Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me


Memahami Aji Sangkya

Filsafat Kesadaran, Materi, dan Peta Manusia Bali

· Renungan,Budaya

Aji Sangkya adalah teks tattwa Bali modern yang menempati posisi penting dalam sejarah intelektual Hindu Bali. Uniknya, teks itu tidak sekadar mengulang filsafat Sāṃkhya India, melainkan mengolahnya kembali ke dalam kerangka Siwaistik Bali dengan konsep Cetana-Acetana, Siwa-Maya, Paramasiwa-Sadasiwa-Siwatma, dan proses turunnya kesadaran ke dalam tubuh, pikiran, indra, dunia, serta manusia. Dalam pengertian tersebut, Aji Sangkya adalah peta metafisik sekaligus antropologi spiritual dengan menjelaskan bagaimana manusia tersusun, mengapa manusia bisa lupa pada hakikatnya, dan bagaimana kesadaran dapat bergerak kembali dari yang kasar menuju yang halus.

Awalnya, Aji Sangkya disusun oleh Ida Ketut Djelantik dan beredar dalam bentuk pamflet stensilan pada tahun 1947 dengan judul Adji Sankya. Empat tahun kemudian teks ini diterjemahkan oleh C. Hooykaas ke dalam bahasa Belanda dengan judul Changkhya-leer van Bali pada tahun 1951. Kemudian di tahun 2008, teks ini menjadi objek kajian filologis oleh I Wayan Sukayasa dan Ida Bagus Jelantik dalam edisi Aji Sangkya: Suntingan Teks, Terjemahan, dan Analisis Isi. Kajian W.A. Sindhu Gitananda menempatkan Aji Sangkya sebagai teks filsafat Bali modern yang berwatak Saivistik, karena sejak awal teksnya mengarahkan pembacaan pada Siwa sebagai kesadaran absolut.

Kata aji dalam tradisi Bali-Jawa berarti ilmu, ajaran, pengetahuan, kitab, atau tuntunan yang memiliki bobot doktrinal sebagai pengetahuan yang berfungsi membentuk cara melihat realitas. Kata Sangkya berasal dari Sāṃkhya, salah satu sistem filsafat India yang terkenal karena menjelaskan realitas melalui penghitungan kategori-kategori dasar atau tattwa. Dalam Sāṃkhya klasik, realitas dijelaskan melalui 25 tattwa, terutama oposisi antara puruṣa sebagai kesadaran murni dan prakṛti sebagai alam/materi. Sedangkan dalam Aji Sangkya, oposisi itu diterjemahkan ke dalam bahasa Bali-Siwaistik sebagai Cetana dan Acetana. Cetana adalah prinsip sadar, terang, eling, mengetahui, dan berhubungan dengan Siwa Tattwa. Acetana adalah prinsip tak-sadar, berat, lupa, material, dan berhubungan dengan Maya Tattwa. Di sinilah Aji Sangkya mulai berbeda dari Sāṃkhya India sebab tidak berhenti pada puruṣa-prakṛti sebagai kategori filosofis, tapi memasukkannya ke dalam kosmologi Siwa Bali.

Aji Sangkya sendiri ditulis bukan dalam bentuk “śloka” Sanskerta metrik, melainkan prosa tattwa Bali. Meski demikian, bagian berikut dapat dipakai sebagai kutipan primer teks untuk melihat konsep Cetana dan Acetana, yakni “Cetana ring acetana punika kawentenan kalihungguhnya mapapas: Cetana rumaga ening bresih, pradnyan menget tan kahanan lupa, eling kenceng tan patanggu, punika mungguh ring luhur. Acetana punika sane mungguh ring sor, rumaga lupa tan kahanan menget, kadi batu celebungkah saluiripun.” Artinya, Cetana dan Acetana adalah dua keadaan yang kedudukannya berbeda. Cetana bersifat jernih, bersih, bijaksana, sadar, tidak mengalami lupa, teguh dalam ingatan, dan berada pada posisi luhur. Acetana berada di bawah, bersifat lupa, tidak memiliki kesadaran, seperti batu, bongkahan, dan benda-benda sejenisnya. Kutipan ini adalah fondasi Aji Sangkya. Djelantik menempatkan Cetana atau kesadaran sebagai prinsip luhur karena memiliki daya mengetahui. Kesadaran tidak hanya “hidup”, tapi eling; mampu hadir, mengenali, dan membedakan. Sebaliknya, Acetana adalah wilayah keberadaan yang kehilangan daya sadar yang masih bisa bergerak, membentuk tubuh, menjadi dunia, bahkan menjadi pengalaman batin, tapi tanpa penerangan Cetana maka Acetana tetap bersifat berat, lupa, dan mekanis.

