Membicarakan perihal reinkarnasi dalam Hindu tidaklah mudah, karena orang sering memahaminya melalui gambaran yang terlalu sederhana. Misalnya, seseorang mati lalu “jiwanya” berpindah ke tubuh lain, bahkan mungkin “lahir kembali menjadi kodok.” Moksa pun sering digambarkan sebagai keadaan ketika seseorang seperti “Prabu Brawijaya” lenyap menghilang dan tidak ada lagi. Penjelasan semcam itu memang mudah diingat, tapi menyesatkan sebab reinkarnasi bukan perpindahan seluruh kepribadian lama ke tubuh baru. Moksa juga bukan pemusnahan keberadaan/eksistensi seseorang. Di antara keduanya terdapat konsep yang sering diabaikan, yaitu buah karma soal bagaimana tindakan, keinginan, kebiasaan, dan keterikatan membentuk kesinambungan kehidupan.
Salah satu gambaran reinkarnasi yang paling terkenal terdapat dalam Bhagavad Gītā 2.22 yang berbunyi, vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāya navāni gṛhṇāti naro ’parāṇi | tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāni anyāni saṃyāti navāni dehī || Artinya, “Seperti seseorang meninggalkan pakaian usang lalu mengenakan pakaian lain yang baru, demikian pula yang bersemayam dalam tubuh meninggalkan tubuh yang telah usang dan menuju tubuh-tubuh lain yang baru.” Śloka ini memakai perumpamaan pakaian untuk membedakan tubuh dari dehī, “yang bertubuh” atau “penghuni tubuh.” Tubuh berubah dan mati, sementara kesinambungan kehidupan tidak habis bersama kerusakan tubuh. Hanya saja analogi pakaian juga dapat disalahpahami. Orang yang mengganti baju biasanya masih membawa nama, ingatan, dan kepribadian yang sama. Kelahiran kembali tidak harus bekerja seperti itu. Kehidupan berikutnya bukan salinan lengkap dari kehidupan sebelumnya. Nama lama, wajah lama, status sosial, dan sebagian besar ingatan autobiografis tidak perlu terbawa secara sadar. Apa yang berlanjut adalah struktur sebab-akibatnya yakni karma, kecenderungan, keinginan, keterikatan, serta bekas pengalaman yang dalam tradisi India disebut saṃskāra atau vāsanā. Oleh karena itu, reinkarnasi lebih tepat dibayangkan sebagai kesinambungan pola daripada perpindahan sebuah pribadi yang tetap dan tidak berubah. Maka analogi yang tepat untuk menggambarkan reinkarnasi adalah satu nyala lilin dapat menyalakan lilin berikutnya. Nyala kedua bukan benda identik yang dipindahkan, tapi ia juga tidak muncul tanpa hubungan dengan nyala pertama. Demikian pula, kehidupan baru bukan kehidupan lama yang difotokopi, melainkan tidak terputus dari sebab-sebab yang telah dibentuk sebelumnya.
Dalam proses reinkarnasi, ada korelasi antara buah karma dengan bhāva, yaitu keadaan keberadaan, proses menjadi, atau kelahiran. Itu dijelaskan dalam Wṛhaspati Tattwa, śloka 3 yang berbunyi: sādhu sādhu mahāsattva karmaphalasya tattvaṃ yat | taddhi bhāvasamanvitam ihatra ca paratra ca || Artinya, “Baik, baik, wahai makhluk agung. Hakikat buah karma itu berkaitan dengan proses menjadi atau kelahiran, baik di dunia ini maupun di alam setelahnya.” Menjadi catatan bahwa beragam aliran Hindu memiliki penjelasan yang berbeda. Tradisi Vaiṣṇava cenderung menegaskan jīva individual yang benar-benar berpindah dari tubuh ke tubuh. Sāṃkhya dan Yoga berbicara tentang kesadaran yang terikat pada perangkat batin dan karma. Advaita Vedānta lebih radikal: pada tingkat tertinggi, bahwa Ātman tidak pernah lahir atau mati; dan yang mengalami kelahiran kembali adalah identitas semu yang dibentuk oleh ketidaktahuan.
