Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Menelisik Lontar Dasar Pengiwa

Kajian Singkat Tekstual Ilmu Kawisesan Jalur Kiri

· Renungan,Budaya

Oṃ avighnam astu namo siddham. Oṃ siddhir astu tad astu svāhā.
“semoga tiada halangan dan semoga berhasil baik.”

DISCLAIMER

Artikel ini adalah upaya untuk menerangkan sebuah hal yang sering dianggap tabu, tapi perlu diberi penjelasan secara logis dan ilmiah guna mencegah kesalahpahaman yang berlanjut dan sering terjadi di masyarakat. Setiap bagian dari teks sebagai bentuk translasi, tidak ditampilkan secara utuh dan memang tidak diniatkan sebagai sebuah pengajaran terhadapnya.

------

Lontar Dasar Pengiwa adalah salah satu lontar Bali yang menarik karena tidak sekadar berbicara tentang pangiwa dalam pengertian populer sebagai “ilmu kiri”, “ilmu gelap”, atau “pangleyakan”. Naskah ini bersifat kompleks sebab memuat kosmologi tubuh, pemetaan dewa dan bhūta, visualisasi api, aksara, panugrahan kepada Durga, pembalikan arah, serta mekanisme pengembalian daya. Dengan kata lain, lontar ini tidak bisa dibaca hanya sebagai teks magis praktis, tapi sebagai teks tubuh-kosmis dengan manusia dilihat sebagai medan tempat dewa, bhūta, api, aksara, dan kekuatan ambang beroperasi.

Secara filologis, lontar Dasar Pengiwa tercatat sebagai kumpulan sejumlah teks, bukan satu traktat tunggal yang tersusun sistematis. Bahkan disebutkan bahwa naskah ini kemungkinan disalin oleh penulis yang belum terlalu berpengalaman karena ada kekeliruan penggunaan tanda aksara Bali tertentu. Ini penting, sebab pembaca modern tidak boleh memperlakukan naskah ini seperti buku ajaran final yang rapi, melainkan lebih tepat dibaca sebagai kompilasi ajaran, mantra, rajah, dan fragmen operasional pengiwa yang terhimpun dalam satu lontar. Lontar ini berjudul Dasar Pangiwa, milik Ida Puta/u Ngura(h) Asmara, dengan panjang sekitar 38 cm dan beberapa bagian mengalami kerusakan. Pada bagian sampul awal, naskah sudah memperlihatkan corak khasnya yakni pembahasan tentang pañca mahābhūta, dewa-dewa seperti Iswara, Brahma, Mahadewa, Wisnu, Siwa, serta bhūta dengan warna-warna tertentu yang ditempatkan dalam struktur tubuh.

Secara sederhana, Dasar Pengiwa berarti “dasar bagi pangiwa”. Akan tetapi makna “dasar” di sini tidak boleh dipahami hanya sebagai permulaan teknis, basic atau untuk beginner. Dalam naskah ini, “dasar” berarti fondasi tentang kosmologis, tubuh, daya, dan kesadaran. Dengan kata lain, pangiwa adalah penggelaran sesuatu di dalam tubuh. Dalam bagian pembuka dinyatakan “Iki aji pangleyakan, nga, oṅg awignaṃ hastu ya nama sidaṃ. Iki pinaka dasar ring pangiwā; yan sira mahyun manglar hakĕ pangiwa, iki maka pangawit glar haknĕ ring sarirĕ. Iki pasūryan pangiwa, nga, salwir ring pangiwa wĕwnang. Iki rĕgĕp haknĕ rumuwun; iki pinaka pasiwanya, palanya sida ka hidĕptĕ, wĕtu ka sariranta kadi yiki rumuwun.” Artinya, “Inilah ajaran pangleyakan. Om, semoga tanpa halangan, semoga berhasil. Inilah yang menjadi dasar dalam pengiwa; bila engkau hendak menggelar pengiwa, inilah permulaan yang harus digelar di dalam tubuh. Inilah pasurya pengiwa, segala hal dalam pengiwa harus diketahui. Ini harus diresapkan terlebih dahulu; inilah pasiwannya, buahnya menjadi siddha dalam kesadaranmu, dan keluar dari tubuhmu seperti susunan awal ini.”

