Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Dunia Si Ferdot

  • Headline
  • About Me
  • My Books
  • My Blog
  • My Gallery
  • Contact Me
  • …  
    • Headline
    • About Me
    • My Books
    • My Blog
    • My Gallery
    • Contact Me

Adorno, Avidyā dan Industri Spiritualitas Modern

Theodor W. Adorno (1903-1969) adalah filsuf Jerman dari Mazhab Frankfurt yang membaca modernitas bukan sebagai kisah kemajuan yang polos, melainkan sebagai medan paradoks di mana rasionalitas yang mengaku membebaskan justru dapat berbalik menjadi alat penjinakan massal. Maka bahasan soal spiritualitas sebagai industri dan produk palsu yang memabukkan di era modern adalah relevan dengan gagasan Adorno baik di dalam tulisannya The Cultural Industry: Selected Essays on Mass Culture, dan Dialectic of Enlightenment ~yang ini ditulis bersama Max Horkheimer.

Di mata Adorno, masalahnya bukan sekadar “orang kurang religius” atau “praktik rohani sudah dangkal,” melainkan sesuatu yang lebih ganas; di dalam dunia modern, pencarian makna pun dapat diolah menjadi komoditas. Ini sejalan dalam buku Tiga Ilusi Besar, di mana saya memetakan bagaimana manusia modern tersesat bukan karena kurang cahaya, melainkan karena salah mengira bayangan sebagai terang. Itulah avidyā atau ketidaktahuan sebagai akar ilusi itu. Maka saya pikir gagasan ini bertemu tepat dengan pemikiran Adorno pada satu titik di mana kepalsuan rohani/spiritual lahir ketika bentuk menelan isi, di mana citra menggantikan transformasi, dan kesadaran tunduk pada pasar simbol.

Dalam Dialectic of Enlightenment, Adorno dan Horkheimer menulis bahwa mereka mencoba menjelaskan mengapa manusia, justru “tenggelam ke dalam barbarisme jenis baru” di era modern ketimbang memasuki keadaan yang sungguh manusiawi. Lalu mereka mengajukan sebuah diagnosis kunci bahwa pencerahan modern ternyata menghancurkan dirinya sendiri. Rasionalitas yang seharusnya memerdekakan berubah menjadi kalkulasi, administrasi, dan penyesuaian terhadap sistem. Bahkan ketika publik merasa hidup dalam era informasi, yang terjadi bisa justru kebutaan yang makin halus di mana false clarity menjadi bentuk baru dari mitos. Maka jika dikaitkan dengan tema spiritualitas palsu, penyebab masalah bukan semata kebodohan religius atau spiritual, tetapi rasionalitas modern yang sudah begitu terkomodifikasi sehingga tidak lagi mampu membedakan antara kedalaman dan kemasan.

Adorno sendiri paling telak ketika berbicara tentang culture industry. Dalam pembacaannya, budaya massa bukan sekadar hiburan netral melainkan mesin yang memproduksi keseragaman, menata hasrat, dan mendisiplinkan konsumen. Ia menyebut budaya industri sebagai mass deception, penipuan massal, dan bahkan berkata, “to be entertained means to be in agreement.” Artinya, orang tidak sedang dibebaskan lewat hiburan; mereka sedang dilatih untuk setuju, luluh, dan tidak lagi berpikir secara negatif terhadap realitas yang ada. Dalam konteks hari ini, spiritualitas palsu bekerja dengan logika yang sama dengan menghibur agar orang patuh, menenangkan agar orang tidak menggugat, dan memberi rasa “nyambung dengan semesta” justru ketika subjek makin putus dari kedalaman dirinya.

Di titik ini, Adorno memberi pisau yang sangat tajam untuk membedah pasar spiritual modern. Ia mencatat bahwa budaya industri telah mengubah inwardness atau kedalaman subjektif, menjadi kebohongan yang telanjang. Spiritualitas macam demikian muncul sebagai ocehan bermoral tinggi yang dikonsumsi pembaca sebagai bestsellers, film psikologis, dan produk-produk emosional lain agar konsumen bisa lebih mudah mengelola perasaannya sendiri. Ini luar biasa relevan. Banyak spiritualitas palsu hari ini tidak lagi mengubah subjek, melainkan hanya membantu subjek mengelola kecemasannya agar tetap fungsional di dalam sistem. Meditasi dijadikan alat produktivitas, journaling dijadikan manajemen mood, afirmasi dijadikan doping psikis, dan konten religi/spiritual dijadikan kosmetik emosi. Di situ spiritualitas tidak lagi menjadi jalan pembongkaran diri, tetapi alat regulasi afeksi agar manusia tetap bisa bekerja, tampil, dan bertahan tanpa memberontak.