Di sini tampak inti ajaran Aji Sangkya bahwa problem manusia terjadi ketika pusat dirinya jatuh ke wilayah Acetana, yakni lapisan keberadaan yang bergerak melalui tubuh, indra, hasrat, ego, rasa takut, dan pikiran tanpa diterangi kesadaran. Djelantik menyatakan, “Cetana ring acetana punika kawentenan kalih ungguhnya mapapas… Cetana rumaga ening bresih, pradnyan menget tan kahanan lupa, eling kenceng tan patanggu… Acetana… rumaga lupa tan kahanan menget, kadi batu celebungkah saluiripun,” artinya Cetana dan Acetana memiliki kedudukan yang berlawanan: Cetana jernih, bersih, sadar, tidak lupa, teguh dalam eling; sedangkan Acetana bersifat lupa, tanpa kesadaran, seperti batu atau bongkahan materi. Lebih tajam lagi, teks itu melanjutkan bahwa “Cetana punika ngranjing nyusup mamedah nguub tattwane ring sor sane kabaos Acetana,” yaitu Cetana dapat masuk, menyusup, menembus, dan meliputi tattwa yang lebih rendah bernama Acetana, sementara Acetana tidak dapat memasuki tattwa yang lebih luhur.

Lebih tajam lagi, teks itu melanjutkan bahwa “Cetana punika ngranjing nyusup mamedah nguub tattwane ring sor sane kabaos Acetana,” yaitu Cetana dapat masuk, menyusup, menembus, dan meliputi tattwa yang lebih rendah bernama Acetana, sementara Acetana tidak dapat memasuki tattwa yang lebih luhur. Ini berarti tubuh, indra, hasrat, ego, dan pikiran bukan musuh spiritual, melainkan lapisan rendah yang harus diterangi oleh Cetana. Ketika Acetana memimpin, manusia hidup reaktif: tubuh menjadi pusat kenikmatan, indra menjadi penguasa keputusan, hasrat berubah menjadi kompas hidup, ego merasa sebagai diri sejati, ketakutan menjadi penjara, dan pikiran berputar sebagai mesin pembenaran. Akan tetapi ketika Cetana kembali memimpin, semua unsur itu ditempatkan sebagai perangkat: tubuh menjadi wahana dharma, indra menjadi alat pembacaan dunia, hasrat menjadi energi yang diarahkan, ego menjadi fungsi personal yang terkendali, ketakutan menjadi bahan kewaspadaan, dan pikiran menjadi instrumen buddhi. Oleh karena itu Aji Sangkya tidak mengajarkan penolakan terhadap dunia, melainkan penataan hierarki kesadaran tentang yang luhur meliputi yang rendah, dan yang sadar menerangi yang tak-sadar, Siwa Tattwa mengarahkan Maya Tattwa.

Maka disimpulkan bahwa Cetana sebagai Siwa, Acetana sebagai Maya, dengan kutipan “Cetana miwah Acetana punika sane kabaos Siwa Tatwa lawan Maya Tatwa.” Artinya, Cetana dan Acetana itulah yang disebut Siwa Tattwa dan Maya Tattwa. Kutipan ini menunjukkan jantung perbedaan Aji Sangkya dengan Sāṃkhya India. Dalam Sāṃkhya klasik, puruṣa dan prakṛti adalah dua prinsip metafisik. Dalam Aji Sangkya, keduanya diberi bahasa teologis Bali: Cetana = Siwa Tattwa, Acetana = Maya Tattwa. Dengan demikian, kesadaran bukan sekadar saksi pasif, tapi berhubungan dengan Siwa sebagai prinsip tertinggi. Materi bukan sekadar alam primordial, melainkan Maya sebagai medan manifestasi. Maya dalam konteks ini bukan semata “ilusi” dalam arti palsu melainkan adalah kekuatan manifestasi yang membuat kesadaran tampil dalam bentuk, tubuh, dunia, dan pengalaman. Maka, Aji Sangkya tidak mengajak manusia memusuhi dunia dan justru mengajak manusia membaca dunia sebagai lapisan tattwa yang perlu dikenali tingkatannya.

