Ada satu mode intelektual yang belakangan sangat laku dan laris di pasaran, yakni banyak orang yang demen berstoik-stoik ria ~padahal bukan Stoik, melainkan Stoa. Semua masalah hidup seakan bisa dijawab dengan Stoa. Miskin? Terima. Patah hati? Kendalikan emosi. Putus asa? Fokus pada apa yang bisa dikontrol. Sekilas itu semua terdengar dewasa, keras, dan elegan. Akan tetapi justru di situlah masalahnya; ajaran yang lahir sebagai disiplin etika yang berat dan ketat itu sering dipakai hari ini seperti plester motivasi instan. Hasilnya tentu saja bukan kebijaksanaan, melainkan kekeliruan yang dipoles dengan kosa kata filosofis.
Stoa tidaklah salah, sebab apa yang sering keliru adalah cara memakainya. Bagi orang miskin, patah hati, dan putus asa, di satu sisi Stoisisme dapat menjadi alat yang berguna, tetapi di sisi lain juga dapat menjadi pisau yang menusuk orang yang sudah luka. Sebab ada jarak besar antara filsafat sebagai latihan batin dan sebagai slogan dingin. Dalam banyak kasus, orang tidak sedang membutuhkan khotbah tentang ketangguhan. Mereka sedang membutuhkan ruang bernapas, rasa aman, dan pengakuan bahwa penderitaan mereka nyata.
Masalah terbesar Stoisisme ketika dipakai pada orang miskin adalah kecenderungannya untuk terlalu cepat mengalihkan fokus dari kenyataan material ke sikap mental. Orang miskin tidak hanya kekurangan “cara pandang.” Mereka kekurangan akses, perlindungan, stabilitas, kesempatan, dan sering kali martabat sosial. Dalam situasi semacam itu, jika seseorang berkata, “kemiskinan itu bukan kejahatan, dan penting adalah kebajikan,” maka kalimat itu bisa terdengar luhur, tetapi juga bisa terasa seperti penghinaan halus. Sebab orang yang lapar tidak butuh estetika moral; tapi butuh makan, kepastian, dan jalan keluar.
Di titik ini Stoisisme mudah diperalat oleh mentalitas konservatif “ubah dirimu, tahan dirimu, terima nasibmu”. Seolah-olah masalah utama dari kemiskinan adalah kurangnya ketenangan batin, bukan struktur sosial yang timpang. Seolah-olah kesengsaraan bisa ditaklukkan hanya dengan disiplin pikiran. Hal ini yang membuat Stoa berbahaya bila diberikan mentah-mentah kepada orang miskin sebab mereka bisa berubah menjadi etika yang sangat luhur di atas kertas, tetapi sangat tidak adil di kenyataan. Singkatnya, orang miskin tidak butuh dinasihati agar tidak melekat pada uang oleh orang yang tidak pernah benar-benar dipermalukan oleh ketiadaan uang. Itu bukan kebijaksanaan. Itu sinisme yang berparfum filsafat.
Hal yang kurang lebih sama juga terjadi pada orang yang patah hati. Stoisisme sering dijual seolah-olah resep untuk menjadi kebal seperti jangan terlalu berharap, bergantung, dan menjadikan orang lain sumber bahagiamu. Kedengarannya seperti masuk akal, akan tetapi ketika seseorang baru saja kehilangan, justru kalimat-kalimat seperti itu sering datang terlalu cepat. Ia belum membutuhkan teori tentang kontrol lantaran sedang berhadapan dengan reruntuhan afeksi, kehilangan makna, dan luka narsistik yang telanjang. Selain itu, patah hati bukan sekadar salah menilai objek karena melibatkan tubuh, memori, kebiasaan, imajinasi, bahkan identitas diri. Mereka sedang tidak sekadar kehilangan orang lain tetapi juga kehilangan ritme, kemungkinan, dan versi dirinya yang sempat hidup dalam hubungan itu. Jika pada momen seperti itu Stoa diberikan dengan nada dingin, maka itu tidak lagi terdengar seperti kebijaksanaan, tetapi seperti penghapusan pengalaman manusia. Maka itu menjadi bentuk kekerasan yang sangat modern, dengan memaksa orang memproses luka menggunakan bahasa kematangan yang tidak sesuai dengan kapasitas batinnya saat itu. Orang baru patah hati lalu disuruh “rasional”, baru saja jatuh lalu disuruh “acceptance.” Masih remuk lalu disuruh “let go.” itu bukanlah filsafat, melainkan efisiensi emosional yang kejam.