Teks ini menegaskan bahwa pangiwa dimulai dari sarira, tubuh. Bukan dari luar, bukan dari orang lain, bukan dari serangan, tapi dari penguasaan medan tubuh sendiri. Kalimat “glar haknĕ ring sarirĕ” adalah kunci. Pangiwa harus “digelar” di dalam tubuh. Ini memperlihatkan bahwa tubuh dalam lontar ini bukan benda biologis biasa, melainkan ruang sakral-operasional. Tubuh adalah mandala pertama. Semua daya yang akan dibangkitkan, diarahkan, atau dikembalikan harus memiliki basis di dalam tubuh. Jika tubuh tidak menjadi pusat, maka pangiwa berubah menjadi daya liar tanpa kendali.

Salah satu gagasan paling penting dalam Dasar Pengiwa adalah bahwa tubuh memuat dua wilayah sekaligus yakni dewa dan Durga, terang dan gelap, pelindung dan bhūta. Ini bukan dualisme sederhana sebab dewa tidak hanya berada di pura dan Durga tidak hanya berada di setra. Keduanya ada dalam tubuh. Teks berbunyi “Rĕgĕpang, Durgane di sarira, mwaḥ dewane di sarira. Ne rĕmakṣa di sarira, dewa maring jro, bhūṭa maring jaba ngiwa. Oṅg, o, aṅg, o, bwar, o. Mtu gni saking sariranku, hĕntĕg maring akaśa.” Artinya, “Resapkanlah: Durga berada di dalam tubuh, demikian pula para dewa berada di dalam tubuh. Yang melindungi ada di dalam tubuh; dewa berada di bagian dalam, sedangkan bhūta berada di luar, di wilayah kiri. Om, o, ang, o, bwar, o. Api keluar dari tubuhku, menjulang menuju angkasa.”

Dengan demikian tubuh adalah tempat bersemayamnya dewa, Durga, pelindung, bhūta, dan api. Tubuh tidak dipisahkan dari kosmos sebagai titik temu antara yang sakral dan yang angker. Kalimat “Durgane di sarira” menandakan bahwa Durga dalam naskah ini bukan sekadar sosok menakutkan di luar manusia, tapi adalah prinsip daya yang berada dalam tubuh. Ini memberi warna tantrik yang kuat dengan yang gelap tidak dibuang, tapi dikenali; apa yang menakutkan tidak dihindari, melainkan diberi tempat. Sedangkan yang liar tidak dimusnahkan, justru diatur. Maka pangiwa dalam teks ini bukan semata-mata ilmu untuk menguasai luar, melainkan ilmu untuk memahami konflik internal antara dewa dan bhūta dalam diri manusia.

Secara historis, Dasar Pengiwa harus ditempatkan dalam tradisi Bali yang mengenal hubungan antara kawisesan, pangleyakan, Durga, bhūta, setra, aksara, dan tubuh. Akan tetapi naskah ini tidak memberikan tanggal penulisan yang pasti. Oleh karena itu, analisis sejarahnya harus hati-hati. Apa yang dapat dikatakan adalah bahwa lontar ini merupakan kompilasi berbagai teks dan kemungkinan memiliki lapisan-lapisan yang berbeda. Kata “kompilasi” penting sebab menunjukkan bahwa naskah ini tidak disusun seperti kitab doktrin tunggal. Isinya bergerak dari pemetaan tubuh, mantra, rajah, banten, api, bhūta warna, panugrahan Durga, hingga panglĕswan atau pengembalian daya. Dengan demikian, Dasar Pengiwa adalah semacam buku kerja tradisional di mana bagian-bagiannya menyimpan formula, kerangka kosmologis, dan instruksi simbolik yang harus dibaca dalam tradisi guru, konteks ritus, dan etika kawisesan. Oleh karena terdapat catatan tentang kekeliruan ortografis dalam penyalinan, pembacaan terhadap teks ini harus memakai sikap filologis: tidak semua bentuk kata dapat diterima mentah-mentah sebagai bentuk baku. Beberapa bentuk mungkin merupakan kesalahan salin, variasi lokal, atau transliterasi otomatis yang perlu dinormalisasi, atau bisa jadi juga disengaja keliru. Itulah sebabnya terjemahan di sini bersifat kerja interpretatif, bukan edisi kritis final.

