Saat menapaki jalan Tantra, dilema antara kebenaran dan welas asih bukanlah persoalan dangkal dengan memilih satu dan membuang yang lain. Banyak orang memahami bahwa kebenaran tanpa welas asih dapat berubah menjadi pisau ego, sedangkan welas asih tanpa kebenaran bisa berubah menjadi pembusukan hati. Jika yang pertama melukai atas nama satya/kebenaran, maka yang kedua membiarkan kebohongan bertahan atas nama karuṇā/welas asih. Oleh karena itu, persoalan yang lebih dalam bukan apakah manusia harus menjadi benar atau menjadi baik, melainkan apakah orang cukup jernih untuk mengatakan kebenaran tanpa menjadi kejam, dan cukup berani untuk berwelas asih tanpa mengkhianati realitas. Di titik inilah Tantra menjadi tajam lantaran tidak memanjakan kelembutan palsu, tapi juga tidak memuja kekasaran yang menyamar sebagai kejujuran. Dengan kata lain, satya harus memiliki karuṇā agar tidak berubah menjadi kekerasan, sedangkan karuṇā harus memiliki satya agar tidak berubah menjadi korupsi batin.
Akan tetapi ada satu unsur lain yang sering luput dari pandangan manusia, yakni saṁśaya atau keraguan yang seringkali terlalu lama dipelihara. Keraguan semacam ini tampak seperti kehati-hatian, bahkan kadang terlihat seperti kebijaksanaan. Jika membuat manusia terus menunda keberanian untuk melihat, mengatakan, dan melakukan yang benar, maka hal itu tidak lagi menjadi tanda kedalaman melainkan menjadi kabut batin. Saṁśaya membuat satya tumpul dengan kebenaran kehilangan daya potongnya. Sebaliknya, saṁśaya juga dapat membuat karuṇā membusuk karena welas asih kehilangan keberaniannya. Maka dalam pembacaan Tantrik, manusia tidak cukup hanya benar dan baik. Orang harus memiliki kejernihan Śhiva dan daya hidup Śhakti sekaligus yakni siap tegas, lembut, berani dan berbelas kasih tanpa menjadi sadis, palsu, brutal dan membiakan kebusukan bertumbuh.
Dalam Mahānirvāṇa Tantra VIII.62, terdapat ajaran yang sangat relevan tentang ucapan dengan disebut | satyaṁ mṛdu priyaṁ dhīro vākyaṁ hitakaraṁ vadet | ātmotkarṣaṁ tathā nindāṁ pareṣāṁ parivarjayet || 8.62 || Artinya, “Orang bijak hendaknya mengucapkan perkataan yang benar, lembut, menyenangkan, dan membawa manfaat. Ia harus menghindari meninggikan diri sendiri dan mencela orang lain.” Śloka ini tidak berkata bahwa ucapan cukup “baik” atau “benar”. Ia memberi empat ukuran sekaligus yakni satya (benar), mṛdu (lembut), priya (menyenangkan), dan hita (bermanfaat). Dengan demikian, ucapan tantrik menuntut keseimbangan halus dengan satya memberi dasar kebenaran, mṛdu menahan agar kebenaran tidak menjadi kasar, priya membuatnya dapat diterima tanpa menjilat, dan hita memastikan ucapan itu membawa manfaat nyata, bukan sekadar menenangkan perasaan sesaat.
Di sinilah banyak orang gagal karena bangga berpikir “saya hanya omong jujur apa adanya kok” dan sering tidak sadar bahwa mereka sedang memakai satya sebagai topeng krodha (murka). Orang semacam itu bisa jadi memegang fakta yang benar, tapi dorongan batinnya bukan kejernihan, melainkan hasrat untuk menghukum, mempermalukan, dan menikmati posisi moral yang lebih tinggi. Sebaliknya, orang yang selalu ingin “baik” sering tidak sadar bahwa sedang menipu. Mereka tidak berani berkata bahwa sesuatu salah dan enggan menyebut manipulasi adalah sebagai manipulasi. Orang itu takut melukai, tapi ketakutannya justru membuat luka membusuk. Berupaya menjaga perasaan, meski sebenarnya malah mengkhianati kenyataan.