Sedangkan bagi orang yang putus asa, problemnya lebih berat lagi. Putus asa bukan sekadar sedih. Putus asa adalah kondisi ketika seseorang mulai kehilangan tenaga untuk mempercayai makna, usaha, bahkan dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, Stoisisme dapat terdengar terlalu tinggi dengan meminta kejernihan pada orang yang sedangkabur, menuntut disiplin pada orang yang bahkan sulit bangun dari runtuhnya batin, serta memnutuhkan pengendalian diri justru ketika diri itu sendiri terasa ambruk. Penggunaan gagasan Stoa dalam beragam situasi tersebut seringkali terlalu dini, sebab lebih cocok cocok untuk fase rekonstruksi daripada fase kolaps. Singkatnya, Stoa bagus untuk membangun struktur batin sesudah seseorang cukup pulih, tapi tidak selalu cocok sebagai pertolongan pertama ketika seseorang masih berdarah.
Lalu bagaimana dengan Epikureanisme? Di sinilah Epicurus sering jauh lebih manusiawi daripada gambaran populer tentang dirinya. Banyak orang salah paham terhadap Epikureanisme seolah-olah itu filsafat hedonis yang malas, lembek, dan hanya sibuk mengejar nikmat. Padahal Epicurus justru sangat hemat dalam memahami nikmat. Bagi dia, yang paling penting bukan pesta besar, melainkan ketenangan, ketiadaan rasa sakit yang tidak perlu, kebutuhan yang sederhana, persahabatan, dan rasa aman.
Itu sebabnya Epikureanisme sering lebih relevan bagi orang yang miskin, patah hati, dan putus asa. Bagi orang miskin, Epicurus tidak meminta heroisme palsu atau memuliakan penderitaan, tetapi juga tidak mengikat kebahagiaan pada kemewahan. Ia membedakan kebutuhan yang alamiah dan perlu dari hasrat kosong yang tak berujung. Ini sangat penting karena orang miskin sering tidak hanya menderita karena kurang materi, tetapi juga karena hidup dalam masyarakat yang membuatnya merasa gagal jika tidak memiliki simbol-simbol tertentu. Epicurus justru memotong sumber kecemasan itu. Kurang lebih Ia berkata bahwa banyak yang kita kejar sebenarnya tidak perlu, dan banyak pula yang membuat kita gelisah justru lahir dari hasrat palsu. Tentu saja Epikureanisme bukan solusi struktural terhadap kemiskinan, tetapi setidaknya lebih membumi dengan tidak memaksa orang miskin menjadi pahlawan moral atas penderitaannya. Penderitaan itu dicoba dikurangi dengan menata kebutuhan, lingkungan, dan relasi.
Bagi orang yang patah hati, Epikureanisme juga lebih lunak dengan tidak buru-buru memerangi rasa sakit sebagai kelemahan yang harus ditaklukkan. Gagasan itu cenderung lebih dekat kepada logika pemulihan seperti mengurangi gangguan, mencari kenyamanan yang sederhana, menjaga tubuh, mendekati sahabat, dan memulihkan rasa aman. Ini memang terdengar biasa-biasa saja, tetapi justru karena itulah orang menjadi sehat. Mereka yang hancur sering tidak membutuhkan filsafat heroik tapi gagasan pikir yang tahu cara menurunkan kebisingan jiwa. Dengan kata lain, Epicurus paham sesuatu yang sering dilupakan para pemuja ketangguhan bahwa manusia bukan hanya makhluk rasional, tetapi makhluk yang rapuh. Dan kerapuhan itu bukan aib.