Secara struktural, lontar ini dapat dibaca melalui lima poros. Pertama, tubuh sebagai dasar karena semua bermula dari sarira. Pangiwa harus digelar di tubuh, bukan langsung diproyeksikan keluar. Kedua, api sebagai daya transformasi di mana api keluar dari tubuh, wajah, mulut, penglihatan, lidah, hidung, hati, darah, tangan, dan kaki. Api adalah simbol teja, daya hidup, kemauan, panas batin, dan transformasi. Ketiga, bhūta sebagai energi ambang lantaran tidak selalu diposisikan sebagai musuh. Ia dapat menjadi gangguan, tapi juga dapat dihimpun, ditempatkan, dan dijadikan bagian dari struktur perlindungan tubuh. Keempat, aksara sebagai tubuh halus daya dengan bunyi seperti oṅg, aṅg, uṅg, maṅg dan berbagai formula aksara menunjukkan bahwa bahasa dalam lontar ini bukan alat komunikasi biasa. Dengan demikian, aksara adalah teknologi niskala. Kelima, panglĕswan sebagai mekanisme pengembalian. Ini bagian yang sangat penting sebab daya yang telah dibuka harus dikembalikan, bhūta yang keluar harus dipulangkan dan api yang menyebar harus ditarik kembali.

Maka metode dalam Dasar Pengiwa tidak dimulai dari tindakan fisik, tetapi dari rĕgĕp atau peresapan, pemusatan, dan internalisasi. Teks berulang kali menyuruh agar ajaran “diresapkan” terlebih dahulu. Ini menunjukkan bahwa pangiwa membutuhkan konsentrasi, imajinasi ritual, dan penempatan daya dalam struktur tubuh. Bagian tentang api memperlihatkan bagaimana daya internal itu kemudian diproyeksikan “Mtu gni saking sariranku, hĕntĕg maring akaśa. Idhĕp haku ring Sang Hyang Wijaya Mūrti rumawak ring sariranku. Mlĕsat ikang gni wĕtu ring mūkanku ka jaba, hning murub hangarab-arab hatūmpang hakti. Mlĕsat haku ring akaśa, mibĕr haku hanggagaṇa, midĕr haku wanglayang, hamor haku ring Sang Hyang Candra.” Artinya, “Api keluar dari tubuhku, menjulang menujuangkasa. Aku membayangkan diriku sebagai Sang Hyang Wijaya Mūrti yang mewujud di dalam tubuhku. Api itu melesat keluar dari wajahku, menyala ke luar, berkobar-kobar, bertumpang sebagai kekuatan. Aku melesat ke angkasa, terbang di langit, beredar melayang, dan menyatu dengan Sang Hyang Candra.” Api di sini adalah daya operasional yang keluar dari tubuh, naik ke ruang kosmis, lalu menyatu dengan citra langit dan bulan. Jadi Ini bukan sekadar deskripsi “api” secara fisik. Api adalah simbol teja, kekuatan spiritual, intensitas kehendak, dan daya transformasi. Akan tetapi, teks ini juga menunjukkan bahaya laten bahwa api yang keluar dari tubuh harus tetap terkait dengan pusat kesadaran. Jika tidak, maka api menjadi amarah, obsesi, dominasi, atau delusi kuasa.