Posisi Aji Sangkya berdiri di persimpangan antara beberapa arus besar. Pertama, gagasan itu mewarisi Sāṃkhya India, terutama ajaran tentang kategori realitas, puruṣa, prakṛti, evolusi tattwa, indra, unsur halus, dan unsur kasar. Kedua, berhubungan dengan tradisi Yoga, karena pemetaan kesadaran dan materi akhirnya diarahkan pada pembebasan. Ketiga, dekat dengan teks-teks tattwa Jawa Kuna dan Bali seperti Wrhaspati Tattwa, Tattwa Jñana, dan Dharma Pātañjala. Kajian Gitananda menyebut bahwa teks-teks tattwa Nusantara memiliki relasi kuat dengan darśana India, terutama Sāṃkhya Kārikā dan Yogasūtra Patañjali, tapi diadaptasi dalam kerangka lokal Bali dan Jawa Kuna.

Aji Sangkya juga memperlihatkan watak modern dengan memakai tradisi lama, tapi disusun dalam bentuk yang lebih sistematis dan dapat dibaca oleh pembaca Bali modern. Di sini Djelantik bekerja bukan hanya sebagai penyalin ajaran, melainkan sebagai penyusun ulang dengan mengambil kosmologi lama, menata ulang istilah, menyusun hubungan sebab-akibat, lalu menjadikannya jalan berpikir tentang manusia. Inilah yang membuat Aji Sangkya penting lantaran menunjukkan bahwa intelektualitas Hindu Bali bukan hanya ritual, mantra, lontar sakral, tapi juga filsafat yang mampu mengartikulasikan struktur realitas secara analitis.

Lantas apa perbedaan yang lebih tegas dengan Sāṃkhya India? Perbedaan pertama adalah pusat teologis di mana Sāṃkhya India klasik biasanya dipahami sebagai sistem dualistik yang menjelaskan realitas melalui dua prinsip yakni puruṣa dan prakṛti. Puruṣa adalah kesadaran murni; prakṛti adalah alam primordial. Dalam Aji Sangkya, struktur ini diberi pusat Siwa. Cetana adalah Siwa Tattwa, sementara Acetana adalah Maya Tattwa. Maka, Aji Sangkya bukan Sāṃkhya netral, melainkan Sāṃkhya yang telah mengalami pembacaan Siwaistik Bali. Perbedaan kedua adalah arah kosmologi yakni Sāṃkhya India menjelaskan evolusi dari prakṛti menuju mahat, ahaṃkāra, indra, tanmātra, dan mahābhūta. Sementara itu, Aji Sangkya memasukkan proses ini ke dalam struktur yang lebih luas yakni Cetana → Paramasiwa → Sadasiwa → Siwatma → Maya Tattwa → Purusa → Pradhana → Citta → Tri Guna → Buddhi → Ahaṃkāra → Tanmātra → Mahābhūta → Manusia. Gitananda menampilkan alur ini sebagai struktur evolusi filosofis dalam Aji Sangkya, yang bergerak dari Cetana menuju Acetana, dari kesadaran menuju materialisasi, dan akhirnya menuju kepada manusia.

Perbedaan ketiga adalah orientasi antropologis. Dalam Aji Sangkya, manusia menjadi titik akumulasi dari semua kategori. Manusia bukan hanya makhluk biologis, tetapi tempat bertemunya kesadaran, materi, pikiran, indra, unsur halus, unsur kasar, dan daya Siwa-Maya. Oleh karena itu, Gitananda menyebut adanya proses materialization and humanization of the spirit: roh atau kesadaran mengalami materialisasi sampai menjadi manusia, tapi proses itu harus dibaca sebagai pemanusiaan roh, bukan sekadar jatuh ke dalam materialisme. Perbedaan keempat adalah bahasa religius yang digunakan. Sāṃkhya India memakai istilah Sanskerta filosofis dengan struktur teknis darśana. Aji Sangkya memakai bahasa Bali dengan istilah Sanskerta yang telah diveri citarasa Bali dan diserap ke dalam rasa religius lokal. Kata Siwa, Maya, Cetana, Acetana, Pradhana, Citta, Buddhi, dan Ahaṃkāra tidak hanya menjadi istilah, tetapi menjadi bagian dari kosmologi hidup masyarakat Bali.