Prinsiplain juga menyatakan bahwa satya harus disertai daya untuk menaklukkan kāma (nafsu) dan krodha (amarah). Dalam Mahānirvāṇa Tantra VIII.65, teks melanjutkan | satyam eva vrataṁ yasya dayā dīneṣu sarvathā | kāma-krodhau vaśe yasya tena lokatrayaṁ jitam || 8.65 || Artinya, “Ia yang menjadikan kebenaran sebagai sumpah hidupnya, yang selalu memiliki welas asih kepada mereka yang lemah dan menderita, dan yang mampu menaklukkan nafsu serta amarah, dialah yang menaklukkan tiga dunia.” Ini adalah salah satu formulasi etika tantrik yang sangat kuat. Satya tidak berdiri sendiri melainkan harus diiringi dayā dīneṣu (lepedulian), welas asih terhadap yang lemah. Hanya saja dayā dīneṣu juga tidak berdiri sendiri karena harus disertai penguasaan terhadap kāma dan krodha. Artinya, kebenaran yang belum menaklukkan nafsu dan amarah belum sepenuhnya menjadi kebenaran spiritual. Kebenaran semacam itu baru benar secara isi, tapi belum benar secara kesadaran.
Mengapa? Sebab seseorang bisa saja berada di pihak yang benar karena kejernihan, keberanian membebaskan, dan kesetiaan pada realitas; tapi ia juga bisa memakai kebenaran yang sama sebagai saluran amarah, dominasi, atau ambisi untuk menang. Jadi, para sadhalka atau pejalan tantrik tidak harus bertanya, “Apakah yang kau katakan benar?”, melainkan lebih jauh lagi seperti “Dari mana kebenaran itu keluar?” Apakah dari kesadaran atau dari luka? Dari viveka atau dari dendam? Dari dharma atau dari kebutuhan untuk menang? Sebab satya yang belum dimurnikan oleh pengendalian diri mudah tercemar oleh sumber batinnya sendiri. Jika digerakkan oleh krodha, maka berubah menjadi kekejaman. Kalau ditunggangi kāma, akan menjadi alat dominasi. Saat dipakai oleh ego atau ahaṁkāra, itu hanya memperagakan superioritas. Dengan demikian, menjadi benar saja belum cukup lantaran kebenaran harus lebih dahulu melewati disiplin batin agar tidak menjadi senjata ego. Sebaliknya, karuṇā yang terlepas dari satya kehilangan daya penyelamatnya. Terlihat menolong, tapi justru mempertahankan kelemahan. Tampak menghibur, hanya saja membiarkan ilusi tetap nyaman dihuni. Seolah menyembuhkan, padahal hanya menunda pembedahan batin yang sebenarnya diperlukan.
Selain itu, faktor saṁśaya (keraguan) dapat membuat satya tumpul dan karuṇā membusuk. Tentu saja ada jenis keraguan yang sehat seperti kritisisme dengan membuat manusia tidak gegabah, mencegah fanatisme, menjaga akal tetap terbuka, dan memberi ruang bagi pemeriksaan ulang. Akan tetapi dalam konteks ini ada keraguan lain yang membuat jadi busuk. Keraguan semacam ini bukan lagi bentuk kecermatan, melainkan ketidakberanian dengan membuat manusia terus menunda untuk mengatakan yang benar, mencari alasan terus menerus agar tidak menarik batas, serta membuat manusia terus berlindung di balik “nanti dulu”, “lihat situasi”, “jangan keras-keras”, “kasihan”, sampai akhirnya satya kehilangan dayā dīneṣu. Inilah saṁśaya yang tidak diselesaikan oleh viveka atau kemampuan memilah. Keraguan semacam ini bukan lagi alat pemurnian, melainkan kabut batin sebab membuat seseorang tahu sesuatu salah, tapi tidak berani mengatakan. Orang itu melihat kebohongan, manipulasi, relasi membusuk tapi tetap menyebut bahwa diam adalah tanda kebijaksanaan, pembiaran sebagai kasih dan ketidakmampuan bertindak disamakan dengan sikap dewasa.