Dengan demikian operasionalisasi utama dalam lontar ini adalah perubahan identitas ritual. Praktisi tidak hanya membayangkan dirinya sebagai manusia biasa, melainkan mengidentifikasi tubuhnya dengan dewa, api, kosmos, dan kekuatan semesta. Ini terlihat jelas pada bagian yang menyatakan “aku” sebagai api sejagat. “Aku mawak agni sajagat, angrasuk aku busaṇaning Brahma Śakti. Sahananing leyak kabeh nĕmbah nūngkul maring aku; desti nĕmbah maring aku; pĕpasangan nĕmbah maring aku. Yan hana langgana maring aku, tka gsĕng. I bhūṭa kalĕd bĕn purik maring aku, gsĕng kadi larah den aku; manuśa purik maring aku, gsĕng tan pasesa." Artinya, “Aku berwujud api seluruh jagat, aku mengenakan busana Brahma Śakti. Semua leyak bersujud dan tunduk kepadaku; daya yang menganggu bersujud kepadaku; gangguan yang dipasang bersujud kepadaku. Jika ada yang melanggar terhadapku, ia terbakar. Bhūta yang marah kepadaku terbakar seperti lalang olehku; manusia yang marah kepadaku terbakar tanpa sisa.” Ini adalah bahasa pengagungan tubuh ritual. Praktisi diposisikan sebagai pusat api kosmis yang membuat seluruh daya liar tunduk. Maka bagian ini harus dibaca dengan sangat hati-hati. Secara literal, bahasanya keras dan dominatif. Akan tetapi secara simbolik, itu menunjukkan proses pembesaran identitas ritual: “aku kecil” diganti oleh “aku kosmis”. Dalam kerangka etis, yang “terbakar” dapat ditafsirkan sebagai gangguan, kekacauan, atau energi destruktif yang dikalahkan oleh pusat kesadaran. Jika dibaca oleh ego yang lapar kuasa, bagian ini bisa berubah menjadi legitimasi arogansi spiritual. jika dibaca secara tantrik, itu adalah teknik sakralisasi tubuh: manusia menjadi wadah api Brahma Śakti, bukan pemilik mutlak daya.

Salah satu bagian penting dalam lontar ini adalah penyebutan bhūta mañcawarṇa, yaitu bhūta lima warna. Warna-warna ini bukan hanya warna visual, melainkan kode kosmologis. Putih, hitam, kuning, merah, dan brumbun/warna warni menunjukkan klasifikasi daya. “Hapan Sang Hyang Siwagni, Brahma, Wisnu, Iswara, Mahadewa, mwang Sambu Sangkara, Ludhra Mahadewa, Mesore, Siwa Nirmala, pinupul maring awak sariranku. Mwah i bhūṭa mañcawarṇa: bhūṭa putih, bhūṭa irĕng, bhūṭa kuning, bhūṭa bang, bhūṭa brumbun, padha pinupul maring awak sariranku. Mtu kita bhūṭa kabeh, sakeng lĕnging bulun mawak sariranku.” Artinya “Sebab Sang Hyang Siwagni, Brahma, Wisnu, Iswara, Mahadewa, Sambu Sangkara, Ludra Mahadewa, Mesore, dan Siwa Nirmala semuanya dihimpun ke dalam tubuhku. Demikian pula bhūta lima warna: bhūta putih, bhūta hitam, bhūta kuning, bhūta merah, dan bhūta warna warni, semuanya dihimpun ke dalam tubuhku. Keluarlah kalian semua bhūta, dari lubang bulu tubuhku yang berwujud sariraku.” Maknanya adalah tubuh menjadi tempat penghimpunan dewa sekaligus bhūta. Dewa-dewa dan bhūta lima warna sama-sama ditempatkan dalam struktur tubuh. Ini menunjukkan bahwa pangiwa tidak bekerja dengan moralitas hitam-putih sederhana. Bhūta bukan musuh, melainkan energi kasar yang harus dihimpun, diposisikan, dan diarahkan. Jika tidak ditata, bhūta menjadi gangguan. Sebaliknya jika diatur dalam tubuh yang kuat, itu berubah menjadi daya penjaga. Inilah logika pangiwa yang tidak menolak gelap, melainkan menguasai tata letaknya.