Adorno juga sangat peka terhadap mekanisme hasrat palsu. Dalam bagian tentang budaya industri, ia menulis bahwa produk budaya mengeluarkan promissory note of pleasure, semacam cek kenikmatan yang janjinya terus ditunda. Ibaratnya, apa yang ditawarkan adalah menu, bukan makanan; dijanjikan kilau, bukan pemenuhan. Logika ini sekarang hidup sempurna dalam spiritualitas instan. Kursus healing, kelas manifestasi, retreat estetik, challenge meditasi tujuh hari, konten high vibration, semuanya menjanjikan pembaruan batin, tetapi justru menjaga subjek tetap lapar. Orang terus membeli pengalaman, tetapi tidak pernah sampai pada transformasi. Mereka diberi sensasi kemajuan, bukan perubahan. Kasarnya, industri spiritual menjual trailer pencerahan secara berulang, lalu menyebut kecanduan itu sebagai perjalanan jiwa.

Satu lagi yang penting dari Adorno adalah analisisnya tentang bahasa. Ia menunjukkan bagaimana budaya industri membuat orang memakai kata dan ekspresi yang tak lagi mereka pahami, atau hanya dipakai berdasarkan fungsi perilakunya. Kata-kata menjadi dingin seperti merek dagang dan slogan. Ini persis yang kita lihat dalam narasi spiritualitas digital; “alignment,” “frequency,” “inner child,” “surrender,” “shadow work,” “quantum leap,” “feminine energy,” dan seterusnya sering beredar bukan sebagai konsep yang dihayati, tetapi sebagai token identitas. Kata-kata itu tidak lagi membuka realitas; bahkan mereka menutupinya. Orang merasa menjadi dalam karena memakai istilah dalam. Padahal secara Adornian, di situlah bahasa sudah jatuh menjadi billboard. Spiritualitas bukan jendela menuju kesadaran, melainkan etalase untuk menjual persona.

Kalau gagasan Adorno kita sambungkan dengan satu konsep tantrik seperti dalam buku Tiga Ilusi Besar, maka konsep yang paling tepat adalah avidyā. Dalam buku Tiga Ilusi Besar, avidyā dijelaskan bukan sekadar tidak tahu, melainkan ketidaktahuan eksistensial berupa salah mengenali diri, salah mengenali realitas, salah mengira bayangan sebagai hakikat. Lebih jauh lagi, avidyā di zaman modern menjadi sistemik, struktural, bahkan dibakukan sebagai norma. Budaya, psikologi, pendidikan, media sosial, dan spiritualitas modern justru bisa memperkuat ilusi dengan membungkusnya dalam citra yang nyaman dan label yang mengilap. Dengan kata lain, kalau Adorno membongkar mesin sosial yang memproduksi kepalsuan, Tantra membongkar kebutaan kesadaran yang membuat kepalsuan itu dipercaya.

Di sini pula perbandingannya menjadi tajam. Adorno bergerak dari luar ke dalam dengan menunjukkan bahwa subjek modern dibentuk oleh industri budaya, oleh bahasa yang dibakukan, oleh hiburan yang membuat orang setuju, oleh kebutuhan yang diproduksi. Sebaliknya, Tantra bergerak dari dalam ke luar dengan menunjukkan bahwa manusia terjebak karena melekat pada pikiran, tubuh, peran, citra, dan validasi, lalu mengira semua itu sebagai diri. Gagasan Adorno membedah struktur sosial kepalsuan, sementara Tantra membedah struktur ontologis kesesatan identifikasi. Keduanya tidak identik, tetapi saling menerangi. Dalam bahasa sederhana, Adorno menjelaskan mengapa spiritualitas palsu begitu laris, sedangkan avidyā menjelaskan mengapa manusia begitu mudah tertipu olehnya.

