devatā yang meresapi mantra, dengan bunyi mantra-caitanyam etat tu tad-adhiṣṭhātṛ-devatā | taj-jñānaṃ parameśāni bhaktānāṃ siddhi-dāyakam || 35 || asyādhiṣṭhātṛ deveśisarva-vyāpi sanātanam | avitarkyaṃ nirākāraṃ vācātītaṃ nirañjanam || 36 || Artinya: “Kesadaran hidup mantra itu adalah devatā yang bersemayam sebagai penguasanya. Pengetahuan tentang Dia, wahai Parameśānī, memberi siddhi kepada para bhakta. Penguasa mantra ini adalah Yang meresapi segalanya, abadi, tak terjangkau oleh penalaran biasa, tanpa bentuk, melampaui ucapan, dan tanpa noda.”
Ini membawa kritik ke tingkat yang lebih dalam, sebab jika devatā mantra adalah sarva-vyāpi ~meresapi segalanya, maka orang yang memakai mantra untuk mempersempit hidup belum memahami mantra. Jika devatā mantra adalah nirākāra ~tanpa bentuk, maka orang yang fanatik pada bentuk luar tetapi kehilangan kesadaran batin belum memasuki jantung mantra. Jika devatā mantra adalah vācātīta ~melampaui ucapan, maka orang yang merasakebenaran selesai hanya karena ia fasih berbicara tentang Tuhan belum sungguh-sungguh mendekati Tuhan. Oleh karena itu mantra seharusnya membuat manusia lebih luas, bukan lebih sempit. Lebih hening, bukan lebih ribut. Lebih jujur, bukan lebih pandai bersembunyi di balik simbol. Jika seseorang makin religius tapi makin mudah membenci, merendahkan, mencurigai, dan makin merasa sah menghakimi, maka itu tanda bahwa praktiknya belum menyentuh devatā mantra melainkan baru menyentuh kulit bunyi. Maka agama sering gagal menjadi spiritualitas karena berhenti pada aspek eksterior seperti pakaian, simbol, tata cara, posisi tubuh, benda persembahan, bahasa liturgis, status komunitas. Semua itu tidak salah, sebab yang keliru adalah ketika semua itu menggantikan transformasi batin. Orang mengira telah memuja karena membawa bunga. Padahal bunga itu tidak berarti banyak jika pikirannya masih penuh duri. Orang mengira telah suci karena menyalakan dupa. Padahal dupa tidak menolong jika batinnya tetap berbau iri dan dendam.
Berlanjut dalam Mahānirvāṇa Tantra Bab III śloka 50 mengalihkan pusat pemujaan ke dalam hati dengan bunyi hṛdaya-kamala-madhye nirviśeṣaṃ nirīhaṃ hari-hara-vidhi-vedyaṃ yogibhir dhyāna-gamyam | janana-maraṇa-bhīti-bhraṃsi sac-cit-svarūpaṃ sakala-bhuvana-bījaṃ brahma-caitanyam īḍe || 50 || Secara harfiah, hṛdaya-kamala-madhye berarti di tengah teratai hati; nirviśeṣam berarti tanpa pembedaan; nirīham berarti tanpa hasrat pribadi; dhyāna-gamyam berarti dicapai melalui meditasi; sat-cit-svarūpam berarti berhakikat keberadaan dan kesadaran; brahma-caitanyam īḍe berarti aku memuja Brahman sebagai Kesadaran. Terjemahannya: “Di tengah teratai hati aku memuja Brahman sebagai Kesadaran: tanpa pembedaan, tanpa hasrat, dikenal oleh Hari, Hara, dan Vidhi, dicapai para yogī melalui meditasi; penghancur rasa takut terhadap kelahiran dan kematian; berhakikat Sat-Cit; benih dari seluruh alam.”