Maka, saṁśaya sering sekali tampil sangat sopan dengan tidak berteriak, menyerang, bahkan tampak rendah hati. Justru karena itulah saṁśaya menjadi berbahaya karena membuat seseorang tampak bijaksana di luar, sementara di dalam sedang menghindari realitas. Rasa ragu membuat manusia menunda keputusan moral sampai situasi menjadi terlalu rusak untuk diperbaiki. Secara bersamaan, satya yang terus ditunda akan menjadi tumpul. Kebenaran yang tidak pernah diucapkan pada waktunya sering berubah menjadi penyesalan. Kebenaran yang terlalu lama dikompromikan akan kehilangan kekuatan transformasi. Akhirnya, karuṇā atau welas asih yang terlalu takut melukai tidak lagi menyembuhkan dan menjelma menjadi rawa dengan terlihat lembut di permukaan, tapi busuk di dalam. Kebusukan itu menggerogoti pikiran bahkan tubuh. Dengan demikian dalam bahasa tantrik, saṁśaya merusak hubungan antara Śhiva dan Śhakti dalam diri. Śhiva sebagai kejernihan menjadi lemah, sedangkan Śhakti sebagai daya hidup kehilangan arah. Apa yang tersisa kemudian adalah moralitas setengah matang yang cukup sopan untuk terlihat baik, tapi tidak cukup berani untuk membebaskan.
Dalam pembacaan Tantrik, satya dapat dilihat sebagai wajah Śhiva yang jernih, tegak, sunyi, tidak tunduk pada ilusi. Karuṇā dapat dilihat sebagai wajah Śhakti yang mengalir, menyentuh, memelihara, memberi daya transformasi. Akan tetapi keduanya tidak boleh dipisahkan sebab Śhiva tanpa Śhakti menjadi dingin, kering, dan mematikan. Itulah kebenaran yang tidak peduli pada luka, cermin orang yang benar tapi tidak manusiawi. Mereka punya presisi, hanya saja tidak punya daya penyembuh seperti halnya pisau tajam di tangan orang yang marah. Sebaliknya, Śhakti tanpa Śhiva menjadi liar, sentimental, dan kehilangan pusat. Itulah bentuk kasih yang tidak punya tulang dan kelembutan yang tidak punya keberanian. Ia memeluk dan menenangkan, tapi tidak membersihkan dan membebaskan. Ibarat seperti air yang tidak mengalir, berubah menjadi genangan yang membusuk. Jalan Tantra bukan memilih satu dan membuang yang lain. Jalan Tantra adalah penyatuan dengan Satya harus diberi tubuh oleh karuṇā yang wajib diberi tulang oleh satya. Kebenaran harus memiliki daya menyelamatkan dan welas asih harus memiliki keberanian untuk menatap realitas.
Dalam tradisi dharma, anṛta (kepalsuan) bukan hanya kebohongan verbal melainkan juga bisa berupa sikap batin yang tidak selaras dengan realitas. Diam ketika kebenaran harus dikatakan bisa menjadi,membiarkan kebusukan atas nama menjaga suasana, memberi pembenaran palsu kepada orang yang terus merusak bisa menjadi anṛta. Di sinilah kebaikan menjadi berbahaya jika tidak dibedakan dari karuṇā. Kebaikan sering bersifat sosial dengan ingin diterima, tampak baik, menjaga citra, dan menghindari konflik. Sementara karuṇā lebih dalam dengan tidak selalu nyaman. Kadangkala karuṇā harus berkata tidak, memotong ilusi, membuat seseorang kecewa agar tidak terus hidup dalam kebohongan. Maka karuṇā sejati tidak selalu terasa lembut bagi ego, tapi menyelamatkan kesadaran. Kebaikan palsu sering terasa nyaman bagi ego dan malah membusukkan kesadaran. Itulah sebabnya dalam jalan tantrik, kebaikan yang tidak jujur bukanlah kebajikan. Itu tidak lain adalah anṛta yang diberi busana halus. Kebaikan semacam itu tidak berteriak, menusuk, seolah lembut, tapi sebenarnya merusak, membuat penyakit pikiran/batin hingga tubuh menyebar dan akibatnya bisa lebih panjang dan dalam, ketimbang kekerasan langsung.