Kata karmaphala tersusun dari karma, tindakan, dan phala, buah atau hasil yang matang. Dalam penggunaan Indonesia modern, kata phala itu diserap menjadi pahala. Buah karma bukan hanya hadiah atau hukuman yang tiba-tiba dijatuhkan dari luar. Karma ikut menciptakan bhāva: keadaan diri yang sedang terbentuk. Orang yang berulang kali memelihara kebencian tidak harus menunggu hukuman gaib. Kebencian itu sendiri mulai menghasilkan buah yang membentuk cara orang tersebut berpikir, mengingat, menafsirkan perkataan orang lain, dan bereaksi terhadap dunia. Orang itu menjadi mudah curiga, cepat tersinggung, serta sulit mengalami kedamaian. Demikian pula, kebohongan tidak hanya menghasilkan risiko terbongkar. Kebohongan membentuk pembohong. Seseorang menjadi terbiasa membelokkan kenyataan, menutupi jejak, dan hidup dalam ketakutan bahwa ceritanya akan runtuh. Sebaliknya, kejujuran dan pengendalian diri tidak selalu langsung menghasilkan kekayaan. Akan tetapi keduanya membentuk kejernihan pikiran, konsistensi, kepercayaan, dan kemampuan untuk tidak terus-menerus dikuasai oleh ketakutan. Buah karma dengan demikian hadir dalam dua arah sekaligus dengan menghasilkan keadaan yang dialami seseorang, tapi juga membentuk siapa orang itu sedang menjadi.
Uraian Jawa Kuna terhadap Wṛhaspati Tattwa pada bagian tersebut juga menyatakan “vāsanā ṅaranya ikaṅ karma ginawe niṅ janma ihatra; ya ta bhinukti phalanya riṅ paratra”. Artinya, Vāsanā adalah karma yang dilakukan makhluk di dunia ini; buahnya kemudian dialami di alam setelahnya. Prosa tersebut memakai perumpamaan wadah yang pernah berisi hiṅgu atau getah asafoetida, bahan rempah/bumbu yang berbau sangat tajam. Setelah isinya dibuang dan wadahnya dibersihkan, baunya masih melekat. Itu menjadi analogi bahwa demikian pula, tindakan dapat selesai secara lahiriah, api jejaknya tetap tertanam dalam kesadaran. Inilah vāsanā yang bukan sekadar memori sadar, melainkan bekas kecenderungan. Seseorang mungkin tidak lagi mengingat kapan suatu kebiasaan dimulai, tapi kebiasaan itu tetap memengaruhi pilihannya. Ia mungkin tidak mengetahui asal ketakutannya, tapi ketakutan tersebut tetap mengarahkan tindakannya. Oleh karena itu, yang berlanjut menuju kelahiran berikutnya bukan album kenangan yang lengkap, melainkan “aroma” dari kehidupan sebelumnya seperti daya tarik, penolakan, ketakutan, hasrat, kebiasaan, dan keterikatan yang belum selesai. Jadi, kalau pendapat umum mengatakan bahwa “orang lahir kembali menjadi kodok”, itu gagal menjelaskan mekanisme yang sesungguhnya dan membuat karma tampak seperti hukuman karikatural, yakni satu kesalahan tertentu dibalas dengan satu bentuk kelahiran tertentu. Padahal teks tersebut menggambarkan jaringan yang lebih rumit antara tindakan, vāsanā, hasrat, pembentukan batin, dan jenis keberadaan yang sesuai dengannya.
Selain itu, sebuah tindakan bukan hanya menghasilkan sesuatu, melainkan membentuk pelakunya. Dalam Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 4.4.5 gagasan ini dirumuskan dengan sangat tajam: sa yathākārī yathācārī tathā bhavati; sādhukārī sādhur bhavati, pāpakārī pāpo bhavati. Artinya, “Sebagaimana seseorang bertindak dan menjalani hidupnya, demikianlah ia menjadi. Pelaku kebaikan menjadi baik; pelaku keburukan menjadi buruk.” Berlanjut dengan “puṇyaḥ puṇyena karmaṇā, pāpaḥ pāpena. atho khalv āhuḥ: kāmamaya evāyaṃ puruṣa iti; sa yathākāmo bhavati tatkratur bhavati; yatkratur bhavati tat karma kurute…” Artinya, Ia menjadi bajik melalui perbuatan bajik dan menjadi buruk melalui perbuatan buruk. Namun orang-orang juga berkata: manusia ini sesungguhnya tersusun oleh keinginannya. Seperti apa keinginannya, demikianlah tekad batinnya. Seperti apa tekadnya, demikianlah tindakan yang dilakukannya. Dan seperti apa tindakannya, demikianlah keadaan yang akhirnya ia capai.”
Pernyataan tersebut menghubungkan keinginan, tekad, tindakan, dan hasil yakni seperti apa keinginan seseorang, demikianlah tekadnya. Sesuai tekadnya ia bertindak dan sesuai tindakannya ia mencapai suatu keadaan. Ini menjelaskan mengapa buah karma tidak dapat dibatasi pada peristiwa luar. Buah yang paling mendasar justru adalah pembentukan pelaku. Setiap kali seseorang bertindak, ia tidak hanya mengubah dunia di luar dirinya melainkan juga memperkuat jalur tertentu di dalam dirinya. Satu tindakan mungkin kecil, tetapi tindakan yang diulang menjadi kebiasaan. Kebiasaan menjadi watak. Watak membentuk pilihan berikutnya. Pilihan berikutnya memperkuat kembali watak tersebut. Di situlah saṃsāra bekerja bahkan sebelum seseorang mati, dengan berulang kali dilahirkan ke dalam pola pikir dan pola hidup yang ia ciptakan sendiri.