Śloka ini memperlihatkan bahwa pusat spiritualitas bukan panggung luar,melainkan hṛdaya-kamala, teratai hati. Bukan berarti altar luar tidak penting, tapi altar luar hanya berarti jika ia membuka altar dalam. Ritual luar seharusnya menjadi jalan menuju pembacaan diri. Ketika seseorang berdoa, ia seharusnya melihat apa dalam dirinya yang menolak tunduk. Ketika mempersembahkan bunga, seharusnya melihat apa dalam dirinya yang masih berduri. Ketika menyalakan api, ia seharusnya bertanya, apa yang harus dibakar dari diriku? Jika pertanyaan ini tidak pernah muncul, maka ritual menjadi tertib tapi dangkal karena seperti seseorang yang terus membersihkan halaman rumah, sementara ruang dalamnya gelap dan berantakan. Dari luar tampak rapi, tapi dari dalam tetap kacau. Itu bermakna bahwa spiritualitas yang mendalam selalu membawa seseorang ke dalam. Bukan ke dalam sebagai pelarian sentimental, melainkan ke dalam sebagai ruang pengadilan yang paling jujur. Di sana semua motif diperiksa. Apakah aku berdoa karena cinta atau karena takut? Apakah aku menasihati karena welas asih atau karena ingin menguasai? Apakah aku membela agama karena kejernihan atau karena identitasku tersinggung? Apakah aku memuja Tuhan atau sedang memuja citra diriku sebagai pemuja? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini lebih sulit daripada ritual itu sendiri. Itulah sebabnya banyak orang lebih suka sibuk dengan bentuk luar sebab bisa dilatih sedangkan motif batin harus dibongkar. Bentuk luar bisa dipamerkan, sebaliknya kedalaman batin tidak selalu terlihat. Bentuk luar memberi rasa selesai dan pembongkaran batin justru menunjukkan bahwa pekerjaan belum selesai.
Vijñāna Bhairava Tantra lebih radikal lagi. Sebab di dalam śloka 144, Bhairavī bertanya kepada Bhairava: jika realitas tertinggi telah dijelaskan demikian, siapa yang sebenarnya dijapa, apa itu japa, siapa yang bermeditasi, siapa yang dipuja, siapa yang dipuaskan, untuk siapa homa dilakukan? Pertanyaan ini menghancurkan religiusitas yang terlalu cepat puas dengan bentuk. Bhairava menjawab eṣātra prakriyā bāhyā sthūleṣv eva mṛgekṣaṇe || 144 || Secara harfiah: eṣā prakriyā bāhyā berarti prosedur ini bersifat lahiriah; sthūleṣu eva berarti hanya berada pada tingkat bentuk kasar. Terjemahannya: “Wahai yang bermata kijang, semua prosedur ini adalah praktik lahiriah; ia hanya berada pada tingkat bentuk-bentuk kasar.” Ini bukan penolakan terhadap ritual, melainkan terhadap kedangkalan dalam memahami ritual. Ritual yang hanya dijalankan sebagai prosedur tetap berada pada tingkat sthūla, kasar. Ia belum menjadi jalan halus dan belum menembus kesadaran.
Kemudian pada śloka 147, Vijñāna Bhairava Tantra menyatakan: pūjā nāma na puṣpādyair yā matiḥ kriyate dṛḍhā | nirvikalpe mahāvyomni sā pūjā hy ādarāl layaḥ || 147 || Secara harfiah, pūjā nāma na puṣpādyaiḥ berarti yang disebut pūjā bukan dengan bunga dan benda-benda sejenisnya; yā matiḥ kriyate dṛḍhā berarti ketika pikiran dibuat teguh; nirvikalpe mahāvyomni berarti dalam ruang agung yang bebas dari konstruksi konsep; sā pūjā berarti itulah pūjā; layaḥ berarti peleburan. Terjemahannya: “Yang disebut pūjā bukanlah persembahan bunga dan benda-benda semacam itu. Pūjā adalah ketika pikiran diteguhkan dalam mahāvyoma yang nirvikalpa, ruang agung yang bebas dari konstruksi konsep; dari pemujaan semacam itu, melalui penghormatan mendalam, terjadilah peleburan.”