Sebaliknya, kebenaran yang tidak berwelas asih sering kali bukan satya murni, melainkan ahaṁkāra. Kebenaran semacam itu mungkin benar secara isi, tapi salah secara subtansi. Bisa jadi pula akurat secara argumen dan memberi solusi, tapi kotor secara motivasi dan seringkali hanya ingin menang di atas panggung. Inilah sebabnya Mahānirvāṇa Tantra VIII.62 melarang ātma-utkarṣa (meninggikan diri) dan nindā (menghina) terhadap orang lain sebab sudah kehilangan kemurniannya. Itu bukan lagi satya sebagai dharma, melainkan satya yang telah dicampuri ego. Maka orang yang matang tidak perlu mengubah setiap kebenaran menjadi cambuk. Sebab ia tahu bahwa manusia tidak selalu siap menerima fakta dengan cara yang sama. Orang itu tahu waktu, ukuran, pilihan kata dan tahu kapan diam menjadi kebijaksanaan dan kapan diam sebagai kepengecutan. Selain itu dirinya juga memahami kapan kelembutan menyembuhkan atau malah sebaliknya mampu membusukkan. Di sinilah viveka bekerja dengan membedakan antara ketegasan dan kekejaman, kelembutan dan pembiaran, koreksi dan penghinaan, serta karuṇā dan sentimentalitas.
Dalam konteks Indonesia, masalah satya dan karuṇā sering muncul dalam bentuk keseharian. Banyak ruang sosial dibangun di atas budaya sungkan, ewuh pakewuh, takut tidak enak, enggan dianggap kasar, atau malas “merusak suasana”. Sepintas ini terlihat beradab, tapi jika tidak dikendalikan oleh satya, itu berubah menjadi mekanisme pembiaran. Di keluarga, seseorang yang manipulatif sering dibiarkan karena alasan “bagaimana pun juga dia kan masih keluarga”. Orang yang terus mengambil keuntungan dari saudara lain, tidak ditegur karena takut ribut. Anak yang salah tidak dikoreksi dengan tegas, lantaran orang tua takut dianggap tidak sayang. Akibatnya, karuṇā berubah menjadi pembusukan. Apa yang disebut kasih sebenarnya hanya ketidakmampuan menarik batas. Sama halnya dengan di organisasi, di mana orang yang tidak kompeten sering dipertahankan karena kedekatan, senioritas, atau belas kasihan sosial. Kritik dianggap serangan pribadi, evaluasi dianggap tidak loyal, bahkan mereka yang bicara benar dicap keras, tidak tahu adat, atau tidak bisa menjaga harmoni. Satya menjadi tumpul karena organisasi tampak rukun di permukaan, tapi perlahan membusuk karena standar tidak ditegakkan.
Dalam relasi sosial, pandangan bahwa “kebaikan lebih penting daripada kebenaran” sering tampak mulia, tapi gampang berubah menjadi pembiaran. Misalnya, seseorang tahu temannya manipulatif, sering berbohong, atau terus memanfaatkan orang lain, tapi ia memilih diam karena takut dianggap tidak baik, merusak hubungan, atau membuat suasana tidak nyaman. Di permukaan, sikap itu terlihat sebagai karuṇā. Padahal tanpa satya, itu hanya memberi ruang bagi anṛta untuk terus hidup. Di sinilah saṁśaya bekerja yakni orang itu sebenarnya tahu ada yang salah, tapi terus ragu untuk mengatakan kebenaran, menarik batas, atau mengambil sikap. Akibatnya, satya kembali menjadi tumpul karena tidak pernah diucapkan, sementara karuṇā membusuk karena berubah dari welas asih menjadi izin halus bagi kerusakan.
