Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Puja Tri Sandhyā:

Doa Tiga Waktu, Arsitektur Penyucian Batin

Definisi Teks dan Tafsir dalam Analisis Tantrik

· Renungan

Puja Tri Sandhyā adalah salah satu doa paling penting dalam Hindu di Indonesia, khususnya Hindu Bali. Secara harfiah, tri berarti tiga, sedangkan sandhyā berarti pertemuan, persambungan, atau waktu transisi. Maka Tri Sandhyā menunjuk pada tiga momen transisi harian yakni waktu pagi, tengah hari, dan sore/senja. Dalam praktik umum Hindu Indonesia, doa ini dibaca tiga kali sehari dan sering menjadi pembuka persembahyangan. PHDI menjelaskan Tri Sandhyā sebagai proses penyucian diri untuk mengurangi pengaruh sifat negatif dan meningkatkan kualitas sattva dalam diri manusia.

Secara historis-liturgis, Puja Tri Sandhyā bukan satu mantra tunggal yang turun utuh dari satu sumber, sebab itu merupakan kompilasi enam bait atau ṣaḍ-mantra yang menyatukan beberapa lapisan teks. Bait pertama berasal dari Gāyatrī Mantra dalam Ṛgveda 3.62.10, bait kedua berkaitan dengan Nārāyaṇa Upaniṣad, bait ketiga memuat corak stuti yang menyebut Tuhan sebagai Śiva, Mahādeva, Īśvara, Parameśvara, Brahmā, Viṣṇu, Rudra, dan Puruṣa, sedangkan bait-bait akhir berisi pengakuan dosa, permohonan ampun, penyucian tubuh-ucapan-pikiran, dan penutup śānti. Dengan demikian Puja Tri Sandhyā terdiri dari enam bait dan digunakan sebagai doa harian tiga waktu.

Dari sudut batin, Tri Sandhyā bukan sekadar doa wajib, melainkan adalah struktur spiritual yang sangat rapi. Bait pertama menerangi intelektual. Bait kedua memperluas pandangan bahwa seluruh realitas berdiri di dalam Yang Ilahi. Bait ketiga menyatukan berbagai nama Tuhan agar manusia tidak jatuh ke fanatisme sempit. Bait keempat mengakui kekotoran diri. Bait kelima memohon pembebasan dari pāpa. Bait keenam memohon pengampunan atas kesalahan tubuh, ucapan, pikiran, dan kelalaian. Lalu ditutup dengan parama śāntiḥ yakni damai pada tiga lapis gangguan. Melalui pembacaan Tantrik, Tri Sandhyā dapat dipahami sebagai nyāsa batin harian berupa penempatan ulang kesadaran ke pusatnya karena bekerja melalui śabda atau suara mantra, prāṇa atau daya hidup yang bergerak melalui napas, dan citta atau medan batin yang dibersihkan melalui perhatian. Oleh karena itu, Tri Sandhyā bukan hanya dibaca, melainkan seharusnya dialami.

Dalam bait atau mantra pertama disebut Oṃ bhūr bhuvaḥ svaḥ | tat savitur vareṇyaṃ | bhargo devasya dhīmahi | dhiyo yo naḥ pracodayāt || Artinya. Oṃ: suku kata suci; getaran primordial; lambang Brahman, realitas tertinggi. Bhūr: bumi; alam jasmani; dunia material; tubuh. Bhuvaḥ: ruang antara; alam vital; wilayah prāṇa, napas, dan gerak batin. Svaḥ: alam cahaya; alam surgawi; tingkat kesadaran yang lebih halus. Tat: Itu; Yang Tertinggi; realitas yang melampaui batas nama dan bentuk. Savitur: dari Savitṛ; Sang Pendorong Ilahi; matahari spiritual yang membangkitkan kehidupan. Vareṇyam: yang patut dipilih, dimuliakan, direnungkan. Bhargo: cahaya pemurni; sinar suci yang membakar kegelapan batin. Devasya: dari Yang Ilahi; dari Dia yang bercahaya. Dhīmahi: kami merenungkan; kami bermeditasi atasnya. Dhiyo: kecerdasan batin; daya intelek; kemampuan membedakan benar dan keliru. Yo: yang; Dia yang. Naḥ: kami; milik kami; kepada kami. Pracodayāt: semoga mendorong, menggerakkan, membangkitkan, menerangi.