Untuk orang yang putus asa pun, Epikureanisme lebih bersahabat dengan tidak menuntut lompatan moral yang terlalu tinggi bahkan tidak meminta orang langsung menjadi bijak, agung, dan tak terguncang. Epikureanisme mulai dari hal yang paling dasar yakni menghilangkan rasa takut yangberlebihan, mengurangi penderitaan yang tak perlu, dan carilah kondisi hidup yang cukup aman untuk bernapas kembali. Dalam bahasa hari ini, Epicurus tampak lebih terapeutik tanpa harus menjadi psikologi murahan.
Akan tetapi, Epikureanisme juga bukan jawaban mutlak sebab punya kelemahan yang jelas. Filsafat ini sangat tepat untuk menenangkan, tetapi tidak selalu kuat untuk membakar keberanian. Bagus untuk menyederhanakan hidup, tetapi kadang kurang tajam untuk menghadapi kenyataan bahwa hidup tertentu memang menuntut konfrontasi, bukan sekadar pengurangan gangguan. Dalam masyarakat yang keras dan timpang, orang tidak cukup hanya belajar tenang; kadang mereka juga harus belajar tegak, melawan, dan bertahan.
Di titik itulah Stoisisme punya kekuatan yang tak bisa diremehkan. Stoa membangun tulang punggung dengan mengajari seseorang bahwa martabat tidak boleh diletakkan seluruhnya pada nasib. Stoa melatih daya tahan batin dan menolak perbudakan psikologis terhadap hal-hal eksternal. Bagi orang yang sudah mulai stabil, tentu saja ini sangat penting. Tanpa itu, Epikureanisme bisa tergelincir menjadi sekadar strategi berlindung. Orang jadi hanya ingin aman, tidak ingin terluka, tidak ingin terganggu, lalu pelan-pelan kehilangan daya juang.
Maka pertanyaan yang lebih tepat bukan mana yang lebih baik, atau pilih mana antara Stoa atau Epikurean? Pertanyaannya adalah dalam kondisi apa, untuk luka yang mana, dan pada tahap yang bagaimana pilihan itu digunakan? Untuk orang yangsedang benar-benar jatuh, Epicurus sering lebih layak datang lebih dulu. Ia memberi selimut, bukan cambuk. Memberi tempat duduk, bukan podium moral. Epicurus membantu orang pulih dari kebisingan hasrat, rasa takut, dan rasa sakit. Setelah seseorang cukup utuh, barulah Stoa bisa masuk dengan lebih adil dengan membangun daya tahan, kejernihan, dan keteguhan agar orang itu tidak terus menjadi budak dari gejolak hidupnya. Dengan kata lain, Epicurus menyelamatkan napas, sedangkan Stoa membentuk tulang punggung.
Jika dipaksakan terbalik, hasilnya jadi sering buruk. Orang yang sesak diberi disiplin. mereka yang hancur diberi ceramah keteguhan. Manusia yang lapar diberi etika pengendalian diri. Maka tidak mengheraknakn jika banyak orang akhirnya membenci filsafat, padahal yang mereka benci sebenarnya bukan filsafat, melainkan ketidakpekaan yang menyamar sebagai filsafat. Jadi, apakah Stoa tidak direkomendasikan bagi orang miskin, patah hati, dan putus asa? Jawabannya tentu bukan tidak direkomendasikan, tetapi tidak boleh diberikan secara naif, dingin, dan ahistoris. Stoisisme terlalu sering dipakai sebagai alat menormalkan luka. Sementara Epikureanisme, meski sering diremehkan, justru kadang lebih manusiawi untuk fase-fase rapuh karena mulai dari kenyataan paling sederhana bahwa manusia perlu aman, perlu kawan, perlu jeda, dan perlu bebas dari rasa sakit yang tak perlu.
Kesimpulannya, filsafat yang baik bukan filsafat yang terdengar paling keras. Filsafat yang baik adalah filsafat yang tahu kapan seseorang perlu dikuatkan, dan kapan ia hanya perlu diselamatkan dulu dari situasi tenggelam. (end/frs)