Disini Tantra menghantam pusat kesalehan formal. Pūjā sejati bukanlah bunga, dupa, pakaian, atau ornamen. Semua itu bisa menjadi sarana, tapi bukan inti . Sebab inti pūjā adalah laya ~peleburan. Apa yang melebur? Tidak lain adalah diri palsu berupa identitas sempit, rasa paling benar, kebutuhan diakui, dorongan menguasai, dan konstruksi mental yang membuat seseorang merasa terpisah dari kesadaran agung. Jika setelah pūjā seseorang tetap keras kepala dalam egonya, maka belum terjadi laya. Kalau setelah ibadah seseorang tetap mudah menghina, maka belum terjadi peleburan. Kalau setelah menyembah Tuhan masih merasa berhak merendahkan sesama, maka yang bekerja bukan pūjā, melainkan ego yang berlutut secara estetis. Sebab bentuk religiusitas yang paling licin adalah ego tidak menolak agama, tapi memakainya. Ego tidak menolak Tuhan, namun menjadikan Tuhan sebagai pelindung identitasnya. Ego tidak menolak sujud, bahkan sujud itu dipakai untuk merasa lebih tinggi daripada orang yang tidak sujud. Dengan begitu, agama tidak membunuh ego melainkan justru memberi ego kostum baru.
Kedangkalan religius juga tampak dalam kegemaran manusia mengejar pengalaman. Banyak orang merasa spiritual karena punya mimpi, tanda, sensasi energi, pengalaman gaib, rasa tubuh bergetar, melihat cahaya, atau membayangkan bentuk dewa. Dalam Tantra, pengalaman seperti itu tidak otomatis salah, hanya saja juga tidak otomatis menunjukkan kedalaman. Pengalaman bisa menjadi pintu, tapi pengalaman juga bisa menjadi jebakan baru bagi ego. Vijñāna Bhairava Tantra juga menyatakan dhyānaṃ hi niścalā buddhirnirākārā nirāśrayā | na tu dhyānaṃ śarīrākṣi-mukhādy-ākāra-kalpanā || 146 || Secara harfiah, dhyānam berarti meditasi; niścalā buddhiḥ berarti buddhi yang teguh; nirākārā berarti tanpa bentuk; nirāśrayā berarti tanpa sandaran; na tu berarti bukanlah; śarīra-akṣi-mukha-ādi-ākāra-kalpanā berarti imajinasi bentuk tubuh, mata, wajah, dan sebagainya. Terjemahannya: “Dhyāna adalah buddhi yang teguh, tanpa bentuk, dan tanpa sandaran. Dhyāna bukanlah sekadar membayangkan bentuk tubuh, mata, wajah, tangan, dan bagian-bagian lain.”
Śloka ini penting karena memisahkan meditasi sejati dari fantasi sakral. Orang bisa membayangkan dewa dengan detail, tapi tetap tidak stabil. mereka bisa melihat bentuk halus, namun tetap reaktif. Bisa merasa mendapat tanda, hanya saja tetap tidak mampu memegang tanggung jawab sederhana. Mampu berbicara tentang energi, tapi tetap kacau dalam etika. Dhyāna sejati terlihat dari niścalā buddhi, keteguhan batin dan bukan dari banyaknya pengalaman visual, dramatisnya sensasi atau cerita mistik yang bisa dipamerkan. Jika pengalaman spiritual membuat seseorang makin haus dianggap istimewa, maka pengalaman itu belum menjadi dhyāna melainkan hanyamenjadi bahan bakar ego halus. Oleh karena itu, sikap religius tidak mencerminkan spiritualitas mendalam jika hanya mengumpulkan pengalaman, simbol, istilah, dan cerita sakral. Kedalaman spiritual diuji dalam stabilitas tentang apakah seseorang tetap jernih ketika dikritik? Apakah tetap sadar ketika tidak dihormati? Apakah itetap lurus ketika punya peluang memanipulasi? Apakah tetap bertanggung jawab ketika tidak ada yang melihat? Di sanalah dhyāna diuji, bukan hanya di altar, ruang meditasi atau ketika ketika tubuh duduk diam.