Dalam sistem Sāṃkhya klasik, realitas dijelaskan melalui 25 tattwa. Daftar ini penting karena menjadi dasar untuk memahami bagaimana kesadaran berhubungan dengan tubuh, pikiran, indra, dan dunia. Pertama adalah Puruṣa yakni kesadaran murni, saksi, prinsip yang mengetahui. Dalam Aji Sangkya, ini lebih dekat dengan wilayah Cetana, meskipun teks Bali kemudian menaikkannya ke dalam kerangka Siwa Tattwa. Kedua, Prakṛti/Pradhāna yakni alam primordial, sumber material dari manifestasi yang mengandung tiga guna: sattwa, rajas, dan tamas. Dalam Aji Sangkya, wilayah ini berhubungan dengan Maya Tattwa. Ketiga, Mahat/Buddhi yakni intelek, daya terang untuk membedakan. Dalam kehidupan manusia, buddhi adalah kemampuan melihat dengan jernih, menimbang, memahami sebab-akibat, dan memilih arah. Keempat, adalah Ahaṃkāra atau prinsip “aku” yang membuat pengalaman menjadi “milikku”: tubuhku, pikiranku, lukaku, ambisiku, kehormatanku. Ahaṃkāra diperlukan untuk fungsi personal, tetapi menjadi sumber keterikatan ketika ia menguasai kesadaran. Kelima, adalah Manas atau pikiran pengolah yang menerima data dari indra, membandingkan, merespons, meragukan, dan bergerak cepat dari satu objek ke objek lain. Dalam praktik spiritual, manas harus ditenangkan agar buddhi dan cetana dapat bekerja.

Untuk lima berikutnya adalah Pañca Jñānendriya atau lima indra pengetahuan yang terdiri dari Śrotra (pendengaran), Tvak (peraba), Cakṣus (penglihatan), Jihvā (pengecap) dan Ghrāṇa (penciuman). Kelima indra ini adalah pintu masuk dunia ke dalam batin. Melalui indra, manusia mengenal suara, sentuhan, bentuk, rasa, dan bau. Dalam Aji Sangkya, indra harus dibaca sebagai alat, bukan penguasa. Lima berikutnya adalah Pañca Karmendriya atau lima organ tindakan yang terdiri dari Vāk (bicara), Pāṇi (tangan/memegang), Pāda (kaki/bergerak), Pāyu (organ pembuangan), Upastha (organ reproduksi dan kenikmatan). Organ tindakan menunjukkan bahwa manusia bukan hanya mengetahui dunia, tapi juga bertindak di dalamnya. Kesadaran yang matang tidak mematikan tindakan, melainkan menertibkan tindakan.

Lima selanjutnya adalah Pañca Tanmātra atau lima unsur halus yakni Śabda (suara), Sparśa (sentuhan), Rūpa (bentuk/cahaya), Rasa (sama: rasa) dan Gandha (bau). Tanmātra adalah bentuk halus dari pengalaman. Sebelum menjadi benda kasar, dunia hadir sebagai kualitas berupa bunyi, sentuhan, bentuk, rasa, dan bau. Untuk lima terakhir adalah Pañca Mahābhūta atau lima unsur besar yakni Ākāśa (ruang), Vāyu (udara/gerak), Tejas/Agni (api, panas, cahaya), Āpas/Jala (air, cairan, aliran) dan Pṛthivī (tanah,kepadatan, bentuk padat). Di sinilah realitas menjadi paling kasar. Tubuh, benda, lingkungan, dan dunia fisik berdiri pada lapisan mahābhūta. Akan tetapi dalam pembacaan Aji Sangkya, lapisan kasar tetap berasal dari proses yang lebih halus. Oleh karena itu, tubuh bukan musuh kesadaran melainkan lapisan akhir dari penurunan tattwa.