Terjemahannya adalah “Om. Di bumi, ruang antara, dan alam cahaya, kami merenungkan kecemerlangan suci Sawitri, Sang Ilahi yang patut dimuliakan. Semoga Ia menerangi dan menggerakkan kecerdasan batin kami.” Maka bait pertama adalah permohonan agar dhī, kecerdasan batin, diterangi. Sebab manusia tidak jatuh hanya karena kurang ritual, tapi karena salah melihat. Salah melihat diri, salah melihat orang lain, salah membaca nafsu, salah memahami luka, salah menafsirkan Tuhan. Oleh karena itu, yang dimohon pertama kali bukan rezeki, kekuasaan, atau kemenangan, melainkan kejernihan intelek. Bhūr, bhuvaḥ, svaḥ adalah tiga lapis kosmos, tetapi juga tiga lapis diri: tubuh, prāṇa, dan kesadaran. Maka Gāyatrī tidak mengajak manusia lari dari dunia, melainkan menyucikan tubuh, menata napas, dan menerangi pikiran. Spiritualitas yang hanya mengejar “alam tinggi” tetapi mengabaikan tubuh, tindakan, dan tanggung jawab adalah spiritualitas yang pincang.

Dalam tafsir Tantrik, bait ini adalah aktivasi cahaya kesadaran dalam struktur batin. Oṃ membuka medan śabda; bhūr bhuvaḥ svaḥ menata tiga lapis eksistensi; tat savitur vareṇyam mengarahkan perhatian kepada sumber terang; bhargo devasya dhīmahi memasukkan cahaya itu ke pusat kontemplasi; dan dhiyo yo naḥ pracodayāt meminta agar buddhi tidak lagi dikendalikan oleh avidyā. Maka, ini bukan sekadar doa kepada matahari luar, tetapi kepada sūrya batin atau cahaya kesadaran yang membuat manusia mampu melihat tanpa ditipu oleh reaksi, trauma, ego, dan dorongan bawah sadar. Dengan demikian, Gāyatrī adalah penyalaan lampu dalam ruang batin.

Pada bait kedua, Nārāyaṇa sebagai seluruh realitas dengan bunyi Oṃ nārāyaṇa evedaṃ sarvaṃ | yad bhūtaṃ yac ca bhavyam | niṣkalaṅko nirañjano nirvikalpo nirākhyātaḥ | śuddho deva eko nārāyaṇo | na dvitīyo ’sti kaścit || Translasi per katanya adalah Oṃ: suku kata suci; getaran pembuka realitas ilahi. Nārāyaṇaḥ: Nārāyaṇa; dasar, tempat kembali, dan penopang semua makhluk. Eva: sungguh; hanya; tidak lain daripada. Idaṃ: ini; seluruh kenyataan yang tampak. Sarvam: semuanya; seluruh keberadaan. Yad bhūtam: apa pun yang telah ada; masa lalu; segala yang sudah menjadi. Yac ca bhavyam: dan apa pun yang akan ada; masa depan; segala yang akan mewujud. Niṣkalaṅkaḥ: tanpa noda; bebas dari cacat. Nirañjanaḥ: tanpa pencemaran; tidak terwarnai oleh māyā atau ilusi. Nirvikalpaḥ: tanpa dualitas konseptual; melampaui pecahan pikiran. Nirākhyātaḥ: tak terlukiskan sepenuhnya; tidak habis oleh nama dan definisi. Śuddhaḥ: murni; suci; jernih. Devaḥ: yangbercahaya; prinsip ilahi. Ekaḥ: satu; tunggal; tidak terbagi. Nārāyaṇaḥ: Nārāyaṇa sebagai realitas tunggal. Na dvitīyaḥ asti kaścit: tidak ada yang kedua sama sekali.

Pembacaannya menjadi “Om. Nārāyaṇa sajalah seluruh realitas ini: apa pun yang telah ada dan apa pun yang akan ada. Ia tanpa noda, tanpa pencemaran, tanpa dualitas konseptual, dan tidak dapat sepenuhnya dilukiskan. Ia murni, bercahaya, satu-satunya Nārāyaṇa; tidak ada yang kedua selain Dia.” Oleh karena itu bait kedua memperluas kesadaran. Setelah bait pertama meminta agar intelektualitas diterangi, bait kedua menyatakan bahwa seluruh realitas berada di dalam Nārāyaṇa. Bait ini punya paralel kuat dalam Nārāyaṇa Upaniṣad, dengan menyebut bahwa Nārāyaṇa adalah apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi; Ia adalah yang tunggal dan tidak ada yang kedua.