Abhinavagupta dalam Tantrāloka juga memberi dasar filosofis yang sangat tajam. Dalam Bab I śloka 22 ia menulis: ādivākyaṃ iha tāvat samasteṣu śāstreṣu parigīyate | ajñānaṃ saṃsṛter hetur jñānaṃ mokṣaika-kāraṇam || 22 || Artinya secara harfiah, ajñānam berarti ketidaktahuan; saṃsṛteḥ hetuḥ berarti sebab saṃsāra atau keterikatan; jñānam berarti pengetahuan/insight; mokṣa-eka-kāraṇam berarti satu-satunya sebab pembebasan. Terjemahannya: “Dalam seluruh śāstra dinyatakan: ketidaktahuan adalah sebab saṃsāra; pengetahuan adalah satu-satunya sebab pembebasan.” Śloka ini sederhana, tapi memotong langsung ke akar. Awalnya, manusia terikat karena ketidaktahuan. Mereka tidak tahu bahwa kemarahannya sering lahir dari rasa takut, tidak paham bahwa kritiknya sering disusupi iri. Tidak mengerti bahwa nasihatnya sering menyimpan kehendak mengontrol, tidak mafhum bahwa pembelaannya terhadap Tuhan sering bercampur dengan luka identitas dan juga tidak mencerna bahwa kebenciannya bisa berbicara dengan bahasa moral.
Maka agama yang tidak membongkar ajñāna belumlah membebaskan lantaran hanya memberi kerangka baru bagi ketidaktahuan lama. Seseorang yang sebelum beragama merasa lebih unggul karena harta, setelah beragama bisa merasa lebih unggul karena kesalehan. Seseorang yang dulu ingin mengontrol orang lain melalui status sosial, setelah beragama bisa ingin mengontrol orang lain melalui dalil. Seseorang yang dulu agresif secara kasar, setelah beragama bisa agresif dengan bahasa nasihat. Di sinilah religiusitas menjadi berbahaya sebab bukan karena agama berbahaya, tapi karena ego yang tidak dibongkar akan memakai agama sebagai alat paling efektif. Dengan agama, ego bisa menyerang sambil merasa suci dengan bisa merendahkan sambil merasa benar dan mampu menghakimi sambil merasa sedang menjalankan tugas ilahi. Inilah bentuk ajñāna yang paling halus yakni tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, lalu menyebut ketidaktahuan itu sebagai kebenaran.
Selain itu salah satu penyakit manusia religius adalah mengira bahwa kalau sudah tahu berarti telah berubah. Orang menghafal istilah, mengutip kitab, memahami doktrin, mengetahui urutan ritual, lalu merasa sudah memiliki kedalaman. Padahal pengetahuan konseptual belum tentu mengubah struktur batin. Itu memang bisa membuat seseorang lebih fasih, tapi belum tentu lebih jernih. Lebih tajam berdebat, tapi belum tentu lebih matang. Lebih kuat menyerang, namun belum tentu lebih bebas. Abhinavagupta membedakan antara pengetahuan eksistensial dan pengetahuan intelektual. Dalam Tantrāloka I.41 disebutkan: kṣīṇe tu paśu-saṃskāre puṃsaḥ prāpta-para-sthiteḥ | vikasvaraṃ tad-vijñānaṃ pauruṣaṃ nirvikalpakam || 41 || Artinya secara harfiah, kṣīṇe paśu-saṃskāre berarti ketika saṃskāra paśu telah lenyap; prāpta-para-sthiteḥ berarti seseorang mencapai keadaan tertinggi; pauruṣaṃ nirvikalpakam vijñānam berarti pengetahuan eksistensial yang nirvikalpa. Terjemahannya: “Ketika saṃskāra paśu, jejak keterbatasan makhluk terikat, telah lenyap pada seseorang yang mencapai keadaan tertinggi, maka pengetahuan itu disebut pauruṣa-jñāna: pengetahuan yang mengembang penuh dan nirvikalpa.” Ini memberi ukuran yang keras bahwap pengetahuan sejati bukan hanya sesuatu yang dimiliki pikiran tapi juga mengikis paśu-saṃskāra ~jejak makhluk terikat, seperti takut, iri, minder, merasa paling benar, haus validasi, ingin mengontrol, gemar membandingkan, mudah tersinggung, dan terikat pada identitas sempit. Jika semua itu masih kuat, maka pengetahuan agama belum menembus eksistensi.