Naskah juga menyebut pangulon maring setra agung, yaitu orientasi atau pengulonan menuju setra agung. Bagian itu disertai penyebutan banten dan struktur persembahan. Dalam artikel ini, rincian teknisnya tidak perlu diperlakukan sebagai instruksi praktik, tapi secara simbolik bagian itu penting karena memperlihatkan hubungan pangiwa dengan ruang liminal. Setra bukan sekadar kuburan. Dalam kosmologi Bali, setra adalah ruang batas antara hidup dan mati, desa dan luar desa, tubuh dan kehancuran, keteraturan dan bhūta. Jalan pangiwa memilih ruang seperti ini karena berurusan dengan yang tidak nyaman, yang disingkirkan, dan yang tidak bisa dijinakkan oleh moralitas sosial biasa. Secara simbolik, setra adalah tempat ego sosial luruh. Di sana jabatan, nama baik, status, dan kesopanan kehilangan kekuatannya. Apa yang tersisa adalah tubuh, kematian, rasa takut, dan daya ambang. Maka pangiwa bukan jalan untuk mencari kenyamanan spiritual, tapi jalan untuk berhadapan dengan realitas yang paling brutal di mana tubuh akan rusak, nama akan hilang, dan manusia harus berdiri di hadapan bayangannya sendiri.

Bagian lain yang sangat penting adalah panugrahan pangiwa. Di sini teks menunjukkan bahwa daya pangiwa tidak cukup berasal dari kehendak pribadi sebab membutuhkan anugerah, legitimasi, atau izin dari sumber sakral, dalam hal ini Hyang Nini Bhatari Durga. “Iki mantra panugrahan pangiwa, rumuwun patut malik sang. Pukulun Hyang Nini Bhatari Dhurgha, manusan nirene hanugraha maring Yang Nini Bhatari Ghangga. Hanugrahĕkna hingsun hañaluk Brahma Mūrti murub. Oṅg sidi mandhi kedĕp, aṅg, o.” Artinya, “Inilah mantra panugrahan pengiwa; pertama-tama patut memohon balik kepada Yang Suci. Wahai Hyang Nini Bhatari Durga, manusia ini memohon anugerah kepada Yang Nini Bhatari Gangga. Anugerahilah aku yang memohon Brahma Mūrti yang menyala. Om, semoga siddhi, mandhi, dan berdaya; ang, o.” Dengan demikian, daya pangiwa tidak dianggap sah hanya karena manusia menginginkannya. Itu memerlukan panugrahan, yaitu anugerah atau izin dari daya sakral sebagai dimensi etis pada pangiwa. Tanpa panugrahan, pangiwa mudah berubah menjadi ambisi ego. Orang ingin kuasa, ingin menang, ingin ditakuti, ingin menguasai, tapi tidak memiliki legitimasi batin. Naskah ini justru menunjukkan bahwa daya harus turun melalui izin. Dalam pengertian modern, ini bisa dibaca sebagai peringatan bahwa tidak semua kemampuan boleh dipakai, dibuka atau layak diwujudkan.

Kemudian bagian pangatĕr pangiwa memuat prinsip pembalikan arah. Ini adalah inti dari makna “kiwa” atau kiri. Kiri bukan sekadar sisi tubuh, tapi pembalikan orientasi kosmologis. “Iki pangatĕr pangiwa, nga, balikang gnaḥnya. Nene kajĕ dadi kĕlod, nene kangin dadi kawuḥ, nene mĕnek habĕt tuwun. Helingang pisan Hyang Iswara. Pañca Mahābhūta kalĕnya Hyang Iswara, asta bhūta kalane.” Artinya, “Inilah pengantar pangiwa, yaitu: balikkan tempatnya. Yang utara menjadi selatan, yang timur menjadi barat, yang naik menjadi turun. Ingatlah sungguh-sungguh Hyang Iswara. Panca Mahabhuta berbeda dengan Hyang Iswara, demikian pula asta bhūta-kala.” Maka diketahui bahwa pangiwa bekerja melalui inversi yakni arah dibalik, posisi digeser, dan tatanan biasa diputar. Inilah logika kiri yang sebenarnya. Jalur Kiri bukan sekadar “jahat”, tapi jalan pembalikan. Apa yang biasanya naik dibawa turun, timur dibalik ke barat, utara dibalik ke selatan. Pembalikan ini berfungsi mengguncang orientasi biasa manusia. Orang yang hanya kuat dalam tatanan normal belum tentu kuat ketika arah dibalik. Pangiwa menguji apakah kesadaran tetap utuh ketika dunia tidak lagi berjalan menurut peta sosial, moral, dan psikologis yang lazim.