Akan tetapi kalimat nārāyaṇa evedaṃ sarvam tidak boleh dibaca dangkal sebab itu bukan pembenaran bahwa semua tindakan ego otomatis suci. Teks langsung memberi pagar yakni niṣkalaṅka, nirañjana, nirvikalpa, nirākhyāta. Realitas tertinggi itu tanpa noda, tidak tercemar, melampaui dualitas, dan tidak habis oleh kata-kata. Jadi yang disucikan bukan ego manusia, melainkan kesadaran manusia diarahkan agar tidak lagi menyembah egonya sendiri. Secara Tantrik, bait ini adalah pengembangan dari deha-kosmos: tubuh kecil manusia dan tubuh besar semesta tidak berdiri terpisah. Apa yang ada di luar dan yang di dalam adalah medan Śhakti yang sama. Nārāyaṇa di sini dapat dibaca bukan hanya sebagai nama teologis Vaiṣṇava, tapi sebagai prinsip penopang kosmik, dasar tempat semua gerak muncul dan kembali. Hanya saja Tantra tidak berhenti pada pernyataan “semua adalah Tuhan”. Tantra bertanya: jika semua adalah Tuhan, mengapa batinmu masih dikuasai ketakutan, iri, manipulasi, dan kebodohan? Di sinilah bait ini menjadi tajam bukan hanya sekadar memberi izin kepada manusia untuk menyucikan kotorannya, tapi memaksa manusia melihat bahwa kotoran batin adalah kegagalan mengenali realitas tunggal secara jernih.

Pada bait ketiga, berisi Tuhan dengan banyak nama, yakni Oṃ tvaṃ śivaḥ tvaṃ mahādevaḥ | īśvaraḥ parameśvaraḥ | brahmā viṣṇuś ca rudraś ca | puruṣaḥ parikīrtitaḥ || yang secara per kata berarti Oṃ: suku kata suci. Tvam: Engkau. Śivaḥ: Siwa; Yang berkah, membawa keselamatan, kebaikan, dan pembebasan. Tvam: Engkau. Mahādevaḥ: Mahadewa; Dewa Agung; prinsip ilahi yang melampaui dewa-dewa terbatas. Iśvaraḥ: Iswara; penguasa; Tuhan sebagai pengatur kosmos. Parameśvaraḥ: Penguasa Tertinggi; Tuhan yang melampaui seluruh kuasa relatif. Brahmā: Brahma; prinsip penciptaan. Viṣṇuḥ ca: dan Wisnu; prinsip pemeliharaan dan keteraturan kosmis. Rudraḥ ca: dan Rudra; prinsip penghancuran, transformasi, dan daya guncang penyucian. Puruṣaḥ: Purusa; Kesadaran Kosmis; saksi tertinggi. Parikīrtitaḥ: disebut, dipuji, dinyatakan, dikenal.

Terjemahannya adalah “Om. Engkau adalah Siwa, Engkau adalah Mahadewa; Engkau adalah Iswara dan Parameswara. Engkau adalah Brahma, Wisnu, dan Rudra; Engkau dipuji sebagai Purusa.” Bait ketiga ini adalah penting untuk memahami corak Hindu Indonesia dan Hindu Bali. Tuhan tidak dikurung dalam satu nama sektarian melainkan disebut Śiva, Mahādeva, Īśvara, Parameśvara, Brahmā, Viṣṇu, Rudra, dan Puruṣa sebagai penegasan bahwa Tuhan dipuja melalui banyak nama ilahi. Dalam konteks tersebut, isi bait bukanlah politeisme kasar, tapi teologi fungsi. Brahma menunjuk penciptaan. Wisnu menunjuk pemeliharaan. Rudra menunjuk peleburan dan transformasi. Siwa menunjuk pembebasan. Purusa menunjuk kesadaran kosmis yang menjadi saksi seluruh gerak alam.

Maka, banyak nama Tuhan tidak dipahami sebagai kekacauan teologis, melainkan sebagai maṇḍala fungsi kesadaran. Śiva adalah pusat sunyi; Śhakti adalah daya manifestasi; Brahmā adalah pemunculan bentuk; Viṣṇu adalah stabilisasi; Rudra adalah pemecahan bentuk yang sudah usang; Puruṣa adalah saksi yang tidak ikut rusak oleh perubahan. Dengan demikian bait ini menolak dua kesalahan yakni fanatisme sempit dan relativisme dangkal. Fanatisme sempit berkata, “hanya namaku yang benar.” Relativisme dangkal berkata, “semua sama, tidak perlu disiplin.” Bait ini lebih halus: nama-nama ilahi memang banyak, tetapi setiap nama menunjuk fungsi kosmik dan jalan batin yang punya kedalaman. Menghormati banyak nama bukan berarti mencampur semua jalan seenaknya; menghormati banyak nama berarti memahami bahwa Yang Tunggal bekerja melalui banyak wajah.