Dalam Tantrāloka I.42, Abhinavagupta menambahkan vikasvarāvikalpātma-jñānaucityena yāvatā | tad bauddhaṃ yasya tat pauṃsnaṃ prāgvat poṣyaṃ ca poṣṭṛ ca || 42 || Artinya: “Sejauh pengetahuan intelektual seseorang selaras dengan pengetahuan diri yang mengembang dan nonkonseptual itu, maka pengetahuan tersebut disebut bauddha-jñāna; keduanya saling dipelihara dan saling memelihara.” Maksudnya jelas bahwa pengetahuan intelektual tidak ditolak melainkan ia harus selaras dengan realisasi. Hafalan kitab berguna bila mengantar pada kejernihan. Doktrin berfungsi jika mengurangi kebodohan batin. Ritual bermakna kalau melatih kesadaran. Akan tetapi jika semua itu justru memperkuat rasa “aku lebih tahu”, maka pengetahuan telah berubah menjadi ornamen ego. Di sini banyak orang religius tumbang sebab mereka tidak bodoh secara doktrinal, tapi belum tentu matang secara batin. Tahu banyak, tapi tidak tertembus. Bisa menjelaskan kebenaran, namun hidupnya tidak memancarkan kebenaran. Mampu membicarakan kerendahan hati, cuma tersinggung ketika tidak dihormati. Sanggup membahas welas asih, cuma kasar kepada orang yang tidak sepaham. Piawai mengutip ajaran tentangketidakterikatan, tapi citra dirinya sebagai orang spiritual sangat melekat erat.
Itu jelas bukan jñāna, melainkan pengetahuan yang belum terbakar. Lebih tajam lagi, Tantrāloka I.48 menyatakan dīkṣayā galite’py antarajñāne pauruṣātmani | dhīgatasyānivṛttatvād vikalpo’pi hi saṃbhaveta || 48 || Secara harfiah, dīkṣayā berarti melalui inisiasi; galite'py antarajñāne berarti meskipun ketidaktahuan batin telah luruh; dhī-gatasya anivṛttatvāt berarti karena yang berada pada intelek belum berhenti; vikalpaḥ saṃbhaveta berarti konstruksi mental masih mungkin muncul. Terjemahannya: “Walaupun ketidaktahuan batin pada tingkat pauruṣa telah luruh melalui dīkṣā, karena ketidaktahuan pada tingkat intelek belum berhenti, vikalpa ~konstruksi mental, masih mungkin muncul.” Ini penting untuk zaman sekarang, ketika banyak orang merasa aman karena punya guru, tradisi, inisiasi, sanad, aliran, atau legitimasi spiritual. Tantra sendiri tidak meremehkan dīkṣā tapi Abhinavagupta mengingatkan bahkan setelah dīkṣā, konstruksi mental masih dapat bekerja jika belum dibongkar.