Dengan demikian, karma bukan alat untuk menyalahkan korban. Pemahaman dangkal tentang buah karma seringmelahirkan kesimpulan kejam seperti orang miskin pasti sedang membayar karma buruk, orang sakit/cacat pasti pernah berbuat jahat dan korban kekerasan pasti pantas menerima nasibnya. Kesimpulan semacam itu jelas tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dari penderitaan yang tampak sekarang, kita tidak bisa secara otomatis menebak satu penyebab moral tertentu pada masa lalu. Setiap kehidupan berada dalam jaringan tubuh, lingkungan, sejarah, tindakan orang lain, keadaan sosial, serta banyak karma yang saling berinteraksi. Mengubah karma menjadi alat untuk menyalahkan korban juga membalik fungsi ajaran tersebut. Karma seharusnya digunakan untuk memeriksa tindakan sendiri, bukan untuk mengarang dakwaan terhadap orang lain. Ketika melihat seseorang menderita, pertanyaan yang tepat bukan, “Kesalahan apa yang dahulu ia lakukan?” Pertanyaan yang lebih bertanggung jawab adalah, “Karma apa yang sedang saya bentuk melalui respons saya terhadap penderitaannya?” Mengabaikan, menghina, atau mengeksploitasi penderitaan orang lain adalah karma kita. Menolong, melindungi, dan memperbaiki ketidakadilan juga merupakan karma kita.
Maka, karma bukan takdir yang membatu. Karma masa lalu membentuk kondisi, tapi tidak selalu menghapus kemungkinan bertindak sekarang. Manusia memang lahir ke dalam keadaan yang tidak sepenuhnya dipilihnya seperti tubuh, keluarga, keterbatasan, dan kecenderungan tertentu. Akan tetapi respons saat ini juga ikut menentukan arah selanjutnya. Karma lebih tepat dibayangkan sebagai arus daripada vonis pengadilan. Kita telah berada di dalam arus tertentu, tapi cara berenang, mengarahkan tubuh, atau mencari tepian masih mempunyai akibat. Oleh karena tindakan sekarang menghasilkan jejak baru, ajaran karma seharusnya tidak menimbulkan fatalisme. Justru itu menegaskan tanggung jawab, bahkan ketika tidak dapat mengubah seluruh keadaan, manusia tetap membentuk kualitas kesadarannya melalui cara ia merespons.
Jika reinkarnasi adalah keberlanjutan pola, dan karmaphala adalah buah tindakan maka moksa bukan penghancuran makhluk yang mengalami pola tersebut. Moksa adalah berhentinya kondisi yang membuat pengulangan itu terus diperlukan. Wṛhaspati Tattwa śloka 52 menyebut tiga dasar pencapaian moksa: jñānābhyudrekato mokṣa indriyāyogamārgataḥ | tṛṣṇādoṣakṣayāc caiva prāpyate kāraṇatrayāt || Artinya, “Moksa dicapai melalui tiga sebab: bangkit dan menguatnya pengetahuan, jalan ketidakterlekatan terhadap indra, serta lenyapnya cacat berupa kehausan atau kemelekatan.” Dengan demikian, jelas ditulis bahwa tidak satu pun dari tiga unsur tersebut bermakna pemusnahan eksistensi. Pertama, jñānābhyudreka adalah menguatnya pengetahuan tentang hakikat kenyataan. Moksa menyangkut pengenalan, bukan penghilangan. Kedua, indriya-ayoga-mārga adalah jalan untuk tidak terus melekat pada objek indra. Indra tidak harus dihancurkan; dominasi objek indrawi terhadap kesadaranlah yang dihentikan. Ketiga, tṛṣṇādoṣakṣaya berarti berakhirnya cacat berupa rasa haus yang terus meminta pengalaman baru, pengakuan baru, kesenangan baru, identitas baru, dan kelahiran baru. Maka, moksa dengan demikian bukan “aku dihancurkan.” Sebab apa yang berakhir adalah mesin batin yang terus berkata, “Aku harus menjadi ini, mendapatkan itu, menolak yang lain, mempertahankan diriku, dan mengulang semuanya.”