Metode utama Aji Sangkya adalah viveka tattwa, yakni pembedaan unsur-unsur realitas. Manusia diajak mengenali mana yang sadar, mana yang tak-sadar; mana yang menjadi saksi, mana yang disaksikan; mana yang terang, mana yang bergerak karena kebiasaan; mana yang berasal dari buddhi, mana yang berasal dari ahaṃkāra; mana yang merupakan dorongan indra, mana yang merupakan kejernihan kesadaran. Metode ini dapat diringkas dalam tiga gerak. Pertama, mengurai. Manusia mengurai dirinya menjadi lapisan-lapisan: tubuh, indra, tindakan, rasa, pikiran, ego, intelek, kesadaran. Dengan penguraian ini, manusia berhenti menganggap semua yang muncul dalam dirinya sebagai “aku sejati”. Kedua, membedakan. Setelah lapisan dikenali, manusia membedakan kualitasnya. Dorongan yang panas, agresif, dan gelisah dibaca sebagai rajas. Dorongan yang berat, malas, gelap, dan tumpul dibaca sebagai tamas. Kejernihan, keseimbangan, dan ketertiban dibaca sebagai sattwa meski pun masih berada dalam wilayah prakṛti. Dengan demikian kesadaran tertinggi berada melampaui permainan guna. Ketiga, mengembalikan. Setelah mengurai dan membedakan, manusia mengembalikan pusat dirinya kepada Cetana. Ini adalah penataan ulang pusat hidup. Dunia tetap dijalani, tubuh tetap dirawat, pikiran tetap dipakai, tindakan tetap dilakukan, tapi seluruhnya berada di bawah penerangan kesadaran.

Maka Aji Sangkya dapat dioperasionalkan sebagai latihan membaca diri secara presisi. Ketika seseorang marah, ia dapat bertanya: ini gerak Cetana atau gerak Ahaṃkāra? Jika kemarahan muncul karena harga diri tersentuh, maka pusatnya adalah ego. Jika kemarahan muncul sebagai respons etis yang jernih terhadap ketidakadilan, maka buddhi ikut bekerja. Perbedaannya terletak pada kualitas kesadaran: reaktif atau terang. Ketika seseorang terjebak hasrat, ia dapat membaca lapisannya: ada objek indrawi, ada rasa yang ditangkap manas, ada identifikasi ahaṃkāra, ada dorongan rajas, lalu ada keputusan tindakan melalui karmendriya. Dengan peta ini, hasrat tidak perlu langsung dihukum atau dibenarkan tapi dibaca, dipahami, lalu diarahkan.

Ketika seseorang malas, buntu, atau kehilangan daya hidup, ia dapat membaca dominasi tamas. Tamas membuat batin berat, pikiran lambat, tubuh lesu, dan kesadaran menyempit. Jalan keluarnya bukan sekadar motivasi kosong, tapi mengaktifkan buddhi, menata tindakan kecil, menggerakkan tubuh, dan mengembalikan kualitas eling. Ketika seseorang terlalu sibuk mencari validasi, Aji Sangkya akan menunjuk pada permainan indra, manas, dan ahaṃkāra. Ia melihat dirinya melalui mata orang lain dan mengira penilaian sosial sebagai diri. Dalam bahasa Aji Sangkya, ia turun terlalu dalam ke Acetana. Jalan baliknya adalah mengaktifkan Cetana yakni menyaksikan kebutuhan validasi itu tanpa menjadi budaknya. Maka Aji Sangkya memiliki kekuatan besar karena menyatukan metafisika dan psikologi, menjelaskan kosmos sekaligus menjelaskan manusia, berbicara tentang Siwa dan Maya, tapi sekaligus berbicara tentang tubuh, pikiran, ego, indra, hasrat, dan tindakan. Dengan demikian, Aji Sangkya bukan filsafat abstrak yang jauh dari kehidupan malah sebagai anatomi kesadaran.

Secara filosofis, teks ini memperlihatkan ketegangan kreatif antara spiritualisme dan materialisme. Di satu sisi, pusat tertingginya adalah Cetana, Siwa, kesadaran. Di sisi lain, teks ini sangat serius menjelaskan proses materialisasi: bagaimana kesadaran turun menjadi struktur mental, indrawi, unsur halus, unsur kasar, dan manusia. Kajian Gitananda menyebut bahwa Aji Sangkya bergerak dari lapisan paling kasar menuju lapisan paling halus sebagai ajaran pembebasan atau kaivalya, dengan pola pasuk-wetu: keluar menjadi kasar, masuk menjadi halus. Inilah yang membuat Aji Sangkya matang dengan tidak memiskinkan spiritualitas menjadi anti-dunia dan juga tidak merendahkan manusia menjadi semata tubuh. Manusia adalah tempat pertemuan seluruh lapisan realitas. Oleh karena itu, tugas manusia bukan menghina tubuh, melarikan diri dari dunia, atau tenggelam dalam hasrat, melainkan memahami seluruh lapisan dirinya secara tepat.