Bagian paling penting secara etis dan operasional adalah panglĕswan, yaitu pengembalian. Ini membuktikan bahwa Dasar Pengiwa bukan hanya teks pembangkitan daya, tapi juga teks penutupan dan pemulangan daya. “Iki panglĕswanya, ma: oṅg catur Brahma mūliḥ maring sarirĕ, tkĕ udĕp. Oṅg sarwa bhūṭa mūliḥ maring sapta dwarĕ, ngrehang maring kĕmūlan. Brahma mūliḥ ri sarira, tkĕ udĕp. Sarwa bhūṭa mūliḥ maring sapta dwarĕ; breha maring kĕmulan.” Artinya, “Inilah panglĕswan-nya: Om, Catur Brahma kembali ke dalam tubuh sampai pada kesadaran. Om, semua bhūta kembali ke tujuh pintu, diarahkan kembali kepada asalnya. Brahma kembali ke tubuh sampai ke kesadaran. Semua bhūta kembali ke sapta dwara; semuanya diarahkan kembali kepada asal-mulanya.” Semua daya yang telah dibuka harus kembali. Brahma kembali ke tubuh, dan bhūta kembali ke tujuh pintu. Segala yang keluar harus dipulangkan ke asal. Ini inti kedewasaan dalam pangiwa sebab banyak orang hanya tertarik pada pembangkitan dengan membuka api, memanggil daya, menundukkan bhūta, membalik arah, atau memperoleh panugrahan. Akan tetapi naskah ini menegaskan bahwa pembukaan tanpa pengembalian adalah bahaya, sebab daya yang keluar tanpa panglĕswan akan menjadi kebocoran. Api berubah menjadi panas batin. Bhūta berubah menjadi gangguan. Aksara berubah menjadi obsesi. Kuasa berubah menjadi arogansi. Maka pangiwa yang matang bukan yang paling kuat membuka daya, tapi yang paling mampu mengembalikannya.

Maka Dasar Pengiwa memperlihatkan bahwa tradisi Bali memiliki cara yang sangat halus untuk memahami gelap. Gelap tidak selalu dibuang dan bhūta tidak selalu disingkirkan. Durga tidak selalu ditakuti dan api tidak selalu dipadamkan sebab semuanya ditempatkan dalam struktur. Inilah yang membedakan kawisesan dari sekadar fantasi kuasa. Meski demikian naskah ini juga tidak boleh diputihkan secara romantis. Ada bahasa dominasi, pembakaran, penundukan, leyak, desti, bhūta, setra, dan pembalikan arah. Artinya, ini memang teks yang bergerak di wilayah keras, panas, dan ambivalen. Teks adalah tentang daya yang bisa menjadi perlindungan, tapi juga bisa menjadi kehancuran bila dipakai oleh ego yang belum matang.

Dengan demikian kekuatan utama naskah ini terletak pada struktur siklisnya yang tidak hanya membuka, memanggil, mengaktifkan api, bicara soal bhūta atau bicara Durga tapi juga menutup, memulangkan, mengembalikan ke pusat tubuh, panugrahan dan saptadwara. Di sini terlihat bahwa pangiwa yang sejati bukan kekacauan, melainkan tata tersembunyi di balik wilayah yang tampak kacau. Secara psikologis, naskah ini dapat dibaca sebagai ilmu menghadapi bayangan. Bhūta adalah dorongan kasar, api adalah intensitas, Durga adalah kekuatan ambivalen yang menakutkan sekaligus melindungi dan setra adalah ruang kematian dan batas. Pembalikan arah adalah krisis orientasi dan panglĕswan adalah pemulihan integrasi diri. Dengan pembacaan seperti ini, Dasar Pengiwa tetap relevan tanpa harus direduksi menjadi praktik literal.