Dalam konteks itu, Saṅ Hyaṅ Mahājñāna dalam śloka 74 memakai perumpamaan yang sangat indah yakni saṃsārasāgare ghore oṅkāro hi nauś cocyate | yenottīrṇṇaḥ pārāvāro nāvāsya kiṃ prayojanam || Artinya, “Di lautan saṃsāra yang mengerikan, Oṃ disebut sebagai perahu. Setelah seseorang menyeberangi lautan menuju pantai seberang, untuk apa lagi perahu itu?” Di sini, praktik, mantra, disiplin, dan pengetahuan adalah sarana untuk menyeberang. Setelah tujuan tercapai, sarana tidak lagi diperlukan dengan cara yang sama. Akan tetapi orang yang tiba di seberang tidak berarti berubah menjadi ketiadaan. Sebab yang berakhir adalah keadaan sebagai orang yang masih terombang-ambing di laut. Perumpamaan ini juga mengingatkan bahwa bahkan konsep moksa adalah alat. Selama manusia merasa terikat, ia memerlukan jalan pembebasan. Ketika keterikatan telah berakhir, pembebasan tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dikejar. Moksa juga bukan objek terakhir yang dimiliki ego melainkan adalah berakhirnya kebutuhan ego untuk memiliki objek terakhir.
Teks Tantra Vijñāna Bhairava Tantra dalam śloka 135 membawa pembahasan itu ke tingkat yang lebih radikal: na me bandho na mokṣo me bhītasyaitā vibhīṣikāḥ | pratibimbam idam buddher jaleṣv iva vivasvataḥ || Artinya, “Bagiku tidak ada keterikatan dan tidak ada pembebasan; keduanya menjadi ketakutan bagi orang yang takut. Semua ini adalah pantulan dalam intelek, seperti matahari yang terpantul di permukaan air.” Śloka ini berbicara dari sudut pandang kesadaran tertinggi. Selama seseorang mengidentifikasi dirinya dengan tubuh, pikiran, ingatan, keinginan, dan ego, keterikatan memang dialami sebagai nyata. Ia perlu menjalani disiplin, memahami karma, mengendalikan kecenderungan, dan menjernihkan kesadaran. Setelah hakikat kesadaran dikenali, muncul pertanyaan lebih dalam: siapakah yang sebenarnya pernah terikat? Matahari yang tampak berguncang di permukaan air tidak sungguh-sungguh berguncang. Airlah yang bergerak, sementara matahari tetap sebagaimana adanya. Demikian pula, perubahan tubuh dan pikiran menciptakan kesan bahwa kesadaran sejati ikut lahir, rusak, terikat, dan mati. Dari sudut pandang ini, moksa bukan peristiwa ketika kesadaran dihancurkan. Moksa adalah pengenalan bahwa dasar kesadaran tidak pernah benar-benar menjadi benda yang dapat dimusnahkan. Apa yang “menghilang” adalah kesalahan pengenalan.
Itulah sebabnya, analogi ombak dan laut tetap menjadi penjelasan termudah. Ombak memiliki nama, bentuk, ukuran, arah, dan masa hidup. Sebuah ombak yang tinggi besar dapat merasa dirinya berbeda dari ombak lain. Ketika ombak reda, bentuknya memang berhenti. Akan tetapi airnya tidak berubah menjadi ketiadaan. Apa yang berakhir adalah bentuk sementara yang disebut “ombak.” Begitu pula moksa. Nama, bentuk, ego, dan narasi pribadi memang tidak bersifat kekal. Meski demikian moksa tidak identik dengan nihilisme sebab bukan kehampaan yang ditinggalkan setelah diri dimusnahkan, melainkan bebasnya kesadaran dari anggapan bahwa bentuk sementara adalah hakikat terakhirnya. Itulah bedanya antara tradisi nondual dengan teistik. Dalam tradisi nondual, ombak mengenali dirinya sebagai laut. Dalam tradisi teistik, jiwa dibebaskan dari saṃsāra dan mencapai kedekatan dengan Tuhan tanpa harus kehilangan identitasnya. Oleh karena itu, semua aliran Hindu tidak menjelaskan keadaan setelah moksa dengan cara yang identik. Moksa umumnya dipahami sebagai pembebasan dari keterikatan, bukan penghancuran jiwa menjadi ketiadaan.
Jadi penjelaskan yang paling sederhana, reinkarnasi adalah kelanjutan pola yang masih terikat. Buah karma adalah pematangan akibat sekaligus pembentukan pelakunya. Moksa adalah berakhirnya ketidaktahuan yang memaksa pola itu terus berulang. Kematian mengakhiri tubuh, karma meneruskan akibat, reinkarnasi melanjutkan pola, dan moksa mengakhiri keharusan untuk mengulangnya. What continues is not the old personality, but the pattern itcreated; what mokṣa ends is not existence, but the compulsion to repeat it. (end/frs)