Dengan demikian Aji Sangkya sangat relevan bagi manusia modern yang hidup dalam banjir rangsangan. Hari ini manusia dikepung layar, opini, citra diri, kecemasan, hasrat, kompetisi, validasi sosial, dan konsumsi tanpa henti. Dalam bahasa Aji Sangkya, banyak orang hidup di bawah kendali manas, indriya, ahaṃkāra, rajas, dan tamas. Mereka bergerak cepat, responsif, produktif tapi belum tentu sadar, eling dan jernih. Aji Sangkya memberi disiplin pembacaan batin dengan mengajarkan bahwa pikiran, rasa, dorongan, ketenangan, bahkan pengalaman spiritual perlu diperiksa asal-usulnya. Sebagian muncul dari kejernihan buddhi, tapi banyak pula yang bergerak dari manas yang gelisah, ahaṃkāra yang ingin diakui, atau permainan guna yang membuat batin tampak terang, panas, atau berat. Oleh karena itu, pengalaman batin tidak langsung dianggap sebagai kebenaran melainkan harus dibaca lapisannya, ditimbang kualitasnya, dan dilihat apakah benar berasal dari Cetana atau hanya riak halus dari Acetana yang sedang memakai bahasa spiritual.

Dalam konteks spiritualitas populer, Aji Sangkya menjadi koreksi penting. Banyak orang modern mudah memakai bahasa energi, luka batin, intuisi, semesta, dan pencerahan, tapi lemah dalam membedakan lapisan. Aji Sangkya menuntut ketelitian: apakah itu Cetana atau Acetana? Apakah itu buddhi atau ahaṃkāra? Apakah itu sattwa atau sekadar rasa nyaman? Apakah itu kesadaran atau hanya reaksi psikologis yang diberi label spiritual? Maka dalam kehidupan sosial, Aji Sangkya menawarkan etika kejernihan: manusia perlu membaca dorongan batinnya sebelum menjadikannya tindakan. Ahaṃkāra yang tidak terkendali membuat seseorang cepat tersinggung, defensif, manipulatif, dan haus pengakuan; Rajas mendorong kegelisahan, ambisi buta, agresivitas, serta hasrat menguasai; sementara Tamas menebalkan kemalasan, kebebalan, penghindaran tanggung jawab, dan pembenaran atas kemandekan. Di sinilah Buddhi berfungsi sebagai daya penimbang agar manusia mampu melihat proporsi, sedangkan Cetana menjadi pusat kesadaran yang menjaga agar seluruh gerak psikologis itu tetap berada sebagai instrumen, bukan penguasa diri.

Dengan demikian, nilai terdalam Aji Sangkya terletak pada kemampuan memilah lapisan diri secara jernih: membedakan Cetana sebagai pusat sadar dari gerak material Acetana yang tampil sebagai tubuh, pikiran, indra, ego, dan dorongan guna. Dari pembedaan ini, manusia belajar menempatkan setiap unsur pada kedudukannya: Buddhi sebagai penimbang, Ahaṃkāra sebagai fungsi personal yang dibatasi, tubuh sebagai wahana, dunia sebagai medan laku, dan tindakan sebagai ekspresi kesadaran. Hidup lalu tidak bergerak dari kelupaan, melainkan dari pusat yang eling, terarah, dan kembali berpijak pada Cetana. To understand the tattwas is to stop being dragged by existence and begin to inhabit consciousness deliberately. (end/frs)

Subscribe
Previous
Kubjikā Sang Dewi Bungkuk
Next
 Return to site
strikingly iconPowered by Strikingly
Cookie Use
We use cookies to improve browsing experience, security, and data collection. By accepting, you agree to the use of cookies for advertising and analytics. You can change your cookie settings at any time. Learn More
Accept all
Settings
Decline All
Cookie Settings
These cookies enable core functionality such as security, network management, and accessibility. These cookies can’t be switched off.
These cookies help us better understand how visitors interact with our website and help us discover errors.
These cookies allow the website to remember choices you've made to provide enhanced functionality and personalization.
Save