Semantara itu di birokrasi dan politik, pola ini lebih berbahaya. Banyak keburukan tidak lahir dari kejahatan yang terang-terangan, melainkan dari ribuan pembiaran kecil. Orang tahu ada penyalahgunaan kuasa, kebijakan yang tidak masuk akal, manipulasi pikiran, tapi tetap memilih diam, mengikuti dan cari aman. Semua menunggu orang lain bicara lebih dahulu. Inilah saṁśaya kolektif di mana masyarakat yang tahu ada yang salah, tetapi terlalu ragu untuk menanggung harga kebenaran. Dalam ruang publik, kebaikan palsu sering muncul sebagai tuntutan agar kritik dibuat “lebih santun”. Tentu saja kritik tidak perlu menghina, tapi sering kali tuntutan soal kesantunan dipakai untuk melemahkan substansi. Apa yang dipersoalkan bukan lagi benar atau salah, melainkan apakah kritik itu cukup nyaman didengar oleh pihak yang dikritik dan ini membuat satya kehilangan daya korektifnya. Di media sosial, kebalikannya juga terjadi dengan banyak orang merasa benar lalu menjadi brutal. Mereka membongkar kesalahan orang lain bukan untuk memperbaiki, tapi untuk menghukum. Memakai fakta dan menyebutnya edukasi, padahal digunakan sebagai amunisi untuk penghinaan dan energinya adalah krodha. Ini adalah satya yang terkontaminasi dengan ahaṁkāra.
Maka Indonesia memberi contoh jelas tentang dua kerusakan sekaligus. Di satu sisi, ada budaya sungkan yang membuat karuṇā membusuk menjadi pembiaran, sedangkan di sisi lain, ada budaya amuk digital yang membuat satya berubah menjadi kekejaman. Keduanya lahir dari masalah yang sama kurangnya penguasaan diri dan lemahnya kemampuan memilah atau viveka. Maka jangan membunuh satya demi harmoni palsu, dan jangan mengorbankan karuṇā demi keberanian bicara yang kasar. Kelembutan tidak boleh dipakai untuk menutupi kebohongan, sebagaimana kebenaran tidak boleh dijadikan legitimasi bagi kekerasan. Apa yang sesungguhnya dibutuhkan adalah keberanian yang jernih dengan mampu mengatakan yang benar tanpa mempermalukan, berbelas kasih tanpa memberi izin pada kebusukan, diam ketika diam adalah kedalaman, dan bicara ketika diam sudah berubah menjadi pengkhianatan terhadap dharma.
Jadi welas asih tidak lebih tinggi daripada kebenaran, tapi kebenaran juga tidak otomatis lebih tinggi daripada welas asih dan keduanya masih terlalu dangkal bila berdiri sendiri. Apa yang lebih tinggi adalah satya yang hidup dalam karuṇā, dan karuṇā yang berakar pada satya. Kebenaran tanpa penguasaan kāma dan krodha akan berubah menjadi kekejaman, sedangkan welas asih tanpa satya akan berubah menjadi korupsi batin. DItambah saṁśaya yang terus dipelihara akan merusak keduanya. Sebab itu membuat orang benar menjadi tidak berani berbicara, menjadikan orang welas asih menjadi tidak berani menetapkan batas dan memaksa dharma menjadi slogan, bukan tindakan. Dalam dunia yang dipenuhi kepalsuan halus dan kekerasan ego, satya adalah disiplin dan karuṇā adalah pemurnian. Dalam dunia yang dipenuhi keraguan yang membuat lemah, orang butuh niścaya atau keberanian batin yakni ketetapan untuk melihat, mengatakan, dan melakukan yang benar tanpa kehilangan kemanusiaan. Oleh karena itu, jalan tantrik bukan jalan orang sopan yang takut luka dan bukan pula jalan orang kasar yang bangga karena benar. Jalan Tantra adalah jalan manusia yang berani membawa api dan air sekaligus yakni api satya untuk membakar ilusi, air karuṇā untuk menyelamatkan kehidupan dari kehancuran. “Truth without compassion becomes cruelty; compassion without truth becomes corruption.” (end/frs)

