Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me


Iliterasi Spiritual dan Kekacauan Permainan Bahasa

Perspektif Wittgenstein

· Renungan

Pada abad ke-20, Ludwig Wittgenstein (1889-1951) adalah salah satu filsuf penting terutama dalam soal bahasa, makna dan batas-batas pemahaman. Gagasannya melampaui dua fase besar. Fase pertama tampak dalam karyanya Tractatus Logico-Philosophicus, yang sangat ketat dan formal. Sedangkan fase kedua ~terutama dalam Philosophical Investigations, justru bergerak ke arah yang lebih lentur dengan melihat bahwa makna tidak hidup di definisi abstrak, melainkan dalam penggunaan sehari-hari. Dari sini muncul salah satu gagasannya yang paling terkenal bahwa makna sebuah kata adalah penggunaannya di dalam bahasa. Gagasan ini sangat relevan untuk membedah satu kecenderungan umum dalam dunia spiritual kontemporer yakni iliterasi spiritual.

Lebih jauh, iliterasi spiritual bukanlah sekadar ketidaktahuan, melainkan keadaan ketika seseorang tampak fasih memakai istilah, simbol, dan konsep spiritual, tetapi sebenarnya gagal memahami cara kerja makna itu dalam praktik. Banyak orang hafal kata-kata seperti energi, karma, vibrasi, shadow work, feminine, Venus, moksha, tantra, Kliwon atau juga awakening, tetapi memakainya seperti label tetap yang bisa ditempelkan ke mana saja. Akibatnya, pembacaan menjadi dangkal, seragam, dan sering keliru. Misalnya, “Venus berarti charm, jadi semua Venus pasti menarik.” Atau, “Mercury di posisi tertentu berarti pasti pintar bicara.” Atau juga, “Teks suci berkata begitu, jadi maknanya selesai sudah sampai di situ.” Pada titik inilah, Wittgenstein menjadi alat analisis yang sangat tajam.

Mengapa? Sebab Wittgenstein mengingatkan bahwa kata tidak memiliki makna yang berdiri sendiri seperti benda di lemari. Makna lahir dari penggunaan dalam suatu permainan bahasa atau language-game yaitu dalam konteks praktik, aturan, dan bentuk hidup tertentu. Kata “charm,” misalnya, bukan benda padat yang isinya tetap. Dalam praktik nyata, charm bisa berarti daya tarik erotik, pesona sosial, kelembutan gaya, keterampilan membawa diri, keanggunan estetis, bahkan manipulasi interpersonal. Jadi ketika seseorang berkata “Venus = charm,” itu baru permukaan. Pertanyaan Wittgensteinian yang tepat adalah charm dalam arti apa, dipakai oleh siapa, dalam konteks apa, dan dengan kriteria apa? Di sinilah terlihat akar iliterasi spiritual yang sesungguhnya; banyak praktisi memperlakukan simbol sebagai esensi tunggal, padahal simbol selalu bekerja dalam jaringan. Venus tidak pernah hidup sendirian sebab terkait dengan rumah, aspek, dispositor, dominan chart, kondisi psikologis, habitus sosial, bahkan kualitas ekspresi subjek. Maka menyimpulkan bahwa semua Venus otomatis menarik adalah bentuk reduksionisme linguistik yakni menyusutkan makna yang kaya menjadi slogan instan.

Sebenarnya Wittgenstein membantu kita lebih jauh lagi melihat bahwa banyak pembacaan spiritual yang populer berdiri di atas ilusi pengertian. Sebuah kalimat bisa terdengar dalam, padahal hanya kabur. “Dia punya energi feminin yang kuat.” “Auranya berat.” “Venusnya rusak.” “Ada kontrak jiwa.” Kalimat-kalimat semacam ini sering lolos tanpa pertanyaan karena bunyinya akrab di telinga komunitas spiritual. Tetapi secara filosofis, kita harus bertanya, aturan pemakaiannya apa? Kapan kalimat itu sah dipakai? Apa bedanya dengan sekadar impresi subjektif? Bagaimana memverifikasinya dalam pengalaman nyata? Tanpa pertanyaan-pertanyaan ini, bahasa spiritual berubah menjadi kabut yang terdengar penuh makna, tetapi sulit dibedakan dari improvisasi.