Selanjutnya, bait keempat adalah pengakuan pāpa dan permohonan penyucian dengan bunyi Oṃ pāpo ’haṃ pāpa-karmāhaṃ | pāpātmāpāpa-sambhavaḥ | trāhi māṃ puṇḍarīkākṣa | sabāhyābhyantaraḥ śuciḥ || yang berarti Oṃ: suku kata suci. Pāpaḥ/pāpo: berdosa; ternoda; jatuh dari dharma. Aham: aku. Pāpa-karma aham: aku pelaku tindakan yang ternoda. Pāpātmā: diri yang tertutup kekotoran. Pāpa-sambhavaḥ: lahir dari sebab-sebab yang ternoda. Trāhi: lindungilah; selamatkanlah. Mām: aku. Puṇḍarīkākṣa: Yang bermata teratai; mata ilahi yang jernih dan penuh kasih. Sabāhya-abhyantaraḥ: luar dan dalam; lahir dan batin. śuciḥ: suci; bersih; murni.

Terjemahannya adalah “Om. Aku ternoda, tindakanku ternoda, diriku ternoda, dan aku lahir dari sebab-sebab yang ternoda. Lindungilah aku, wahai Yang Bermata Teratai; sucikanlah aku luar dan dalam.” Sedangkan makna bait ini adalah titik balik. Setelah memuja Tuhan sebagai cahaya dan realitas tunggal, manusia diminta jujur melihat dirinya. mereka tidak berkata, “aku sudah suci.” tapi berkata, pāpo ’haṃ: aku ternoda. Ini bukan self-hatred atau kebencian kepada diri, melainkan kerendahan hati spiritual. Banyak orang beragama gagal di titik ini. Mereka bisa mengucapkan mantra, memakai simbol suci, berdiri di pura, bicara dharma, tapi tidak pernah mengakui motif gelapnya sendiri dengan memakai agama untuk memperindah ego, bukan membongkarnya. Lebih dalam lagi dalam tafsir tantrik, pengakuan pāpa bukan sekadar moralistik. Sebab pāpa adalah distorsi energi dan kesadaran yang muncul ketika śhakti dalam diri tidak mengalir jernih, melainkan tersumbat oleh avidyā, ahaṃkāra, rāga, dveṣa, dan abhiniveśa yakni kebodohan, ego yang membengkak, kemelekatan, penolakan, dan ketakutan eksistensial. Puṇḍarīkākṣa atau Yang Bermata Teratai, adalah simbol penglihatan yang tidak kotor oleh lumpur meskipun melihat dunia berlumpur. Memohon kepada Puṇḍarīkākṣa berarti memohon agar batin dilihat oleh mata kesadaran yang jernih. Ini bukan mata sosial yang menghakimi, atau mata ego yang membela diri, tapi mata ilahi yang mampu membersihkan tanpa kebencian.

Selanjutnya, bait kelima adalah permohonan ampun dan pembebasan dengan bunyi Oṃ kṣamasva māṃ mahādeva | sarva-prāṇi-hitāṅkara | māṃ mocaya sarva-pāpebhyaḥ | pālayasva sadā śiva || Dalam beberapa beberapa versi, frasa sarva-prāṇi-hitāṅkara juga dibaca sebagai sarva-prāṇi-hitakara, “yang membawa kebaikan bagi semua makhluk.” Variasi ini umum dalam transmisi lisan liturgis. Arti bait sendiri adalah Oṃ: suku kata suci. kṣamasva: ampunilah; maafkanlah. Mām: aku. Mahādeva: wahai Mahadewa; Dewa Agung. Sarva-prāṇi: semua makhluk hidup. Hita-kara/hitāṅkara: pembawa kebaikan; pemberi kesejahteraan. Mām: aku. Mocaya: bebaskanlah; lepaskanlah. Sarva-pāpebhyaḥ: dari semua dosa, kekotoran, dan kesalahan. Pālayasva: lindungilah; peliharalah. Sadā: selalu; senantiasa. Śiva: wahai Siwa; Yang membawa kebaikan dan pembebasan.