Itulah sebabnya relevansi lontar Dasar Pengiwa di zaman modern bukan terletak pada peniruan praktik magisnya, melainkan pada cara naskah ini mengajarkan manusia modern untuk memahami, menata, dan mengembalikan daya yang liar dalam dirinya sendiri. Hari ini, “bhūta” tidak selalu perlu dibaca sebagai makhluk luar, tapi dapat dipahami sebagai kemarahan, trauma, iri hati, ambisi, hasrat menguasai, paranoia, rasa tidak aman, dan dorongan destruktif yang sering bergerak tanpa disadari. “Api dari tubuh” dapat dibaca sebagai energi psikis seperti kehendak, libido, kreativitas, keberanian, sekaligus agresi yang bila tidak diarahkan akan membakar diri sendiri dan orang lain. “Setra” dapat dipahami sebagai ruang-ruang krisis modern yakni kegagalan, kehilangan, konflik sosial, reputasi yang runtuh, tekanan ekonomi, atau momen ketika identitas seseorang dipaksa berhadapan dengan kematian simboliknya sendiri. Sementara panglĕswan ~pengembalian daya, sangat relevan sebagai disiplin batin berupa kemampuan menutup kembali emosi yang terbuka, menarik ulang energi yang tercecer, berhenti dari obsesi, tidak terus-menerus bereaksi, dan mengembalikan diri pada pusat kesadaran. Dalam dunia yang penuh provokasi media sosial, relasi manipulatif, politik emosi, spiritualitas instan, dan konsumsi kemarahan kolektif, Dasar Pengiwa memberi pelajaran keras bahwa kekuatan tanpa pengendalian akan menjadi gangguan, keberanian tanpa etika akan menjadi kekerasan, dan spiritualitas tanpa kemampuan “mulih” atau kembali pulang hanya akan melahirkan manusia yang tampak sakti tapi sebenarnya bocor.

Maka pangiwa dalam naskah ini tidak bisa disempitkan menjadi “ilmu hitam”, melainkan lebih tepat dipahami sebagai teknologi tubuh-kosmis untuk mengenali, membangkitkan, mengatur, dan mengembalikan daya ambang. Daya itu bisa gelap, panas, ganas, dan menakutkan, tapi dalam struktur yang benar, itu juga bisa menjadi penjaga, penyadar, dan alat transformasi. Bahaya pangiwa bukan terletak pada gelapnya, melainkan pada manusia yang ingin memakai gelap tanpa tubuh yang kuat, kesadaran, panugrahan, dan kemampuan mengembalikan daya. Di situlah pangiwa berubah menjadi kegilaan spiritual. Akan tetapi jika dibaca sebagai disiplin tubuh, api, bayangan, dan pengembalian, Dasar Pengiwa memperlihatkan satu ajaran tajam bahwa manusia tidak menjadi utuh dengan menolak gelap, melainkan dengan mengetahui tempat gelap itu harus berdiri. The true danger is not darkness itself, but power without return, fire without center, and shadow without wisdom. (end/frs)

Subscribe
Previous
Mengenal Tantrarāja Tantra
Next
 Return to site
strikingly iconPowered by Strikingly
Cookie Use
We use cookies to improve browsing experience, security, and data collection. By accepting, you agree to the use of cookies for advertising and analytics. You can change your cookie settings at any time. Learn More
Accept all
Settings
Decline All
Cookie Settings
Necessary Cookies
These cookies enable core functionality such as security, network management, and accessibility. These cookies can’t be switched off.
Analytics Cookies
These cookies help us better understand how visitors interact with our website and help us discover errors.
Preferences Cookies
These cookies allow the website to remember choices you've made to provide enhanced functionality and personalization.
Save