Oleh karena itu, kritik terhadap spiritualitas palsu tidak cukup berhenti pada ejekan terhadap guru palsu atau influencer healer/reader. Masalahnya justru lebih dalam. Dalam Tiga Ilusi Besar, saya menulis bahwa healing bisa berubah menjadi identitas permanen, spiritualitas bisa menjadi citra untuk dinilai orang lain, padahal sejatinya kualitas jalan spiritual bukan ditentukan oleh “apa yang kamu bagikan” melainkan “apa yang berubah dalam dirimu saat tak ada yang melihat.” Itu sepenuhnya sejalan dengan semangat Adorno. Budaya industri tidak peduli apakah subjek benar-benar sembuh; sebab yang penting subjek terus terlibat, mengonsumsi, dan mengulang bahasa yang sama. Maka spiritualitas palsu adalah spiritualitas yang membuat luka tampak indah, tapi tidak membawanya ke pembongkaran. Itu membuat ego tampak lembut, tapi bukan melampauinya. Tegasnya, spiritualitas palsu memberi penghiburan, tetapi memelihara akar ilusi.

Menariknya, baik Adorno maupun konsep Tantra sama-sama curiga pada janji keselamatan yang terlalu cepat. Dalam Dialectic of Enlightenment, ada kritik terhadap “guaranteed paths to redemption” sebagai bentuk praktik magis yang disublimasi. Sama halnya di dalam buku Tiga Ilusi Besar, saya memperlihatkan bahwa hal ini beresonansi dengan kritik terhadap jalan spiritual yang dicampur-aduk secara dangkal, pseudo-coaching manifestasi, dan narsisme “aku adalah guruku sendiri.” Maka bagi keduanya, jalan yang terlalu mudah justru patut dicurigai. Sebab apa yang palsu selalu menjual percepatan berupa cepat tenang, sembuh, naik vibrasi, dan tercerahkan. Sebaliknya justru yang sejati justru menghancurkan rasa istimewa, memukul balik identifikasi palsu, dan kadang memaksa manusia bertahan di dalam ketidaknyamanan tanpa dekorasi.

Meski demikian ada juga perbedaan prinsipil. Adorno tidak menawarkan keselamatan metafisis, dan tidak juga memberi jalan pulang ke pusat kesadaran seperti halnya Tantra. Instrumennya adalah kritik, negasi, pembacaan terhadap kepalsuan yang sudah mengeras dalam budaya. Bahkan dalam Dialectic of Enlightenment, pencerahan sendiri harus dikritik agar tidak berubah menjadi mitos baru. Sementara dalam Tiga Ilusi Besar, saya menulis bahwa avidyā dilampaui bukan dengan lari dari dunia, tetapi dengan menyaksikan mekanisme ilusi dan masuk lebih dalam sampai identifikasi palsu runtuh. Di sini Tantra lebih berani dengan masih menyimpan kemungkinan pembebasan, sedangkan Adorno lebih keras dan dingin karena menjaga agar kritik tidak berubah menjadi narkotik baru. Jadi Adorno memberi kita kecurigaan metodologis, sedangkan Tantra memberi kita kemungkinan realisasi.

Itulah sebabnya kesimpulan menjadi lebih tajam, bahwa spiritualitas palsu di era modern adalah budaya industri yang menyusup ke wilayah jiwa. Itu memakai wajah kedamaian, tetapi strukturnya tetap pasar. Spiritualitas semacam itu menjual segalanya, mulai dari luka sebagai identitas, bahasa rohani/spiritual jadi merek, pengalaman batin sebagai paket, ketenangan sebagai langganan, bahkan ego dalam kostum cahaya kenyamanan. Adorno membantu kita melihat bagaimana sistem memproduksi kebutuhan palsu dan persetujuan emosional sedangkan konsep avidyā dalam Tantra membuat kita melihat mengapa subjek mengira semua itu sebagai kebenaran. Maka musuh utamanya bukanlah subjek sekadar guru palsu, melainkan persekutuan antara pasar simbol dan kebutaan kesadaran. Spiritualitas palsu bukan membawa manusia pulang pada dirinya, melainkan hanya memindahkan pusat belanja dari mal ke altar/ruang suci. Ketika altar sudah menjadi etalase maka yang berdoa sering kali bukan jiwa, melainkan ego yang sedang belanja citra. (end/frs)

Subscribe
Previous
Schopenhauer, Cinta dan Ahaṁkāra
Next
 Return to site
strikingly iconPowered by Strikingly
Cookie Use
We use cookies to improve browsing experience, security, and data collection. By accepting, you agree to the use of cookies for advertising and analytics. You can change your cookie settings at any time. Learn More
Accept all
Settings
Decline All
Cookie Settings
Necessary Cookies
These cookies enable core functionality such as security, network management, and accessibility. These cookies can’t be switched off.
Analytics Cookies
These cookies help us better understand how visitors interact with our website and help us discover errors.
Preferences Cookies
These cookies allow the website to remember choices you've made to provide enhanced functionality and personalization.
Save