Bait tersebut diterjemahkan sebagai “Om. Ampunilah aku, wahai Mahadewa, Engkau yang membawa kebaikan bagi semua makhluk. Bebaskanlah aku dari segala dosa dan lindungilah aku senantiasa, wahai Siwa.” Makna bait kelima ini adalah bergerak dari pengakuan pāpa di bait sebelumnya menuju transformasi. Isinya tidak hanya meminta “ampun”, tapi juga mocaya, bebaskanlah. Pengampunan yang matang bukan sekadar menghapus rasa bersalah; ia memutus pola yang membuat manusia mengulang kesalahan yang sama. Sebutan sarva-prāṇi-hitakara membuat bait ini sangat etis. Tuhan dipuja sebagai pembawa kebaikan bagi semua makhluk. Maka orang yang membaca bait ini seharusnya tidak hidup dengan watak merusak makhluk lain, menipu orang lain, menghina sesama, atau memakai agama untuk memperbesar kekerasan simbolik.

Dalam tafsir tantrik, kṣamasva adalah permohonan agar simpul batin dilonggarkan. Kesalahan tidak hanya meninggalkan dosa moral, tapi juga meninggalkan saṃskāra, jejak batin. Jejak itu menjadi pola. Pola menjadi kebiasaan. Kebiasaan menjadi karakter, dan Karakter menjadi takdir. Maka ketika bait kelima ini berkata māṃ mocaya sarva-pāpebhyaḥ, itu berarti memohon pembebasan dari seluruh pola gelap yang mengikat. Bukan hanya “Tuhan, hapus dosaku,” tapi “Tuhan, cabut akar dalam diriku yang membuatku terus mengulang kegelapan.” Sadā Śiva di akhir bait dapat dibaca sebagai permohonan agar kesadaran tetap dijaga oleh prinsip Siwa yang sunyi, jernih, tidak reaktif, dan tidak lagi diperbudak impuls.

Lalu bait keenam adalah perihal kesalahan tubuh, ucapan, pikiran dan kelalaian, yang berbunyi Oṃ kṣantavyaḥ kāyiko doṣaḥ | kṣantavyovāciko mama | kṣantavyo mānaso doṣaḥ | tat-pramādāt kṣamasva mām || Artinya per kata adalah Oṃ: suku kata suci. Kṣantavyaḥ: semoga diampuni; patut dimaafkan. Kāyikaḥ: yang bersifat tubuh; melalui tindakan jasmani. Doṣaḥ: kesalahan; cacat; kekeliruan. Kṣantavyaḥ: semoga diampuni. Vācikaḥ: yang bersifat ucapan; melalui kata-kata. Mama: milikku; dariku. Kṣantavyaḥ: semoga diampuni. Mānasaḥ: yang bersifat pikiran; batiniah. Doṣaḥ: kesalahan; kekeliruan. Tat-pramādāt: karena kelalaian itu; karena keteledoran dan kurang sadar. Kṣamasva: ampunilah. Mām: aku.

Terjemahannya, “Om. Semoga diampuni kesalahan tubuhku. Semoga diampuni kesalahan ucapanku. Semoga diampuni kesalahan pikiranku. Karena segala kelalaian itu, ampunilah aku.” Makna bait ini matang secara etika sebab membagi kesalahan manusia ke dalam tiga pintu: kāya atau tubuh, vāk atau ucapan, dan manas atau pikiran. Kesalahan tubuh adalah tindakan nyata dengan menyakiti, merusak, mengambil yang bukan hak, melalaikan kewajiban, dan berbuat tanpa tanggung jawab. Kesalahan ucapan adalah dusta, fitnah, hinaan, janji palsu, manipulasi, dan kata-kata yang membuat orang lain hancur. Kesalahan pikiran lebih halus lagi dengan iri, dengki, kebencian, niat buruk, prasangka, kesombongan, dan fantasi penguasaan.