Dengan demikian, masalahnya menjadi lebih kompleks lantaran banyak praktisi gagal membedakan teks, konteks, dan subteks. Teks adalah apa yang tertulis atau terucap secara langsung seperti definisi, deskripsi, simbol, formula. Konteks adalah lingkungan yang memberi teks itu arti berupa tradisi, sistem, relasi unsur, situasi pembacaan, kondisi subjek. Sedangkan subteks adalah lapisan bawah yang tidak selalu diucapkan, tetapi bekerja diam-diam yakni asumsi, kepentingan ego, hasrat akan validasi, kebutuhan tampil tahu, bahkan kecemasan terhadap kompleksitas. Maka kegagalan membedakan teks, konteks, dan subteks membuat reading menjadi miskin. Orang membaca teks seperti “Venus = attraction,” tetapi mengabaikan konteks bahwa attraction bisa tampil berbeda tergantung konfigurasi lain. Lalu mereka juga buta pada subteks dengan sering kali yang dicari bukanlah kebenaran, melainkan afirmasi ego. Mereka ingin mendengar bahwa dirinya menarik, spiritual, tinggi vibrasi, karmically special, atau lebih unggul dari orang lain. Sampai di sini pembacaan berubah bukan lagi kerja memahami, tetapi kerja memoles identitas.

Gagasan Wittgenstein sangat berguna untuk membongkar kekacauan ini karena ia menolak anggapan bahwa kata-kata memperoleh arti dari inti metafisik yang tersembunyi. Arti atau makna justru terlihat dalam cara kata dipakai dalam kehidupan. Maka istilah spiritual tidak cukup dibaca sebagai teks, sebab harus diuji pada bentuk hidup. Jika seseorang mengaku paham cinta kasih, energi feminin, kesadaran, atau welas asih, pertanyaan yang layak bukan hanya “apa definisimu?” tetapi “bagaimana itu tampak dalam laku, relasi, pilihan, dan cara menghadapi realitas?” Dengan kata lain, Wittgenstein memaksa kita turun dari abstraksi ke penggunaan. Dari situlah kita bisa melihat bahwa iliterasi spiritual sering kali bukan akibat kurang membaca, tetapi akibat salah membaca. Orang membaca teks tanpa konteks, lalu memakainya tanpa disiplin, dan menutupi kekacauan itu dengan subteks emosional. Hafal istilah, tetapi tidak mampu membedakan kapan sebuah simbol adalah potensi, sebagai kompensasi, sebuahistorsi, dan kapan hanya jadi fantasi yang ditempelkan ke data. Mereka menyangka memahami karena dapat mengulang kosa kata komunitasnya.

Meski begitu, tentu saja tetap ada catatan kritis. Pendekatan Wittgenstein tentu saja tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan spiritual. Gagasannya sangat kuat untuk membereskan kekacauan konseptual dan linguistik, tetapi tidak cukup sendirian untuk menjelaskan mengapa orang begitu ingin tertipu oleh simbol. Untuk itu kita masih perlu psikologi, sosiologi, bahkan kritik terhadap ego dan hasrat kuasa. Sebab iliterasi spiritual bukan hanya masalah bahasa, melainkan juga masalah karakter seperti kemalasan berpikir, kebutuhan diakui, ketakutan terhadap ambiguitas, dan dorongan untuk cepat merasa istimewa.

Akan tetapi di situlah kekuatan Wittgenstein sebagai pintu awal. Ia mengajari kita satu kedisiplinan yang sangat penting yakni jangan buru-buru mabuk oleh istilah. Tanyakan bagaimana kata dipakai, dalam permainan bahasa apa, dengan aturan apa, dan dalam bentuk hidup seperti apa. Begitu disiplin ini hilang, spiritualitas mudah berubah menjadi pasar slogan. Orang tidak lagi mencari kejernihan, melainkan sensasi makna. Sebab banyak praktisi mengalami iliterasi spiritual karena mereka tidak benar-benar membaca realitas; mereka hanya mengulang bahasa yang memberi ilusi seolah-olah mereka sudah membaca. Gagal membedakan teks, konteks, dan subteks; sulit membedakan simbol dari manifestasi; dan tak mampu membedakan bunyi yang indah dari pengertian yang sahih. Dalam tutur yang lebih keras, masalahnya bukan kekurangan istilah, melainkan ketidakketelitian. Mereka bukan miskin kosa kata, melainkan miskin kejernihan. Padahal dalam spiritualitas, orang yang fasih tanpa jernih sering adalah lebih berbahaya daripada orang yang memang tidak tahu apa-apa. (end/frs)

Subscribe
Previous
Membaca Ulang Politik Deliberatif Habermas
Next
 Return to site
strikingly iconPowered by Strikingly
Cookie Use
We use cookies to improve browsing experience, security, and data collection. By accepting, you agree to the use of cookies for advertising and analytics. You can change your cookie settings at any time. Learn More
Accept all
Settings
Decline All
Cookie Settings
Necessary Cookies
These cookies enable core functionality such as security, network management, and accessibility. These cookies can’t be switched off.
Analytics Cookies
These cookies help us better understand how visitors interact with our website and help us discover errors.
Preferences Cookies
These cookies allow the website to remember choices you've made to provide enhanced functionality and personalization.
Save