Artinya, status spiritual tidak cukup. Seseorang bisa diinisiasi, tapi masih penuh pembenaran. Jika punya guru, tapi tetap tidak jujur pada dirinya. Bisa memakai nama tradisi, namun tetap manipulatif. Dapat merasa berada di jalan yang benar, namun masih menolak kritik. Sanggup memakai mantra, cuma belum mampu menjaga ucapan. Mengaku murid spiritual, tapi tetap tidak dewasa dalam relasi. Maka tanda spiritualitas bukan status, melainkan berkurangnya vikalpa yang menipu diri. Vikalpa adalah konstruksi mental: narasi, pembenaran, label, asumsi, dan cerita yang dibuat pikiran untuk melindungi ego. Orang religius yang belum matang sangat kaya akan vikalpa. Ketika marah, ia berkata sedang menegakkan kebenaran. Saat iri, ia berkata sedang mengkritik kesombongan. Sewaktu ingin menguasai, ia berkata sedang membimbing. Manakala takut, ia berkata sedang menjaga kemurnian ajaran. Tatkala tersinggung, ia berkata agama sedang dihina. Itulah sebabnya spiritualitas sejati selalu menyakitkan bagi ego sebab tidak membiarkan ego berlindung terlalu lama di balik narasi suci. Spiritualitas semacam itu memaksa orang melihat bahwa tidak semua yang terdengar religius lahir dari kesadaran. Sebagian justru lahir dari luka yang belum disembuhkan, rasa rendah diri yang diberi kuasa moral, atau keinginan mengontrol yang memakai baju kepedulian.
Jika dirangkum, teks-teks tantrik di atas memberi satu garis argumen yang jelas. Mahānirvāṇa Tantra menegaskan bahwa mantra tanpa makna dan caitanya tidak mencapai siddhi. Vijñāna Bhairava Tantra menegaskan bahwa pūjā bukan bunga, dhyāna bukan imajinasi bentuk, dan praktik luar tetap kasar bila tidak menembus kesadaran. Tantrāloka menegaskan bahwa akar keterikatan adalah ajñāna, pembebasan hanya melalui jñāna, dan bahkan dīkṣā tidak otomatis menghancurkan vikalpa. Maka sikap religius tidak mencerminkan spiritualitas mendalam jika hanya memperbanyak bentuk tanpa membakar isi. Sikap seperti itu dapat membuat manusia tampak suci, tapi tidak selalu membuatnya bebas. Bisa membuat manusia diterima komunitas, hanya saja tidak selalu membuatnya jernih. Mampu memberi rasa benar, cuma belum tentu memberi keberanian untuk melihat kesalahan diri. Sanggup memberi identitas, tapi tidak identik dengan memberi pembebasan.
Di sinilah kritik harus diarahkan dengan tajam bahwa agama yang tidak mengubah struktur batin hanya memperindah penjara. Penjaranya tetap sama yakni takut, iri, benci, ingin diakui, ingin menguasai, ingin benar sendiri. Hanya dindingnya kini dihiasi śloka, mantra, dupa, ornamen suci, dan simbol keagamaan. Sebaliknya spiritualitas tantrik tidak puas dengan manusia yang tampak saleh karena menuntut manusia yang terbakar, dari kepalsuan, dari kebutuhan untuk terlihat suci, dari rasa paling benar. Terbakar dari kebiasaan menjadikan Tuhan sebagaitameng ego dan dari ketakutan melihat gelapnya sendiri. Oleh karena itu, ukuran spiritualitas bukan seberapa sering seseorang menyebut Tuhan, melainkan seberapa jauh penyebutan itu membuat egonya retak. Bukan seberapa banyak beribadah, tapi seberapa dalam ibadah itu mengubah caranya berbicara, memutuskan, mencintai, menahan diri, dan bertanggung jawab. Bukan seberapa banyak tahu kitab, tapi apakah kitab itu telah menjadi cermin yang kejam bagi dirinya sendiri.
Maka orang yang benar-benar disentuh spiritualitas tidak selalu tampak paling religius tapi lebih jujur, sadar, mampu membaca motif, sedikit membutuhkan panggung, tidak tergesa-gesa menghakimi, tajam terhadap kepalsuan, termasuk kepalsuan dirinya sendiri. Orang seperti itu menggunakan Tuhan untuk menyelamatkan, malah membiarkan Tuhan menghancurkan egonya sehingga di sanalah spiritualitas mulai menjadi nyata. “A religion that does not burn the ego only teaches the ego how to kneel beautifully.” (end/frs)