Kata paling tajam di sini adalah pramāda. Sebab pramāda bukan sekadar lupa, tapi adalah kelalaian eksistensial tentang hidup tanpa kewaspadaan, berbicara tanpa kesadaran, bertindak tanpa kejernihan, beragama tanpa kedalaman. Di dalam Tantra, tubuh, ucapan, dan pikiran adalah tiga instrumen utama manifestasi śhakti. Tubuh adalah kriyā-śhakti, daya bertindak. Ucapan adalah vāk-śhakti, daya suara dan pembentukan realitas melalui kata. Pikiran adalah jñāna-śhakti, daya mengetahui dan memberi bentuk pada pengalaman. Maka dosa tubuh, ucapan, dan pikiran bukan hanya pelanggaran moral. Ia adalah penyimpangan śhakti. Ketika tubuh bertindak tanpa dharma, śhakti menjadi kasar. Ketika ucapan dipakai untuk dusta dan luka, vāk menjadi racun. Ketika pikiran dipenuhi iri, takut, dan manipulasi, jñāna-śhakti berubah menjadi avidyā yang canggih. Oleh karena itu bait keenam adalah praktik pembersihan tiga pintu yakni gerak, suara, dan pikiran. Tanpa membersihkan tiga pintu ini, maka spiritualitas hanya menjadi kostum.

Kemudian pada bagian penutup adalah Śānti Mantra yang berbunyi Oṃ śāntiḥ śāntiḥ śāntiḥ oṃ. Artinya, Oṃ: realitas suci; getaran asal. Śāntiḥ: damai; reda; dan diucapkan tiga kali. Oṃ: kembali kepada sumber. Tiga kali Śāntiḥ adalah damai bebas dari gangguan, damai pada lapisan yang lebih halus dan damai pada lapisan terdalam. Maka terjemahannya adalah Om. Damai, damai, damai. Om. Tiga kali śāntiḥ umumnya dimaknai sebagai permohonan damai dari tiga jenis gangguan yakni ādhyātmika atau gangguan dari dalam diri, ādhibhautika atau gangguan dari dunia luar dan makhluk lain, serta ādhidaivika atau gangguan kosmis, tak terlihat, dan di luar kendali manusia. Secara Tantrik, tiga kali śāntih ini menenangkan tiga lapis getaran yakni tubuh, prāṇa, dan citta. Tubuh diminta tidak liar, prāṇa diminta tidak kacau dan citta diminta tidak pecah. Setelah mantra bekerja sebagai suara, makna, dan getaran, penutupnya adalah hening. Sebab tujuan mantra bukan membuat batin semakin ramai oleh kata-kata suci, melainkan mengantar batin kembali ke pusat sunyinya.

Maka Puja Tri Sandhyā sebagai jalan penyucian harian. Sebagai doa pendek dan lazim dilakukan oleh krama Hindu, arsitekturnya dalam bukan lantaran sekadar rangkaian bacaan tapi adalah peta transformasi manusia. Mengapa demikian? Pertama, manusia meminta akalnya diterangi melalui Gāyatrī. Kedua, mengakui bahwa seluruh realitas berada dalam Yang Ilahi melalui Nārāyaṇa. Ketiga, belajar melihat Tuhan melalui banyak nama tanpa jatuh ke fanatisme sempit. Keempat, mengakui kekotoran dirinya. Kelima, memohon ampun dan pembebasan dari pola gelap. Keenam, membersihkan tiga pintu utama karma: tubuh, ucapan, dan pikiran. Akhirnya, ia menutup dengan śāntih yakni damai yang bukan sekadar tenang, tetapi tertata kembali.

Kembali dalam tafsir tantrik, Tri Sandhyā adalah praktik harian untuk mengembalikan manusia kepada pusatnya dengan menata śabda, menyelaraskan prāṇa, membersihkan citta, menerangi buddhi, dan mengarahkan śhakti agar tidak jatuh menjadi dorongan liar. Maka membaca Tri Sandhyā tanpa kesadaran hanya menghasilkan bunyi, akan tetapi membacanya dengan perhatian, napas, rasa, dan pemahaman dapat menjadi proses pembakaran kegelapan batin. Tri Sandhyā is not a prayer to make the ego look sacred; it is a daily fire to stop the soul from lying to itself. (end/frs)

Subscribe
Previous
Sulitnya Menembus Seorang Sādhaka
Next
 Return to site
strikingly iconPowered by Strikingly
Cookie Use
We use cookies to improve browsing experience, security, and data collection. By accepting, you agree to the use of cookies for advertising and analytics. You can change your cookie settings at any time. Learn More
Accept all
Settings
Decline All
Cookie Settings
Necessary Cookies
These cookies enable core functionality such as security, network management, and accessibility. These cookies can’t be switched off.
Analytics Cookies
These cookies help us better understand how visitors interact with our website and help us discover errors.
Preferences Cookies
These cookies allow the website to remember choices you've made to provide enhanced functionality and personalization.
Save